Budaya Anonim Menghancurkan Masyarakat Kita

Saya ingin membahas sedikit lebih detil soal ini.

Menurut saya, budaya anonim di media sosial menghancurkan masyarakat kita.

Budaya anonim yang saya maksud saya coba sempitkan konteksnya.

Kalo di twitter, saya merujuk pada yang dikenal sebagai akun fanbase, akun yang mempublikasikan tweet dari submission orang-orang melalui DM di akun tersebut. Beberapa contoh akun terkenal yang masuk kategori ini seperti @areajulid, @tubirfess, atau akun-akun yang berakhiran “fess”, biasanya akun-akun semacam itu lah.

Kalau saya amati, sepertinya ada yang memang dipegang secara manual oleh admin dan ada juga yang dijalankan secara otomatis dengan bot. Sehingga setiap orang yang DM untuk menanyakan atau mengatakan sesuatu secara anonim, otomatis akan terposting di akun tersebut.

Kalo di instagram, youtube, atau sosmed lainnya, saya merujuk pada budaya menggunakan fake/second account. Akun yang tidak menunjukkan nama asli, foto asli, dan biasanya tidak ada postnya sama sekali. Digunakan hanya untuk DM atau komentar sesuka hati.

Budaya ini tumbuh subur, dan menurut saya budaya ini sangat destruktif buat masyarakat kita.

Pertama, budaya anonim membuat orang-orang merasa tidak punya tanggung jawab terhadap apapun yang mereka katakan di sosmed. Dengan second/fake account yang tidak menampilkan foto/nama asli orangnya, orang-orang bebas aja untuk ngomong apapun ke orang lain tanpa merasa khawatir pada konsekuensinya. Toh, tidak akan ada yang tau siapa manusia di balik akun-akun ini.

Hasilnya, sosmed kita dibanjiri berbagai DM/komentar yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Tanya saja semua wanita yang bermain di sosmed. Jangankan selebgram, orang biasa yang followersnya ga seberapa aja saya yakin sering mendapatkan DM/komentar berisi pelecehan; melecehkan fisik, ngajak berhubungan seks, sampai mengirim foto kelamin.

Atau orang-orang yang menghina, berkata kasar, atau berdebat dengan kurang ajar di kolom komentar. Di semua topik selalu ada second/fake account yang bermunculan dengan komentar tidak bertanggung jawab – yang biasanya justru “disukai” oleh netizen – bisa dilihat dari ramainya respon pada komentar tersebut (baik dengan mendebat atau menghina balik).

Kenapa ini terjadi?

Ya karena orang-orang ini merasa aman bersembunyi di balik anonim. Tidak akan ada yang tahu mereka siapa, tinggal dimana, dan identitasnya. Semua anonimitas ini menghilangkan akuntabilitas. Kecuali dengan resource berlimpah untuk menyelidiki (seperti yang pernah dilakukan Deddy Corbuzier misalnya), korban yang dihina/dilecehkan oleh orang-orang ini tidak akan punya kuasa untuk mencari identitas mereka dan memintai pertanggungjawaban.

Karena tidak pernah ada konsekuensi yang “menampar” orang-orang ini, budaya ini semakin subur dan jadi tempat aman untuk orang-orang yang tidak ingin bertanggung jawab pada apa yang mereka katakan di sosial media.

Kedua, tidak adanya akuntabilitas membuat orang merasa penting untuk selalu mencampuri urusan yang bukan urusan orang lain.

Terlihat dari seringnya orang berkelahi online karena hal-hal sepele yang sangat tidak perlu. Di twitter misalnya, setiap pekan selalu ada hal yang diributkan dan sangat sering berasal dari cuitan anonim dari akun-akun seperti @areajulid atau @tubirfess.

Orang-orang meributkan sebuah pertanyaan/pernyataan anonim yang tidak tahu siapa penulis aslinya dan tidak bisa dipertanggungjawabkan pula. And this happen regularly!

