Berputar Di Sana. Selamanya.

Dua bulan ke belakang saya sedang kehilangan ritme membaca.

Hubungan saya dengan buku-buku semakin berjarak. Saya jadi sulit membuat waktu khusus untuk membaca. Meskipun sengaja saya luangkan waktu untuk beli beberapa buku menarik di Gramedia, buku-buku itu akhirnya hanya bertumpukan di atas meja kerja. Membawa buku-buku itu di tas juga seringkali ga ada gunanya, karena toh saya commute ke sana kemari dengan kendaraan pribadi dan semakin jarang naik transportasi massal.

Beberapa hari lalu juga saya sempatkan waktu untuk beli buku online, hal yang jarang saya lakukan mengingat membeli buku adalah hal yang lumayan sakral buat saya. Sering banget di toko buku, setelah memastikan tidak ada orang yang melihat, saya menghirup kertas buku – semacam orang ngobat – sebelum saya pergi ke kasir. Pernah satu kali kepergok embak-embak Gramedia, tapi dia ga bereaksi apa-apa. Mungkin sudah biasa ketemu orang serupa.

Bagi saya, membaca sepenting itu karena saya percaya betul apa kata Jac Vanek: “You are what you read”.

Kita memantulkan kembali apa yang kita serap. Dan bukan hanya bacaan, tapi juga film yang kita tonton, musik yang kita dengarkan, obrolan yang kita perbincangkan, dan pengalaman yang kita rasakan.

Saya jadi ingat waktu kelas 1 SMP di pesantren, sahabat saya @lengkocity pernah membawa buku tebal tentang Ibrahim yang dikaji dari tiga sudut pandang agama: Islam, Kristen, dan Yahudi. Saya yang super antusias langsung mengantri untuk baca, dan besoknya langsung kecewa karena bukunya langsung disita. Kami yang sedang gandrung bacaan berbobot dikecewakan dan langsung meradang. “Ini namanya pembatasan pengetahuan! Pengekangan wawasan!”. Tentu semua itu kami teriakkan dalam hati. Kami kesal karena pasti buku itu dianggap sesat dan dibakar.

Bertahun-tahun kemudian saat kami SMA, @lengkocity dipanggil kembali dan kaget karena ternyata buku itu masih ada, tetap dalam kondisi rapi, dan dikembalikan saat itu juga. “Dulu buku ini disita karena kamu belum punya pengetahuan apa-apa, dan buku ini bisa jadi berbahaya”, kata guru saya waktu mengembalikan. “Sekarang, kamu sudah siap untuk baca”.

Kami kemudian baru tersadar kepolosan kami yang mencak-mencak bicara soal kemerdekaan pengetahuan, padahal waktu itu kami masih ingusan. Kami belajar bahwa buku bukan hanya sekadar bacaan. Dia adalah hasil ekstraksi dari ide yang hidup dan pemikiran yang bertumbuh.

Dan seperti kata DiCaprio di film Inception, “There is no such thing as simple idea”. Semua ide adalah benih, dan benih bisa tumbuh liar tanpa pernah kita sadar.


Umpama klasik mengatakan buku sebagai jendela dunia; tapi bagi saya buku lebih dari itu. Buku adalah kumpulan ide, dan ide bekerja seperti virus. Sekali hinggap di tubuh makhluk hidup, virus bisa mereplikasi dirinya sendiri tanpa bisa kita awasi.

Memahami karakter ide dan bagaimana otak kita meresponnya harusnya menjadi kesadaran awal kita untuk menentukan buku apa yang ingin kita baca dan ide apa yang ingin kita pelihara.

Karena sekali ide berputar di kepala, dia akan terus berputar di sana. 

Selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close