Membuat Karya Seni

Saya selalu menganggap diri saya sendiri seniman.

Ketika saya berkarya dan menyampaikan sesuatu lewat medium apapun, saya selalu menganggap diri saya sedang berkarya seni.

Saya menulis sejak masih sekolah, tapi mungkin anggapan pada diri sendiri bahwa saya seorang seniman pertama kali tertanam saat saya sedang menggandrungi Steve Jobs secara mendalam. Momen ini terjadi circa 2010, di awal saya masuk kuliah.

Trigger utamanya adalah karena saya dapat lungsuran laptop Apple dari tante saya. Jangan bayangkan Macbook, waktu itu laptop saya adalah iBook G4. Bodynya tebal dan beratnya luar biasa. Tapi meski begitu, buat saya punya produk Apple sudah jadi capaian luar biasa yang melambungkan kepercayaan diri saya.

Karena sekarang saya bekerja dengan laptop yang ada logo Apple nya di depan saya, saya kemudian menggali banyak tentang Apple. Dan tentu saja saya menggali banyak tentang Steve Jobs. Saya menonton semua video di Youtube tentang Steve Jobs yang bisa saya temukan.

Video Steve menyampaikan commencement speech di Stanford. 

Video peluncuran iPhone.

Seri video iklan Mac vs PC.

Kalau saya buka Youtube, channel yang akan saya buka pertama kali adalah channel Youtube nya Apple.

Intinya, saya menggandrungi Apple dan Steve Jobs. Saya menjadikan Steve Jobs sebagai panutan saya. Nah di sana lah saya menemukan kalau Steve Jobs sangat menganggap semua product Apple sebagai karya seni. Bahwa Jobs memberikan respect luar biasa pada orang-orang yang menciptakan karya seni, yang pada akhirnya memengaruhi caranya menciptakan produk-produk Apple.

Salah satu tribute nya untuk seniman-seniman tertuang dalam salah satu campaign iklan Apple: Think Different.

Dari sana, saya terdoktrin untuk jadi orang yang menciptakan karya seni. Menjadi seniman yang ekspresinya bisa memengaruhi banyak orang.

Meski dalam perjalanannya, saya sering ragu kalau saya benar-benar membuat karya seni. Apakah dalam standar dunia seni, yang saya buat adalah karya seni?

Bisakah saya dianggap sebagai seniman?

Iya saya tahu ini bukan soal title, bukan itu yang saya pedulikan. Ini lebih kepada diskusi saya dengan diri sendiri. Dan akhirnya saya menemukan jawabannya dari Chris Do, dalam kelas onlinenya yang saya ikuti.

Seni adalah sebuah undangan melihat dunia dari sudut pandang kita. Dan itu yang saya buat melalui tulisan, podcast, dan video Youtube saya.

Dan karya yang saya buat adalah emosi yang saya tuangkan dalam sebuah medium, dengan harapan orang lain merasakan emosi yang sama.

Setelah membaca ini, saya tersenyum lega. 

Dengan ini, saya bisa pede untuk bilang kalau meski tidak selalu lewat medium yang mainstream, yang saya lakukan adalah juga membuat karya seni.

Chris Do Is The Man

Baru saja menemukan role model baru. Chris Do namanya.

Saya memang tipe pembelajar yang menyerap dari role model. Dari pengalaman yang sudah-sudah, saya akan semangat dan cepat belajar ketika menemukan seseorang yang karyanya saya kagumi dan perspektifnya saya hormati.

Lalu saya akan gali dalam tentang orang ini; membaca tulisan-tulisannya, menonton videonya, mendengarkan podcastnya, cross-checking dan searching perjalanan hidupnya dan apa saja yang dia buat. Dari menggali dalam tentang satu orang ini, biasanya saya akan terpapar pada bahasan baru, pengetahuan baru, dan role model baru.

Ini yang disebut di buku Steal Like an Artist sebagai Scenius, fakta bahwa inovasi pada seni dan sains itu tidak berasal dari satu orang genius, melainkan sekumpulan genius.

Lanjutkan membaca Chris Do Is The Man

Dimulai Dari Episode 100.

Karena saya sangat ekstrovert, memang sangat terasa ngobrol sama orang yang satu frekuensi itu bikin energi saya bertambah.

Kemarin (8/1) saya catchup dengan teman-teman podcaster, Andri Randy dan Arfi. Andri teman saya dari SMP, sekarang dia lebih dikenal sebagai host Podcast Retropus – sebuah podcast tentang sepak bola yang dibawakan secara komedi. Tapi karena dia juga menggawangi jaringan podcast Box2Box, dia juga ngehost di banyak podcast lain: Unqalified bareng Gustika Jusuf, CeritAnya bareng Anye Geraldine (nah ini), dan kadang sering nongol di podcast network Box2Box lainnya. Kayaknya saya lihat beberapa kali candaan followersnya kalo Andri sekarang ini macam Raffi Ahmad nya podcast. Ada aja dimana-mana.