Kondisi ini akhirnya membuat orang-orang terbiasa juga untuk “happy” melihat keributan atau konflik. Kalimat-kalimat seperti “ayo dong tubir” atau “spill the tea!” sangatlah familiar untuk orang yang terbiasa main twitter. It is so toxic and destructive.

Masyarakat sosmed kita jadi terbiasa untuk menghujat orang yang tidak dia kenal, mengomentari masalah yang dia tidak mengerti, dan meminta pertanggungjawaban padahal dia sama sekali tidak punya urusan.

Saya mungkin bisa membahas argumen soal ini lebih detil lagi, tapi saat ini saya cukupi dulu sampai sini. Intinya, saya pribadi merasa budaya anonim ini sangat tidak sehat untuk saya pribadi maupun masyarakat kita secara keseluruhan.

Karenanya, setidaknya ada beberapa hal yang saya lakukan untuk menjalankan prinsip ini:

  1. Berusaha sebisa mungkin tidak melibatkan diri pada percakapan apapun dengan akun-akun anonim.
  2. Tidak menanggapi secara serius komentar/DM dari akun-akun anonim, karena menurut saya selama mereka tidak berani menggunakan akun yang jelas identitasnya, maka saya anggap apapun yang mereka katakan tidak bisa dipertanggungjawabkan.
  3. Menyibukkan diri dengan urusan di kehidupan nyata. Kalau saya masih ada waktu untuk berdebat di sosmed dan menanggapi akun anonim, berarti saya belum cukup sibuk mengurusi urusan yang benar-benar penting buat saya di dunia nyata.
  4. Menjadi antitesa budaya anonim dengan bertanggungjawab pada apapun yang saya katakan di sosial media.

Baca juga tulisan soal hubungan saya dan twitter.

Bersiap Untuk Traveling Lagi

Maret kemarin, harusnya saya ada trip ke Tangkahan.

Perjalanan yang sudah saya bayangkan berbulan-bulan. Buat yang belum tahu, Tangkahan ini tujuan ekowisata di Sumatera Utara. Masih sekitar 2-3 jam perjalanan lagi dari pusat kota Medan.

Buat yang belum terbayang juga, Tangkahan ini yang jadi latar video klipnya lagu Adu Rayu.

Kalo belum nonton, coba liat dulu biar tau kenapa saya nunggu banget bisa ke Tangkahan

Nah tau kan? Iya. Yang itu.

Saya sudah menunggu perjalanan ini karena sudah lama sekali saya tidak bermain ke gunung dan hutan. Sebagai anak yang (dulunya) rajin main ke alam, menghirup udara segar dan tenangnya melihat kehijauan sudah berbulan-bulan jadi idaman.

Tapi tentu seperti yang banyak dari kita rasakan, rencana ini harus ditunda dulu karena pandemi. Beberapa kali saya dikontak untuk merencanakan kembali perjalanan ini, tapi saya masih belum berani. Saya mau ambil aman saja, kalo situasi sudah aman baru deh boleh kita jalan.

Nah sembari menunggu situasi itu datang, saya jadi mulai berpikir apa ya yang mesti saya siapkan. Ga cuma untuk perjalanan ke Tangkahan ini, tapi juga buat perjalanan liburan yang lain. Asli ini mah saya dan keluarga udah empat bulan bener-bener di rumah aja, kelar semua ini harus liburan!

Makanya saya jadi cari-cari barang penting supaya pas udah bisa liburan nanti, udah tinggal jalan aja. Jadinya belanja haha.

Nah setelah cari-cari barang di Shopee Mall, saya mau share dan review singkat beberapa alat yang saya beli buat traveling nanti.

1. Vacuum Bag.

Asli, ini barang super penting yang pas lihat barangnya langsung bikin saya nyaut “lah kenapa ga tau dari dulu ada alat beginian”.

Mencoba Vacuum Bag di koper

Vacuum Bag ini intinya kantong plastik yang bisa dipakai untuk menyimpan pakain sebelum dimasukin ke travel bag atau koper. Jadi penting dan sangat berguna karena udara di dalam kantongnya bisa divakum dengan pompa, sehingga kantongnya bisa jadi tipis dan menghemat space di tas/koper!

