Mimpi di Tidur Sehabis Subuh

Tidur lagi sehabis subuh selalu berisi mimpi-mimpi aneh.

Merasakan hal yang sama ga?

Gue selalu kepikiran hal ini setiap masuk Ramadan. Karena seringnya habis sahur dan sholat shubuh, ngaji / baca buku sebentar lalu tidur lagi sampai jam 7 atau 8.

Dan hampir selalu, tidurnya pasti mimpi yang aneh-aneh.

Selalu kombinasi antara tokoh dan kejadian di dunia nyata dengan imajinasi aneh yang.. aneh dah pokoknya.

Misalnya tadi pagi, gue masih inget nih mimpinya apa. Gue mimpi salah satu teman resign dari kantor trus ada pesta perpisahan yang megah banget. Disiarkan live di TV dan channel youtube dengan jutaan penonton. Lalu gue kebagian speech terakhir untuk melepas teman kantor gue ini. Aneh banget.

Atau kemarin, nah kebetulan gue juga masih inget. Gue mimpi rumah gue kemasukan biawak, karena ternyata di depan rumah gue itu danau yang masih asri. Biawaknya gede seukuran komodo (nah ini gue yakin datangnya dari memori gue penelitian di Pulau Tinjil), masuk rumah, dan gue yang mengusir biawaknya dengan santai ke luar rumah. Sekeluarga panik dan bahkan pengen ngebunuh biawak itu. Gue dengan santai bilang, “Loh ga boleh, dia cuma nyari makan aja kok ke sini”, lalu gue lemparkan sepotong ikan ke tepi danau dan biawaknya kembali ke sana.

Aneh. Banget.

Gue pernah ngetwit soal mimpi di tidur sehabis subuh ini. Bentar gue cari twitnya. (FYI, ini beneran gue buka tab baru dan search di twitter).

Nah ini dia.

Jadi apakah berarti jangan tidur lagi setelah sahur dan sholat subuh?

Baiknya sih begitu ya. Gue sendiri tidur lagi supaya paginya di jam kerja ga ngantuk. Otherwise, malah di jam kerja ngantuk males bawaannya pengen tidur.

Adakah hikmah dari tulisan ini?

Ga ada, pengen nulis aja.

Menulis Buku Baru

I am back to writing.

Setelah sekian lama tidak menulis, gue balik menulis lagi dengan misi: menulis buku baru.

Gue aktif membuat konten di Instagram. Dan meskipun kontennya juga serius gue tulis, gue selalu merasa menulis di blog atau Medium lebih menulis dibandingkan menulis di kanal sosmed seperti Instagram.

Selain itu, gue juga ingin kembali menulis karena gue ingin menulis. Bukan karena ingin dipuji, bukan karena ingin dirayakan, bukan karena ingin mendapatkan likes dan komentar. Gue tidak naif bahwa itu yang gue rasakan dengan menulis di Instagram sekarang. Ada mixed feeling antara ingin menyampaikan sesuatu dan kesenangan karena mendapatkan respon dari orang-orang.

Gue tidak merasa ada yang salah dengan hal itu, wajar-wajar saja. Tapi seperti yang gue tulis sebelumnya, gue rindu perasaan menulis dan tenggelam dalam pikiran sendiri. Dan mungkin lo juga jadi ngeh apa yang gue maksud di tulisan sebelumnya dengan we create our own demons.

I create my own demons.

Gue menulis dan bikin konten untuk membuat sarang yang bisa dipuja-puji. Balik lagi, tidak ada yang salah. Karena gue juga sadar penuh kenapa gue melakukan itu, they are just means to an end. Nanti kapan-kapan gue cerita lebih dalam soal ini.

Tapi gue mau kembali terbebas. Lepas. Karenanya gue kembali menulis di blog ini.

Karena gue rasa pasti lebih sedikit yang baca blog ini, dan gue akan anggap lo yang baca ini karena lo emang pengen kenal gue lebih dalam. Kita teman. Dan gue akan lebih santai dan terbuka sama orang yang gue anggap teman.

Mungkin tulisan-tulisan di blog ini (setidaknya sampai waktu yang gue belum tentukan) tidak akan gue promosikan di Instagram atau Twitter. Biar gue lebih nyantai aja nulisnya, dan kelak, membacanya.

Kembali ke poin gue di awal. Gue kembali menulis lagi karena gue punya misi menulis buku baru.

Saat ini naskah yang gue kerjakan adalah buku nonfiksi tentang berkarya di media sosial. Tesisnya sebenarnya sederhana. Anak muda harus berkarya di media sosial, dan gue akan bagikan kenapa dan bagaimana cara melakukannya. Berdasarkan pengalaman gue dan didukung sumber-sumber lain sebagai studi kasus pelengkap.

Gue saat ini sedang proses membuat kerangkanya. Gue sudah menuliskan tema besarnya, membuat bab-babnya, dan membuat daftar sub-babnya. Sekarang gue lagi menggarap setiap sub-bab satu per satu, menuliskan poin-poin apa yang ingin gue sampaikan di setiap sub-bab. Nanti setelah selesai semua, baru gue akan memulai proses menulisnya lagi.