Arfi juga pemain podcast dari lama yang saya respect, karena bahasannya yang niche dan spesifik: soal teknologi. Pernah ngobrol juga di salah satu episode Subjective. Sekarang, Arfi bikin podcast network juga: NPC Podcast Network. Networknya juga menurut gue berkarakter, karena host mereka diisi sederetan geek dan pop culture enthusiast. Beberapa podcastnya seperti Geekinout, AADG (Ada Apa Dengan Gaming), dan Dummy Podcast.

Saya yang ngajak mereka ketemuan karena pengen gali insight lagi aja tentang perkembangan podcast saat ini. Saya sendiri lagi pause sebentar podcastnya karena sekarang sudah 99 episode, dan jadi momentum yang pas buat saya memikirkan ulang podcast ini mau dibawa ke mana. Episode 100 nanti akan saya keluarkan kalau saya sudah yakin dengan hal baru yang akan dibawa di Podcast Subjective.

Di pertemuan kemarin, saya curhat “sebenarnya gue agak bingung, ini podcast mau dibawa ke mana ya jangka panjangnya”. Yang ga saya sangka, si Randy ternyata punya keresahan yang sama. “Lah gue juga mikir hal yang sama”. Haha kirain saya doang yang berpikiran demikian, dan akhirnya kita saling tukar pikiran.

Kalau sudah berkarya cukup lama, memang pasti akan mulai kepikiran ini mau dibawa ke mana ya. Ga naif sih, karena memang di awal mungkin murni untuk berekspresi dan bersenang-senang. Tapi setelah jalanin sekian lama, perlu lebih dari ini wadah gue berekspresi atau gue hanya ingin bersenang-senang. Butuh misi lebih besar yang ingin dikejar, supaya kita sebagai pekarya bisa terus ngegas juga.

2020 ini, Podcast Subjective umurnya udah 5 tahun. Masih muda sih, tapi waktu yang sudah cukup lama untuk saya sudah melewati banyak hal dari pertama kali saya buat. Perubahan mindset, sudut pandang, kematangan, kedewasaan, prioritas. Jadi saya rasa sekarang waktu yang tepat juga untuk rethinking kembali podcast ini selanjutnya mau dibawa kemana.

Target saya sih dapat jawabannya di Januari ini.

Nanti kalo udah ada jawabannya, Podcast Subjective akan mulai mengudara lagi.

Dimulai dari episode 100.

Gue dan Twitter

Saya dan Twitter punya hubungan yang agak-agak.

Love hate relationship kalo kata anak-anak sok ngerti cinta.

Cinta, tapi benci. Kesel tapi rindu.

Oke kita ralat dikit. Bukan twitternya sih, tapi orang-orangnya.

Cuma orang-orangnya kan terbentuk karena platformnya. Different platform attract different kind of people. Even further: different platforms bring different versions of each people.

Perilaku orang yang main instagram beda dengan yang main twitter. Bahkan, orang yang sama bisa berperilaku berbeda di platform yang berbeda. Ya ga sih?

Nanti kapan-kapan kita bahas lebih detil soal itu.

Nah Twitter ini, bikin orang berasa paling tau. Sotoy.

Dont get me wrong. Gue pun begitu. Kalo lagi buka Twitter, entah kenapa gue bisa mengobservasi diri gue sendiri, ego gue meninggi. Kesombongan meningkat. Judgement merasuk.

Gue lebih mudah terpancing, lebih ringan beropini, dan lebih tidak merasa bersalah bilang orang lain salah. Padahal kalo lagi di Instagram, gue malah merasa biasa-biasa aja.

Karakter Twitter yang berisi text membuat orang berpikir untuk mengeluarkan opini atau pandangannya. Alhasil, si platform juga memancing orang untuk memberikan opini terhadap berbagai hal, termasuk kepada tweet yang lewat di linimasa.

Sayangnya, kita memang terdesain untuk lebih reaktif terhadap sesuatu yang tidak sejalan. Kalau ada tweet yang buat kita marah/kesal akan lebih cepat kita reply daripada tweet yang positif atau netral. Ini juga pernah gue bahas di Youtube.

