Let’s Change

Saya sedang scroll timeline Tumblr sampai saya menemukan artikel ini. Lucu, dan mengingatkan saya pada beberapa teman yang Grammar Nazi.

Buat yang belum tahu, Grammar Nazi simpelnya adalah orang-orang yang tidak bisa menahan diri untuk menyerang orang-orang yang melakukan kesalahan grammar ketika berbahasa, baik saat berbicara maupun menulis.

image

Grammar Nazi biasanya merasakan kegembiraan dengan menunjukkan kesalahan orang lain.

Sebenarnya sih tidak ada yang salah dengan mengkoreksi kesalahan orang lain. Tapi Grammar Nazi selalu melakukannya dengan membuat orang tersebut merasa bersalah, bodoh, dan tidak punya kemampuan apa-apa.

Itulah kenapa mereka disebut Nazi. Karena kerjanya membantai dan membuat orang merasa bersalah.

Saya pernah berinteraksi dan mendapat koreksian dari orang-orang semacam ini, dan jujur saja, menyakitkan.

Pernah satu kali, saya berpidato bahasa inggris di depan banyak orang, dan banyak menyebut sebuah kata yang ternyata saya salah dalam penyebutan spelling-nya. Saya lupa katanya apa, tapi saya ingat saya menyebut kata itu lebih dari 10 kali dalam pidato saya. Setiap saya menyebut kata itu, si Grammar Nazi ini ketawa dan mengajak teman-teman di sampingnya ikut menertawakan saya.

Waktu saya turun pidato, saya didatangi dan ditertawakan, “Haha lucu banget sih lo spellnya, yang bener tuh gini!”, lalu dia menyebut spellingnya yang benar dan diikuti dengan tawa teman-teman saya yang lain.

Saya marah, kesal, dan malu. Saya merasa sangat bodoh dan ingin tenggelam saja saat itu.

Padahal kalo dipikir-pikir, sebenarnya saya hanya salah di satu kata saja. Sisanya ya biasa saja, tidak memengaruhi pidato saya.

Kejadian diserang Nazi pun lainnya beberapa kali saya alami. Ada yang saat berbicara, ada juga yang saat membuat tulisan (biasanya di sosmed), lalu dikoreksi secara memalukan di bagian komentar. “Maksud lo ini kali! HAHAHA”.

Yap, haha nya dengan capslock. Dan dilike beberapa orang lain. Publicly.

I hate these Nazis.


Sebenarnya, saya cukup beruntung karena saya termasuk orang yang punya kepercayaan diri tinggi dan seringnya tidak terlalu peduli dengan pendapat orang lain. Sehingga, Grammar Nazi tidak terlalu berpengaruh buat saya. Saya tetap pede berbahasa inggris meskipun masih banyak salahnya.

Yang sedih adalah, banyak teman-teman saya yang akhirnya berhenti belajar berbahasa inggris karena para Nazi ini. Mereka tidak berani lagi ngomong atau menulis berbahasa inggris, karena takut salah. Lebih sedih lagi, rasa takut salah mereka terjadi karena takut dipermalukan. Terlihat bodoh dan jadi bahan tertawaan di depan publik itu sakit sekali, saya tahu persis rasanya seperti apa.

Karena itulah, saya benci sekali dengan para Grammar Nazi. Bukan masalah koreksinya, tapi cara menyampaikannya.

Padahal kalo kita bicara tentang berbahasa, salah satu modal utamanya ya pede aja. Tidak harus langsung keliatan bagus dan terdengar seperti bule, pede aja dulu ngomong sebisanya. Sambil jalan dikoreksi dan berbahasa dengan lebih baik lagi.

Pede aja ini adalah salah satu poin sederhana yang membuat orang India jauh lebih maju, bahkan mendapatkan posisi bergengsi di banyak perusahaan besar. Sebut saja Sundar Pichai (CEO Google), Indra Nooyi (CEO PepsiCo), dan Shantanu Narayen (CEO Adobe).

Semua orang tahu betapa lucunya bahasa inggris orang india / keturunan india jika dibandingkan dengan native speaker, bahkan sangat sering kita melihat cara mereka bicara jadi bahan lawakan di berbagai film. Tapi ya mereka pede aja dengan cara bicara mereka, karena toh pada akhirnya gaya berbahasa tidak terlalu relevan dengan kinerja dan karya mereka. Tiga CEO tadi diantara contohnya.

Tidak percaya, cek saja video-video Sundar Pichai berbicara di Google I/O dan event lainnya. Masih sangat terdengar logat Indianya, tapi itu tidak menurunkan kualitasnya sama sekali sebagai seorang CEO salah satu perusahaan terbesar di dunia.

Karenanya, kelakuan Grammar Nazi harus dibasmi. Karena bisa saja, kelakuan mereka bertemu The Next Great CEO yang malah akhirnya berhenti belajar bahasa inggris hanya karena takut salah dan dianggap.

Saya pernah menulis sebelumnya, kebenaran saja tidak cukup. Cara kita menyampaikan kebenaran seringkali sama pentingnya dengan kebenaran itu sendiri. Jika kita hanya peduli apa yang kita berikan tanpa peduli cara kita memberikannya, maka semua bisa berakhir sia-sia.

Bayangkan seseorang ingin memberi kita sebuah berlian, tapi memberikannya dengan cara melemparkannya ke kepala, hingga kepala kita bocor dan berdarah. Seberapa pun mahalnya berlian yang diberikan, kita tidak melihatnya lagi sebagai berlian. Setelah itu, yang kita lihat hanya rasa benci terhadap cara orang itu melemparkannya dengan kurang ajar.

Kelakuan Nazi ini ada dimana-mana, dan bisa jadi kita juga masih melakukannya.

Tidak hanya Grammar. Ada Facebook Nazi, Religion Nazi, Politic Nazi, pokoknya semua orang yang dengan mudah menyalahkan orang lain padahal dia sedang berproses. Semua orang yang meninggikan dirinya dengan merendahkan orang lain.

These people, are douchebag.

We may be one of them. We may still behave like one.

But please, please don’t.

Karena kebenaran tidak seharusnya menyakitkan; ia seharusnya menyejukkan.

Let’s change.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close