Sebaik-baiknya Guru

Menjelang akhir tahun, saya terbiasa merapihkan data-data di laptop.

Saya sedang membuka-buka folder lama sampai menemukan foto 3 tahun yang lalu.

image

Diambil tahun 2013 saat saya, @alifindra_, @harridi, @sabilil29, dan @raf2909 jadi finalis dan ikut bootcamp Jakarta Social Innovation Camp, kompetisi inovasi sosial berbasis teknologi yang diadakan Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI).

Waktu itu, saya membawa ide Crowdfunding x Commerce yang saya ajukan dengan sangat baik. Proposal saya susun dengan sangat rapi dan berhasil lolos masuk final. Di event Meet The Innovators, saya melakukan presentasi publik di @atamerica – US cultural center di Pacific Place – dengan sangat meyakinkan, hingga banyak audience yang ingin bergabung dengan tim saya. Rekaman saya presentasi masih bisa ditonton di website @atamerica di sini

image

FInalis melanjutkan proses seleksi dengan kegiatan The Weekend, bootcamp intensif selama 3 hari di Prasetia Mulya Business School. Semua terasa menyenangkan hingga tiga hari terlewati dan sampai waktu pengumuman: tim saya kalah.

Waktu itu saya marah. Tim saya mungkin masih ingat, saya sampai tidak mau lagi bicara dengan panitia karena sangat kecewa.

Saya sangat marah karena selama evaluasi, menjalani proses bootcamp, hingga melihat presentasi final, saya merasa tim dan ide kami sudah memenuhi semua kriteria. Saya sudah membuat penilaian dan membandingkan dengan tim lain, dan saya sangat yakin saya bisa mengungguli mereka semua.

Ternyata, hasilnya sangat berbeda dari perkiraan saya. Saya marah dan kecewa.

Rasa marah dan kecewa itu saya pendam sampai satu tahun kemudian; saya belajar lebih banyak soal startup dan menyadari bahwa waktu itu saya memang tidak pantas untuk menang. Ide-nya tidak teruji, business model nya tidak tervalidasi, dan tim-nya hadir dengan pengalaman yang nihil. Saya terlalu sombong untuk melihat pada bodohnya saya pada saat itu.

Dari sana, saya menyesal pulang dari kompetisi itu dengan marah, karena saya melewatkan banyak hal yang jauh lebih berharga. Saya tidak mengapresiasi kinerja tim yang sudah bekerja semaksimal mungkin. Saya tidak memberikan selamat kepada finalis lain yang berhak memenangkan kompetisi. Dan saya melewatkan sesi networking dengan para juri.

Tapi kekalahan itu, mungkin jadi cara yang baik untuk saya belajar rendah hati dan mulai dari nol lagi.

Saya jadi membiasakan diri untuk gagal, untuk kalah, dan untuk siap mendapatkan hasil yang berbeda dari apa yang saya inginkan.

Saya juga terus belajar untuk tidak pusing membandingkan diri dengan orang lain, melakukan yang terbaik di saat ini, di momen ini.


Lima hari lagi, kita akan menutup tahun ini.

Pastikan kita mengevaluasi perjalanan satu tahun ke belakang, serta sadar penuh dengan apa yang sudah, sedang, dan akan kita lakukan untuk satu tahun ke depan.

Pastikan kita belajar dari kekalahan dan kesalahan, karena mereka memberikan pelajaran jauh lebih banyak dari keberhasilan.

Selalu bersyukur bisa belajar dengan melihat ke belakang, karena masa lalu adalah sebaik-baiknya guru 🙂

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.