Twitter adalah satu-satunya platform dimana gue menggunakan fitur block. Isi blocklist gue cukup panjang. Lebih karena gue ga mau main sosmed untuk pusing, jadi orang-orang yang menurut gue gobloknya kelewatan akan masuk ke daftar eksklusif block list Iqbal Hariadi.

Di Twitter juga pekerjaan paling bangsat menurut gue – Buzzer – paling terasa. Wah gue misuh-misuh soal ini di #SubjectiveRant. Teman-teman yang datang di Bandung dan Depok mungkin ingat gue cerita soal apa. Kayaknya akan banyak materi yang gue kembangkan soal Twitter. Banyak ngeselin sih soalnya.

Tapi ya bagaimanapun, Twitter selalu berhasil menarik gue kembali. Mungkin karena gue lebih suka berbagi opini daripada berbagi yang lain, Twitter memang selalu punya tempat tersendiri.

Luangkan Waktu Untuk Itu

Mari mulai 2020 dengan rasa iri.

Saya iri setengah mati setelah membaca tulisan Kang Gibran Huzaifah, yang berjudul Notes on My 20. Sebuah tulisan berisi kontemplasinya ketika menginjak usia 30 dan refleksinya tentang menjalani satu dekade sebagai 20an.

Tulisannya super insightful buat saya. Tapi bukan untuk itu saya iri. Kalo untuk itu, saya sangat bersyukur karena bisa belajar lumayan detil dari salah satu orang yang saya anggap sebagai mentor ini.

Saya iri karena tulisannya sangat mendalam khas kontemplasi. Entah ditulis dalam keadaan apa, tapi saya bisa membaca tulisannya datang dari pemikiran panjang dan penglihatan yang bijak. Hikmahnya dalam, tapi bahasanya mudah. Sebuah tulisan yang hanya bisa datang dari pikiran yang jernih. Dan saya iri.

Iri karena entah kapan terakhir saya menulis demikian. Menggali jauh ke dalam, lalu menuangkannya dalam tulisan. Saya rindu berkontemplasi, mengawang-ngawang. Saya rindu tenggelam dalam tulisan.

Mumpung masih awal.

Januari ini saya harus luangkan waktu untuk itu.

Keep strong. This too shall pass.

2019 tahun yang tidak menyenangkan

Saya bisa aja bilang gitu karena tahun ini saya merasakan stress yang tinggi. Merasakan jalanin hari dengan kosong, tau ada masalah tapi bingung mau melakukan apa. Pengen ilang aja rasanya. Kecewa, marah, dan tambah stress karena tahu mungkin orang-orang terdekat juga kecewa dan marah sama saya.

Tapi setelah saya lihat lagi catatan diari, itu cuma fase yang akhirnya saya lewatin. Cuma satu fragmen yang saya alami selama satu tahun ini.

Sisanya? Hal-hal yang menyenangkan. Rezeki yang selalu bisa saya syukuri. Bisa jalan-jalan. Punya teman yang support. Ketemu orang-orang yang menikmati karya. Menjadi seorang ayah.

Hal-hal yang jauh lebih besar dan banyak dibanding yang tidak menyenangkan. Ternyata semudah itu kita bisa buta sebelah mata dan melihat yang jelek-jeleknya saja. Sibuk meratapi satu, lalu lupa mensyukuri yang seribu.

Bad things happen once in a while.

Buat yang lagi bermasalah, saya tau betapa bullshitnya nasihat “keep strong, this shall pass”.

Betapa dalam hati lo selalu teriak dan merasa sendiri, ga ada orang yang ngerti.

But after going it thru, you will know the saying is true.

Cerita sama orang terdekat lo. Nangis, tumpahin, lo ga sendiri. Habis itu lihat lagi kalo masalah yang lo hadapin cuma satu dibanding seribu hal lain yang menyenangkan. Jadi lo tau, sebenarnya lo punya kekuatan.

Saya tulis ini buat reminder diri saya sendiri nanti.

Keep strong. This too shall pass.

Marah Marah. Segera.

Pengen deh marah-marah lagi.

Udah lama ga marah-marah karena dulu gue suka marah-marah di Podcast. Tapi sekarang udah jarang banget haha.

Asli, the origin of Podcast Subjective adalah untuk jadi medium gue menyalurkan keresahan – bahasa halus untuk kekesalan dan kemarahan. Coba aja cek episode-episode awal, banyak yang bahasannya social commentary karena gue kesal dan marah dengan isu tertentu.

Lalu Subjective berevolusi jadi tempat berbagi knowledge pengembangan diri – which I am proud of so much tho.

Hanya saja, belakangan ini gue jadi berpikir, mungkin gue perlu marah-marah lagi. Hehe. Perlu meluapkan kekesalan-kekesalan ini lewat medium ngomong lagi.

