Andai

Tak pernah menuntut apa pun pada siapa pun. 

Tak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun. 

Saya pernah membaca di suatu tempat, entah buku, artikel di koran, atau sekedar tulisan curhat di blog orang. Bukankah hidup akan lebih tenang jika kita menjadi diri kita apa adanya?

Andai kita tak pernah menuntut apa pun pada siapa pun

Hidup kita seringkali dipenuhi tuntutan kepada orang lain. Kita menginginkan pemberian. Kita menuntut nafsu dan kebahagiaan. Kita selalu haus cinta dan kasih sayang.

Andai kita tak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun.


Segala bentuk pencapaian, usaha, dan kerja keras kita, benarkah semuanya untuk diri kita sendiri? Seringkali, semuanya adalah reinkarnasi dari bentuk keinginan membuktikan diri pada orang lain. Lihatlah mereka yang minder dan merasa selalu dipecundangi, maka mereka akan merasa perlu membuktikan bahwa mereka bukan pecundang. Lihatlah mereka yang ingin dikenal dan dianggap pahlawan, maka mereka merasa perlu membuktikan bahwa mereka bisa berbuat sesuatu. Lihatlah mereka yang ingin dipeluk dengan segenggam cinta, maka mereka merasa perlu membuktikan bahwa mereka layak diberi lebih dari sekedar kata-kata.

Saya Merindukannya Sampai Habis Waktu Saya

Saya menghela napas. Saya menatap keluar jendela, menatap pohon Baobab yang ada di seberang kampus saya. Saya berada di universitas terbaik di negeri ini, universitas kebanggaan yang menyematkan nama bangsa di belakang namanya, menjadi salah satu dari ribuan orang yang mendapat kesempatan mencium aroma keilmuan dan menghisap pesona pengetahuan dari rampai terbaiknya. Saya termenung. Sudah berapa lamakah saya menjadi mahasiswa? Ini tahun ketiga saya, dan saya kembali bertanya-tanya. Apa yang sudah saya hasilkan disini? Pergi kuliah, mengerjakan tugas, berkumpul bersama teman, dan pergi kuliah, dan mengerjakan tugas, dan berkumpul bersama teman. Siklus konyol. Selama ini, saya rasa saya hanya menjadi cecunguk yang pergi-pulang setiap hari hanya untuk mengejar nilai dan lulus dalam tes di akhir tahun.

Saya kembali tersadar dari lamunan. Saya sedang kehilangan kemampuan menulis. Dimana sih Iqbal si Penulis? Si Perangkai kata yang tak pernah kehabisan suara dalam otaknya? Si pengkhayal yang tak pernah berhenti berimajinasi, dan mengubah proyek visual dalam mata menjadi verbal dalam tata kata?

Mengapa Iqbal tak lagi rajin membaca? Dia sudah bosan dengan membaca, begitu banyak macam rasa yang lebih menyenangkan dari artikel, komik lucu, dan video seru di dunia maya.

Mengapa Iqbal tak lagi rajin menulis? Dia menggeleng. Katanya dia masih rajin menulis. Tapi bosan katanya. Dia setiap hari mengetik 140 huruf dan angka. Dia menggores catatan di kelas sains dan matematika. Katanya dia menulis karena terpaksa.

Saya mau dia menulis sastra. Membuat puisi dan curhatan kata penuh makna. Saya memanggilnya. Memanggilnya dengan penuh harap dibalasnya dengan senyum sapa.

Lalu begitu saja dia hilang, tak lagi muncul di mata dan pikiran saya.

Jadi kemanakah Iqbal? Saya tidak tahu dia pergi kemana. 

Saya merindukannya. Sangat merindukannya sampai habis waktu saya.

