Jujur Bersuara

Belakangan saya traveling ke berbagai kota di Jawa, mulai dari Banten, Pandeglang, Subang, Semarang, Malang, Surabaya, dan Bandung. Semakin banyak kota yang saya kunjungi, meskipun belum beranjak dari Jawa, semakin saya merasakan kesenjangan yang terjadi antara ibu kota dan kota satelit. Antara kota besar dan kota kecil. Antara daerah urban dan perkampungan.

Banyak hal yang tidak merata, mulai dari pembangunan infrastruktur, akses pendidikan, hingga sarana hiburan dan rekreasi. Semuanya berpusat di Jakarta dan kota besar lainnya. Sementara kota lain, masih untung kalau kebagian ampasnya. Lebih banyak lagi kota yang kebagian mencium aromanya saja tidak.

Kalo ditilik dari sejarah, tidak sedikit yang menyalahkan Soeharto karena pembangunan yang Jawa-sentris. Semua dibangun di Jawa. Semua dibangun di Jakarta.

Mungkin salah satu yang paling terasa kesenjangannya adalah penyebaran informasi. Informasi didistribusikan oleh media mainstream, lalu konsumsi mainstream dipaksa menjadi konsumsi semua orang. Contoh paling nyata adalah media TV nasional yang secara distribusi konten tidak seimbang dan isinya ternyata tidak nasional-nasional amat.

Bastian Steel kejedot pintu, kalo kejadiannya di Jakarta, pasti akan langsung jadi berita. Tapi kalau lokasinya di Sulawesi Utara, meskipun kejadiaannya ratusan hektar hutan terbakar, belum tentu bisa diangkat media.

Berita Jakarta jadi berita nasional. Jika Jakarta banjir, berhari-hari disorot dari korban banjir sampai macam-macam sampah yang dibawa air.

Tren Jakarta jadi tren nasional. Musik Jakarta jadi musik nasional. Lelucon Jakarta jadi lelucon nasional.

Kita tidak butuh semuanya menjadi nasional. Kita butuh citarasa lokal.


“Lokalitas seni”, kata musisi dari studio legendaris Lokananta, “adalah faktor yang menjaga kejujuran manusia tetap pada jalurnya”. Seni, termasuk di dalamnya berkarya dengan menulis, adalah bentuk ekspresi jiwa. Sebuah metode menumpahkan keresahan dan jujur menyuarakan kegelisahan.

Maka sudah sewajarnya dalam berkesenian, berbagai genre muncul sebagai pilihan. Tidak ada genre yang bisa mewakili semua kepala; tidak musik dangdut, tidak pula musik Jazz. Dan tidak bisa pula kita membuat klasifikasi kelas berdasarkan genre, karena toh ini masalah selera. Dangdut tidak berarti kampungan, sebagaimana Jazz tidak berarti kekinian. Penyuka Armada Band belum tentu alay, dan pecinta Taylor Swift belum tentu anak gaul Jakarta Selatan.

Setiap kepala punya keresahan yang berbeda dengan metode berekspresi yang berbeda pula. Jadi rasanya akan lebih asik jika kita menerima perbedaan ekspresi apa adanya. Biarlah masing-masing dari kita menyuarakan sesuatu yang memang datangnya dari hati dan kepala. Jangan mengekor hanya karena takut berbeda.

Langkah yang dibuat-buat akan selalu membuat kita tersesat. 

Dan langkah yang jujur akan selalu menunjukkan jalan ke rumah para penikmat.


Terakhir, pernah tahu lagu legendaris Rumah Kita yang dinyanyikan Indonesian Voices?

Lagu ini salah satu bentuk karya seni favorit saya yang menunjukkan keindahan ragam suara yang jadi satu. Lagu ini adalah cerminan kejujuran, karena semua penyanyi tak melakukan apapun kecuali menjadi diri sendiri. Dengar lagu ini sambil menutup mata, maka tanpa usaha Anda akan sadar di sana ada Armand Maulana, Glenn Fredly, Kikan, Pinkan Mambo, dan Achmad Albar.

Semua jujur dan berekspresi apa adanya. Dan keragaman itu yang membuat lagu ini jadi indah tidak terkira.

Dan saya sangat berharap kita semua bisa bersama menciptakan keragaman dengan keindahan yang sama.

Mari jujur bersuara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close