Kita Sudah Punya Semuanya

Tahu kenapa hidup kita ga enak?

Karena kita mulai membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain.

Kita membandingkan apa yang mereka punya, sementara kita tidak. Kita iri dengan jalan mereka yang lurus, sedang jalan kita berputar-putar. Kita menginginkan perjuangan mereka yang mudah, sedang perjuangan kita begitu sulit.

Membandingkan adalah aktivitas tanpa akhir.


Ramadhan dua tahun lalu, saya buka puasa bareng sahabat lama saya, @anjasbiki. Anjas teman saya sejak di pesantren, dan lanjut kuliah bareng di universitas dan fakultas yang sama.

Waktu itu masing-masing kita sudah bekerja dan punya penghasilan, dan kami makan di warteg langganan di depan kosan. Saya pesan makanan langganan sejak kuliah: nasi + usus + telur dadar. Ceritanya mau nostalgia.

Dulu rasanya makan dengan menu itu rasanya super enak. Super mewah, pokoknya setiap pulang kuliah dan kelaparan, makan dengan menu itu rasanya luar biasa.

Saya duduk bareng Anjas dan mulai makan. Lalu satu dua suap pertama, kok saya merasakan hal yang aneh. Saya kunyah lagi, dan otomatis saya menoleh ke Anjas.

Ternyata rasa nasi wartegnya ga seenak yang saya kira.

Saya dan Anjas langsung tertawa, karena kita langsung paham alasannya kenapa. Selama kuliah, nasi warteg ini jadi makanan termewah yang biasa kita konsumsi setiap hari, saat itu. Setelah punya referensi dan kemampuan membeli makanan yang lebih baik, makan di warteg ini rasanya jadi hambar.

Ternyata karena membandingkan, nasi yang dulu saya anggap paling enak, sekarang jadi kurang sedap.

Lalu obrolan kami berlanjut jadi lebih filosofis.

“Itulah kenapa, kaya itu bukan soal uangnya”, kata Anjas sambil menyeruput es teh manis. “Tapi soal seberapa bisa kita berterima kasih dengan apa yang ada”.

Semakin punya uang, saya semakin bisa merasakan bahwa kaya memang hanya soal pikiran. Karena jika rasa kaya diukur dari apa yang bisa kita punya, rasanya tidak akan ada habisnya.

Waktu dulu belum punya handphone apapun, punya nokia saja rasanya sudah bahagia. Sekarang punya smartphone Asus Zenfone, inginnya punya iPhone.

Dulu waktu belum punya kamera, bisa megang Canon pocket aja senangnya luar biasa. Sekarang punya kamera Prosumer, pengen juga punya GoPro dan Mirrorless.

Dulu waktu kemana-mana masih naik kendaraan umum, punya motor aja sudah gaya. Sekarang punya motor, kepengen punya mobil. Nanti punya mobil, pengen punya helikopter. Punya helikopter, pengen punya jet pribadi. Dan begitu seterusnya sampai mati.

Peace comes from within, don’t seek it without.

Kebahagiaan harus selalu dicari ke dalam, bukan ke luar. Terbang ke atas tidak akan pernah membuat kita sampai, karena langit tak pernah punya ujung untuk digapai.

Tapi berenang ke dalam, akan selalu membahagiakan.

image

Karena saat hati kita berhasil menyentuh dasarnya, kita akan tahu: kita sudah punya semuanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close