Bridal Shower dan Budaya Tidak Penting Lainnya

Di zaman ini, hal tidak penting seperti gengsi berpotensi menjadi penting karena instagram.

Dalam pernikahan misalnya, salah satu budaya yang mulai ramai dilakukan adalah Bridal shower. Pesta pemberian hadiah untuk calon pengantin wanita yang biasanya dilakukan oleh teman-teman terdekat. Pesta ini dilakukan dengan dekor balon dan signage bertuliskan nama si calon pengantin atau kata mutiara tentang cinta. Lalu tak lupa di akhir acara, wajib foto bersama dan diupload di instagram untuk memberi tahu dunia.

Meski pestanya dilakukan oleh orang terdekat, tidak sedikit juga yang justru diselenggarakannya oleh si calon pengantin. Event bridal shower jadi masuk ke item budgeting pernikahan yang harus disiapkan oleh si calon pengantin.

Secara praktis, sebenarnya tidak ada yang salah dengan bridal shower. Hanya saja saya mengamati ketika sudah jamak dilakukan oleh para selebgram dan teman-teman kita di sekitar, banyak orang yang merasa bahwa mereka juga wajib melakukannya meski sebenarnya tidak perlu, bahkan tidak mampu. Semuanya demi terlihat cantik, ramai, dan dapat pengakuan di sosial media.

Sejujurnya, tentu sah-sah saja jika teman-teman memiliki kemampuan secara finansial dan merayakan bridal shower dengan niat menjalin silaturahmi lagi dengan teman-teman terdekat. Tapi, jangan sampai kita memaksakan untuk melakukannya hanya karena gengsi. Hanya karena ingin terlihat bagus di instagram, lalu harus mengeluarkan uang dan tenaga yang tidak sedikit untuk hal yang sebenarnya bukan bagian esensial dari pernikahan itu sendiri.

Contoh lain yang sering menjadi kebiasaan, terutama oleh pengantin wanita, adalah berseragam dengan teman-teman di pernikahan. Kain atau bahan seragam biasanya disiapkan oleh calon pengantin untuk dibagikan ke teman-teman terdekat, demi bisa tampil dan foto berseragam di hari H nanti. Tentu menyenangkan jika memang mampu untuk dilakukan, tapi jika sulit, maka jangan dipaksa. Hal itu bukan bagian penting dari pernikahan, jangan sampai hal yang tidak esensial menjadi prioritas dibandingkan hal lain yang justru lebih penting.

Saya menemukan tidak sedikit lingkaran terdekat saya yang justru mengeluh tapi terpaksa tiap kali ada pernikahan temannya.

“Duh harus jahit seragam baru lagi?”

“Ya, mau gimana lagi”

Belum lagi dengan si calon pengantin yang juga harus mengeluarkan biaya tambahan demi bahan agar satu geng bisa berseragam. Pengeluaran yang sejatinya tidak perlu ada dan bisa dialihkan untuk hal lain atau bahkan untuk kehidupan pasca menikahnya.

Intinya, saya melihat ada budaya-budaya tidak esensial yang perlu dipertimbangkan untuk dihindari. Jika itu bagian dari mencari keberkahan pernikahan dan sesuai kemampuan, maka boleh dilakukan. Tapi jika itu bagian dari sekadar gengsi dan apalagi tidak sesuai kemampuan, maka hindari. Pun jika teman kita yang akan menikah ingin melakukannya meski kita tahu dia tidak mampu, jangan sungkan untuk menahannya. Sudah jadi tugas teman untuk mengingatkan dalam kebaikan, bukan mengingatkan dalam gengsi demi postingan.

Semoga jadi renungan.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

One thought on “Bridal Shower dan Budaya Tidak Penting Lainnya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.