Kak, gimana pendapat kakak tentang wajib militer yang berhubungan dengan revolusi mental? Makasih ^^

Hi @lylybestari, terima kasih atas pertanyaan yang sangat serius. Ini isu menarik yang waktu lagi booming ingin saya bahas, tapi terlewatkan. Jadi mari kita bahas sekarang.

Tentang wajib militer, saya ingin mengajak kita untuk menyadari terlebih dahulu bahwa Indonesia adalah negara yang sangat rentan.

Karena alasan geografis, kita adalah negara yang sangat rentan terhadap bencana alam maupun serangan militer.

Pulau-pulau kita adalah bagian dari bentangan ring of fire, deretan gunung berapi yang masih aktif sampai sekarang. Beberapa diantaranya merupakan gunung yang sangat besar dengan aktivitas vulkanik yang tidak pernah berhenti. Untuk menggambarkan seberapa dahsyatnya potensi bencana gunung berapi kita, ingat bahwa sebagian sejarahwan mengatakan bahwa kekalahan Napoleon di pertempuran Waterloo tahun 1815 sangat dipengaruhi oleh meletusnya gunung Tambora di Indonesia. Debu dan asap Tambora – saking dahsyatnya – sampai ke sana.

Titik-titik merah berikut adalah deretan gunung berapi yang ada di Indonesia.

Dan tidak hanya potensi bencana gempa dan gunung berapi. Indonesia dengan ribuan pulau yang dikelilingi lautan juga rentan tsunami dan sangat dipengaruhi perubahan iklim mikro maupun makro.

Sekarang bicara soal militer, kita juga sangat rentan karena formasi ribuan pulau yang bisa diserang dari mana saja. Adanya lautan menjadi tantangan sendiri bagi militer Indonesia jika terjadi perang karena akan sulit sekali melakukan distribusi pertahanan.

Dan jangan pernah berpikir tidak akan ada yang menyerang negara kita. Pola pikir negara justru harus selalu waspada akan potensi serangan militer. Apalagi US, negara yang paling doyan perang, punya basis militer di Filipina dan Jepang yang siap kapan saja.

Alasan saya mengatakan semua kerentanan ini mengarahkan pada pertanyaan berikutnya. 

Siapkah rakyat Indonesia?

Dalam penanganan bencana, ada istilah yang kita sebut sebagai mitigasi.

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Pengetahuan masyarakat kita tentang mitigasi sangat sedikit. Mayoritas masyarakat Indonesia, mungkin termasuk kita, tidak siap menghadapi bencana.

Apakah kamu memperhatikan dimana tangga darurat setiap masuk ke gedung bertingkat? Apakah kamu selalu aware tempat fire distinguisher dan tahu cara menggunakannya ketika terjadi kebakaran? Apakah kamu tahu fungsi assembly point di tempat-tempat publik?

Jika mayoritas jawabannya tidak (dan saya yakin begitu), maka kita benar-benar dalam masalah. Kita tidak siap menghadapi bencana, dan bayangkan apa yang terjadi jika semua potensi bencana alam dan militer tersebut benar-benar terjadi pada 250 juta rakyat Indonesia.

Pendidikan militer adalah salah satu metode yang bisa digunakan untuk membuat kita aware dan siap menghadapi potensi-potensi bencana tadi. Dari yang saya baca, negara-negara yang mewajibkan pendidikan militer untuk rakyatnya seperti Korea Selatan dan Singapore adalah untuk mempersiapkan mereka menghadapi bencana. Sehingga ketika itu terjadi, pemerintah lebih mudah mengkoordinasi penyelamatan dan tindakan-tindakan yang diperlukan.

Jadi secara kebutuhan, saya sangat setuju adanya pendidikan militer untuk membuat masyarakat lebih siap menghadapi bencana. Karena saya tidak terbayang jika tiba-tiba Indonesia diserang oleh Amerika atau Tambora kembali menyemburkan isi perutnya dan membuat satu Indonesia dalam kondisi darurat bencana. Jika masyarakat tidak siap, potential lost nyawa akan jauh lebih besar dibandingkan kondisi sebaliknya.

Tinggal kemudian, bagaimana metodenya.

Saya tidak begitu mengikuti berita tentang isu ini. Tapi jika tiba-tiba pemerintah mewajibkan pendidikan militer 2 tahun untuk usia 20-24 misalnya, saya juga akan keberatan. Jadi mengenai metode lebih lanjut, saya juga tidak bisa berkomentar lebih banyak.

Tapi yang jelas, potensi bencana Indonesia begitu besar dan ketidaksiapan masyarakat kita bisa memperparah dampaknya. Setidaknya, kita sebagai pemuda yang punya akses informasi lebih aware dan mempersiapkan diri dengan pengetahuan mitigasi bencana.

Semoga jawaban panjang ini membuka wawasan. Semoga bermanfaat!

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.