Sebenarnya ini proyek lama yang tadinya gue kerjakan bersama seorang teman, Rezky. Ada draft yang sudah dibuat oleh Rezky juga (dibangun dari rekaman verbal saya + beberapa tulisan saya di blog). Sudah bagus sekali, tapi gue mau kasih jeda dulu dan coba bangun kerangkanya yang ideal versi gue dulu. Baru setelah itu akan dilanjut lagi dari draft yang sudah ada tadi.

Itu dulu kali ya. Sudah masuk jam kerja. Ngantor dulu, meski ga berpindah tempat.

Ketemu lagi di update berikutnya.

We Create Our Own Demons

Kalimat pembuka di Iron Man 3.

We create our own demons

Belakangan lagi kepikiran terus kalimat ini.

Kita yang bikin iblis kita sendiri. Kita yang bikin perangkap buat diri kita sendiri.

Mungkin awalnya ga berniat begitu. Ya iyalah, siapa coba yang pengen menciptakan setan buat dirinya sendiri. Yang niat dari awal buat bikin sesuatu yang nyusahin diri sendiri.

Di Iron Man 3, dilema Tony Stark ini diceritakan dengan sangat baik. Bagaimana Tony, Aldrich Killian, atau Maya Hansen di awal membuat penelitian hanya atas nama sains. Yang ternyata di kemudian hari berubah menjadi ambisi. Ambisi menggeser tujuan. Yang awalnya ingin membantu, jadi malah melukai.

I feel this kind of dilemma so many times. Itulah kenapa saya gue suka sekali film ini (meski entah kenapa banyak fans Marvel yang merasa film ini jelek sekali).

Tapi kembali ke poin pertama.

We create our own demons.

When it happens, I think there is no other way than killing the demons.

Even tho we created them in the first place.

Tenggelam Dalam

Tahu apa yang kurindukan?

Duduk terdiam di tengah malam.

Tenggelam dalam pikiran.

Lalu tanpa sadar, azan subuh sudah bersahutan.

Tahu apa yang kurindukan?

Mendengarkan musik orkestra.

Lalu hilang, hilang entah kemana.

Dielus air. Melayang ke langit. Memeluk gunung.

Ke mana saja, asal bukan di sini.

Tahu apa yang kurindukan?

Tenggelam dalam, pusaran waktu.

Tenggelam dalam, memori kehilangan.

Tenggelam dalam, hayalan tanpa batasan.

Tahu apa yang kurindukan?

Ketidakpedulian.

Pada barang. Pada nominal. Pada titel di papan.

Aku hanya ingin tenggelam dalam.

10 Buku Terbaik yang Saya Baca di 2020

Kebiasaan saya membaca buku di tahun 2020 berubah sangat signifikan.

Perubahan yang paling terasa: hampir semua buku di tahun ini saya baca dalam bentuk digital. Entah itu berupa ebook di Kindle atau Audiobook.

Faktor utamanya tentu karena tidak bisa bepergian ke toko buku. Biasanya saya membeli buku bulanan ketika kunjungan ke Mall, tapi karena aktivitas itu tidak dilakukan sejak pandemi, maka saya jadi lebih memilih membeli buku digital.

Berikut 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2020.

Keep Going — Austin Kleon

Buku Austin Kleon yang keluar di tahun 2019, tapi saya baca mendalam lagi di awal 2020. Austin Kleon adalah salah satu penulis favorit saya, dengan dua buku sebelumnya — Steal Like an Artist dan Show Your Work — merupakan buku yang sangat berpengaruh dalam mindset saya berkarya.

Keep Going membantu saya berpikir ulang tentang proses berkarya, dan bagaimana kita bisa terus konsisten membuat sesuatu. Salah satu tulisan favorit saya di buku ini berjudul Ignore The Numbers, yang saya tuliskan reviewnya di instagram.

Buku yang sangat direkomendasikan untuk siapapun yang ingin terus konsisten berkarya.

Anything You Want — Derek Sivers

Saya lupa persisnya bagaimana menemukan buku ini, tapi ini buku bisnis berformat semi-autobiografi dengan sudut pandang yang sangat menarik. 

Derek Sivers adalah seorang musisi sekaligus pebisnis yang membangun CDBaby.com, toko CD online yang membantu musisi independen menjual musik mereka. Derek memulai CDBaby.com sejak 1998, dan berevolusi dari memfasilitasi musisi menjual musik mereka dalam bentuk CD secara online, hingga membantu musisi mendistribusikan musik mereka ke platform digital seperti Apple Music dan Spotify.

Sesuai subtitelnya — 40 Lessons for a New Kind of Entrepreneur — Derek berbagi lessons learned yang ia miliki dari pengalaman memulai, membangun, dan menjual CDBaby.com. Dengan penulisan yang lugas dan ringan dibaca, sudut pandang yang unik (contoh: Derek tidak menyarankan pebisnis untuk mengejar growth), penulis berbagi semua rahasia, kegagalan, dan filosofi dari 10 tahun pengalamannya berbisnis. Sebuah buku yang sangat saya rekomendasikan untuk siapapun yang ingin belajar banyak hal dari buku yang ringan.