Ke-tidak-inisiatif-an Orang Indonesia

25 Agustus 2012, Stasiun Bekasi

Salah satu karakter orang Indonesia adalah curiga, sulit percaya, dan skeptis. Impilkasi dari karakter ini adalah sifat orang Indonesia lainnya yang sangat tidak inisiatif

Ke-tidak-inisiatif-an ini biasanya terjadi karena mereka sulit percaya dan takut jika mereka yang duluan berinisiatif ternyata gagal dan mempermalukan diri mereka sendiri. Seringkali akhirnya mereka menunggu bukti, dan jika sudah benar mereka yakin dengan melihat bukti tersebut akan berhasil, baru mereka berani ber-inisiatif (tentu sudah bukan inisiatif lagi kalo mengikuti).

Alkisah, hari ini saya mau pergi silaturahmi ke rumah ustadz Azhar di Rawamangun, bareng Alip dan Syahid. Di loket stasiun Bekasi, orang sudah mengantri panjang. Ada dua loket yang dibuka, loket pertama sudah diisi antrian panjang di depannya. Anehnya, loket yang kedua kosong, bahkan tidak ada yang mengantri disana. Saya yang berada di barisan paling belakang memperhatikan. Beberapa dari mereka melirik ke loket yang kosong, lalu tetap diam dan melanjutkan antrian. Tak ada satupun yang mengambil kesempatan mengantri-di-loket-kosong itu. 

Akhirnya saya yang geregetan pindah dan langsung maju ke depan loket, bahkan ternyata si “mbak"nya udah kesel sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dengan tatapan "Lo orang pada goblok banget sih, ga liat apa dari tadi loket gue kosong?”. Saya menyerahkan uang 100.000an, dan selagi menunggu si “mbak"nya menghitung uang kembalian, saya melihat ke belakang. Orang-orang memperhatikan saya. Setelah mendapatkan uang kembali dan tiket, saya baru sadar mengapa mereka memperhatikan saya. 

Ternyata mereka memperhatikan apakah benar loket kedua ini benar-benar buka, karena setelah saya bisa membeli tiket, setengah dari antrian langsung pindah ke "loket saya”. Mereka menunggu bukti, baru berani ambil keputusan yang jelas tidak akan merugikan mereka. See, itulah sebagian dari budaya kita.

Budaya ini sebenarnya hanya permasalahan sudut pandang. Ya, sudut pandang, kebanyakan orang kita belum berani mengambil resiko, masih takut-takut mengambil keputusan sebelum tahu apa sebenarnya yang akan dia terima setelah melakukannya. Sok2an analisis saya, sudut pandang ini bisa jadi disebabkan oleh sejarah penjajahan kita yang panjang. Karena lama hidup di dalam penjajahan, kita terbiasa menjadi korban tipu muslihat para kumpeni yang kurang ajar itu. Akibatnya kita menjadi bangsa yang skeptis, sulit sekali percaya kepada orang lain. Sudut pandang skeptis ini semakin membudaya dengan tidak amannya hidup di kota besar (baca: Berburuk Sangka di Jakarta). Sering banget kan kita dapat sms/telpon/email/surat yang menjanjikan hadiah, ga taunya cuma tipu-tipu. Hasilnya? Ya kita menjadi orang-orang dengan budaya yang selalu curiga dan memandang hal dengan negatif.

Kalo Anda pernah merasakan bangku sekolah atau kuliah, budaya ini pun ada. Ketika ujian misalnya, dan Anda sudah selesai mengerjakan tapi waktu masih banyak, seringkali kita tidak mau mengumpulkan dan hanya diam menunggu ada yang berdiri dan memulai duluan. Anda takut akan ada yang mencela Anda terlalu sombong, atau kemungkinan lainnya seperti Anda terlihat pintar dengan mengumpulkan ujian duluan tetapi ternyata saat keluar hasilnya nilai Anda paling jelek. Ketakutan-ketakutan tersebut akhirnya menuntun kita menjadi orang yang tidak inisiatif, takut mengambil keputusan. Padahal biasanya jika ada yang berdiri mengumpulkan duluan, tiba-tiba setengah dari kelas pun akan langsung berdiri dan mengumpulkan kertas ujian mereka. 

