Jangan Nyusahin Orang Lain

Saya cukup beruntung punya Bapak yang mengajarkan sholat sejak kecil.

Umur 8-9 tahun saya sudah mulai dibangunkan setiap hari untuk sholat shubuh ke masjid.

Kalau melawan, sapu lidi melayang.

Bukan sembarang melayang. Maksudnya melayang ke badan saya, biasanya tangan atau kaki. Buat yang belum pernah coba, pukulan sapu lidi itu perih-perih sedap. Satu lidi aja kalo disabet bikin meringis, ini puluhan lidi yang bersatu padu. Perihnya bukan main.

Bapak saya memang didikannya keras. Dia besar di jalanan dan beruntungnya bisa paham ilmu agama dan berusaha keras mengajarkan kembali pada anak-anaknya.

Saya tidak tahu apakah ini hanya Bapak saya atau orang tua pada umumnya. Bapak saya kalo memberi nasihat itu-itu saja, kalimatnya diulang dengan redaksi yang itu-itu juga. Semacam mantra.

Seringkali kalo mantra sudah diucapkan, saya jengkel sendiri di dalam hati, “iya Pak, iqbal udah tahu, gausah diomongin lagi”.

Tapi mungkin cara itu yang paling tepat untuk mendidik.

Salah satu mantra yang diajarkan pada saya sejak kecil adalah “jangan nyusahin orang lain”.

Saat awal-awal diajarkan sholat shubuh di masjid, saya selalu berjalan ke masjid dengan bermalas-malasan. Dengan memakai sarung, baju koko, dan sendal jepit, saya selalu berjalan dengan langkah yang diseret sehingga menimbulkan bunyi berisik.

Kalo sudah malas-malasan gitu, Bapak saya akan menegur.

“Jalannya jangan diseret. Tetangga lagi pada tidur, kita yang ke masjid jangan berisik. Jangan nyusahin orang lain

Padahal kalau dipikir-pikir, kayaknya ga akan ada tetangga yang bangun terganggu hanya karena suara sendal diseret. Tapi begitulah prinsip hidupnya diterapkan, hingga pada tingkatan yang tidak pernah terpikirkan.

Hari-hari berikutnya, seringkali saya mengulangi hal yang sama, dan akan ditegur dengan mantra yang sama.

Jangan nyusahin orang lain.

Mantra ini juga disebutkan di kesempatan lain. Misalnya saat kita pergi belanja dan membawa mobil, lalu mencari tempat parkir. Bapak selalu mencari tempat parkir yang benar-benar kosong dan tidak menghalangi mobil lain. Karenanya dia seringkali menghindari parkir paralel, meskipun kami harus memutar jauh dan lama mencari tempat yang pas.

Saat ditanya kenapa, mantranya keluar kembali. “Kita mau belanja. Jangan nyusahin orang lain”

Atau setiap kali saya akan berangkat travel ke tempat yang jauh, Bapak akan selalu nanya hal-hal perintilan, macam “Casan udah masuk belum? Dompet udah dibawa? Periksa lagi semuanya”

Lalu keluar kembali sang mantra. Jangan nyusahin orang lain.

Entah kenapa dulu – sebenarnya hingga sekarang – mantra itu benar-benar mengesalkan karena selalu diulang-ulang. Tapi lama kelamaan saya sadar, mantra itu sudah masuk ke alam bawah sadar saya dan tak sekadar jadi mantra. Dia telah berubah menjadi pegangan. Menjadi prinsip.

Kini, kemanapun saya pergi, saya selalu ingat bahwa saya harus ada untuk membantu dan memberikan manfaat. Saya harus ada untuk menjadi solusi.

Jika pun saya belum bisa menjadi solusi, maka saya akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak menjadi masalah. At the very least, saya tidak akan menyusahkan orang lain.

Sambil menulis ini, saya tersenyum sendiri. Terhibur dengan ajaibnya mantra orang tua yang mengesalkan, tetapi akhirnya menjadi salah satu pegangan terbaik dari prinsip hidup yang saya miliki.

Jangan nyusahin orang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close