The Ride of A Lifetime — Robert Iger

The Ride of A Lifetime ini semacam buku autobiografi Robert (Bob) Iger, ex CEO Disney yang sekarang menjabat sebagai Executive Chairman.

Buat saya, buku ini sangat menarik karena saya belajar banyak soal leadership, bisnis, dan yang paling penting: cerita di balik layar film-film favorit saya.

Bob cerita banyak lessons learned nya sebagai CEO Disney, serta cerita di balik layar akuisisi besar Disney untuk ABC network, Pixar, Marvel, Lucasfilm, dan yang terakhir 21st Century Fox. Cerita Bob sangat menarik karena dia terlibat di berbagai event besar seperti akuisisi banyak perusahaan dan transisi Disney memasuki industri Livestreaming yang menjadi ujung tombak Disney: Disney+.

Ini bacaan yang sangat menarik, apalagi jika kamu fans salah satu IP yang dimiliki Disney. Saya sendiri adalah fans berat Pixar dan Marvel, jadi buku ini tidak hanya berisi, tapi juga menyenangkan.

Saya juga sempat menuliskan ringkasan singkat soal buku ini di instagram.

The Decision — Kevin Hart (Audiobook)

Buku ini mengawali pengalaman menyenangkan saya mendengarkan Audiobook di tahun ini.

Awalnya karena pandemi, saya menonton semua Standup Special Kevin Hart di Netflix, follow @KevinHart di Twitter, dan mengetahui kalau Kevin akan launching buku terbarunya berjudul The Decision dalam bentuk audiobook, eksklusif di Audible. Sebagai bagian promonya, buku ini bisa didownload jika berlangganan free-trial Audible selama satu bulan, yang artinya gratis!

The Decision dibacakan langsung oleh Kevin Hart. Dengan gayanya yang komedik, mendengarkan buku ini seperti mendengarkannya melakukan stand-up. Bedanya ada banyak mindset dan pola pikir yang Kevin bagikan, berdasarkan pengalamannya membangun karir puluhan tahun hingga sukses seperti sekarang.

Seperti subtitelnya — Overcoming Today’s BS for Tomorrow’s Success — buku ini memang semacam buku motivasi. Kalau kamu pernah berlari sambil mendengarkan Kevin Hart di aplikasi Nike Run, nah buku ini rasanya persis seperti itu. Rasanya seperti sedang dimentori oleh Kevin Hart sebagai coach.

Kalau penasaran, download audiobooknya gratis di sini.

Atomic Habits — James Clear (Audiobook)

Tidak melebih-lebihkan, tapi Atomic Habit bisa jadi salah satu buku nonfiksi terbaik yang hampir selalu masuk top 10 rekomendasi siapapun.

Pembahasannya fokus pada metode praktis membangun kebiasaan, yang bisa diaplikasikan di berbagai kondisi, baik personal maupun bisnis.

Saya tidak akan banyak membahas buku ini. Sebagian isinya pernah saya tuliskan kembali, misalnya tentang Identity-Based Habit atau The Power of Tiny Gain. Rekomendasi singkatnya begini: pokoknya kalau belum pernah baca, harus baca buku ini. Sangat useful.

Versi audiobooknya dibacakan langsung oleh James Clear sendiri, bisa dibeli di Audible.

The War On Normal People — Andrew Yang

Tidak banyak politisi yang menuangkan gagasan politiknya secara gamblang dalam sebuah buku, bahkan sebelum melakukan campaign — atau setidaknya tidak banyak yang saya tahu. Andrew Yang adalah salah satunya.

Andrew Yang mulai dikenal saat maju sebagai salah satu kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat. Setelah puluhan tahun sebelumnya bekerja di Startup / perusahaan rintisan dan menjalankan program entrepreneurship, Yang masuk ke politik dengan berbagai gagasan segar dalam menciptakan lapangan kerja dan — yang paling saya suka — Universal Basic Income.

Buku ini bisa dilihat sebagai gagasan politik atau sebagai visi dari seorang entrepreneur tentang isu sosial di level negara. Banyak hal yang bisa dipelajari dari gagasan di buku ini yang bisa diterapkan, atau setidaknya jadi bahan diskusi untuk dijadikan kebijakan publik di Indonesia.

The Startup of You — Reid Hoffman & Ben Casnocha

Reid Hoffman adalah veteran Sillicon Valley, seorang investor dan salah satu co-founder Linkedin. Di buku ini, Reid membawa gagasan menarik tentang pengembangan karir: bagaimana jika kita mengembangkan karir dengan metode yang digunakan mengembangkan Startup? Bagaimana jika kita bisa melihat karir kita sebagai produk, dan membangunnya dengan metode yang terukur sekaligus adaptif?

Buku ini sangat membantu untuk kita merencanakan karir. Dipenuhi dengan berbagai studi kasus dan tips praktis, saya sangat merekomendasikan buku ini terutama untuk kita yang sedang membangun awal karir.

The Gig Economy — Diane Mulcahy

Buku ini awalnya saya baca sebagai bahan riset untuk sebuah project. Setelah membaca dua bab pertama, ternyata isinya sangat relevan dan menarik untuk dipelajari.

