Still A Comma

Pagi itu (24/3), saya kaget melihat timeline dihiasi tweet bernada serupa dari beberapa idola saya, diantaranya Rene Suhardono (@renecc) dan Ario Pratomo (@sheggario) tentang @CommaID, coworking space pertama di Indonesia.

Tweet-tweet mereka bernada perpisahan, dan mengarah kepada sebuah tulisan singkat di website mereka, judulnya: Hello, Good Bye.

Dari handphone, saya membaca tulisannya perlahan.

3 years ago, we set out not just to create a space to work, but also a space to make friends, craft memories and build awesome ideas into reality. We named it Comma Coworking Space.

image

We did it because we believe in the idea of empowering people through interaction, openness and collaboration. We still believe in these idea. Absolutely.

Saya terdiam, dan tahu kemana tulisan ini mengarah.

We are proud with what we have accomplished. We are thankful with the friendship and camaraderie. And we are blessed with the opportunity to be part of so many awesome moments.

Saya teringat momen saya bersama Comma, dan saya meneruskan membaca.

Nevertheless, Comma is still a business. And for a business to be sustainable, this would require profit. On this note, we have not been successful. Following many months of experimentation, we are sad to say we are unable to continue the operations of Comma.

Hingga akhirnya, tulisan itu mencapai line terakhir.

Consequently, Comma shall no longer operate starting March 25, 2016.


Selesai membaca tulisan itu, saya terdiam cukup lama.

This may sound too dramatic. Tapi Comma Coworking Space punya banyak kenangan untuk saya.

Bukan hanya karena menjadi pionir gerakan coworking space di Indonesia, Comma jadi tempat saya belajar banyak hal. Comma memberikan sensasi menarik tentang openness dan kolaborasi.

Comma jadi tempat pertama saya belajar tentang menulis dan jurnalistik saat pelatihan Indonesia Kreatif.

image

Di Comma juga, saya pertama kali bertemu langsung dengan idola dan pahlawan saya dalam berkarya, Pandji Pragiwaksono. Di Comma, saya menyerap ilmunya tentang membangun personal branding di Workshop Indipreneur.

image

Comma telah berhasil membangun semangat kolaborasi dan membentuk ekosistem baru dalam industri kreatif di Indonesia.

Tapi Comma adalah bisnis. Dan bisnis harus berkelanjutan dengan profit. 

Di bagian ini, Comma telah gagal.

What they started as a comma, now becomes a fullstop.


Saya membuka halaman draft, dan menyelesaikan tulisan ini di Hubud, coworking space pertama di Bali. Berlokasi di Monkey Forest Street, Hubud termasuk dalam 10 coworking space terbaik di dunia versi Lonely Planet.

Saya sengaja meluangkan waktu untuk berkunjung ke Hubud sebagai agenda terakhir di Bali, sebelum nanti malam berangkat kembali ke Jakarta.

Membuka laptop sambil menghadap langsung ke hamparan hijaunya padi menjadi pengalaman baru bagi saya, dan mengingatkan saya kembali bahwa berhentinya Comma bukanlah akhir.

Meski berhenti sebagai bisnis, semangat kolaborasi, kreativitas, dan karya yang muncul dari Comma terus berjalan bersama orang-orang yang pernah merasakan vibe-nya. Spirit itu, dibawa kemanapun mereka berada.

Kegagalan mereka menjadi pelajaran bagi coworking space lainnya. Ratusan pertemuan dan tatap muka yang difasilitas Comma telah memulai berbagai inisiatif, movement, dan bisnis yang masih berjalan hingga sekarang. 

Their failure, is not a full stop.

It’s still a Comma.

Untuk orang-orang keren di Comma. Terima kasih untuk semuanya 🙂

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.