Jaket yang saya coba ini jaket yang saya pakai waktu ke Jepang. Waktu itu bawa 3 jaket dan jaket tebel kayak gini salah satu yang sering bikin koper berat dan tebel. Kalo bisa dipress dengan Vacuum Bag ini akan enak banget.

Waktu ke Jepang bareng @chantikmfa tahun 2018

Saya tipe traveler yang males ribet bawa tas dan males ada bagasi. Dengan ada Vacuum Bag ini, jadinya bisa ngepress banyak baju dalam satu tas aja, jadi simpel dan lebih rapi juga. Anti air pula, jadi aman apalagi buat trip ke gunung atau hutan. Kaga takut kena hujan atau main air.

Vacuum Bag ini satu set isinya 8 bag, ada yang ukuran kecil (50×70 cm), sedang (60×80 cm), dan besar (80×110 cm). Bisa disesuaikan sama barang apa yang ingin dibawa.

2. Timbangan Koper

Masih dengan alasan karena saya ga mau ribet soal urusan tas dan bagasi, alat ini juga jadi penting.

Biasanya kalo terpaksa harus bawa banyak bawaan di tas waktu mau naik pesawat, suka was-was kalo bagasi lebih dari muatan seharusnya. Kemalasan ribet ngurus dan ngantri bagasi dan belum lagi kena charge tambahan membuat saya merasa barang ini akan sangat membantu.

Timbangan GOTO ini ukurannya segenggaman tangan aja, bentuknya digital jadi akurat, ada indikator suhu juga, berbaterai lithium 3V, dan dilengkapi tali pengait. Jadi tas / koper kita tinggal digantungin aja, langsung keliatan beratnya berapa dan bisa siap-siap pas selesai packing. Jadi ga akan panik atau baru ribet ketika sampe di bandara.

3. Teropong Monocular

Nah yang terakhir ini juga barang yang berasal dari hobi lama: birdwatching!

Jaman kuliah di Biologi UI, saya sering banget keluar masuk hutan buat birdwatching. Atau beberapa kali mammalwatching. Intinya mengamati hewan liar dari kejauhan, dan emang salah satu alat wajibnya adalah teropong.

Diantara hasil foto birdwatching bertahun-tahun lalu di Pulau Tinjil

Nah Teropong Monocular dari GOTO ini sudah oke untuk kegiatan birdwatching dengan optical zoom 16x. Buat saya yang buat hobi sesekali ke hutan, teropong dengan panjang 15 cm ini sudah lebih dari cukup.

Fokus lensanya bisa diatur dan sudah sepaket dengan kain microfiber, tas teropong, dan lanyard; jadi bisa digantung di tas ransel atau di belt biar gampang dibawa.

Selagi belum bisa tes langsung di hutan, gue tes dulu birdwatching di depan rumah dan foto seadanya dari hape.

Mulai dengan burung gereja depan rumah dulu ya. Semoga pandemi segera berakhir jadi bisa ketemu burung-burung lainnya.

Nah tiga barang tadi saya beli di GOTO Hardware yang ada di Shopee. Tokonya ga cuma jual hardware buat traveling, tapi banyak alat-alat kebutuhan rumah, olahraga, otomotif, dan lain-lain. Pengirimannya pun cepet, kemarin sehari langsung nyampe rumah.

Lo bisa cek link Shopeenya di sini. Kalo mau beli alat yang gue review di atas, tinggal masuk aja ke tokonya dan cari keywordnya (vacuum bag, timbangan koper, dan teropong monocular).

Semoga membantu lo juga bersiap-siap liburan ketika waktunya tiba ya!


  • Tonton vlog traveling saya di Youtube
  • Atau baca cerita traveling saya yang lain di sini.

Daftar Contekan Kalimat Ide Untuk Bantu Menulis Jurnal

Postingan ini merupakan lanjutan dari tulisan gue di instagram soal menulis jurnal.

Kalo lo belum baca, silakan baca postingan ini.

