Love You, Guys

Saya mau cerita dikit sisi personal saya sebagai content creator.

Cerita ini, saya tujukan khusus untuk teman-teman yang suka dengan konten saya, baik itu tulisan, podcast, atau Youtube. Anggaplah ini curhatan saya sama kalian.

Cuitan di atas saya twit setelah melihat komentar yang saya rasa agak kurang ngajar di Youtube saya. Intinya, orang ini protes minta microphone saya diupgrade karena suara saya ga jelas.

Ga cuma itu, saya juga sering jengah dengan komplen serupa soal teknis lainnya.

“Suaranya ga jelas, benerin bang”

“Gambarnya goyang-goyang, yang stabil lah”

Saya sebel banget sama yang komplen kayak gini karena dua hal.

Pertama, kalo saya bikin konten, saya selalu berusaha bikin yang paling bagus secara teknis kok.

Tapi teknis bagus itu ada harganya. Dibayar dengan alat, tim, effort, atau waktu. Selama saya ga punya kemewahan buat bayar harganya, prioritas utama saya adalah kontennya. Selama kontennya sampai, ya teknis-teknis lain saya usahakan terbaik yang saya bisa.

Saya tahu kok teknis saya ga ideal. Untuk video Youtube misalnya, ngedit di Premiere itu ribet loh buat saya, karena harus nyari waktu yang tepat dan harus buka laptop cukup lama. Itulah kenapa saya shooting dan mengedit dengan handphone saya, karena itu yang paling praktis buat saya. Tapi itu sudah teknis terbaik yang bisa saya kerjakan.

Saya ngabisin waktu dan tenaga buat ngerekam, ngedit, lalu ketika published, orang dengan seenaknya, “suaranya ga jelas, benerin bang”.
Buat kalian yang bilang, “ya anggap aja kritik membangun”, percayalah saya tahu itu. Tapi tidakkah wajar kalau saya marah?

Kedua, yang bikin saya sebel adalah orang-orang ini ga tau cara bicara yang sopan. Sebenarnya bukan dalam konteks sopan seperti saya pengen dihormatin, bukan. Tapi ya masa ga bisa ngomong yang baik sih, misalnya

“Bang, topiknya udah keren euy, thanks ya. Kalo gue boleh saran, mungkin bisa pake mic bang biar lebih clear suaranya. Thank you!”

That will make a huge difference.

Saya ga anti kritik, malah saya suka banget kalo ada yang kritik tapi membantu, misalnya dengan kasih link tutorial atau kasih saran penggunaan alat tertentu. Tapi ya tadi balik lagi, saya cuma pengen hubungan saya dan orang yang suka konten saya itu teman. Jadi kita bisa saling pengertian.

Haha saya tau tulisan ini kok kesannya saya ngomel-ngomel dan protes, padahal kalo dipikir-pikir elah masih kecil juga masalahnya. But I spit them out anyway.

Anggap saja ini curhatan saya supaya kalian yang baca ini tau perasaan saya (cie gitu).

Lastly, here is what I get from people who listen to my content and become my friends.


She reminded me with my own saying.

Love you, guys.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.