Di sekolah kita juga sering takut menjawab pertanyaan yang diajukan guru, padahal Anda tahu persis jawabannya. Seringkali ketakutan kita akan ditertawakan akibat salah menjawab membuat kita tidak jadi menjawab, padahal jika menjawab kita akan mendapatkan nilai tambahan dari Guru. Dan ketika orang lain dengan takut-takut memberanikan diri menjawab, jawabannya benar dan serta merta sang Guru berkata “Bagus, nak, kamu saya kasih nilai A di rapot”, serta merta kita menggerutu dan berkata “Kan bener jawaban gue! Harusnya tadi gue jawab tuh!”

Ya, memang seharusnya kita menjawab. Memang seharusnya kita inisiatif.

Berburuk Sangka di Jakarta

Kota besar telah membutakan mata kita tentang arti kepercayaan.

Kehidupan dengan persaingan yang ketat telah menyebabkan kriminalitas menjadi salah satu bagian dari keseharian. Kalau tidak kita lihat, kita dengar, atau kita rasakan, dan mungkin saja kita melakukannya.  Rasa curiga, buruk sangka, dan skeptisisme telah merasuk begitu dalam pada diri siapa saja. Sulit rasanya mempercayai dengan mudah siapapun di sekitar kita.

Jika bertemu orang asing, kita diajarkan untuk curiga. Jangan mudah percaya. Jika dia menawarkan minum, bisa jadi sudah dicampur obat bius. Jika dia mengajak ngobrol, bisa jadi dia sedang berusaha menghipnotis kita. Jika dia melihat dan mengamati kita, boleh jadi dia perampok yang sedang mengincar kita. Segala prasangka buruk menghantui, menghilangkan rasa percaya dan sentosa yang harusnya ada dan menjadi pengiring hidup kita.

Tadi, saya baru turun di stasiun Juanda. Duduk di pinggir peron, lalu melihat kanan kiri dan saya ternyata sendiri. Tiba-tiba datanglah dua orang, geometri wajahnya dapat saya kenali sebagai orang Sunda. Keduanya tidak membawa tas apapun, memakai jaket dan memasukkan kedua tangannya di saku. Mereka duduk di samping saya, lalu bertanya, “Gambir udah lewat ya mas?”

Timbullah curiga di benak saya. Jangan-jangan mereka copet. Jangan-jangan mereka mau menodong saya. Jangan-jangan mereka sedang memegang pisau di saku mereka. Berbagai prasangka “jangan-jangan” berdentang di kepala saya, membunyikan lonceng waspada. Saya menarik tas dan memeluknya, memasang posisi duduk siap melawan. Baru kemudian saya menjawab, “Iya, satu stasiun sebelum ini mas”, kata saya sambil menunjuk arah Gambir. Dia mendekatkan duduknya ke arah saya. Curiga kembali timbul, saya semakin waspada.

“Saya ketiduran, mas”, katanya sambil mengucek-ngucek mata.

Lagi-lagi datanglah prasangka itu, jangan-jangan dia bohong. Matanya memang merah, jangan-jangan karena dia pemabuk. Saya semakin siap.

Tapi di sisi lain, ada suara yang juga berbisik kepada saya. 

Bagaimana jika dia benar, bahwa dia cuma orang biasa? Bagaimana jika dia memang orang yang ingin bertanya, butuh pertolongan saya? Kali ini sangka itu tidak datang dari kepala, tapi suaranya dari dalam hati saya.

Dan kemudian, dengan kondisi tetap siaga, saya bilang kepada mereka, “Naik aja kereta lagi kesana mas, tuh dari peron seberang, cuma satu stasiun kok”. Lalu kejadiannya begitu cepat.

Mereka tersenyum, berterima kasih, dan pergi ke peron seberang.

Tak terjadi apa-apa.

Sangka buruk saya tinggallah menjadi prasangka.

Astaghfirullah. Saya beristighfar. Sungguh berdosa saya telah berburuk sangka pada mereka, padahal mereka hanya ingin bertanya. Sungguh saya merenung setelahnya.

