Mau Tidur Lagi

Selepas sholat subuh hari ini, saya tidak sedang ingin tidur lagi.

Biasanya, tidur lagi adalah ritual harian yang jarang sekali saya tinggalkan. Meski sudah sering mendengar bahwa tidur setelah subuh itu dilarang, atau setidaknya¬†tidak baik untuk dilakukan,¬†godaan untuk kembali ke kasur dan memeluk guling terlalu besar untuk diabaikan. Meski sering menyesal karena berniat tidur 15 menit tapi jadinya malah tertidur 15×4 menit, tidur lagi setelah subuh adalah kemewahan dunia yang mungkin memang diciptakan setan untuk menjebak manusia.

Tapi subuh ini, tidak. Saya tidak sedang ingin tidur lagi.

Setelah melihat istri terlelap, saya bangkit dari kasur. Biarlah dia terlelap, toh dia bangun jauh lebih dulu dari saya untuk menyiapkan makanan. Biarlah dia saja yang tidur lagi. Saya tidak.

Saya ke ruang tengah dan membuka laptop. Saya membuka pintu depan supaya udara dingin masuk ke dalam. Lalu sayup-sayup terdengar suara ustadz, berapi-api mengingatkan umat tentang panasnya api neraka di kuliah subuh hari Ahad.

Saya mulai membuka draft tulisan. Bila saya orang biasa dan sedang tidak puasa, mungkin saya sedang akan menyalakan sebatang rokok dan mulai menghisapnya. Mungkin saya akan memilih A-Mild atau Marlboro. Kayaknya dua rokok itu yang cocok buat saya, meski saya juga ga tau gimana rasanya. Saya akan menghisap panjang dan menyemburkan asapnya ke luar ruangan. Lalu mengambil asbak, mulai menjentikkan abu di atasnya, dan sok memberikan tatapan tajam mengisyaratkan inspirasi mulai datang.

Sayangnya saya bukan orang biasa. Saya tidak merokok, dan saya sedang berpuasa. Jadi saya cuma menghirup udara pagi yang segar, lalu menghembuskannya lagi pelan-pelan.

Draf yang sedang saya buka ini adalah tulisan yang sudah lama ingin saya selesaikan. Cerita pendek otobiografi yang ingin saya bagikan biar orang-orang tau opini dan buah pikir di otak saya. Cerita singkat yang selama ini terhambat karena saya terlalu sibuk ingin terlihat bermakna daripada berfokus pada esensi dari karyanya.

Mungkin cerita ini tidak pernah selesai karena saya terlalu sibuk lalu lalang di linimasa dunia maya. Mendaras runutan cuitan di twitter yang tidak ada habisnya. Kepo dengan konflik selebgram versus selebtwit yang penuh drama. Menjual jiwa saya pada jempol yang menggeser instastories berisi kehidupan orang lain yang tidak ada habisnya.

Atau mungkin cerita ini tidak pernah selesai karena saya terlalu sibuk menginginkannya selesai. Terlalu sibuk membayangkan ratusan tanda suka dan puji-pujian yang saya dapatkan di kolom komentar.

Lalu saya terdiam. Itu dia. Kemungkinan terakhir itu jawabannya.

Tetiba kepala saya seperti terang benderang. Jika saya orang biasa, di bagian ini rokok saya sudah hampir habis sebatang. Lalu saya menekan ujungnya yang terbakar untuk mematikannya, sebuah gestur yang kurang lebih mengartikan apa gue bilang, inspirasi itu datangnya dari rokok sebatang. Menegaskan bahwa idiom sebatdul adalah sebuah keniscayaan.

Lalu saya mulai kerasukan. Menekan tuts ini dan itu, merangkai kata menjadi satu tulisan yang utuh dan padu.

Senyum saya mengembang. Cerita ini akhirnya selesai.

Jika saya orang biasa, di bagian ini saya akan menutup laptop. Saya akan pergi ke dapur menyeduh kopi, lalu menyalakan rokok sebatang lagi.

Tapi tidak, saya bukan orang biasa.

Saya menengok ke atas pintu, sudah jam enam pagi.

Saya mau tidur lagi.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.