Dan ini.

Di postingan terakhir, gue share salah satu tips menulis jurnal dengan punya Journal Prompt atau yang gue sebut Contekan Kalimat Ide.

Gunakan daftar Contekan Kalimat Ide berikut dengan memilih salah satu kalimat sebagai pemicu bahan menulis.

Berikut gue tuliskan daftar Contekan Kalimat Ide yang gue terjemahkan dari artikel ini + gue tambahkan beberapa ide kalimat dari gue sendiri.

Tulis Tentang Masa Lalu

  • Tulis surat buat diri lo di masa lalu (bisa lebih spesifik, misal: tulis surat buat diri lo waktu masih SD)
  • Tulis tentang masa kecil lo
  • Tulis tentang kehilangan persahabatan
  • Tulis tentang masa sekolah lo, dan apa yang lo harap lo akan lakukan berbeda di masa sekolah
  • Tulis tentang satu titik balik dalam hidup lo – apa yang akan berbeda sekarang kalo di titik itu lo ambil keputusan yang berbeda
  • Tulis tentang penyesalan yang lo punya

Tulis Tentang Diri Lo Sendiri

  • Apa yang bikin lo takut?
  • Apa yang bikin lo happy?
  • Apa yang bikin lo sedih?
  • Apa yang lo khawatirkan?
  • Apa masalah yang lagi pengen banget lo selesaikan saat ini?
  • Tulis surat buat orang yang bikin lo marah, tapi lo ga berani ngomong langsung sama dia
  • Tulis hal-hal yang lo harap bisa lo katakan langsung ke orang tua lo tapi belum lo katakan.
  • Tulis hal-hal yang ingin lo sampaikan ke orang tercinta yang udah meninggal
  • Tulis rahasia terdalam yang ga bisa lo ceritakan sama siapapun.

Tulis Tentang Masa Depan

  • Lo ingin tinggal dimana dalam 5, 10, 15 tahun?
  • Apa kerjaan yang ingin lo lakukan di masa depan?
  • Kalo duit bukan masalah buat lo, apa kerjaan yang ingin lo lakukan? Kenapa?
  • Tulis apa hal penting yang bisa lo lakukan yang bisa bikin hidup lo lebih baik
  • Tulis surat buat anak lo di masa depan, yang akan lo kasih ketika mereka udah dewasa. Surat ini bakal kasih mereka gambaran lo orangnya seperti apa ketika seumuran mereka.
  • Tulis tentang tempat-tempat yang ingin banget lo datangi saat liburan, dan kenapa.
  • Tulis tentang rumah impian lo di masa depan.
  • Tulis bucket list.

Tulis Tentang Saat Ini

  • Tulis surat buat teman atau keluarga lo yang ga bisa lo sampaikan secara langsung.
  • Tulis surat buat bos atau temen kerja lo yang ga bisa lo sampaikan secara langsung.
  • Tulis tentang teman/teman kerja/keluarga lo, deskripsiin mereka kayak gimana, apa yang lo suka.
  • Tulis hal-hal yang lo syukuri hari ini.
  • Tulis tentang aktivitas yang lo sudah/akan kerjakan hari ini.

Kalo lo punya ide Contekan Kalimat Ide lain, silakan tulis di komentar ya.

List di atas akan terus gue perbarui.

Semoga bermanfaat!

Saya Sedang Menyiapkannya Pelan – Pelan

Bertahun-tahun dari sekarang, tahun 2020 akan jadi salah satu topik basa-basi.

Atau semacam topik pembuka obrolan lebih dalam yang dipakai banyak orang.

“Waktu 2020, lo lagi dimana?”

“2020 kondisi lo dan keluarga gimana?”

Statusnya akan sama seperti 1998. Tahun penting yang berpengaruh besar pada semua orang, tanpa terkecuali. 2020 is one of those years.

Di tahun ini, banyak orang yang menghabiskan banyak waktu dengan dirinya sendiri. Terpukul karena perubahan mendadak, lalu diam di rumah dalam waktu yang lama.