Hidup di ibukota memang harus penuh waspada, apalagi kejahatan memang terbukti terjadi dengan berbagai cara, pada siapa saja. Tapi haruskah kemudian kita mencederai nilai-nilai kepercayaan pada sesama, dan menggantikannya dengan buruk sangka? Haruskah kita berhenti memberi senyum, dan mengganti semuanya dengan tatapan curiga?

Kita butuh Jakarta yang aman dan sentosa.

Teori Kampungan

12 Oktober 2010

Membaca buku The Rebel Sell, saya jadi mengerti satu teori penting meeengenai kehidupan di zaman kayak gini. Pribadi, saya menamakannya Teori Kampungan.

Bagi kebanyakan remaja, mereka pasti punya banyak hal keren. Baju distro, band pujaan, sampai semua gaya, pasti ada yang namanya keren. Sesuatu yang tidak termasuk dalam kategori keren, itulah yang disebut dengan kampungan. Masalahnya adalah, apakah kampungan itu benar-benar kampungan? Apakah kampungan itu memang berselera rendah dan tidak berkualitas? Apakah keren itu sesuatu memang lebih keren dari kampungan?
Daripada bingung, mending kita ambil contoh saja. Beberapa tahun belakangan ini, industri musik Indonesia sedang mekar. Band-band dan grup musik bertaburan, meramaikan ranah Lagu nusantara yang makin berwarna. Tiba-tiba, tahun 2007 vokalis Naif mengecam secara langsung grup musik Kangen Band. Kangen Band dianggap merusak musik Indonesia, dengan lagu yang cupudan tampang personelnya yang kampungan. Lantas, Kangen Band dicap sebagai band dengan musik rendahan, dan disebut sebagai Band kampungan.

Tapi benarkah Kangen Band kampungan?

Bila benar kampungan, maka Kangen Band tidaklah keren. Dengan kata lain, musik mereka tidak laku dan tidak disukai. Pada kenyataannya, lagu-lagu mereka digandrungi. Penjualan album mereka sampai mendapat platinum, hit mereka selalu booming dan menempati chart teratas, mengalahkan band-band yang dianggap keren. Semua kalangan, anak-anak, remaja, ibu-ibu, mengenal lagu mereka. Jadi bagaimana kita menjelaskan bahwa Kangen Band kampungan, padahal musik mereka laku  keras dan digandrungi jutaan orang?

Penjelasannya sederhana saja. Kangen Band tidaklah kampungan, musik mereka tidaklah norak. Penjualan kepingan album di tengah maraknya pembajakan adalah sebuah pengakuan dan apresiasi yang nyata: musik mereka berkualitas. Ngapain sih orang beli album asli kalai musiknya ecek-ecek, kenapa ga beli yang bajakan? Maka satu-satunya alasan mengapa orang menyebut mereka kampungan adalah karena mereka laku. Karena jutaan orang telah menjadi pengikut Kangen Band, maka status keren perlu dialihkan pada Band yang belum menjadi mainstream banyak orang. Dalam artian lain, orang malu untuk mengakui karena sudah rame oleh orang-orang. Akhirnya orang-orang harus mencari status baru dan mulai mencap mayoritas sebagai kampungan, agar status mereka menjadi keren.

Penjelasan yang sama bisa diberlakukan pada website social network. Awalnya friendster lah yang menguasai Indonesia, maksudnya paling banyak penggunanya. Waktu muncul facebook, orang langsung beralih dan mengatakan bahwa FS kampung. Sekarang orang rame menggunakan facebook. Karena sudah rame dan jamak, sebagian mulai beralih ke twitter dan lagi-lagi mengatakan bahwa facebook kampung. Siklus ini akan terus berlanjut. Pada dasarnya tidak ada yang berubah. Kualitas fs tidak berubah menjadi jelek, twitter pun tidak lebih baik dari facebook. Ini hanyalah masalah gengsi dimana punya sesuatu yang dimiliki semua orang tidaklah keren alias kampung dan punya sesuatu yang tidak dimiliki orangadalah keren.

