Keep strong. This too shall pass.

2019 tahun yang tidak menyenangkan

Saya bisa aja bilang gitu karena tahun ini saya merasakan stress yang tinggi. Merasakan jalanin hari dengan kosong, tau ada masalah tapi bingung mau melakukan apa. Pengen ilang aja rasanya. Kecewa, marah, dan tambah stress karena tahu mungkin orang-orang terdekat juga kecewa dan marah sama saya.

Tapi setelah saya lihat lagi catatan diari, itu cuma fase yang akhirnya saya lewatin. Cuma satu fragmen yang saya alami selama satu tahun ini.

Sisanya? Hal-hal yang menyenangkan. Rezeki yang selalu bisa saya syukuri. Bisa jalan-jalan. Punya teman yang support. Ketemu orang-orang yang menikmati karya. Menjadi seorang ayah.

Hal-hal yang jauh lebih besar dan banyak dibanding yang tidak menyenangkan. Ternyata semudah itu kita bisa buta sebelah mata dan melihat yang jelek-jeleknya saja. Sibuk meratapi satu, lalu lupa mensyukuri yang seribu.

Bad things happen once in a while.

Buat yang lagi bermasalah, saya tau betapa bullshitnya nasihat “keep strong, this shall pass”.

Betapa dalam hati lo selalu teriak dan merasa sendiri, ga ada orang yang ngerti.

But after going it thru, you will know the saying is true.

Cerita sama orang terdekat lo. Nangis, tumpahin, lo ga sendiri. Habis itu lihat lagi kalo masalah yang lo hadapin cuma satu dibanding seribu hal lain yang menyenangkan. Jadi lo tau, sebenarnya lo punya kekuatan.

Saya tulis ini buat reminder diri saya sendiri nanti.

Keep strong. This too shall pass.

Marah Marah. Segera.

Pengen deh marah-marah lagi.

Udah lama ga marah-marah karena dulu gue suka marah-marah di Podcast. Tapi sekarang udah jarang banget haha.

Asli, the origin of Podcast Subjective adalah untuk jadi medium gue menyalurkan keresahan – bahasa halus untuk kekesalan dan kemarahan. Coba aja cek episode-episode awal, banyak yang bahasannya social commentary karena gue kesal dan marah dengan isu tertentu.

Lalu Subjective berevolusi jadi tempat berbagi knowledge pengembangan diri – which I am proud of so much tho.

Hanya saja, belakangan ini gue jadi berpikir, mungkin gue perlu marah-marah lagi. Hehe. Perlu meluapkan kekesalan-kekesalan ini lewat medium ngomong lagi.

Masalahnya, sosmed nih makin ke sini makin gila. Makin bahaya mau ngomong apa aja. Ga berani gue ngomong macem macem di Podcast.

Makanya gue kepikiran bikin event aja. Offline.

Happy nya, banyak yang respon. Gue sih sebenarnya ga peduli yang dateng berapa banyak, yang penting ada. Gue cuma butuh tempat dan orang untuk meluapkan, haha.

Tunggu ya. Segera.

Kita Mulai Lagi

Kapan terakhir kali memikirkan hidup secara mindful?

Kalo lo tanya gue, gue ga tau. Lebih tepatnya mungkin ga ingat. Gue ga ingat kapan gue terakhir kali mikirin hidup secara mindful.

Btw, mindful tuh padanan bahasa Indonesianya apa sih? Seksama? Mendalam? Khusyuk?

Eniwei. See? That’s how my brain works. Tiba-tiba aaja gitu lompat ke bahasan lain.

Iya, gue ga inget kapan terakhir benar-benar mikirin hidup dengan dalam. Kalau berusaha mengingat, kayaknya keputusan hidup di tiga tahun terakhir hampir semuanya adalah keputusan yang datang karena keadaan. Penyesuaian. Impromptu.

Apalagi momen hidup yang terjadi datang bertubi-tubi, seperti ga ada jeda. Kerjaan, keluarga, semua berjalan mengikuti arus, bereaksi ketika ada kondisi.

Seminggu terakhir, beberapa obrolan membuat gue jadi berpikir, inikah saatnya gue serius memikirkan ulang tentang hidup? Meneliti lagi apa yang ingin gue capai, ke mana visi hidup mau gue bawa, manfaat besar apa yang mau gue ciptakan.

Rethinking my whole life.

