Further Discussion & Read – Subjective 2 tentang Kuliah, Kerja, dan S2

Unexpected.

Saya sama sekali tidak menyangka ternyata respon terhadap podcast Subjective Episode ke-2 begitu besar.

image

Sangat jauh dari prediksi saya sebelumnya. Tidak hanya jumlah play yang banyak, tetapi juga berbagai feedback saya dapatkan di berbagai channel, mulai dari Twitter, Tumbr, Facebook, hingga pesan pribadi di whatsapp atau Line.

Dari ramainya pembicaraan, setidaknya ada dua hal yang bisa saya validasi.

Pertama, asumsi tentang durasi audio yang bisa didengarkan anak muda Indonesia ternyata salah. Banyak yang mengatakan bahwa durasi 30 menit mungkin terlalu lama dan membosankan untuk membahas suatu isu dalam bentuk audio. Ternyata 90% feedback yang masuk mengatakan sebaliknya. Secara struktur konten dan penyampaian masih (sangat) perlu diperbaiki, tetapi durasi 30 menit tetap ideal untuk dilahap selama isunya asik diperbincangkan.

But still, saya akan (berusaha) mengurangi bahasan yang random.

image

Dan (berusaha) mempersingkat durasi ke sekitar 20 menit. Tidak janji, tapi akan saya coba.

Kedua, topik tentang kuliah, kerja, dan S2 ini ternyata bahasan yang menarik untuk anak muda seumuran saya.

image

Saya sendiri kaget dan agak grogi karena ternyata bukan hanya mahasiswa yang masih kuliah, beberapa senior saya yang sudah bekerja atau S2 juga ikut tertarik mendengarkan podcast ini.

Artinya, persimpangan hidup antara kuliah, kerja, dan S2 adalah keresahan yang dirasakan oleh banyak orang. Bahkan bisa saya katakan oleh semua orang. Hanya saja belum banyak yang mengangkat pembahasan ini ke permukaan karena mungkin terlalu sibuk bicara soal nikah, cinta, dan tata cara move on.

Jika sudah mendengar Podcast Episode 0, maka Anda akan tahu bahwa tujuan utama podcast Subjective bukanlah membuat orang setuju dengan opini saya, tapi memperkaya wawasan dengan membangun diskusi. Dan saya senang sekali ternyata tujuan ini mulai menunjukkan tren yang baik. Beberapa teman sudah mulai membangun diskusi dengan membuat tulisan sebagai feedback terhadap Podcast Subjective.

Di tulisan ini, saya akan mencoba menuliskan beberapa pembahasan lanjutan dari feedback yang masuk berupa pesan maupun tulisan. Setidaknya melalui 3 poin.


1. Keep Your Dream Alive, But Learn to Pivot

Setiap dari kita punya cita-cita semasa kecil, dan cita-cita itu bisa jadi terus berubah seiring pertumbuhan kita menjadi dewasa. Pandangan menarik soal ini bisa dibaca di tulisan @marsyachrs tentang passion dan cita-cita, tetapi satu poin penting: jangan pernah berhenti bercita-cita. Mimpi adalah kompas yang menunjukkan arah kemana kita harus berjalan. Dan cita-cita adalah obor yang memberi keyakinan bahwa kita tidak berjalan di dalam kegelapan.

Namun dalam perjalanan hidup, cita-cita kita seringkali berubah karena dua hal: (1) karena pengetahuan kita berkembang, dan (2) karena situasi dan kondisi sekitar. Sebagai contoh, ada teman saya yang awalnya bercita-cita menjadi dokter militer, tapi saat membaca bahwa perawat lebih dibutuhkan dibandingkan dokter, dia memutuskan untuk mengubah cita-citanya dan berkuliah di Fakultas Ilmu Keperawatan.