Buku ini bercerita tentang fenomena Gig Economy, dimana saat ini industri bergeser ke pekerjaan-pekerjaan yang bisa dilakukan berbasis project. Gig Economy membantu banyak orang untuk membangun karir yang lebih sehat, mengatur waktu dengan lebih baik, dan memiliki multiple source of income.

Tidak hanya teori, buku ini ditulis sebagai panduan. Banyak tips praktis dan halaman kerja yang bisa langsung diisi untuk pembaca bisa langsung membangun karir dari Gig Economy.

No Rules Rules — Reed Hastings, Erin Meyer (Audiobook)

Ini salah satu buku yang saya tunggu-tunggu di tahun ini.

Reed Hastings, Founder dan CEO Netflix, bercerita tentang company culture yang dibangun di perusahaannya. Culture ini yang menjadi salah satu pendorong utama Netlix menjadi salah satu perusahaan digital paling inovatif, dan bisa terus berevolusi dari tempat menyewa DVD online di tahun 1997 hingga saat ini menjadi online streaming service terbesar di dunia.

Pendekatan yang dibangun sangat radikal dengan satu tujuan utama: menarik talent terbaik untuk bekerja di Netflix. Tidak ada aturan cuti, tidak ada aturan expense, berani membayar gaji di atas rata-rata industri, dan masih banyak lagi.

Buku ini ditulis dengan dua sudut pandang: Reed Hastings sebagai orang nomor satu di Netflix, dan Erin Meyer sebagai orang luar yang diizinkan mengintip culture Netflix dari dalam.

Buku ini sangat direkomendasikan untuk siapapun yang ingin membangun tim dengan lebih baik.

Kamu juga bisa mengintip sedikit isi buku ini dari video singkat Reed Hastings ini.

The Bezos Letters — Steve Anderson

Salah satu praktik bisnis Jeff Bezos yang terkenal di dunia bisnis adalah surat untuk pemegang saham Amazon yang ditulisnya setiap tahun. Surat-surat ini selalu berisi berbagai insight, pola pikir, dan metode Amazon yang sangat menarik untuk dipelajari.

Steve Anderson mengompilasi surat-surat Jeff Bezos dari tahun 1997 dan menerjemahkannya menjadi 14 Prinsip Bisnis yang dijalankan oleh Amazon. Buku ini sangat kaya dengan insight untuk siapapun yang menjalankan bisnis. Belajar langsung dari insight tahunan yang dituliskan oleh salah satu pebisnis tersukses di dunia.


Itu dia 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2020.

Semoga 2021 jadi tahun yang lebih menyenangkan. Selamat tahun baru!

10 Buku Terbaik yang Saya Baca di Tahun 2019


Iya, saya tahu. Tulisan ini dipublish di Desember 2020.

Tapi kok tulisannya tahun 2019, bukan 2020?

Jadi saya punya komitmen untuk mendokumentasikan 10 buku terbaik yang saya baca setiap tahunnya, dimulai dari tahun 2017 dan berlanjut ke tahun 2018.

Sayangnya, tahun 2019 saya skip menuntaskan draft tulisannya. Sehingga di tulisan ini saya akan tuntaskan dulu daftar buku di tahun 2019, sebelum saya menulis daftar untuk tahun 2020.

Berikut 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2019.

The Visual MBA — Jason Barron

Saat memulai kuliah bisnis (Master of Business Administration) di Brigham Young University, Jason Barron memutuskan untuk mencatat semua yang ia pelajari dalam bentuk sketch ilustrasi.

Hasilnya, ringkasan kuliah MBA 2 tahun dikemas dalam satu buku yang menyenangkan untuk dibaca. Merangkum semua konsep kunci dalam bisnis dari marketing, akuntansi, strategi, hingga etika dan organisasi.

Membaca buku ini rasanya seperti skip kuliah berbulan-bulan lalu meminjam catatan senior untuk mengebut belajar karena minggu depan sudah ujian. Enaknya, senior kita ini catatannya rapi dan jago gambar, jadi semua lebih mudah diserap dalam waktu singkat.

Saya juga pernah mereview buku ini di Youtube.

The Miracle of Morning Pages — Julia Cameron

Buku ini ditulis Julia Cameron, seniman Amerika yang menulis buku terkenal tentang proses kreatif dalam membuat seni: The Artist’s Way.

Salah satu habit paling powerful yang ia jalankan untuk menjaga proses kreatifnya adalah Morning Pages, yang membuat banyak orang bertanya lebih lanjut dan melahirkan buku spin-off ini.

Singkatnya, Morning Pages adalah kebiasaan untuk menulis jurnal setiap pagi sebelum memulai aktivitas apapun, yang membantu kita mengelola pikiran, membuat ide lebih mudah mengalir, dan memicu kita lebih kreatif.

Saya juga sudah menjalankan Morning Pages dan membahas pengalaman saya di video ini.

Designing Your Life — Bill Burnett & Dave Evans

Buku yang sangat membantu saya dalam mendesain rencana hidup dengan lebih baik.

