Catatan Tentang Whatsapp

Saya sedang iseng menuruni timeline twitter sampai melihat @sheggario posting tulisan baru di blog nya. Tentang Whatsapp.

Dia cerita pendapatnya tentang hal-hal yang seharusnya bisa diimprove dari Whatsapp. Saya jadi terpikir untuk membahas hal serupa.

Ini beberapa catatan curhat saya dalam menggunakan Whatsapp dan betapa besar pengaruhnya terhadap kehidupan saya sehari-hari.

image

Pertama, sebagai orang yang cukup dewasa – setidaknya begitu saya menilai diri saya sendiri – saya menggunakan Whatsapp sebagai jalur utama berkomunikasi. Saya selalu merasa tua dengan LINE yang begitu ramai dengan gambar, dan saya merasa terlalu muda untuk BBM yang – subhanallah sekali – masih bertahan di industri ini.

Whatsapp buat saya pilihan yang paling tepat karena memenuhi semua kebutuhan saya dalam messaging: berkirim pesan, mengirim gambar, audio/video call, sharing link ke situs tertentu, bikin grup, dan ada versi desktopnya. Dan yang paling penting, tampilannya simpel. Elegan. Fungsional. Less distraction. Tidak terlalu ramai seperti LINE atau “terlalu tua” seperti BBM.

image

Kedua, Whatsapp buat saya sangat personal. It is like the simplest direct channel to reach me out. Jadi, sejujurnya saya ingin benar-benar membatasi kontak saya di Whatsapp karena kalo kebanyakan malah blunder: banyak message yang terlewat dan tidak terbalas.

Beberapa kali pula saya dikontak oleh orang asing dengan percakapan yang sama sekali tidak saya inginkan. Yang paling parah, pernah saya dapat pesan (yang sepertinya broadcast) berisi perintah untuk segera pergi ke TPS di Jakarta Selatan dan memastikan tidak ada kecurangan untuk salah satu kandidat. Entah dari mana orang itu dapat nomor saya, padahal saya orang Bekasi.

Karena alasan itu pula, saya termasuk orang yang protes ketika Whatsapp keluar dengan fitur semacam Instagram Stories.

image

Bagus sih, tapi waktu saya test pertama kali, hasilnya jadi banyak yang reply dan saya jadi harus chat langsung dengan banyak orang.

Ketiga, di Whatsapp, saya punya banyak sekali grup. Nah, grup Whatsapp ini sebenarnya juga sering jadi sumber masalah. Misalnya jumlah grup yang terlalu banyak, sehingga notifikasi selalu penuh oleh broadcast atau obrolan ga penting. Atau dimasukkan ke sebuah grup baru tanpa izin, lalu mau keluar tapi ga enakan. Atau kesel sama anggota grup yang terlalu berisik dengan obrolan lokal yang tidak ada faedahnya, tapi bingung gimana protesnya.

Saya yakin bukan hanya saya yang punya masalah ini.

Sampai-sampai ada akun Twitter @GrupWAKeluarga yang suka capture kelucuan dan hal-hal aneh yang terjadi di berbagai grup keluarga.

image

Ada beberapa orang yang menyikapi masalah-masalah ini dengan punya dua nomor; satu nomor yang bisa masuk di berbagai grup, satu lagi yang personal. Buat saya pribadi, metode ini tidak bisa jadi solusi karena saya orangnya sangat reckless. Punya dua nomor malah akan bikin saya tambah pusing.

Jadi secara berkala saya sendiri bersih-bersih grup. Ini hal yang sebenarnya saya lakukan di semua sosial media saya; secara berkala saya akan cek grup-grup yang tidak penting, tidak masuk prioritas, atau sudah tidak aktif. Saya akan minta izin dan keluar dari grup-grup itu. Hasilnya, hidup lebih aman, damai, dan tentram.

image

Keempat, Whatsapp membuat saya jadi lebih sering terpapar dengan berita-berita tidak jelas. Lewat grup-grup Whatsapp, siapapun bisa share apapun. Akibatnya, potensi berita hoax, broadcast tidak penting, hingga joke-joke tidak lucu sangat mudah tersebar. Katanya sih selalu “dari grup sebelah”, walau saya ga pernah tau juga grup sebelah itu sebenarnya grup yang mana.

Hal ini membuat sebuah konten sangat mudah viral. Saya pribadi menyikapinya dengan selalu menerapkan prinsip-prinsip dasar dalam berkomunikasi online. Misalnya, selalu pastikan menyebutkan sumber ketika menyebarkan konten.

Jika ada yang menyebarkan foto / video tanpa keterangan sumber, jangan disebarkan kembali. Jika ingin menyebarkan konten dengan link ke suatu situs, pastikan kita sudah membuka link dan membaca isinya sebelum menyebarkan kembali. Dan jika kontennya sudah menyangkut isi sensitif, selalu pastikan domain situsnya kredibel dan tidak abal-abal. Jangan asal sebar link berita dengan embel-embel blogspot, wordpress, atau apapun yang terlihat jelas tidak resmi.


Now, I will stop here. Rasanya kalo saya harus cerita lebih banyak tentang Whatsapp, mungkin masih akan panjang bahasannya.

Tapi bagaimanapun, Whatsapp tetap menjadi alat komunikasi yang sangat penting karena digunakan secara masif; hampir semua keluarga, teman, saudara, dan rekanan kerja saya hadir di Whatsapp. Jadi memang tidak bisa ditinggalkan sepenuhnya, tinggal bagaimana tetap menggunakannya dengan kritis dan bijaksana.

Semoga makin banyak orang yang aware dan kritis supaya barisan pesan di Whatsapp kita lebih damai dan membahagiakan!

image

PS: Meet Brian Acton & Jon Koum, Founders of Whatsapp

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.