Rezeki Yang Baik

Belakangan gue lagi banyak berpikir tentang rezeki.

Selintas ketika melamun, atau sekelebat ketika menyusuri timeline sosmed.

Gue coba tuliskan di sini supaya terdokumentasi.

Pertama, ga semua yang sudah punya kita itu ternyata rezeki kita.

Pernah ga punya barang yang udah lo beli, udah jadi punya lo, tapi akhirnya ga pernah lo nikmati?

Contoh, jajan batagor. Beli sore, taroh di kulkas karena niatnya “makan ntar malem deh pas santai”. Gataunya lupa ada di kulkas, baru inget 2 hari kemudian dan ternyata udah ga enak. Lalu dibuang.

Contoh lain, beli pulpen. Lalu disimpen di laci. Seminggu kemudian pas mau make, lupa ada pulpen di situ, dan malah beli baru dan jadinya make yang baru. Setahun kemudian pas beres-beres rumah, baru nemu lagi si pulpen yang dibeli pertama. Ternyata tintanya kering, dan akhirnya dibuang.

Jadi, bahkan sesuatu yang sudah jadi hak milik kita, belum tentu rezeki kita.

Bahkan kadang ternyata kita cuma perantara aja. Kita sih yang beli, kita sih yang dapetin barangnya, tapi ternyata itu bukan rezeki kita, tapi rezeki yang lain. Kita cuma jadi jalannya aja.

Setidaknya gue merasakan begitu ketika beli makanan, eh ternyata ga gue makan dan dikasih ke kucing jalanan. Ternyata itu rezekinya si kucing, tapi lewat gue. Atau gue beli baju, ternyata jalan setahun kepake cuma sekali dan akhirnya dikasih ke saudara. Ternyata itu rezekinya saudara.

Kedua, ga semua rezeki itu berkah.

Pernah ga punya barang yang lo punya dari lama, dan sampe sekarang masih awet? Kepake terus dan masih kasih nilai terus.

Menurut gue, barang-barang kayak gini adalah rezeki yang berkah. Umurnya panjang dan kita nikmati terus manfaatnya.

Gue punya sepatu Brodo yang gue beli tahun 2015. Gue inget banget karena sepatu ini barang mahal pertama yang gue beli dari gaji, waktu itu harganya 600 ribu. Alhamdulillah sampai sekarang masih awet, dan masih bisa dipake sesuai kebutuhan. Yang kalau dipikir-pikir, 600 ribu mungkin terasa mahal tapi alhamdulillah masih bisa dimanfaatkan hingga 6 tahun kemudian. Artinya kalo dihitung-hitung, gue cuma keluarin 100 ribu per tahun buat pakai sepatu ini. Berkah.

Gue juga punya sepatu Adidas yang beli tahun 2018. Harganya 1 juta. Waktu beli, kayak yang mahal banget gitu, sampe mikir-mikir banget “ini pemborosan ga ya”. Dan ternyata alhamdulillah sampe 3 tahun kemudian masih kepake, bahkan sepatu yang ini lebih sering lagi dipakenya dibanding yang Brodo. Gue pake sepatu Adidas ini buat olahraga, buat jalan santai, buat pergi keluar, pokoknya 90% kegiatan gue keluar pake sepatu ini.

Kalo main hitung-hitungan gobloknya, 1 juta dibagi 3 tahun, gue hanya bayar 300an ribu per tahun untuk pakai sepatu ini. Kalau dibagi 365 hari, berarti gue bayar kurang dari seribu per hari. Harga beli 1 juta nya jadi sama sekali tidak terasa mahal karena bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Jadi manfaat karena toh dengan sepatu ini mobilitas gue sangat terbantu untuk melakukan berbagai hal produktif, dari bekerja hingga ibadah.

Jadi barangnya bisa dipakai dengan umur panjang dan membantu menghasilkan manfaat yang lain. Berkah.

Sebaliknya. Pernah ga lo beli sesuatu, trus tiba-tiba hilang aja gitu ga ada rasanya sama sekali? Atau punya sesuatu, tapi bukannya mendapatkan manfaat malah dapat madhorot dari situ?

Gue pernah lagi kepengen banget beli satu minuman. Udah lama kepengen, pas ketemu langsung beli. Habis beli, minum seteguk lah tau-tau kesenggol orang. Minumannya jatoh, tumpah, blas ilang.

Atau pernah juga beli makanan dari restoran bagus. Makanannya sehat, istri dan teman yang ikut makan juga sehat, tapi gue abis makan sakit perut hebat. Pulangnya diare.

Yang kayak gini menurut gue bisa jadi rezeki tidak berkah. Kita mendapatkan sesuatu yang kelihatannya biasa-biasa saja, tapi cuma bisa menikmati secuilnya atau bahkan malah dapat madhorotnya.

Tidak berkahnya kenapa? Mungkin uangnya didapatkan dengan cara yang tidak baik. Mungkin dalam proses pembeliannya gue melakukan hal yang tidak baik. Sumber dan proses yang tidak baik akan menghasilkan luaran yang tidak baik pula.

Itulah kenapa dalam Islam, kita diajarkan untuk meminta rezeki yang baik. Karena tidak semua rezeki baik dan berkah, dan tidak semua yang kita miliki itu rezeki kita. Kadang kita dengan keterbatasan penglihatan dan pengetahuan manusia sering tertipu dan jadi sombong. Merasa punya ini itu, padahal bukan punya kita. Merasa hebat bisa ini itu, padahal tidak baik buat kita.

Itulah juga kenapa tanggung jawab mencari rezeki yang baik itu wajib hukumnya. Memberi rezeki yang halal dan baik kepada keluarga itu juga wajib secara prinsip dan praktik. Apalagi buat kita yang kepala keluarga, jangan asal kasih uang saja. Kita harus yakin kebaikan niatnya, kebaikan sumbernya, dan kebaikan prosesnya.

Memberi nafkah yang tidak baik kepada keluarga itu sama seperti menanam rezeki yang tidak berkah. Tidak akan ada kebaikan di dalamnya. Mungkin kita bisa sehat-sehat saja saat ini dengan makan dari rezeki yang tidak berkah. Tapi kelak bisa jadi kita tiba-tiba sakit. Atau kita jadi malas beribadah dan mudah berbuat dosa. Atau bisa jadi anak kita tumbuh sehat-sehat saja, tapi kelak anak ini bisa jadi bermasalah.

Karenanya, seimbangkan dari segi ikhtiar dan doa. Lakukan ikhtiar dengan cara yang baik. Lalu berdoa minta diberikan keberkahan dan kebaikan dari rezeki yang kita terima.

Walah, jadi nasihat begini.

Ini bukan buat siapa-siapa melainkan buat gue sendiri.

Semoga kita semua diberikan rezeki yang baik.

Diterbitkan oleh

Iqbal (@iqbalhape)

Love to share opinions and stories. Host of Podcast Subjective.

2 tanggapan untuk “Rezeki Yang Baik”

  1. Pas banget nemu artikel ini, di saat saya merasa sangat sulit sekali mendapatkan rejeki (rejeki tidak lancar) padahal semua usaha baik itu di dunia nyata maupun dunia maya sudah diikhtiarkan. Memang kembali lagi Rejeki itu adalah ketentuan dari Tuhan. Manusia berikhtiar dan berdoa. Terima kasih sudah sharing.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Ardit Setiwan Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.