Tiga sampai empat bulan terakhir ini, banyak orang yang menghabiskan waktu berkontemplasi. Terpaksa memikirkan diri sendiri; hal penting yang sebelumnya justru tidak pernah diprioritaskan masuk ke kategori penting.

Tidak heran banyak orang-orang mengambil keputusan besar di tahun ini.

Saya pun melakukan hal yang sama.

Banyak berkontemplasi, deep thinking, dan berbicara dengan diri sendiri.

Di bulan-bulan ini lah pada akhirnya saya berhasil meluangkan waktu khusus untuk itu.

Melihat kembali apa yang penting dan tidak penting. Apa yang esensial dan apa yang selama ini ternyata hanyalah hiasan. Lalu setelah semuanya terang benderang, mulai menyusun rencana untuk mengambil keputusan.

Keputusan-keputusan ini akan mengubah banyak hal.

Saya sedang menyiapkannya pelan-pelan.

Membaca Buku Lama

Kalo dipikir-pikir, membaca buku itu momen ajaib.

Saya baru sadar belakangan kalau tiap kali saya membaca ulang buku yang sama, saya selalu dapat sesuatu yang berbeda.

“The mark of a good book is it changes every time you read it”, kata Anderson Cooper.

Sebuah buku bagus akan selalu terasa berbeda ketika dibaca kesekian kalinya.

Belakangan karena diam di rumah, jika sedang idle saya mengambil salah satu koleksi buku lama di lemari saya secara random. Lalu membacanya ulang.

Kadang hanya satu bab. Kadang hanya beberapa halaman. Kadang hanya membuka daftar isinya.

Tapi ajaibnya, momennya selalu berbeda. Ketika membaca kalimatnya, saya merasa familiar. Tapi letupan yang dihasilkannya berbeda. Kalimat yang dihighlight otak saya juga berbeda.

Kadang hingga suka nyeletuk sendiri, perasaan saya udah tahu ada kalimat ini. Tapi kenapa baru terasa sekarang ya maknanya.

Membaca buku lama jadi semacam pergi ke Bandung. Atau Jogja. Sudah tau indahnya, sudah banyak kenangannya. Tapi tiap kali berkunjung, ada saja yang berbeda.

Yang Merasa Tolong Dibawa

Selesai subuh, duduk di meja kerja.

Buka jendela. Langit masih gelap. Angin semilir masuk.

Mendengarkan Payung Teduh, Mari Bercerita.

Mata tiba-tiba berair.

Dada tiba-tiba sesak.

Ternyata gue rindu pagi-pagi sepi. Sendiri.

Aneh, tapi iya, terasa.

Malam-malam panjang tanpa tujuan.
Pagi-pagi sepi tanpa ambisi.
Siang-siang ramai untuk bersenang-senang.
Dan sore-sore tenang yang bergerak lamban.

Gue rindu ketika dunia bergerak pelan-pelan.

Rasa rindu ini, nyata tapi entah harus diarahkan ke siapa. Atau apa.

Untuk penasaran yang tidak habis, lalu mulai mengikis?

Atau untuk gerak detik yang berkhianat, meski dulu kita sudah janji, ga akan lari cepat-cepat?

Gue titip rindu ini ke langit.

Yang merasa tolong dibawa


Pondok Pinang, 15 Mei 2020

Bisa Jadi Mindfulness Jawabannya

Sekitar 4 tahun lalu gue mulai belajar mindfulness dan minimalism.

Ga cukup dalam untuk sampai ke level namaste, tapi cukup ngulik untuk tahu dan paham beberapa prinsip dasarnya. Setidaknya ada dua prinsip utama yang gue pegang sampai sekarang dan berpengaruh dalam cara gue melihat hidup.

Pertama, jangan ragu membuang hal-hal yang tidak penting. Waktu, energi, dan kapasitas kita terbatas. Memiliki terlalu banyak hal cuma akan bikin keram otak dan emosi, lalu bingung mau melakukan apa dan jalan ke mana.

