Berburuk Sangka di Jakarta

Kota besar telah membutakan mata kita tentang arti kepercayaan.

Kehidupan dengan persaingan yang ketat telah menyebabkan kriminalitas menjadi salah satu bagian dari keseharian. Kalau tidak kita lihat, kita dengar, atau kita rasakan, dan mungkin saja kita melakukannya.  Rasa curiga, buruk sangka, dan skeptisisme telah merasuk begitu dalam pada diri siapa saja. Sulit rasanya mempercayai dengan mudah siapapun di sekitar kita.

Jika bertemu orang asing, kita diajarkan untuk curiga. Jangan mudah percaya. Jika dia menawarkan minum, bisa jadi sudah dicampur obat bius. Jika dia mengajak ngobrol, bisa jadi dia sedang berusaha menghipnotis kita. Jika dia melihat dan mengamati kita, boleh jadi dia perampok yang sedang mengincar kita. Segala prasangka buruk menghantui, menghilangkan rasa percaya dan sentosa yang harusnya ada dan menjadi pengiring hidup kita.

Tadi, saya baru turun di stasiun Juanda. Duduk di pinggir peron, lalu melihat kanan kiri dan saya ternyata sendiri. Tiba-tiba datanglah dua orang, geometri wajahnya dapat saya kenali sebagai orang Sunda. Keduanya tidak membawa tas apapun, memakai jaket dan memasukkan kedua tangannya di saku. Mereka duduk di samping saya, lalu bertanya, “Gambir udah lewat ya mas?”

Timbullah curiga di benak saya. Jangan-jangan mereka copet. Jangan-jangan mereka mau menodong saya. Jangan-jangan mereka sedang memegang pisau di saku mereka. Berbagai prasangka “jangan-jangan” berdentang di kepala saya, membunyikan lonceng waspada. Saya menarik tas dan memeluknya, memasang posisi duduk siap melawan. Baru kemudian saya menjawab, “Iya, satu stasiun sebelum ini mas”, kata saya sambil menunjuk arah Gambir. Dia mendekatkan duduknya ke arah saya. Curiga kembali timbul, saya semakin waspada.

“Saya ketiduran, mas”, katanya sambil mengucek-ngucek mata.

Lagi-lagi datanglah prasangka itu, jangan-jangan dia bohong. Matanya memang merah, jangan-jangan karena dia pemabuk. Saya semakin siap.

Tapi di sisi lain, ada suara yang juga berbisik kepada saya. 

Bagaimana jika dia benar, bahwa dia cuma orang biasa? Bagaimana jika dia memang orang yang ingin bertanya, butuh pertolongan saya? Kali ini sangka itu tidak datang dari kepala, tapi suaranya dari dalam hati saya.

Dan kemudian, dengan kondisi tetap siaga, saya bilang kepada mereka, “Naik aja kereta lagi kesana mas, tuh dari peron seberang, cuma satu stasiun kok”. Lalu kejadiannya begitu cepat.

Mereka tersenyum, berterima kasih, dan pergi ke peron seberang.

Tak terjadi apa-apa.

Sangka buruk saya tinggallah menjadi prasangka.

Astaghfirullah. Saya beristighfar. Sungguh berdosa saya telah berburuk sangka pada mereka, padahal mereka hanya ingin bertanya. Sungguh saya merenung setelahnya.

Hidup di ibukota memang harus penuh waspada, apalagi kejahatan memang terbukti terjadi dengan berbagai cara, pada siapa saja. Tapi haruskah kemudian kita mencederai nilai-nilai kepercayaan pada sesama, dan menggantikannya dengan buruk sangka? Haruskah kita berhenti memberi senyum, dan mengganti semuanya dengan tatapan curiga?

Kita butuh Jakarta yang aman dan sentosa.

Teori Kampungan

12 Oktober 2010

Membaca buku The Rebel Sell, saya jadi mengerti satu teori penting meeengenai kehidupan di zaman kayak gini. Pribadi, saya menamakannya Teori Kampungan.

Bagi kebanyakan remaja, mereka pasti punya banyak hal keren. Baju distro, band pujaan, sampai semua gaya, pasti ada yang namanya keren. Sesuatu yang tidak termasuk dalam kategori keren, itulah yang disebut dengan kampungan. Masalahnya adalah, apakah kampungan itu benar-benar kampungan? Apakah kampungan itu memang berselera rendah dan tidak berkualitas? Apakah keren itu sesuatu memang lebih keren dari kampungan?
Daripada bingung, mending kita ambil contoh saja. Beberapa tahun belakangan ini, industri musik Indonesia sedang mekar. Band-band dan grup musik bertaburan, meramaikan ranah Lagu nusantara yang makin berwarna. Tiba-tiba, tahun 2007 vokalis Naif mengecam secara langsung grup musik Kangen Band. Kangen Band dianggap merusak musik Indonesia, dengan lagu yang cupudan tampang personelnya yang kampungan. Lantas, Kangen Band dicap sebagai band dengan musik rendahan, dan disebut sebagai Band kampungan.