Di sisi lain, ada kondisi tertentu yang membuat kita harus mengubah cita-cita kita. Misalnya ingin sekolah kedokteran, tapi orang tua tidak punya biaya dan tidak punya akses informasi tentang beasiswa. Untuk kondisi seperti ini, kita harus siap untuk pivot. Pivot dalam dunia bisnis adalah istilah untuk berbelok arah tanpa kehilangan pijakan awal. Jika diibaratkan dengan berjalan, pivot berarti menggerakkan kaki kanan ke arah lain sementara kaki kiri tetap di tempatnya. Dengan pivot, kita bergerak ke arah yang lain tanpa melupakan cita-cita besar kita di awal.

Tuhan akan menggantikan cita-cita kita dengan rencana-Nya yang jauh lebih baik tanpa pernah kita sangka.

2. Not Knowing Is Part of The Journey

Salah satu komentar yang saya dapatkan datang dari @yuldev, yang tidak setuju dengan poin saya di dalam podcast.

image

Saya setuju dengan ketidaksetujuan @yuldev.

Mungkin saya agak miss dalam penyampaian poin ini di Podcast. Seharusnya saya bilang kondisi idealnya. Kondisi idealnya, pemuda harusnya sudah tahu ke mana arah hidupnya dari jaman lulus SMA. Kenapa SMA? Saya belajar dari budaya di US dan Eropa, anak SMA saat libur summer diharuskan (secara budaya) untuk kerja part time. Tujuannya supaya anak-anak sudah merasakan rasanya bekerja, sehingga saat lulus SMA dia bisa memutuskan akan kuliah atau langsung bekerja.

See, bahkan di sana mereka sudah harus memutuskan untuk kuliah atau tidak.

Tidak semua pekerjaan butuh kuliah, bahkan banyak yang justru tidak perlu kuliah untuk bisa sampai ke puncaknya. Misalnya menjadi penari atau chef.

Meskipun faktanya, yang sukses melalui jalur kuliah jauh lebih banyak dari yang tidak.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia, mengenyam pendidikan tetap menjadi pilihan paling ideal untuk bisa tahu apa yang kita inginkan. Kalau bahasanya @yuldev, ya harus nyemplung dulu untuk tahu air itu dingin, dan tahu bahwa dia alergi dingin.

Setidaknya itu yang saya pelajari dari kuliah saya di Biologi UI. Saya masuk biologi karena memang saya menyukai sains dan kehidupan liar. Dan selama 4,5 tahun kuliah, rasa cinta itu bukan berkurang, justru bertambah besar. Tapi dengan terus mencoba beraktivitas di laboratorium, lapangan, dan berbagai aktivitas yang saya lakukan; saya mengetahui bahwa saya tidak bisa berkarir sebagai saintis.

Saya harus mencari cara lain untuk tetap menyalurkan kecintaan saya terhadap dunia ini. Dan saya menemukannya di bidang lain.

Poinnya, jangan pernah takut untuk tersesat. Tersesat adalah bagian dari menemukan, dan tidak tahu adalah bagian dari pembelajaran.

Jangan pernah berhenti untuk mencari. Keep looking, don’t settle.

3. Semua Tentang Pilihan

Semua bahasan ini adalah pilihan.

Tidak ada kebenaran absolut untuk semua orang. Steve Jobs bisa jadi sukses karena drop out, tapi kondisinya mungkin berbeda jika kita yang ada di sana.

Jalan satu orang belum tentu jalan yang lain. Ibarat tujuan, semua orang bisa mencapai tujuan yang sama dengan jalan yang berbeda-beda.

Andrea Hirata bisa jadi sukses karena S2, David Karp karena dropout SMA, dan Jim Carrey karena langsung bekerja. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Semua tentang pilihan.

Kuliah, kerja, dan S2 adalah jalan yang pada dasarnya mengarahkan pada tujuan yang sama. Yang membuat mereka berbeda datang dari kita: kerja keras, konsistensi, dan tekad baja.

Dan jangan lupa doa.

Karena Tuhan selalu tahu. Dia tahu, tapi menunggu.


Further reading tentang kuliah, kerja, dan S2:

Terima kasih sudah mau berbagi. Semoga bermanfaat 🙂

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.