Makanya secara berkala kurangi hal-hal dalam hidup. Baik dari hal kecil sampe yang besar. Karena ternyata banyak hal yang kita takutkan hilang ternyata cuma ilusi. Ketika benar-benar dihilangkan, ternyata tidak ada pengaruhnya sama sekali dengan hidup kita.

Kedua, jangan mengenggam terlalu keras. Berharap boleh. Punya ekspektasi silakan. Tapi lebih banyak hal yang ga bisa kita kendalikan dibandingkan yang bisa.

Karenanya boleh genggam, tapi jangan genggam terlalu keras. Karena ketika hilang, kita bisa lebih mudah melepas karena tahu tidak ada yang benar-benar dalam kendali kita

Buat yang sering kecewa. Susah move on. Mudah sakit hati.

Coba mindfulness. Bisa jadi ketemu jawabannya.

Membuat Karya Seni

Saya selalu menganggap diri saya sendiri seniman.

Ketika saya berkarya dan menyampaikan sesuatu lewat medium apapun, saya selalu menganggap diri saya sedang berkarya seni.

Saya menulis sejak masih sekolah, tapi mungkin anggapan pada diri sendiri bahwa saya seorang seniman pertama kali tertanam saat saya sedang menggandrungi Steve Jobs secara mendalam. Momen ini terjadi circa 2010, di awal saya masuk kuliah.

Trigger utamanya adalah karena saya dapat lungsuran laptop Apple dari tante saya. Jangan bayangkan Macbook, waktu itu laptop saya adalah iBook G4. Bodynya tebal dan beratnya luar biasa. Tapi meski begitu, buat saya punya produk Apple sudah jadi capaian luar biasa yang melambungkan kepercayaan diri saya.

Karena sekarang saya bekerja dengan laptop yang ada logo Apple nya di depan saya, saya kemudian menggali banyak tentang Apple. Dan tentu saja saya menggali banyak tentang Steve Jobs. Saya menonton semua video di Youtube tentang Steve Jobs yang bisa saya temukan.

Video Steve menyampaikan commencement speech di Stanford. 

Video peluncuran iPhone.

Seri video iklan Mac vs PC.

Intinya, saya menggandrungi Apple dan Steve Jobs. Saya menjadikan Steve Jobs sebagai panutan saya. Nah di sana lah saya menemukan kalau Steve Jobs sangat menganggap semua product Apple sebagai karya seni. Bahwa Jobs memberikan respect luar biasa pada orang-orang yang menciptakan karya seni, yang pada akhirnya memengaruhi caranya menciptakan produk-produk Apple.

Salah satu tribute nya untuk seniman-seniman tertuang dalam salah satu campaign iklan Apple: Think Different.

Dari sana, saya terdoktrin untuk jadi orang yang menciptakan karya seni. Menjadi seniman yang ekspresinya bisa memengaruhi banyak orang.

Meski dalam perjalanannya, saya sering ragu kalau saya benar-benar membuat karya seni. Apakah dalam standar dunia seni, yang saya buat adalah karya seni?

Bisakah saya dianggap sebagai seniman?

Iya saya tahu ini bukan soal title, bukan itu yang saya pedulikan. Ini lebih kepada diskusi saya dengan diri sendiri. Dan akhirnya saya menemukan jawabannya dari Chris Do, dalam kelas onlinenya yang saya ikuti.

Seni adalah sebuah undangan melihat dunia dari sudut pandang kita. Dan itu yang saya buat melalui tulisan, podcast, dan video Youtube saya.

Dan karya yang saya buat adalah emosi yang saya tuangkan dalam sebuah medium, dengan harapan orang lain merasakan emosi yang sama.

Setelah membaca ini, saya tersenyum lega. 

Dengan ini, saya bisa pede untuk bilang kalau meski tidak selalu lewat medium yang mainstream, yang saya lakukan adalah juga membuat karya seni.

Chris Do Is The Man

Baru saja menemukan role model baru. Chris Do namanya.

Saya memang tipe pembelajar yang menyerap dari role model. Dari pengalaman yang sudah-sudah, saya akan semangat dan cepat belajar ketika menemukan seseorang yang karyanya saya kagumi dan perspektifnya saya hormati.