Apalagi sekarang gue udah jadi ayah, jadi kepala keluarga. November ini, gue genap berumur dua puluh tujuh. Katanya di usia ini orang menemukan spiritual enlightenment. Bukan hanya dalam konteks religi, tapi juga dalam konteks menemukan makna.

Yang paling bikin gue takut adalah; gue takut coba hal baru. Gue bisa jadi terlalu lama berusaha tidak memikirkan mencoba hal baru. Gue mungkin terlalu lama berada di zona nyaman, ga lagi mencoba hal untuk belajar.

Yang paling bikin gue stress; gue gatau pasti apakah ini beneran atau cuma ilusi. Apakah memang benar keadaan atau cuma letupan-letupan di pikiran.

Itulah kenapa gue merasa perlu mulai memikirkan ulang semuanya secara mindful. Karena gue mau memastikan pikiran ini benar adanya, dan mau memastikan apa yang jadi alasannya.

Mungkin sulit untuk cari waktu spesial untuk memikirkan. Mungkin memang harus gue jalani aja pelan-pelan.

Okay, then.

Perjalanan menggali diri sendiri, kita mulai lagi.

Is This The Right Book?

Bagan simpel untuk menentukan apakah buku yang kita baca bagus atau tidak.

Salah satu common mistake yang sering terjadi ketika membaca adalah stuck di satu buku, berbulan-bulan tidak selesai karena tidak tertarik lagi membacanya, tapi “sayang bukunya udah dibeli mahal, harus habis bacanya”

Padahal mudah untuk menentukan apakah sebuah buku bagus atau tidak untuk kita. Jika dalam proses membaca buku itu membuat kita ingin membaca lagi, atau membuat kita ingin menulis/menyampaikannya lagi, maka buku itu bagus. Kalau tidak, ya berarti tidak – setidaknya tidak relevan untuk kita saat ini.

Dan kalau sudah tidak cocok, jangan stuck di situ. Move on cari buku yang lain untuk dibaca, dan begitu seterusnya.

Dengan begini kita bisa membaca lebih banyak.

*inspired by Austin Kleon’s post.

WC Kreatif di Bandara Husein, Bandung

Rumah (mertua) saya di Bandung dekat Bandara Husein.

Jadi komplek Bandara selalu jadi rute joging pagi saya. Belakangan saya punya alternatif baru, ke Aliando alias Alun-alun Cicendo. Tapi saya lebih sering joging di komplek bandara.

Satu pagi, saat jalan pagi berdua Chantik, saya ga tahan buat pup. Akhirnya kami “mampir” ke bandara, dan saya menunaikan tugas ke WC nya.

Yang lucu, ternyata WC cowok bandaranya dihiasi mural-mural bertema komik Amerika tapi diberi sentuhan sunda.

Lanjutkan membaca WC Kreatif di Bandara Husein, Bandung

Nah. Itu.

Kayaknya gue salah menempatkan blog sebagai kitab suci.

Blog ini gue perlakukan sebagai tempat tulisan gue yang sempurna. Salah ternyata, karena malah bikin produktivitasnya stagnan aja.

Harusnya blog ini jadi diari. Jadi buku catatan. Ibarat jaman sekolah, blog ini scrapbook yang bisa dibaca siapa saja.

Jadi isinya dokumentasi kasar pikiran yang muncul. Kliping konten yang menurut gue menarik. Draft tulisan yang mengganggu.

Nah. Itu.

Growth Mindset vs Fixed Mindset

Ini saya twit beberapa waktu lalu karena terpicu obrolan soal alumni UI yang minta gaji 8 juta itu.

Menarik untuk dibahas. Bukan soal gajinya sih, tapi soal self worth / self value.

Lanjutkan membaca Growth Mindset vs Fixed Mindset

Bridal Shower dan Budaya Tidak Penting Lainnya

Di zaman ini, hal tidak penting seperti gengsi berpotensi menjadi penting karena instagram.

Dalam pernikahan misalnya, salah satu budaya yang mulai ramai dilakukan adalah Bridal shower. Pesta pemberian hadiah untuk calon pengantin wanita yang biasanya dilakukan oleh teman-teman terdekat. Pesta ini dilakukan dengan dekor balon dan signage bertuliskan nama si calon pengantin atau kata mutiara tentang cinta. Lalu tak lupa di akhir acara, wajib foto bersama dan diupload di instagram untuk memberi tahu dunia.

Lanjutkan membaca Bridal Shower dan Budaya Tidak Penting Lainnya