halo kak academicus. mau nanya gimana cara mempertahankan ide. saya itu sebenarnya punya ide yang sudah saya saring dari berbagai macam ide yang gemerutuk bermunculan. tapi seketika ada hal lain yang memungkinkan membuat ide lain itu lebih baik, kemudian saya goyah. saya itu kok mudah goyah ya orangnya. labil gitu? apa karena umur? (masih 21 btw). saya itu sedang ingin mencari jati diri saya, sebenarnya saya ini bisanya apa to? maunya jalan kemana to? tolong beri saran gimana caranya. thanks kak

halo @rishajasmine, salam kenal 🙂

Pertanyaan yang menarik, apalagi untuk kita yang setiap hari punya ribuan ide yang bermunculan di otak kita. Saya rasa tidak ada hubungannya dengan usia, meskipun semakin muda kita menyadari cara mengelola ide, maka semakin baik pula untuk perkembangan kita. Dulu saya punya pertanyaan yang sama, dan saya menemukan jawabannya ketika mengikuti kelas yang diisi oleh Rene Suhardono (@reneCC). Berikut beberapa insight tentang ide yang saya pelajari:

1. Tidak Ada Ide yang Berharga

Tidak ada satu pun ide yang berharga, yang berharga adalah ide yang tervalidasi. Ilustrasi mudahnya; jutaan orang punya ide membuat manusia terbang, tapi hanya ide Wright bersaudara yang berharga; karena hanya mereka yang membuktikan bahwa ide itu benar-benar bisa jadi nyata.

Jadi kita harus melangkah lebih jauh dari sekadar punya ide, karena semua ide adalah asumsi. Tugas kita adalah melakukan uji coba, apakah asumsi tersebut benar atau salah. Jika benar, kita membuktikan bahwa ide kita berharga; dan jika salah, kita membuktikan bahwa ide kita menghasilkan pelajaran yang berharga.

2. Validasi Ide: Eksperimen

Kalau mau bicara di tataran praktis, cara memvalidasi ide adalah dengan cobain aja. Nanti akan ketahuan apakah ide tersebut benar atau salah. Itu jawaban singkatnya.

Namun kalau kita mau bicara di tataran teori – supaya saat praktik lebih yakin – proses validasi ide dilakukan dengan mengikuti metode ilmiah.

Saat kita punya ide, catat bahwa ide tersebut adalah asumsi. Selanjutnya kita bawa asumsi tersebut ke siklus validasi, yang terdiri dari tiga proses: mendefinisikan semua kemungkinan, membuat produk/alur proses yang ingin diuji, dan testing. Lakukan semua proses tersebut sampai kita bisa yakin hasilnya, baru kita bisa mengambil kesimpulan apakah ide tersebut bekerja atau tidak.

Metode ini juga digunakan di dunia startup. Prosesnya kurang lebih seperti gambar di bawah ini.

3. Contoh Riil

Untuk memberikan ilustrasi dari bagan proses validasi ide di atas, saya akan membuat dua contoh berdasarkan pengalaman saya:

Contoh 1: saya punya ide membuat klub diskusi buku di kampus

  • Concept: sepertinya asik kalau punya klub pecinta buku untuk diskusi tentang suatu buku setiap minggu
  • Define: supaya diskusinya ideal, minimal harus ada 7-10 orang yang komitmen tiap minggu untuk baca dan diskusi buku
  • Build: saya membuat konsep dan rencana sederhana, dimana kita akan membahas 2 buku populer dan 2 buku kuliah untuk 4 pertemuan pertama
  • Test:  saya buat pengumuman lewat jarkom mengajak teman-teman seangkatan, yang tertarik bisa daftar ke saya via SMS. Ternyata yang daftar cuma 2 orang.
  • Launch: Karena yang mau ikutan ternyata cuma 2 orang, saya memvalidasi bahwa ide klub buku ini tidak akan berjalan. Ide tervalidasi: salah.

Contoh 2: saya tidak bisa berkarir sebagai saintis biologi

  • Concept: sepertinya saya salah jurusan dengan kuliah di biologi
  • Define: saya tidak merasa potensi dan passion saya keluar secara maksimal ketika saya beraktivitas di lab atau lapangan
  • Build: saya mencatat semua aktivitas yang bisa dilakukan anak biologi, mulai dari melakukan penelitian di lab sampai eksplorasi di hutan atau diving di laut
  • Test: saya mencoba semua aktivitas, saya ikut semua klub aktivitas biologi, termasuk pecinta tumbuhan, hewan liar, dan biologi laut. Saya melakukan penelitian di lapangan selama sebulan dan akhirnya bisa memastikan bahwa saya memang tidak bisa berkarir sebagai saintis
  • Launch: saya memvalidasi bahwa saya tidak bisa berkarir sebagai saintis, sehingga saya harus memperkaya diri dengan belajar apa yang saya suka di organisasi atau komunitas. Ide tervalidasi: benar.

Metode ini bisa dilakukan untuk semua jenis ide, dari yang simpel sampai yang complicated, termasuk untuk mencari jati diri.

Semoga jawaban panjang ini memberikan pencerahan. Salam kreatif!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close