Inilah yang saya sebut dengan teori kampungan.  Kualitas bukanlah ukuran utama menilai keren atau kampungan.

Keren hanyalah eksklusivitas di tengah mayoritas.

Tak kurang tak lebih.

Ngeblog = Beol

Ngeblog itu seperti beol. Tulisan kita ibarat tai, komputer ibarat WC, dan Internet ibarat pispot.

Ada saat dimana kita sangat kebelet pengen ngeblog. Segala sesuatunya sudah terkumpul di perut kita, memenuhi segala pikiran dan membuat kita keringat dingin karena sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkannya. Tapi seringkali ketika hal itu terjadi kita tidak sedang berada di dekat WC dan kita sangat bingung mau mengeluarkannya dimana. Kita berusaha mencari kesana kemari tapi tak jua menemukan WC yang kita nanti. Oh, kondisi seperti itu sangat mengerikan.

Setelah menahannya beberapa lama, ketika akhirnya kita menemukan WC, dengan senang hati kita akan segera beol dan mengeluarkan tai dengan lancar dan tanpa putus ke dalam pispot. Pada akhirnya, setelah menyelesaikan beol dan melihat kembali tai tai yang telah kita hasilkan di dalam pispot, kita tersenyum senang dan merasa sangat lega. Betapa asiknya beol dan menikmati tai yang telah kita keluarkan. 

Ya, saya akui beol, tai, dan WC bukan perbandingan yang indah. Tapi setidaknya, saya bisa melihat bahwa ternyata ada kemiripan antara ngeblg dan beol. Mungkin substansinya berbeda, tapi urgensinya tetap sama dan senilai. 

Selamat beol, eh, ngeblog !

Kamera (1)

Iri. Sebuah kata yang selalu berkonotasi negatif bagi saya pribadi.

Iri, pada akhirnya bisa berarti dengki. Dengki, pada waktunya bisa berbuah benci. Benci, adalah hal terakhir yang harus Anda simpan untuk diri sendiri, karena tak pernah sekalipun ada benci yang didasari iri dan dengki bisa berbuah semanis buah berminyak atsiri. Entah kenapa saya ingin menulis tentang iri.

Karena saya sebenarnya sedang iri. Banyak yang menyebabkan saya iri. Saya ini bukan orang yang berada sekali. Miskin sih tidak, tapi orang tua saya bukan tipe orang tua yang dengan mudah membelikan atau memberikan apapun yang anaknya inginkan. Bukan karena mereka tak mau, tapi seringkali mereka tak mampu. Seingat saya sudah 3 tahun belakangan saya tak pernah minta dibelikan apapun kepada orang tua saya. Jika saya menginginkan sesuatu, saya tak minta, tapi menunggu mereka yang menawarkan. Lancang rasanya mulut ini meminta sesuatu yang saya inginkan sementara mereka tak mampu membelikan. Satu hal yang tiga atau mungkin empat tahun terakhir saya inginkan melebihi apapun dalam hidup saya, yang juga menjadi awal dari cerita ini, adalah kamera.

KAMERA. Sebuah kotak dengan kaca dan diafragma. Sebuah mesin dengan pesona cahaya dari sebuah lubang bernama lensa. Saya lupa kapan saya mulai menginginkan kamera. Mungkin sejak dahulu ketika di pesantren, Alif membawa kamera dan mengajarkan fotografi, permainan sederhana dalam menyeimbangkan cahaya dan warna menjadi seni karya yang memesona. Saya ingat betapa saya selalu menginginkan menjadi panitia dokumentasi, karena dengannya, saya bisa memegang kamera.