Tapi benarkah Kangen Band kampungan?

Bila benar kampungan, maka Kangen Band tidaklah keren. Dengan kata lain, musik mereka tidak laku dan tidak disukai. Pada kenyataannya, lagu-lagu mereka digandrungi. Penjualan album mereka sampai mendapat platinum, hit mereka selalu booming dan menempati chart teratas, mengalahkan band-band yang dianggap keren. Semua kalangan, anak-anak, remaja, ibu-ibu, mengenal lagu mereka. Jadi bagaimana kita menjelaskan bahwa Kangen Band kampungan, padahal musik mereka laku  keras dan digandrungi jutaan orang?

Penjelasannya sederhana saja. Kangen Band tidaklah kampungan, musik mereka tidaklah norak. Penjualan kepingan album di tengah maraknya pembajakan adalah sebuah pengakuan dan apresiasi yang nyata: musik mereka berkualitas. Ngapain sih orang beli album asli kalai musiknya ecek-ecek, kenapa ga beli yang bajakan? Maka satu-satunya alasan mengapa orang menyebut mereka kampungan adalah karena mereka laku. Karena jutaan orang telah menjadi pengikut Kangen Band, maka status keren perlu dialihkan pada Band yang belum menjadi mainstream banyak orang. Dalam artian lain, orang malu untuk mengakui karena sudah rame oleh orang-orang. Akhirnya orang-orang harus mencari status baru dan mulai mencap mayoritas sebagai kampungan, agar status mereka menjadi keren.

Penjelasan yang sama bisa diberlakukan pada website social network. Awalnya friendster lah yang menguasai Indonesia, maksudnya paling banyak penggunanya. Waktu muncul facebook, orang langsung beralih dan mengatakan bahwa FS kampung. Sekarang orang rame menggunakan facebook. Karena sudah rame dan jamak, sebagian mulai beralih ke twitter dan lagi-lagi mengatakan bahwa facebook kampung. Siklus ini akan terus berlanjut. Pada dasarnya tidak ada yang berubah. Kualitas fs tidak berubah menjadi jelek, twitter pun tidak lebih baik dari facebook. Ini hanyalah masalah gengsi dimana punya sesuatu yang dimiliki semua orang tidaklah keren alias kampung dan punya sesuatu yang tidak dimiliki orangadalah keren.

Inilah yang saya sebut dengan teori kampungan.  Kualitas bukanlah ukuran utama menilai keren atau kampungan.

Keren hanyalah eksklusivitas di tengah mayoritas.

Tak kurang tak lebih.

Ngeblog = Beol

Ngeblog itu seperti beol. Tulisan kita ibarat tai, komputer ibarat WC, dan Internet ibarat pispot.

Ada saat dimana kita sangat kebelet pengen ngeblog. Segala sesuatunya sudah terkumpul di perut kita, memenuhi segala pikiran dan membuat kita keringat dingin karena sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkannya. Tapi seringkali ketika hal itu terjadi kita tidak sedang berada di dekat WC dan kita sangat bingung mau mengeluarkannya dimana. Kita berusaha mencari kesana kemari tapi tak jua menemukan WC yang kita nanti. Oh, kondisi seperti itu sangat mengerikan.

Setelah menahannya beberapa lama, ketika akhirnya kita menemukan WC, dengan senang hati kita akan segera beol dan mengeluarkan tai dengan lancar dan tanpa putus ke dalam pispot. Pada akhirnya, setelah menyelesaikan beol dan melihat kembali tai tai yang telah kita hasilkan di dalam pispot, kita tersenyum senang dan merasa sangat lega. Betapa asiknya beol dan menikmati tai yang telah kita keluarkan. 

Ya, saya akui beol, tai, dan WC bukan perbandingan yang indah. Tapi setidaknya, saya bisa melihat bahwa ternyata ada kemiripan antara ngeblg dan beol. Mungkin substansinya berbeda, tapi urgensinya tetap sama dan senilai. 

Selamat beol, eh, ngeblog !

