Instagram dan Wisata Selfie

Instagram, bisa jadi adalah salah satu pengaruh terbesar dunia di abad ini. Salah satunya dengan mengubah industri pariwisata dan memunculkan istilah baru: wisata selfie.

Saya sendiri baru ngeh dengan istilah ini ketika kemarin merayakan anniversary pernikahan di Bandung. Saya dan Chantik memilih Bandung karena murah dan bisa mudah kemana-mana, sekaligus mengunjungi orang tua, biar sekali jalan.

Kami menginap di daerah Ciumbuleuit, tepatnya di Hotel Art Deco yang dipilih oleh Chantik karena desainnya yang mantap dengan berbagai spot menarik. Dengan kata lain, hotel yang juga bisa menjadi tujuan wisata selfie.

Screen Shot 2018-11-24 at 2.29.20 PM

Kami pun mencari wisata di sekitar sana yang bisa kami kunjungi. Dari hasil riset Google (dan instagram tentu saja), kami menemukan Orchid Forest, yang dari keterangannya adalah tempat wisata selfie.

Di sana, kita bisa menemukan berbagai spot dengan beragam gimmick properti, seperti payung bergantung, bola melayang, hingga lampu warna warni. Semuanya demi menghasilkan foto menarik yang instagrammable.

IMG_3598.JPG

IMG20181119153049.jpg

Apakah fenomena ini hanya terjadi di Bandung? Engga juga. Minggu lalu saya juga ke Bangkok untuk Youtube Creators For Change regional Summit. Venue acaranya di Changcui Market, sebuah kawasan kreatif yang tidak lain dan tidak bukan juga adalah tempat wisata selfie.

Ada berbagai instalasi yang – boleh saja kreatornya mengatakan mereka adalah properti seni – tapi naif rasanya kalo menafikan bahwa mereka juga adalah properti untuk selfie ciamik.

WhatsApp Image 2018-11-16 at 18.38.17.jpeg
Foto sama si anjing
WhatsApp Image 2018-11-16 at 18.56.07
@ardiwilda
WhatsApp Image 2018-11-16 at 18.56.12
Lorong waktu di Changcui Market, Bangkok

Di Jakarta kita kenal Museum Macan, museum seni kontemporer yang pada akhirnya dikenal khalayak ramai sebagai tempat wisata selfie. Bandung jauh lebih ramai dengan jenis wisata ini, setidaknya kita sudah kenal Rabbit Town, This Is Me, dan Centrum Million Balls.

Belum lagi kafe dan restoran yang mulai menyesuaikan. Tempat makan kini tidak hanya harus menyediakan menu yang enak, tapi juga harus instagrammable. Bahkan menu yang tidak enak bisa termaafkan asal ada background foto menarik untuk mempercantik feed instagram kita.

Dan mereka semakin agresif menawarkan wisata selfie ini sebagai poin jualan utama. Bahasa bisnisnya, USP (unique selling point). Contohnya seminggu belakangan ini, saya dihantui iklan postingan berikut setiap buka instagram.

Apakah ini fenomena yang baik?

Rasanya kembali ke masing-masing orang untuk menilai apakah ini baik, tapi yang jelas ini menarik. Lanskap industri pariwisata dan FnB berubah drastis karena perubahan tren, dimulai dari perubahan teknologi yang dimotori oleh Instagram.

5 tahun yang lalu, mungkin kita hanya kenal wisata alam. Kini, Instagram menyulap industri dan menciptakan istilah wisata selfie. Bahkan kini wisata alam pun mau tidak mau harus juga punya unsur wisata selfie.

Karena kalau tidak, buat apa jauh-jauh ke pantai kalau tidak bisa pamer di Instagram bahwa kita sedang menikmati vitamin sea?

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.