Duo penulisnya adalah expert dan pengajar program studi desain di Stanford University. Dalam buku ini, mereka mengajak kita merancang hidup dengan pendekatan desain; dengan mengenali dan memetakan masalah (kehidupan kita sendiri), menentukan target, membuat dan menguji coba prototipe, serta menyiapkan berbagai skenario untuk pivot jika hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan.

Ini buku yang sangat saya rekomendasikan untuk siapapun yang ingin membuat atau mengevaluasi rencana hidup. Ada berbagai panduan dan exercise yang bisa langsung kita praktikkan sesuai kebutuhan.

Pembahasan bukunya juga bisa diintip di TedTalk ini.

Thirst— Lisa Sweetingham & Scott Harrison

Judul panjangnya: A Story of Redemption, Compassion, and a Mission to Bring Clean Water to the World.

Scott Harrison dan organisasinya Charity Water adalah salah satu inspirasi saya dalam perjalanan membangun Kitabisa.com sejak 2015. Dari cerita Scott Harrison dan Charity Water saya belajar berbagai campaign kreatif untuk isu sosial dan strategi komunikasi yang efektif untuk organisasi nonprofit.

Sudah bertahun-tahun saya menonton dan mendengarkan berbagai talks dan interview Scott Harrison. Jadi ketika buku ini rilis, saya langsung bersemangat mencari buku ini ke toko buku. Asiknya, saya langsung dapat di percobaan pertama, di Kinokuniya GI.

Buku yang sangat recommended untuk siapapun yang ingin menggali inspirasi tentang misi kemanusiaan dan belajar komunikasi yang efektif untuk isu sosial.

Side Hustle — Chris Guillebeau

Diantara tren positif yang sedang berkembang di kalangan anak muda saat ini: memiliki sumber penghasilan lebih dari satu. Salah satunya dengan memiliki side hustle alias pekerjaan sampingan.

Buku ini membahas secara detil dan terstruktur bagaimana kita bisa membangun side hustle, di samping pekerjaan utama yang kita lakukan. Konten bukunya pun disusun sebagai panduan praktis yang bisa langsung dipraktikkan dalam 5 minggu, dengan instruksi detil yang harus dilakukan dari hari ke hari.

Buat saya pribadi, buku ini sangat membantu dalam mengembangkan side hustle yang saya jalankan.

Aroma Karsa—Dee Lestari

3 tahun terakhir saya jarang sekali membaca novel fiksi.

But this one is soooo good!

Nama Dee Lestari sendiri mungkin sudah jadi jaminan kualitas novel ini. Tetapi alur ceritanya sangat bagus hingga sulit membuat saya tidak menghabiskannya dalam waktu kurang dari 5 hari.

Elemen cerita yang diangkat seputar aroma mengingatkan saya pada novel klasik Perfume: The Story of a Murderer yang saya baca lebih dari 10 tahun lalu. Dikemas dengan alur petualangan serta kombinasi mitos lokal dan science fiction, membaca novel ini membuat saya menciptakan film di kepala saya sendiri.

Tinggal menunggu kapan cerita ini kelak akan diadaptasi menjadi film sci-fi yang sangat Indonesia. Semoga waktu itu segera datang.

Look forward to that!

DI’s Way Pribadi-Pribadi Yang Menginspirasi — Dahlan Iskan 

Tentang buku ini: pertama, saya kagum sekali dengan konsistensi Pak Dahlan Iskan dalam menulis. Hingga hari ini, beliau masih mempublikasikan satu tulisan setiap hari di blognya disway.id.

Kedua, menyenangkan sekali membaca cerita Dahlan Iskan yang spontan, ceplas-ceplos, tapi tetap bernas. Tulisan yang ada di buku ini dikurasi dari ratusan artikel yang sudah dipublikasikan, dan berfokus pada cerita orang-orang yang beliau temui atau kagumi, serta pelajaran yang bisa diambil darinya.

It Doesn’t Have to Be Crazy at Work — Jason Fried & David Heinemeier

Photo Source

Jason adalah founder Basecamp, team management tools yang membantu jutaan orang di dunia bekerja secara remote dengan efektif.

Bersama salah satu developer Basecamp — David Heinemeier — Jason menuliskan pemikirannya tentang filosofi budaya bekerja Basecamp yang melawan arus. Bahwa untuk membangun bisnis yang sukses, bekerja long hours dan aggresive hustle bukan satu-satunya cara.

Bekerja lembur dan kurang tidur sering menjadi kebanggaan buat banyak pekerja. Padahal menurut mereka justru sebaliknya; harusnya jadi hal yang memalukan buat pekerja dan organisasinya. Di buku ini, ,ereka menuliskan berbagai insight tentang bekerja secara efektif dan filosofi calm company.

Sangat direkomendasikan untuk mereview ulang bagaimana kita bisa lebih efektif dan bahagia dalam bekerja.

Hari-Hari Bumil — Zhou Yueyue

Buku yang saya akui agak aneh masuk dalam daftar 10 buku terbaik versi Iqbal Hariadi, haha. Tapi benar kok. Buku ini salah satu buku terbaik yang saya baca di tahun ini.

Kebetulan tahun 2019 ini istri saya Chantik Mega hamil anak pertama kami, sehingga kami memang mencari berbagai buku tentang kehamilan atau mempersiapkan proses lahiran.

