Fiksi: Teman Imaji

Beberapa tahun belakangan, saya jarang sekali membaca fiksi.

Sebenarnya tidak ada alasan khusus. Saya hanya lebih selektif ketika harus membaca fiksi. Karakter ini saya jalankan setelah semakin yakin bahwa somehow, fiksi adalah cermin dari dunia nyata.

Biasanya, saya akan menyukai buku fiksi yang mudah terhubung dengan kehidupan saya. Contohnya, dulu waktu jaman boomingnya Harry Potter, semua orang baca novel itu, sementara saya tidak. Bertahun-tahun kemudian ketika saya kehabisan stok bacaan dan adanya Harry Potter, saya baru terpaksa baca, dan jadi suka. Saya suka karena saya mudah menyambungkannya dengan kehidupan saya; kehidupan Harry di asrama tak ubahnya kehidupan saya yang anak pesantren. Bedanya ya saya beraqidah dan belajar ngaji, sementara si Harry ini tidak sholat dan belajar sihir.


Tahun ini, salah satu buku fiksi yang saya baca adalah Teman Imaji.

Sebenarnya, saya sudah lama lihat buku ini, karena di awal pre order dulu, Mutia menggunakan platform tempat saya bekerja. Dan buku Teman Imaji juga ada di meja kerja saya, punya @irapurwokinanti​ yang tak pernah saya sentuh karena saya memang tidak tertarik. Apalagi covernya memang terkesan sangat feminim dan childish. Bukan tipe bacaan saya sama sekali.

Baru beberapa bulan kemudian saya mulai melihat nama Mutia bermunculan dan bersinggungan di timeline Tumblr. Akhirnya saya mulai membaca Teman Imaji dan surprisingly, kurang satu minggu saya bisa baca sampai selesai.

Ada beberapa keunikan yang saya temukan dalam tulisannya Mutia.

Pertama, tulisannya benar-benar jujur. Meskipun Teman Imaji adalah novel, dan fiksi, saya merasakan tulisan yang benar-benar apa adanya, tidak dibuat-buat. Di banyak novel, kita pasti sering merasakan ada effort yang diusahakan penulis untuk mengatakan bahwa cerita ini nyata. Di Teman Imaji, saya tidak menemukan usaha itu; dan saya tetap bisa mendapati semua cerita di dalamnya terasa nyata. Setting yang familiar, dialog yang sederhana, dan plot yang mengalir apa adanya.

Mungkin itu juga mengapa saya yang biasa mengonsumsi nonfiksi bisa selesai membaca Teman Imaji. Karena rasanya semua seperti mendengar Mutia bercerita tentang dirinya sendiri. Makanya pertanyaan saya waktu pertama kali ketemu Mutia, “Kica itu lo kan?”.

Bahkan kita ngobrol pertama kali di Jelaga, setting kafe tongkrongannya Kica, tapi di dunia nyata. Dan tanpa diberitahu, saya tahu persis itu dimana.

Kedua, kejernihan tulisan Teman Imaji tertuang dalam kalimat-kalimat sederhana; yang memukau tanpa harus bersayap-sayap.

Banyak sekali penulis yang ingin menyampaikan pesan, tapi dengan cara menggurui. Tidak Teman Imaji; she’s not telling, she’s showing. Daripada memberi tahu langsung bahwa ini harus seperti ini dan itu harus seperti itu, Mutia menunjukkannya lewat percakapan yang membuat kita serasa menonton drama. Tau-tau di ujung dialog kita tersentak lalu tanpa sadar setuju. Iya juga ya. Bener banget ini. Oh iya sih, ternyata ini maknanya.

Kalimat-kalimat itu keluar dari mulut saya dan juga banyak pembaca Teman Imaji yang saya tanyakan pendapatnya.

Ketiga – sebenarnya hanya dua tapi biar afdol kita bikin tiga – Mutia berhasil mengakumulasikan pengalaman dan pengetahuannya ke dalam berbagai tokoh yang berkarakter. Kata Mutia, pembaca Teman Imaji, terutama yang wanita, terbagi menjadi beberapa kubu; mereka yang mengaitkan dirinya sebagai Kica, Faza, dan Rasya. Menarik karena artinya penulis sama sekali tidak mengarahkan subjektivitasnya pada pembaca. Dia memberikan semua alternatif dan membiarkan pembaca yang menentukan pilihannya.

Fakta lainnya adalah bahwa Mutia mulai menulis dari kecil dan menyimpan semua common place nya sejak lama. Maka ketika Teman Imaji hadir sebagai karya yang begitu berkarakter dan diselesaikan dalam waktu 1 bulan, saya tidak kaget. Salah satu anatomi karya yang baik, kata Pandji, adalah dasar yang kuat.


Teman Imaji menjadi satu khazanah baru bagi saya dalam dunia kepenulisan. Karenanya saya tidak ragu untuk kemudian bertemu Mutia dan belajar darinya.

Apa yang saya pelajari dari Mutia juga bisa teman-teman dengarkan di Podcast saya, Subjective.

Saya ajak dia ngobrol soal kepenulisan, self-publishing, dunia Tumblr, sampai pendapatnya sendiri soal kisah cintanya yang selalu buka-bukaan.

Sudah bisa didengarkan di Soundcloud, dan baru akan rilis di Tumblr besok.

Salam fiksi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close