Gue dan Twitter

Saya dan Twitter punya hubungan yang agak-agak.

Love hate relationship kalo kata anak-anak sok ngerti cinta.

Cinta, tapi benci. Kesel tapi rindu.

Oke kita ralat dikit. Bukan twitternya sih, tapi orang-orangnya.

Cuma orang-orangnya kan terbentuk karena platformnya. Different platform attract different kind of people. Even further: different platforms bring different versions of each people.

Perilaku orang yang main instagram beda dengan yang main twitter. Bahkan, orang yang sama bisa berperilaku berbeda di platform yang berbeda. Ya ga sih?

Nanti kapan-kapan kita bahas lebih detil soal itu.

Nah Twitter ini, bikin orang berasa paling tau. Sotoy.

Dont get me wrong. Gue pun begitu. Kalo lagi buka Twitter, entah kenapa gue bisa mengobservasi diri gue sendiri, ego gue meninggi. Kesombongan meningkat. Judgement merasuk.

Gue lebih mudah terpancing, lebih ringan beropini, dan lebih tidak merasa bersalah bilang orang lain salah. Padahal kalo lagi di Instagram, gue malah merasa biasa-biasa aja.

Karakter Twitter yang berisi text membuat orang berpikir untuk mengeluarkan opini atau pandangannya. Alhasil, si platform juga memancing orang untuk memberikan opini terhadap berbagai hal, termasuk kepada tweet yang lewat di linimasa.

Sayangnya, kita memang terdesain untuk lebih reaktif terhadap sesuatu yang tidak sejalan. Kalau ada tweet yang buat kita marah/kesal akan lebih cepat kita reply daripada tweet yang positif atau netral. Ini juga pernah gue bahas di Youtube.

Twitter adalah satu-satunya platform dimana gue menggunakan fitur block. Isi blocklist gue cukup panjang. Lebih karena gue ga mau main sosmed untuk pusing, jadi orang-orang yang menurut gue gobloknya kelewatan akan masuk ke daftar eksklusif block list Iqbal Hariadi.

Di Twitter juga pekerjaan paling bangsat menurut gue – Buzzer – paling terasa. Wah gue misuh-misuh soal ini di #SubjectiveRant. Teman-teman yang datang di Bandung dan Depok mungkin ingat gue cerita soal apa. Kayaknya akan banyak materi yang gue kembangkan soal Twitter. Banyak ngeselin sih soalnya.

Tapi ya bagaimanapun, Twitter selalu berhasil menarik gue kembali. Mungkin karena gue lebih suka berbagi opini daripada berbagi yang lain, Twitter memang selalu punya tempat tersendiri.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.