Buku ini adalah salah satu buku menyenangkan yang kami temukan. Penulisnya adalah seorang blogger asal China yang menuliskan diari pengalamannya menjadi ibu, dalam bentuk ilustrasi yang menggemaskan. Membaca buku ini jadi membuat saya dan Chantik tahu apa hal-hal kecil yang akan kami jalani sebagai calon orang tua, tapi dengan cara yang menyenangkan tanpa merasa sedang digurui.

Real Artists Don’t Starve — Jeff Goins

Judul panjangnya Timeless Strategies for Thriving in the New Creative Age.

Buku yang premisnya menarik buat saya — karena saya setidaknya menganggap diri saya sendiri seniman. Dan seringkali seniman meromantisasi penderitaan dan denial terhadap ketidaksuksesan dengan berlindung di balik kedok “seni”. Tercermin dalam ucapan-ucapan seperti “Ah ya wajarlah ga laku, orang ga ngerti seni gue” atau “ya gue bikin ini kan buat gue diri sendiri”, padahal ya karena tidak laku atau tidak tahu caranya menjual.

Buku ini mengumpulkan berbagai anekdot dan riset tentang bagaimana seorang seniman bisa hidup dari karyanya.




Itu dia 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2019.

Ada rekomendasi buku lain? Silakan tulis di komentar.

Seharian Bersepeda di San Fransisco

Waktu main ke San Fransisco, saya menyewa sepeda buat jalan-jalan. Salah satu aktivitas yang populer dan ramai dilakukan turis.

Tempat rental sepedanya ada di banyak penjuru kota, sangat mudah ditemukan.. Waktu itu saya menggunakan Blazing Saddles. Seingat saya harga sewanya 500ribuan untuk seharian. Harga yang sangat sepadan untuk bisa dipakai 24 jam.

San Fransisco ini kota yang sangat enak buat bersepeda. Jalanannya bagus, pemandangannya indah, dan yang sepedaan banyak jadi ga perlu takut nyasar.

Saya ambil rute menyeberang Golden Gate Bridge. Rutenya dari daerah Pier 39 – nyebrang Golden Gate Bridge – Sausalito – nyebrang balik naik kapal Ferry.

Saya menghabiskan waktu total 10 jam perjalanan, sudah termasuk banyak berhenti dan menikmati pemandangan.

Berikut videonya buat referensi yang tertarik sepedaan di SF, atau sekedar mau liburan virtual.

Semoga bisa sepedaan lagi di kota-kota lain!

Perjalanan Singkat ke Hongkong

Tahun 2019, saya mendapat kesempatan berkunjung ke Hongkong.

Sebuah negara yang tidak masuk kategori wishlist untuk saya kunjungi, tapi syukurnya dapat rezeki untuk saya datangi. Saya mendapatkan ajakan untuk menjadi pembicara di sebuah event yang diselenggarakan oleh teman lama saya, Ryan Saputra.

Awalnya saya juga tidak menyangka benar-benar bisa diajak ke luar negeri sebagai pembicara, dengan dibayari semua tiket dan akomodasi. But it happened, and I’m very thankful.

Kunjungan saya ke Hongkong terhitung singkat, sehingga saya juga ga sempat mengexplore berbagai tempat wisata. Tapi saya mendokumentasikan perjalanan singkat saya di video ini.

Dan saya juga sempat berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa di Hongkong.

Perlu dicatat bahwa kunjungan ini saya lakukan sebelum kondisi Hongkong tidak stabil. Saat itu sih masih aman dan normal sekali.

Saya tidak tahu kondisi Hongkong sekarang, tapi semoga sudah pulih kembali karena suatu saat, saya ingin kembali lagi.

Budaya Anonim Menghancurkan Masyarakat Kita

Saya ingin membahas sedikit lebih detil soal ini.

Menurut saya, budaya anonim di media sosial menghancurkan masyarakat kita.

Budaya anonim yang saya maksud saya coba sempitkan konteksnya.

Kalo di twitter, saya merujuk pada yang dikenal sebagai akun fanbase, akun yang mempublikasikan tweet dari submission orang-orang melalui DM di akun tersebut. Beberapa contoh akun terkenal yang masuk kategori ini seperti @areajulid, @tubirfess, atau akun-akun yang berakhiran “fess”, biasanya akun-akun semacam itu lah.

Kalau saya amati, sepertinya ada yang memang dipegang secara manual oleh admin dan ada juga yang dijalankan secara otomatis dengan bot. Sehingga setiap orang yang DM untuk menanyakan atau mengatakan sesuatu secara anonim, otomatis akan terposting di akun tersebut.

Kalo di instagram, youtube, atau sosmed lainnya, saya merujuk pada budaya menggunakan fake/second account. Akun yang tidak menunjukkan nama asli, foto asli, dan biasanya tidak ada postnya sama sekali. Digunakan hanya untuk DM atau komentar sesuka hati.

Budaya ini tumbuh subur, dan menurut saya budaya ini sangat destruktif buat masyarakat kita.