Kamera (1)

Iri. Sebuah kata yang selalu berkonotasi negatif bagi saya pribadi.

Iri, pada akhirnya bisa berarti dengki. Dengki, pada waktunya bisa berbuah benci. Benci, adalah hal terakhir yang harus Anda simpan untuk diri sendiri, karena tak pernah sekalipun ada benci yang didasari iri dan dengki bisa berbuah semanis buah berminyak atsiri. Entah kenapa saya ingin menulis tentang iri.

Karena saya sebenarnya sedang iri. Banyak yang menyebabkan saya iri. Saya ini bukan orang yang berada sekali. Miskin sih tidak, tapi orang tua saya bukan tipe orang tua yang dengan mudah membelikan atau memberikan apapun yang anaknya inginkan. Bukan karena mereka tak mau, tapi seringkali mereka tak mampu. Seingat saya sudah 3 tahun belakangan saya tak pernah minta dibelikan apapun kepada orang tua saya. Jika saya menginginkan sesuatu, saya tak minta, tapi menunggu mereka yang menawarkan. Lancang rasanya mulut ini meminta sesuatu yang saya inginkan sementara mereka tak mampu membelikan. Satu hal yang tiga atau mungkin empat tahun terakhir saya inginkan melebihi apapun dalam hidup saya, yang juga menjadi awal dari cerita ini, adalah kamera.

KAMERA. Sebuah kotak dengan kaca dan diafragma. Sebuah mesin dengan pesona cahaya dari sebuah lubang bernama lensa. Saya lupa kapan saya mulai menginginkan kamera. Mungkin sejak dahulu ketika di pesantren, Alif membawa kamera dan mengajarkan fotografi, permainan sederhana dalam menyeimbangkan cahaya dan warna menjadi seni karya yang memesona. Saya ingat betapa saya selalu menginginkan menjadi panitia dokumentasi, karena dengannya, saya bisa memegang kamera.

Beranjak ke dunia mahasiswa, saya menemukan arti lebih untuk fotografi yang ingin saya jadikan sebagai bagian dari hidup saya. Bapak saya memberi saya Handphone Nokia, saya lupa jenisnya. Nokia biasa yang bisa sms dan telpon siapa saja. Beruntung bagi saya, seharusnya bapak tidak bisa membelikan hape semacam itu bagi saya, tapi bapak mendapatkannya gratis karena itu merupakan hadiah Doorprize dari kantor tempat bapak bekerja. Hebatnya, hape itu punya kamera. 2 Megapixel, biasa saja. Tapi setidaknya saya bisa berkamera ria.

Awal menjejaki kaki ke Universitas terbaik di Indonesia, saya masih sering kemana mana bersama Alip. Bahagianya Alip, bapaknya menjanjikan hadiah jika dia berhasil masuk universitas Indonesia. Saat itu, sebagai sahabat terbaik, Alip memberitakan kebahagiannya kepada saya. Dia dibelikan kamera. Nikon D70. Alip mengajak saya kemana-mana bersama kamera, orang baru punya kamera, tentu saja hunting photo. Sebagai sahabat, tentu saya ikut senang. Sahabat mana yang tak senang teman terbaiknya berbahagia? Tapi diri saya yang entah bagian mana tersinggung dan kecewa. Saya juga berhasil masuk UI. Orangtua saya tak memberi saya apa-apa, tapi kenapa dia bisa mendapatkan kamera? Saya hanya bertanya-tanya, entah pada siapa.

Agustus 2010, saya bertemu keluarga baru di jurusan Biologi bernama BIOGENESIS. Mereka teman seangkatan di jurusan. Hari itu, 28 Agustus, saya meminjam kamera Alip dan berlagak seorang fotografer. Saya membawa kekeran dan menjepret sana sini. Saya petantang petenteng sambil pencet tombol, buka rana kamera sesuka hati. Asik, sebagai pemula yang bahkan masih payah mengatur cahaya dan suhu warna, saya bahagia. Saya bahagia mengabadikan potret teman yang senyum dan tertawa. Saya bahagia menjadi orang dermawan yang berkorban untuk menangkap momen kebersamaan yang langka. Saya merasa bahagia bersama kamera. Sejenak bahagia, tentu saja.

Untuk kemudian saya tersadar, itu bukan milik saya. Saya belum punya kamera.

