Jadi Kita Mesti Gimana?

Saya sedang di perjalanan kereta ke Bandung, ketika barusan saya menulis sebuah tweet,

Pengen blokir keyword KPI karena konten apapun yang gue baca cuma bikin emosi.

Yang lalu saya hapus lagi.

Saya sering banget melakukan ini, ingin ngetwit sesuatu, sudah diketik, lalu memutuskan untuk menghapusnya lagi. Self censorship.

Perilaku self censorship saya ini dipengaruhi dua hal.

Pertama, self awareness. Saya mengerti diri saya sendiri dan saya sering mempertimbangkan apa dampak postingan apapun yang saya publikasikan di sosial media.

Kesadaran ini datangnya dari edukasi. Melalui pendidikan, saya menjadi pribadi yang siap bertanggung jawab untuk semua konsekuensi dari hal yang saya ucapkan dan saya lakukan. Karenanya, saya sering mempertimbangkan lagi tulisan saya sebelum saya tekan tombol tweet.

Kedua, sistem censorship negara ini yang makin ngawur dan ngaco. Duh saya berusaha sopan di sini, harusnya bukan kata barusan yang keluar. Oke kita ulang lagi.

Kedua, sistem censorship negara ini yang makin goblok dan bodor. Dimotori oleh badan badan pro sensor pemerintah yang semuanya digawangi om tante pejabat yang suka seenak jidat. Diantaranya yang kita sudah familiar, adalah KPI dan Kemenkominfo.

Kominfo dan KPI yang terobsesi dengan aktivitas sansar sensor ini yang somehow bikin banyak orang – termasuk saya – sering parnoan kalo mau posting sesuatu. Kita jadi terbiasa melihat hal biasa seperti tupai pake bikini di spongebob, atau tete sapi di acara laptop si unyil, disensor. Semacam kalo lihat itu kita langsung ngaceng atau iman kita langsung runtuh dan menjadi manusia kriminal nan amoral.

Iya betul KPI tidak melakukan sensor. Yang melakukan sensor adalah TV / lembaga penyiarannya masing-masing, tapi ya karena takut ditegur KPI. Karena KPI suka negur negur hal yang indikatornya aneh, jadi pemain industri TV ambil aman ajalah daripada program kena tegur KPI. Hasilnya ya tadi, sensor semua sampe ke tete sapi.

Terbiasanya kita melihat hal blokir dan sensor macam itu yang bikin kita sering takut berekspresi: ini gue aman ga ya memposting ini, kena blokir ga ya gue ngomong itu. Belum lagi dengan adanya UU ITE, beda bahasan lagi nih, tapi terkait. Akhirnya, kita self censorship.

Lagian KPI ini juga dikritisi dari kapan juga ga ada perubahannya. Ga jelas kerjanya gimana, ga transparan juga. KPI sering berdalih karena aduan masyarakat. Aduan masyarakat mana? Bukalah datanya kalo emang aduan masyarakat, ga pernah jelas kok data aduannya gimana. Ya wajar aja kalo masyarakat curiga.

Lembaganya juga ga jelas. Kerjanya apa, goalnya apa, metodenya gimana. Kenalan ga pernah ke masyarakat, tahu-tahu larang ini itu. Ibarat hubungan, lah kenal aja belum udah posesif. Lau sokap.

Lagipula, kalau KPI selama ini sudah berhasil, ya tayangan TV kita pasti sudah “berkualitas”, “bermuatan edukasi”, atau sesuai jargon-jargon yang sering dilontarkan sebagai bidang pekerjaan mereka. Nyatanya kan engga, jauh!

Catatan besar lainnya: pengurusnya kelewat tua yang ga ngerti juga apa yang relevan buat orang jaman sekarang. Gini deh, coba lihat video kenalannya KPI soal komisioner mereka. Ya ampun editing videonya sedih, isinya pun kelihatan para pejabat yang tahu Black Mirror aja engga. Dan lalu mau mengawasi konten digital? Ya kita berhak sensi lah. Gila aja.

Ternyata tulisan ini sudah panjang. Mari kita tutup dengan bahas sedikit satu pertanyaan: bisa ga sih lembaga-lembaga penting pemerintahan kita potong satu generasi? Ini pertanyaan saya sejak lama, karena nampaknya akar permasalahan banyak lembaga pemerintah adalah sumber dayanya: kebanyakan diisi orang tua yang ga ngerti juga apa yang jadi urusannya.

Masyarakat kan perkembangannya cepat, kalo pemerintahnya ga ikut cepat, lebih lagi ga bisa relevan dengan bahasan masyarakat, ya selamanya kebijakan pemerintah akan tidak tepat dan selalu terlambat.

Masalahnya, semua hajat penting hidup kita berwarganegara dipegang mereka-mereka ini, ya jadi kita mesti gimana?

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

One thought on “Jadi Kita Mesti Gimana?”

Tinggalkan Balasan ke agilwijaya Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.