Pertama, budaya anonim membuat orang-orang merasa tidak punya tanggung jawab terhadap apapun yang mereka katakan di sosmed. Dengan second/fake account yang tidak menampilkan foto/nama asli orangnya, orang-orang bebas aja untuk ngomong apapun ke orang lain tanpa merasa khawatir pada konsekuensinya. Toh, tidak akan ada yang tau siapa manusia di balik akun-akun ini.

Hasilnya, sosmed kita dibanjiri berbagai DM/komentar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Tanya saja semua wanita yang bermain di sosmed. Jangankan selebgram, orang biasa yang followersnya ga seberapa aja saya yakin sering mendapatkan DM/komentar berisi pelecehan; melecehkan fisik, ngajak berhubungan seks, sampai mengirim foto kelamin.

Contoh: video USS Feed yang cerita soal DM pelecehan seksual

Atau orang-orang yang menghina, berkata kasar, atau berdebat dengan kurang ajar di kolom komentar. Di semua topik selalu ada second/fake account yang bermunculan dengan komentar tidak bertanggung jawab – yang biasanya justru “disukai” oleh netizen – bisa dilihat dari ramainya respon pada komentar tersebut (baik dengan mendebat atau menghina balik).

Kenapa ini terjadi?

Ya karena orang-orang ini merasa aman bersembunyi di balik anonim. Tidak akan ada yang tahu mereka siapa, tinggal dimana, dan identitasnya. Semua anonimitas ini menghilangkan akuntabilitas. Kecuali dengan resource berlimpah untuk menyelidiki (seperti yang pernah dilakukan Deddy Corbuzier misalnya), korban yang dihina/dilecehkan oleh orang-orang ini tidak akan punya kuasa untuk mencari identitas mereka dan memintai pertanggungjawaban.

Karena tidak pernah ada konsekuensi yang “menampar” orang-orang ini, budaya ini semakin subur dan jadi tempat aman untuk orang-orang yang tidak ingin bertanggung jawab pada apa yang mereka katakan di sosial media.

Kedua, tidak adanya akuntabilitas membuat orang merasa penting untuk selalu mencampuri urusan yang bukan urusan orang lain.

Terlihat dari seringnya orang berkelahi online karena hal-hal sepele yang sangat tidak perlu. Di twitter misalnya, setiap pekan selalu ada hal yang diributkan dan sangat sering berasal dari cuitan anonim dari akun-akun seperti @areajulid atau @tubirfess.

Orang-orang meributkan sebuah pertanyaan/pernyataan anonim yang tidak tahu siapa penulis aslinya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan pula. And this happen regularly!

Kondisi ini akhirnya membuat orang-orang terbiasa juga untuk “happy” melihat keributan atau konflik. Kalimat-kalimat seperti “ayo dong tubir” atau “spill the tea!” sangatlah familiar untuk orang yang terbiasa main twitter. It is so toxic and destructive.

Masyarakat sosmed kita jadi terbiasa untuk menghujat orang yang tidak dia kenal, mengomentari masalah yang dia tidak mengerti, dan meminta pertanggungjawaban padahal dia sama sekali tidak punya urusan.

Saya mungkin bisa membahas argumen soal ini lebih detil lagi, tapi saat ini saya cukupi dulu sampai sini. Intinya, saya pribadi merasa budaya anonim ini sangat tidak sehat untuk saya pribadi maupun masyarakat kita secara keseluruhan.

Karenanya, setidaknya ada beberapa hal yang saya lakukan untuk menjalankan prinsip ini:

  1. Berusaha sebisa mungkin tidak melibatkan diri pada percakapan apapun dengan akun-akun anonim.
  2. Tidak menanggapi secara serius komentar/DM dari akun-akun anonim, karena menurut saya selama mereka tidak berani menggunakan akun yang jelas identitasnya, maka saya anggap apapun yang mereka katakan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
  3. Menyibukkan diri dengan urusan di kehidupan nyata. Kalau saya masih ada waktu untuk berdebat di sosmed dan menanggapi akun anonim, berarti saya belum cukup sibuk mengurusi urusan yang benar-benar penting buat saya di dunia nyata.
  4. Menjadi antitesa budaya anonim dengan bertanggungjawab pada apapun yang saya katakan di sosial media.

Baca juga tulisan soal hubungan saya dan twitter.

Bersiap Untuk Traveling Lagi

Maret kemarin, harusnya saya ada trip ke Tangkahan.

Perjalanan yang sudah saya bayangkan berbulan-bulan. Buat yang belum tahu, Tangkahan ini tujuan ekowisata di Sumatera Utara. Masih sekitar 2-3 jam perjalanan lagi dari pusat kota Medan.

Buat yang belum terbayang juga, Tangkahan ini yang jadi latar video klipnya lagu Adu Rayu.

Kalo belum nonton, coba liat dulu biar tau kenapa saya nunggu banget bisa ke Tangkahan

Nah tau kan? Iya. Yang itu.

Saya sudah menunggu perjalanan ini karena sudah lama sekali saya tidak bermain ke gunung dan hutan. Sebagai anak yang (dulunya) rajin main ke alam, menghirup udara segar dan tenangnya melihat kehijauan sudah berbulan-bulan jadi idaman.