Masalahnya, sosmed nih makin ke sini makin gila. Makin bahaya mau ngomong apa aja. Ga berani gue ngomong macem macem di Podcast.

Makanya gue kepikiran bikin event aja. Offline.

Happy nya, banyak yang respon. Gue sih sebenarnya ga peduli yang dateng berapa banyak, yang penting ada. Gue cuma butuh tempat dan orang untuk meluapkan, haha.

Tunggu ya. Segera.

Kita Mulai Lagi

Kapan terakhir kali memikirkan hidup secara mindful?

Kalo lo tanya gue, gue ga tau. Lebih tepatnya mungkin ga ingat. Gue ga ingat kapan gue terakhir kali mikirin hidup secara mindful.

Btw, mindful tuh padanan bahasa Indonesianya apa sih? Seksama? Mendalam? Khusyuk?

Eniwei. See? That’s how my brain works. Tiba-tiba aaja gitu lompat ke bahasan lain.

Iya, gue ga inget kapan terakhir benar-benar mikirin hidup dengan dalam. Kalau berusaha mengingat, kayaknya keputusan hidup di tiga tahun terakhir hampir semuanya adalah keputusan yang datang karena keadaan. Penyesuaian. Impromptu.

Apalagi momen hidup yang terjadi datang bertubi-tubi, seperti ga ada jeda. Kerjaan, keluarga, semua berjalan mengikuti arus, bereaksi ketika ada kondisi.

Seminggu terakhir, beberapa obrolan membuat gue jadi berpikir, inikah saatnya gue serius memikirkan ulang tentang hidup? Meneliti lagi apa yang ingin gue capai, ke mana visi hidup mau gue bawa, manfaat besar apa yang mau gue ciptakan.

Rethinking my whole life.

Apalagi sekarang gue udah jadi ayah, jadi kepala keluarga. November ini, gue genap berumur dua puluh tujuh. Katanya di usia ini orang menemukan spiritual enlightenment. Bukan hanya dalam konteks religi, tapi juga dalam konteks menemukan makna.

Yang paling bikin gue takut adalah; gue takut coba hal baru. Gue bisa jadi terlalu lama berusaha tidak memikirkan mencoba hal baru. Gue mungkin terlalu lama berada di zona nyaman, ga lagi mencoba hal untuk belajar.

Yang paling bikin gue stress; gue gatau pasti apakah ini beneran atau cuma ilusi. Apakah memang benar keadaan atau cuma letupan-letupan di pikiran.

Itulah kenapa gue merasa perlu mulai memikirkan ulang semuanya secara mindful. Karena gue mau memastikan pikiran ini benar adanya, dan mau memastikan apa yang jadi alasannya.

Mungkin sulit untuk cari waktu spesial untuk memikirkan. Mungkin memang harus gue jalani aja pelan-pelan.

Okay, then.

Perjalanan menggali diri sendiri, kita mulai lagi.

Is This The Right Book?

Bagan simpel untuk menentukan apakah buku yang kita baca bagus atau tidak.

Salah satu common mistake yang sering terjadi ketika membaca adalah stuck di satu buku, berbulan-bulan tidak selesai karena tidak tertarik lagi membacanya, tapi “sayang bukunya udah dibeli mahal, harus habis bacanya”

Padahal mudah untuk menentukan apakah sebuah buku bagus atau tidak untuk kita. Jika dalam proses membaca buku itu membuat kita ingin membaca lagi, atau membuat kita ingin menulis/menyampaikannya lagi, maka buku itu bagus. Kalau tidak, ya berarti tidak – setidaknya tidak relevan untuk kita saat ini.

Dan kalau sudah tidak cocok, jangan stuck di situ. Move on cari buku yang lain untuk dibaca, dan begitu seterusnya.

Dengan begini kita bisa membaca lebih banyak.

*inspired by Austin Kleon’s post.

WC Kreatif di Bandara Husein, Bandung

Rumah (mertua) saya di Bandung dekat Bandara Husein.

Jadi komplek Bandara selalu jadi rute joging pagi saya. Belakangan saya punya alternatif baru, ke Aliando alias Alun-alun Cicendo. Tapi saya lebih sering joging di komplek bandara.

Satu pagi, saat jalan pagi berdua Chantik, saya ga tahan buat pup. Akhirnya kami “mampir” ke bandara, dan saya menunaikan tugas ke WC nya.

Yang lucu, ternyata WC cowok bandaranya dihiasi mural-mural bertema komik Amerika tapi diberi sentuhan sunda.

Lanjutkan membaca WC Kreatif di Bandara Husein, Bandung