Lalu saya akan gali dalam tentang orang ini; membaca tulisan-tulisannya, menonton videonya, mendengarkan podcastnya, cross-checking dan searching perjalanan hidupnya dan apa saja yang dia buat. Dari menggali dalam tentang satu orang ini, biasanya saya akan terpapar pada bahasan baru, pengetahuan baru, dan role model baru.

Ini yang disebut di buku Steal Like an Artist sebagai Scenius, fakta bahwa inovasi pada seni dan sains itu tidak berasal dari satu orang genius, melainkan sekumpulan genius.

Lanjutkan membaca Chris Do Is The Man

Dimulai Dari Episode 100.

Karena saya sangat ekstrovert, memang sangat terasa ngobrol sama orang yang satu frekuensi itu bikin energi saya bertambah.

Kemarin (8/1) saya catchup dengan teman-teman podcaster, Andri Randy dan Arfi. Andri teman saya dari SMP, sekarang dia lebih dikenal sebagai host Podcast Retropus – sebuah podcast tentang sepak bola yang dibawakan secara komedi. Tapi karena dia juga menggawangi jaringan podcast Box2Box, dia juga ngehost di banyak podcast lain: Unqalified bareng Gustika Jusuf, CeritAnya bareng Anye Geraldine (nah ini), dan kadang sering nongol di podcast network Box2Box lainnya. Kayaknya saya lihat beberapa kali candaan followersnya kalo Andri sekarang ini macam Raffi Ahmad nya podcast. Ada aja dimana-mana.

Arfi juga pemain podcast dari lama yang saya respect, karena bahasannya yang niche dan spesifik: soal teknologi. Pernah ngobrol juga di salah satu episode Subjective. Sekarang, Arfi bikin podcast network juga: NPC Podcast Network. Networknya juga menurut gue berkarakter, karena host mereka diisi sederetan geek dan pop culture enthusiast. Beberapa podcastnya seperti Geekinout, AADG (Ada Apa Dengan Gaming), dan Dummy Podcast.

Saya yang ngajak mereka ketemuan karena pengen gali insight lagi aja tentang perkembangan podcast saat ini. Saya sendiri lagi pause sebentar podcastnya karena sekarang sudah 99 episode, dan jadi momentum yang pas buat saya memikirkan ulang podcast ini mau dibawa ke mana. Episode 100 nanti akan saya keluarkan kalau saya sudah yakin dengan hal baru yang akan dibawa di Podcast Subjective.

Di pertemuan kemarin, saya curhat “sebenarnya gue agak bingung, ini podcast mau dibawa ke mana ya jangka panjangnya”. Yang ga saya sangka, si Randy ternyata punya keresahan yang sama. “Lah gue juga mikir hal yang sama”. Haha kirain saya doang yang berpikiran demikian, dan akhirnya kita saling tukar pikiran.

Kalau sudah berkarya cukup lama, memang pasti akan mulai kepikiran ini mau dibawa ke mana ya. Ga naif sih, karena memang di awal mungkin murni untuk berekspresi dan bersenang-senang. Tapi setelah jalanin sekian lama, perlu lebih dari ini wadah gue berekspresi atau gue hanya ingin bersenang-senang. Butuh misi lebih besar yang ingin dikejar, supaya kita sebagai pekarya bisa terus ngegas juga.

2020 ini, Podcast Subjective umurnya udah 5 tahun. Masih muda sih, tapi waktu yang sudah cukup lama untuk saya sudah melewati banyak hal dari pertama kali saya buat. Perubahan mindset, sudut pandang, kematangan, kedewasaan, prioritas. Jadi saya rasa sekarang waktu yang tepat juga untuk rethinking kembali podcast ini selanjutnya mau dibawa kemana.

Target saya sih dapat jawabannya di Januari ini.

Nanti kalo udah ada jawabannya, Podcast Subjective akan mulai mengudara lagi.

Dimulai dari episode 100.