Tapi tentu seperti yang banyak dari kita rasakan, rencana ini harus ditunda dulu karena pandemi. Beberapa kali saya dikontak untuk merencanakan kembali perjalanan ini, tapi saya masih belum berani. Saya mau ambil aman saja, kalo situasi sudah aman baru deh boleh kita jalan.

Nah sembari menunggu situasi itu datang, saya jadi mulai berpikir apa ya yang mesti saya siapkan. Ga cuma untuk perjalanan ke Tangkahan ini, tapi juga buat perjalanan liburan yang lain. Asli ini mah saya dan keluarga udah empat bulan bener-bener di rumah aja, kelar semua ini harus liburan!

Makanya saya jadi cari-cari barang penting supaya pas udah bisa liburan nanti, udah tinggal jalan aja. Jadinya belanja haha.

Nah setelah cari-cari barang di Shopee Mall, saya mau share dan review singkat beberapa alat yang saya beli buat traveling nanti.

1. Vacuum Bag.

Asli, ini barang super penting yang pas lihat barangnya langsung bikin saya nyaut “lah kenapa ga tau dari dulu ada alat beginian”.

Mencoba Vacuum Bag di koper

Vacuum Bag ini intinya kantong plastik yang bisa dipakai untuk menyimpan pakain sebelum dimasukin ke travel bag atau koper. Jadi penting dan sangat berguna karena udara di dalam kantongnya bisa divakum dengan pompa, sehingga kantongnya bisa jadi tipis dan menghemat space di tas/koper!

Jaket yang saya coba ini jaket yang saya pakai waktu ke Jepang. Waktu itu bawa 3 jaket dan jaket tebel kayak gini salah satu yang sering bikin koper berat dan tebel. Kalo bisa dipress dengan Vacuum Bag ini akan enak banget.

Waktu ke Jepang bareng @chantikmfa tahun 2018

Saya tipe traveler yang males ribet bawa tas dan males ada bagasi. Dengan ada Vacuum Bag ini, jadinya bisa ngepress banyak baju dalam satu tas aja, jadi simpel dan lebih rapi juga. Anti air pula, jadi aman apalagi buat trip ke gunung atau hutan. Kaga takut kena hujan atau main air.

Vacuum Bag ini satu set isinya 8 bag, ada yang ukuran kecil (50×70 cm), sedang (60×80 cm), dan besar (80×110 cm). Bisa disesuaikan sama barang apa yang ingin dibawa.

2. Timbangan Koper

Masih dengan alasan karena saya ga mau ribet soal urusan tas dan bagasi, alat ini juga jadi penting.

Biasanya kalo terpaksa harus bawa banyak bawaan di tas waktu mau naik pesawat, suka was-was kalo bagasi lebih dari muatan seharusnya. Kemalasan ribet ngurus dan ngantri bagasi dan belum lagi kena charge tambahan membuat saya merasa barang ini akan sangat membantu.

Timbangan GOTO ini ukurannya segenggaman tangan aja, bentuknya digital jadi akurat, ada indikator suhu juga, berbaterai lithium 3V, dan dilengkapi tali pengait. Jadi tas / koper kita tinggal digantungin aja, langsung keliatan beratnya berapa dan bisa siap-siap pas selesai packing. Jadi ga akan panik atau baru ribet ketika sampe di bandara.

3. Teropong Monocular

Nah yang terakhir ini juga barang yang berasal dari hobi lama: birdwatching!

Jaman kuliah di Biologi UI, saya sering banget keluar masuk hutan buat birdwatching. Atau beberapa kali mammalwatching. Intinya mengamati hewan liar dari kejauhan, dan emang salah satu alat wajibnya adalah teropong.

Diantara hasil foto birdwatching bertahun-tahun lalu di Pulau Tinjil

Nah Teropong Monocular dari GOTO ini sudah oke untuk kegiatan birdwatching dengan optical zoom 16x. Buat saya yang buat hobi sesekali ke hutan, teropong dengan panjang 15 cm ini sudah lebih dari cukup.

Fokus lensanya bisa diatur dan sudah sepaket dengan kain microfiber, tas teropong, dan lanyard; jadi bisa digantung di tas ransel atau di belt biar gampang dibawa.

Selagi belum bisa tes langsung di hutan, gue tes dulu birdwatching di depan rumah dan foto seadanya dari hape.

Mulai dengan burung gereja depan rumah dulu ya. Semoga pandemi segera berakhir jadi bisa ketemu burung-burung lainnya.

Nah tiga barang tadi saya beli di GOTO Hardware yang ada di Shopee. Tokonya ga cuma jual hardware buat traveling, tapi banyak alat-alat kebutuhan rumah, olahraga, otomotif, dan lain-lain. Pengirimannya pun cepet, kemarin sehari langsung nyampe rumah.

Lo bisa cek link Shopeenya di sini. Kalo mau beli alat yang gue review di atas, tinggal masuk aja ke tokonya dan cari keywordnya (vacuum bag, timbangan koper, dan teropong monocular).

Semoga membantu lo juga bersiap-siap liburan ketika waktunya tiba ya!


  • Tonton vlog traveling saya di Youtube
  • Atau baca cerita traveling saya yang lain di sini.