https://api.soundcloud.com/tracks/243550284/stream?client_id=N2eHz8D7GtXSl6fTtcGHdSJiS74xqOUI?plead=please-dont-download-this-or-our-lawyers-wont-let-us-host-audio

Subjective Episode 3: Sosial Media Bikin Kita Gila

Satu kali, saya pernah membaca cerita tentang Essena O’Neill. Seorang selebgram berumur 18 tahun asal Australia yang muak dengan kehidupan instagramnya

O’Neill dikenal sebagai artis sosial media yang cantik dan merepresentasikan mode berpakaian yang disukai banyak orang. Wanita yang punya setengah juta followes di instagram ini mulai aktif di blog dan sosial media saat masih SMA, dan lama kelamaan terhanyut dalam dunia sosial media yang penuh kepalsuan. Dia mulai tersiksa dengan semua kepalsuan yang dia rasakan untuk membuat foto yang cantik dan menawan. Dia lelah berpura-pura merasa senang memakai pakaian yang tidak akan pernah dia pakai di kehidupan yang sebenarnya.

Semua terus dia lakukan karena mulai adiktif dengan like yang datang dari ribuan orang. Akhirnya, O’Neill memutuskan untuk mengedit semua caption fotonya dengan kejadian sebenarnya, semisal, “Saya harus mengambil foto sebanyak 50 kali untuk yakin bahwa ini adalah selfie yang disukai banyak orang”, atau “Saya harus menahan napas cukup lama untuk bisa terlihat langsing di foto ini”.

Keresahan yang sama mulai saya rasakan. Tentang berpura-pura dan tidak menjadi diri kita yang sebenarnya. Hanya agar ada orang yang terpesona dan menekan tombol suka sebanyak-banyaknya.

Saya mulai merasa bahwa sosial media bisa membuat kita gila. Atau jangan-jangan kita sudah gila, tapi kita tidak menyadarinya.

Keresahan ini saya tumpahkan sambil bercerita tentang hal-hal aneh yang saya temukan di sosial media. Mulai dari perilaku mereka yang rajin debat di grup whatsapp, penggunaan Path sebagai private social media yang isinya bisa menyebar ke mana-mana, hingga mereka yang rajin foto selfie tapi captionnya tentang kebijakan hidup.

This self criticism may hurt. But believe me, it’s necessary.

Streaming di Soundcloud atau download dan jadikan podcast ini sebagai sohib di jalan atau teman di kosan.

Join me, and you will listen to my subjectivity.


Further listening:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close