Tiga Kunci Membangun Disiplin atau Kebiasaan Baru

Pagi ini saya baru sadar: saya belum menulis kemarin.

Sial, padahal sudah diniatkan kemarin. Excuse saya kali ini: saya lagi liburan. Jadi habit hariannya tidak berpola, jadi sulit menentukan waktu kapan saya menulis.

Memang itu excuse saja sih, harusnya bisa saya atasi. Tapi memang membangun kebiasaan dan disiplin itu butuh pola agar lebih mudah tercipta. Mari saya jelaskan singkat teori membangun habit atau disiplin.

Pertama, harus ada trigger (pemicu). Dan triggernya harus sama berulang-ulang. Trigger bisa berupa aktivitas, waktu, atau tempat.

Contoh trigger aktivitas: setelah makan, saya minum obat.

Contoh trigger waktu: setelah sholat subuh, saya lari pagi.

Contoh trigger tempat: sampai di kantor, saya bikin kopi.

Coba ingat lagi semua kebiasaan yang sudah otomatis dalam hidup kita, semuanya pasti didahului salah satu dari tiga pemicu di atas. Karena sudah melakukannya berulang kali, akhirnya tiap pemicu tadi muncul, alam bawah sadar kita otomatis mendorong kita melakukan aktivitas tersebut. Yang lama kelamaan mengkristal menjadi kebiasaan.

Sehingga kembali lagi, kunci pertama membangun disiplin adalah menentukan trigger terhadap aktivitasnya. Trigger ini idealnya konstan setiap harinya, jadi kita lebih mudah membiasakan diri.

Kedua, aktivitasnya harus dimulai dari yang mudah atau skala kecil.

Kalau menulis, mulai dari satu halaman tiap hari. Kalau olahraga, mulai dari 10 menit tiap hari. Kalau diet, mulai dari kurangi sesendok nasi setiap hari.

Karena peralihan kebiasaan itu harus pelan-pelan, ga bisa langsung melompat ke yang ekstrem. Kalau langsung ekstrem, kita akan merasa berat dan akhirnya memutuskan berhenti. Agar mau mengubah kebiasaannya, otak kita memang perlu sedikit dibodohi.

Ketiga, harus ada reward atau perasaan accomplished: telah menyelesaikan sesuatu. Ini sih bisa hal yang memang sifatnya beneran reward, atau sekadar aktivitas yang bikin kita merasa telah menyelesaikan sesuatu.

Reward misalnya, kalau berhasil tidak makan nasi selama 6 hari, bisa diselingi cemilan malam satu hari. Atau yang lebih simpel aktivitas seperti yang saya lakukan; tiap selesai menulis, share di twitter. Tiap selesai lari, input di aplikasi Google Fit dan melihat pencapaian lari hari ini. Bisa juga tiap selesai melakukan aktivitas tertentu, kita coret tanggal di kalender sebagai simbol sudah selesai, namanya teknik Don’t Break The Chain.

Tiga kunci itu yang wajib ada ketika kita ingin membangun disiplin: harus ada trigger, harus mudah dilakukan, dan harus ada reward.

Kembali ke premis awal, saat liburan seperti ini sulit menjaga disiplin menulis karena tiga hal tadi jadi berantakan. Triggernya berubah karena saya tidak beraktivitas seperti biasa, jadi agak sulit karena saya lagi vacation mode, dan rewardnya juga malas saya lakukan karena selama liburan saya lagi males buka sosmed.

Tapi ya excuse tetap excuse, saya minta maaf sama diri saya sendiri.

Oh, baru ingat satu lagi kunci membangun disiplin:

Kalau ada satu hari yang terlewat, ya jangan berhenti. Tetap lanjutkan saja seperti biasa, tebus hari yang terlewat kemarin, lalu lanjutkan lagi.

Persis seperti yang saya lakukan dengan tulisan ini.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.