You Will Rise

Saya punya geng curhat beranggotakan empat orang yang akrab sejak kuliah. Kami jarang kumpul, tapi sekalinya ngumpul selalu bermakna karena kami problem-based community.

Maksudnya, kami komunitas yang kalo kami ngumpul, berarti salah satu dari kami ada yang lagi punya masalah dan butuh tempat sampah. Itulah kenapa namanya problem-based community, karena kami cuma ngumpul kalo lagi ada masalah.

Biasanya yang jadi sumber obrolan karena punya masalah akan bergiliran. Mungkin bulan ini saya, bulan depan si A, 2 bulan kemudian si B, dan begitu seterusnya.

Yang lucu, seringnya masalah yang kami hadapi sama. Hanya saja datangnya bergiliran.

Kalo bulan ini saya punya satu masalah, maka teman saya akan mengalami hal yang sama. Tapi bulan depan.

Jadinya lucu karena bulan ini saya akan jadi orang yang sangat terpuruk, dan teman-teman saya akan berperan jadi orang-orang yang bijaksana dan mengambil peran menasihati. Menunjukkan sisi positif dari masalah yang terjadi.

Nanti bulan depan, kami berganti peran. Yang tadinya menasihati jadi yang terpuruk. Yang terpuruk sudah move on dari masalahnya, lalu gantian jadi yang bijaksana dan menasihati.

Dan begitu seterusnya.

Dalam obrolan kami, biasanya kami saling menasihati sambil ketawa. Mencoba mencari solusi sambil menertawakan betapa lucunya hidup karena masalah datang silih berganti. Konflik hidup yang selalu naik dan turun semacam komidi putar di pasar malam. Yang saat berputar naik membuat kita happy karena adrenalin memuncak, dan saat turun membuat kita terjungkal lalu mual.

Pergantian peran itu seringkali membuat saya menemukan sudut pandang lain dalam melihat masalah.

Saat kita jadi orang yang punya masalah, dunia rasanya sempit sekali. Hidup ini rasanya tidak adil, dan yang terasa cuma sakit hati.

Tapi begitu kita jadi orang yang sudah melewati masalah, kita bisa dengan enteng jadi orang yang menasihati. Kita bisa melihat dengan jernih bahwa masalah teman kita itu ya solusinya simpel. Kita bisa dengan mudah melihat sisi baiknya, memberi tahu solusinya, dan dengan enteng bilang, “Udah, gini doang kok. Bentar lagi juga selesai”

Masalah sering membuat orang yang sedang menghadapinya kehilangan arah. Itulah kenapa kita butuh teman. Butuh orang yang mau hadir dan siap mendengarkan.

Dan saya percaya, masalah selalu hadir dalam tiga babak.

The begin. The fall. The rise.

Saat kita memulai. Saat kita jatuh. Dan saat kita bangkit.

When you come to the third part, you will learn that problems always make us stronger. Wiser. Better.

Pas kejadian sih ga akan terasa.

Pas kejadian, yang terasa cuma dunia yang sempit, hidup yang tidak adil, dan hati yang sakit.

Tapi nanti setelahnya, you will know. Definitely, you will.

You just have to wait.

You are gonna be a different, much better person.

You will rise.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close