Mana Yang Tidak

Dalam salah satu sesi mentoring karir, saya ditanya apa prioritas saya di luar pekerjaan.

Setelah saya ceritakan panjang lebar setidaknya lima project side-hustle yang sedang saya jalankan, mentor saya cuma menjawab simpel.

“Kalo ada lebih dari dua, namanya bukan prioritas”.

Saya tertohok parah.

Cuma butuh dua detik untuk menyadari kebodohan saya, iya juga. Pantas saja tidak banyak kemajuan yang saya rasakan: terlalu banyak hal yang saya berusaha “fokuskan”. Padahal kalo yang namanya fokus ya harusnya eksklusif, idealnya satu.

Tantangannya memang manusia terbiasa celamitan, ingin banyak hal dan ingin semua terjadi di waktu yang bersamaan, sekarang. Itu juga kesalahan yang saya sadari sudah saya lakukan.

Tidak heran kemajuan yang saya rasakan kok rasanya sangat pelan. Sementara yang saya ekspektasikan maju ada banyak hal. Jadi benturan ekspektasi vs realitanya ada banyak, sehingga rasa kecewanya pun berlipat.

Bersama mentor saya, saya berusaha memetakan lagi apa yang ada di meja saya untuk menentukan mana yang benar-benar prioritas. Lalu mengerucutkannya jadi satu saja.

“Ini yang jadi prioritas kamu sampai satu bulan ke depan. Anything else, is secondary“.

Saya belajar lagi kalau prioritize itu selalu dibarengi deprioritize; untuk menemukan mana yang iya, maka perlu tegas menentukan mana yang tidak.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.