#SIFyse (1): Tentang Perjalanan & Bisnis Sosial

Sejak kemarin, saya sedang membaca buku terbaru @pandji, Menemukan Indonesia.

Bercerita tentang perjalanannya melakukan tur dunia untuk pertunjukan standup comedy Mesakke Bangsaku. Pandji menceritakan perjalanannya ke 20 kota, 8 negara, di 4 benua.

Kota di dalamnya adalah kota-kota keren yang selama ini mungkin hanya kita lihat di buku atau film, seperti Sydney, Hong Kong, Berlin, London, Tokyo, dan San Fransisco.

Ditilik dari penulisan, sebenarnya bisa saya katakan bahwa Anda akan kecewa kalau berharap buku ini seperti buku travel pada umumnya. Detil perjalanan tidak terlalu banyak, penggambaran destinasi juga tidak terlalu detil, dan pengalaman travelnya juga tidak banyak yang spesial. Mungkin karena memang perjalanan Pandji ke sana untuk tur standup, sehingga travel ke sana kemarinya bukan tujuan utama. Alasan lain yang sering disebutkan juga adalah cerita perjalanannya akan lebih seru dinikmati di film dokumenternya, yang akan rilis 30 Maret ini.

Tapi yang paling menarik buat saya adalah konsep cerita Menemukan Indonesia. Di tiap kota yang dia kunjungi, Pandji selalu membandingkan apa yang berbeda dari Indonesia dengan kota tersebut, dan apa yang bisa kita pelajari dari kota tersebut untuk Indonesia.

Dan buat saya, konsep Menemukan Indonesia ini yang paling luar biasa. Karena rasanya memang sejauh mana pun kita pergi, rasanya konsep gue tuh orangnya Indonesia banget akan selalu terasa. Hal-hal sepele seperti harus makan nasi atau cebok harus pake air, baru terasa luar biasanya ketika kita ada di negeri orang.

Dan yang terpenting, bahwa sejauh apapun kita pergi, harus selalu ada yang kita bawa kembali dan ceritakan lagi.


Pekan kemarin, saya diundang Singapore International Foundation untuk hadir di acara tahunan mereka, Young Social Entrepreneurs Programme. Singkatnya, YSE ini adalah kompetisi dan inkubasi untuk para social entrepreneur muda mengembangkan bisnis sosial mereka. Dari ratusan aplikasi yang masuk dari berbagai negara, dipilih 50 tim terbaik untuk mengikuti workshop, mentorship, dan pitching selama 4 hari di Singapura.

Bersama @novintt dari Limbahagia.org dan @sannygadafi dari 8villages.com, saya diajak ke Singapura untuk meliput kegiatan para peserta yang didominasi oleh anak muda Indonesia. Dari 50 tim, 14 diantaranya berasal dari Indonesia.

Bisa dibilang, acara ini terhitung dadakan, karena kita berangkat hari Rabu (16/3) dan baru dibriefing @arukmantara dari Edelman (partner YSE) pada hari Senin sebelumnya (14/3).

Dalam 3 tulisan berikutnya, saya akan membagikan cerita dan insight yang saya dapatkan selama perjalanan ke sana. Selama 3 hari, kami berpartisipasi dalam beberapa sesi workshop, melakukan visit ke berbagai social enterprise, dan berdiskusi dengan beberapa social entrepreneurs di Singapura. Serta menceritakan kegiatan kami di twitter dengan hashtag #SIFyse.

Tapi sebelum menceritakan hal yang serius, saya mau ceritakan beberapa hal personal yang saya rasakan selama perjalanan di sana. Setidaknya, buat saya ada 3 hal yang bikin perjalanan ini jadi asik.

Pertama, asik karena alasan yang super simpel: kami diajak naik Singapore Airlines. Karena biasa pake AirAsia atau pesawat low budget lainnya, naik SQ jadi luar biasa enak karena tiga hal: (1) tempat duduk luas, posisi kaki jadi nyaman karena bisa ngejeplak, (2) disediakan TV sehingga bisa nonton selama penerbangan, dan (3) waktu baru berangkat, penumpang dikasih handuk hangat. Waktu pramugari membagikan sambil tersenyum “Hot towel, sir”, saya sempat bingung maksudnya apa. Setelah celingak celinguk lihat orang lain menggunakannya, saya baru tahu

dan ikutan membersihkan tangan dan muka.

Mohon maaf, saya memang senorak itu.

Kedua, asik karena saya bawa koper. Biasanya saya hanya bawa satu carrier besar karena gamau repot bawa banyak tas dan harus ambil bagasi. Saya masukkan semua pakaian, laptop, dan tetek bengek lainnya dalam satu carrier. Tapi kali ini saya bawa koper. Asik juga bisa menggeret koper sepanjang bandara, berasa orang penting yang ada di film-film.

Again, mohon maaf, saya memang senorak itu.

Ketiga, asik karena di perjalanan ini, saya bertemu banyak sekali orang baru. Pesertanya saja beragam luar biasa. Yang dari Indonesia sendiri, ada yang masih mahasiswa, ada yang sedang kuliah S2 di Belanda, dan ada yang sudah bekerja. Mentor dan pembicara, datang dari berbagai negara di Asia. Tiga bulan ke belakang, saya mulai terjebak dalam zona nyaman dan merasa perlu untuk belajar lebih banyak lagi. Karenanya, forum seperti ini jadi penting untuk saya terus mulai belajar dari bawah.

Banyak pelajaran yang saya ambil dan cerita yang saya rasa penting untuk dibagikan agar lebih banyak orang mengenal dunia social entrepreneurship.

Social entrepreneurship memang sedang marak. Business with a cause juga sedang ramai menjadi slogan. Bisnis yang hanya mementingkan profit, biasanya tidak menyelesaikan masalah yang sebenarnya dan tidak bertahan lama. Di sisi lain, banyak misi sosial yang tidak bertahan lama karena tidak bisa mandiri secara finansial.

Social entrepreneurship hadir untuk menjadi jembatan keduanya.

Lalu seperti apa pebisnis sosial yang sebenarnya?

Karena merupakan term baru, banyak definisi yang bisa dikemukakan. Tapi saya setuju dengan Vishnu Swaminathan dari Ashoka India dalam salah satu sesi diskusi.

Bisnis sosial adalah bisnis yang semakin besar profitnya, semakin besar dampak sosial yang dia ciptakan.

Di tulisan berikutnya, saya akan bercerita tentang ide-ide kreatif para peserta YSE yang berasal dari Indonesia. Semoga bisa jadi inspirasi agar lebih banyak anak muda Indonesia menyelesaikan masalah dengan bisnis yang memberikan penghidupan bagi banyak orang.

Salam kreatif!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close