Budaya Anonim Menghancurkan Masyarakat Kita

Saya ingin membahas sedikit lebih detil soal ini.

Menurut saya, budaya anonim di media sosial menghancurkan masyarakat kita.

Budaya anonim yang saya maksud saya coba sempitkan konteksnya.

Kalo di twitter, saya merujuk pada yang dikenal sebagai akun fanbase, akun yang mempublikasikan tweet dari submission orang-orang melalui DM di akun tersebut. Beberapa contoh akun terkenal yang masuk kategori ini seperti @areajulid, @tubirfess, atau akun-akun yang berakhiran “fess”, biasanya akun-akun semacam itu lah.

Kalau saya amati, sepertinya ada yang memang dipegang secara manual oleh admin dan ada juga yang dijalankan secara otomatis dengan bot. Sehingga setiap orang yang DM untuk menanyakan atau mengatakan sesuatu secara anonim, otomatis akan terposting di akun tersebut.

Kalo di instagram, youtube, atau sosmed lainnya, saya merujuk pada budaya menggunakan fake/second account. Akun yang tidak menunjukkan nama asli, foto asli, dan biasanya tidak ada postnya sama sekali. Digunakan hanya untuk DM atau komentar sesuka hati.

Budaya ini tumbuh subur, dan menurut saya budaya ini sangat destruktif buat masyarakat kita.

Pertama, budaya anonim membuat orang-orang merasa tidak punya tanggung jawab terhadap apapun yang mereka katakan di sosmed. Dengan second/fake account yang tidak menampilkan foto/nama asli orangnya, orang-orang bebas aja untuk ngomong apapun ke orang lain tanpa merasa khawatir pada konsekuensinya. Toh, tidak akan ada yang tau siapa manusia di balik akun-akun ini.

Hasilnya, sosmed kita dibanjiri berbagai DM/komentar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Tanya saja semua wanita yang bermain di sosmed. Jangankan selebgram, orang biasa yang followersnya ga seberapa aja saya yakin sering mendapatkan DM/komentar berisi pelecehan; melecehkan fisik, ngajak berhubungan seks, sampai mengirim foto kelamin.

Atau orang-orang yang menghina, berkata kasar, atau berdebat dengan kurang ajar di kolom komentar. Di semua topik selalu ada second/fake account yang bermunculan dengan komentar tidak bertanggung jawab – yang biasanya justru “disukai” oleh netizen – bisa dilihat dari ramainya respon pada komentar tersebut (baik dengan mendebat atau menghina balik).

Kenapa ini terjadi?

Ya karena orang-orang ini merasa aman bersembunyi di balik anonim. Tidak akan ada yang tahu mereka siapa, tinggal dimana, dan identitasnya. Semua anonimitas ini menghilangkan akuntabilitas. Kecuali dengan resource berlimpah untuk menyelidiki (seperti yang pernah dilakukan Deddy Corbuzier misalnya), korban yang dihina/dilecehkan oleh orang-orang ini tidak akan punya kuasa untuk mencari identitas mereka dan memintai pertanggungjawaban.

Karena tidak pernah ada konsekuensi yang “menampar” orang-orang ini, budaya ini semakin subur dan jadi tempat aman untuk orang-orang yang tidak ingin bertanggung jawab pada apa yang mereka katakan di sosial media.

Kedua, tidak adanya akuntabilitas membuat orang merasa penting untuk selalu mencampuri urusan yang bukan urusan orang lain.

Terlihat dari seringnya orang berkelahi online karena hal-hal sepele yang sangat tidak perlu. Di twitter misalnya, setiap pekan selalu ada hal yang diributkan dan sangat sering berasal dari cuitan anonim dari akun-akun seperti @areajulid atau @tubirfess.

Orang-orang meributkan sebuah pertanyaan/pernyataan anonim yang tidak tahu siapa penulis aslinya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan pula. And this happen regularly!

Kondisi ini akhirnya membuat orang-orang terbiasa juga untuk “happy” melihat keributan atau konflik. Kalimat-kalimat seperti “ayo dong tubir” atau “spill the tea!” sangatlah familiar untuk orang yang terbiasa main twitter. It is so toxic and destructive.

Masyarakat sosmed kita jadi terbiasa untuk menghujat orang yang tidak dia kenal, mengomentari masalah yang dia tidak mengerti, dan meminta pertanggungjawaban padahal dia sama sekali tidak punya urusan.

Saya mungkin bisa membahas argumen soal ini lebih detil lagi, tapi saat ini saya cukupi dulu sampai sini. Intinya, saya pribadi merasa budaya anonim ini sangat tidak sehat untuk saya pribadi maupun masyarakat kita secara keseluruhan.

Karenanya, setidaknya ada beberapa hal yang saya lakukan untuk menjalankan prinsip ini:

  1. Berusaha sebisa mungkin tidak melibatkan diri pada percakapan apapun dengan akun-akun anonim.
  2. Tidak menanggapi secara serius komentar/DM dari akun-akun anonim, karena menurut saya selama mereka tidak berani menggunakan akun yang jelas identitasnya, maka saya anggap apapun yang mereka katakan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
  3. Menyibukkan diri dengan urusan di kehidupan nyata. Kalau saya masih ada waktu untuk berdebat di sosmed dan menanggapi akun anonim, berarti saya belum cukup sibuk mengurusi urusan yang benar-benar penting buat saya di dunia nyata.
  4. Menjadi antitesa budaya anonim dengan bertanggungjawab pada apapun yang saya katakan di sosial media.

Baca juga tulisan soal hubungan saya dan twitter.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.