Beranjak ke dunia mahasiswa, saya menemukan arti lebih untuk fotografi yang ingin saya jadikan sebagai bagian dari hidup saya. Bapak saya memberi saya Handphone Nokia, saya lupa jenisnya. Nokia biasa yang bisa sms dan telpon siapa saja. Beruntung bagi saya, seharusnya bapak tidak bisa membelikan hape semacam itu bagi saya, tapi bapak mendapatkannya gratis karena itu merupakan hadiah Doorprize dari kantor tempat bapak bekerja. Hebatnya, hape itu punya kamera. 2 Megapixel, biasa saja. Tapi setidaknya saya bisa berkamera ria.

Awal menjejaki kaki ke Universitas terbaik di Indonesia, saya masih sering kemana mana bersama Alip. Bahagianya Alip, bapaknya menjanjikan hadiah jika dia berhasil masuk universitas Indonesia. Saat itu, sebagai sahabat terbaik, Alip memberitakan kebahagiannya kepada saya. Dia dibelikan kamera. Nikon D70. Alip mengajak saya kemana-mana bersama kamera, orang baru punya kamera, tentu saja hunting photo. Sebagai sahabat, tentu saya ikut senang. Sahabat mana yang tak senang teman terbaiknya berbahagia? Tapi diri saya yang entah bagian mana tersinggung dan kecewa. Saya juga berhasil masuk UI. Orangtua saya tak memberi saya apa-apa, tapi kenapa dia bisa mendapatkan kamera? Saya hanya bertanya-tanya, entah pada siapa.

Agustus 2010, saya bertemu keluarga baru di jurusan Biologi bernama BIOGENESIS. Mereka teman seangkatan di jurusan. Hari itu, 28 Agustus, saya meminjam kamera Alip dan berlagak seorang fotografer. Saya membawa kekeran dan menjepret sana sini. Saya petantang petenteng sambil pencet tombol, buka rana kamera sesuka hati. Asik, sebagai pemula yang bahkan masih payah mengatur cahaya dan suhu warna, saya bahagia. Saya bahagia mengabadikan potret teman yang senyum dan tertawa. Saya bahagia menjadi orang dermawan yang berkorban untuk menangkap momen kebersamaan yang langka. Saya merasa bahagia bersama kamera. Sejenak bahagia, tentu saja.

Untuk kemudian saya tersadar, itu bukan milik saya. Saya belum punya kamera.

Walaupun begitu, sejak itu, saya dianggap sebagai juru kamera. Hebatnya kepercayaan menjadi juru kamera, menjadi mudah bagi saya meminjam kamera teman. Dengan memberikan kameranya kepada saya, mereka percaya dokumentasi akan baik dan semuanya akan baik-baik saja. Saya meminjam kamera Ayu. Saya meminjam kamera Aul. Saya meminjam kamera Smartphone Abi. Saya meminjam kameranya. Saya meminjam kamera, lagi, lagi dan lagi. Dan begitulah selama setahun terakhir saya mengembangkan minat saya pada kamera.

Minat saya pada pesona gambar dan kumpulan pixel yang merona. Pada keindahan cahaya dan goresan warna.

Ada dosa yang anda lakukan dengan kuliah di universitas ternama. Anda telah merampas kesempatan ratusan, bahkan ribuan orang yang anda singkirkan dalam kompetisi masuk universitas. Orang-orang yang mungkin lebih membutuhkan pendidikan dari pada Anda.

Tapi Anda bisa menebus dosa itu dengan kuliah sungguh-sungguh dan mengabdikan ilmu Anda untuk bangsa, untuk negara, dan untuk mereka.

Lamunan dalam hati yang sepi di malam minggu yang sendiri

Udah dari tahun 1985 saya masuk UI, belom juga diwisuda sampe sekarang. Ya nasib saya cuma bisa jadi satpam, padahal mah saya juga mau kuliah mas. Bentar lagi sih saya di wisuda, tapi ga bakalan ada pesta, bunga apalagi salaman sama pak rektor. Dikasih pesangon aja udah sukur lah buat pensiun.

Suara hati Satpam Perpustakaan Universitas Indonesia yang saya temui beberapa hari yang lalu.