Walaupun begitu, sejak itu, saya dianggap sebagai juru kamera. Hebatnya kepercayaan menjadi juru kamera, menjadi mudah bagi saya meminjam kamera teman. Dengan memberikan kameranya kepada saya, mereka percaya dokumentasi akan baik dan semuanya akan baik-baik saja. Saya meminjam kamera Ayu. Saya meminjam kamera Aul. Saya meminjam kamera Smartphone Abi. Saya meminjam kameranya. Saya meminjam kamera, lagi, lagi dan lagi. Dan begitulah selama setahun terakhir saya mengembangkan minat saya pada kamera.

Minat saya pada pesona gambar dan kumpulan pixel yang merona. Pada keindahan cahaya dan goresan warna.

Ada dosa yang anda lakukan dengan kuliah di universitas ternama. Anda telah merampas kesempatan ratusan, bahkan ribuan orang yang anda singkirkan dalam kompetisi masuk universitas. Orang-orang yang mungkin lebih membutuhkan pendidikan dari pada Anda.

Tapi Anda bisa menebus dosa itu dengan kuliah sungguh-sungguh dan mengabdikan ilmu Anda untuk bangsa, untuk negara, dan untuk mereka.

Lamunan dalam hati yang sepi di malam minggu yang sendiri

Udah dari tahun 1985 saya masuk UI, belom juga diwisuda sampe sekarang. Ya nasib saya cuma bisa jadi satpam, padahal mah saya juga mau kuliah mas. Bentar lagi sih saya di wisuda, tapi ga bakalan ada pesta, bunga apalagi salaman sama pak rektor. Dikasih pesangon aja udah sukur lah buat pensiun.

Suara hati Satpam Perpustakaan Universitas Indonesia yang saya temui beberapa hari yang lalu.

Saya Ini Orang Mana?

Sebenarnya membingungkan, saya ini orang mana?

Baik, mari kita luruskan permasalahannya. Saat ini saya baru kepikiran serius saya ini orang mana. Maksudnya ras, iya, masalah ras dan suku. Saya tidak begitu yakin soal saya-ini-orang-apa karena saya memang tidak jelas. Bukan karena orang tua saya tidak jelas, tapi ya, nanti deh di paragraf berikutnya saya jelaskan. Sebelumnya saya tidak pernah memikirkannya secara serius, toh suku apapun bukan masalah bagi saya. Saya sudah terbiasa dengan perbedaan dan Rasul pun mengajarkan tak perlu lah kita membeda-bedakan satu dengan yang lain karena kulitnya – yang dalam kata lain karena ras atau sukunya. 

Jadi begini. Bapak saya memiliki ayah asal Kebumen. Kakek saya ini seorang militer, saya hanya tahu dari fotonya, karena Bapak pun hanya lima tahun hidup bersama Kakek. Sejak bapak saya kecil, mereka sudah tinggal di Jakarta. Kakek meninggal saat bapak lima tahun, dua tahun kemudian nenek menyusul. Bapak yang masih bocah tinggal di Jakarta diasuh bergantian oleh adik-adiknya Kakek. Sejak kecil bapak tumbuh di Jakarta, sekolah, bermain, bergaul dan hidup di Jakarta. Dia bekerja sebagai montir, tukang cuci motor, bermain di daerah Pasar Baru, dan daerah urban di pusat kota. Kehidupan kecilnya membesarkan ia dengan kehidupan jalanan Jakarta. Walhasil, saat besar pun bapak sangat seperti orang Jakarta.

Ibu saya, seorang tipikal wanita daerah. Lahir, besar, dan hidup di Samarinda, kota besar nun jauh di Kalimantan Timur sana. Takdir cinta mempertemukan ayah saya yang orang Jakarta dengan ibu saya yang orang Samarinda. 

Saya anak kedua. Saya dilahirkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dan ya, saya tidak bisa berbahasa Kalimantan. Saya hanya tinggal disana 3 tahun, sebelum saya sepenuhnya sadar menjadi bagian dari dunia, saya sudah berada di tanah ibukota.

Jadi, saya orang mana?

Sebenarnya tak pernah penting dalam hidup saya, saya ini orang mana. Apa esensinya mengetahui Anda orang mana, jika memang itu sukar ditentukan? Stimulus penting yang membuat saya sedikit berpikir mengenai ketidakpentingan ini – dalam hemat saya tentu saja – adalah ceplosan bahwa saya dilarang mendekatinya jika di darah saya mengalir darah orang Jawa. Ohshit, separah itukah orang jawa? Apa salah mereka, apa karena mereka lambat, atau karena semua presiden Indonesia orang Jawa? Lalu bagaimana jika ternyata saya salah satu diantara mereka? 

Ketidakpentingan itu akhirnya naik ke tingkatan kelumayanpentingan untuk dipikirkan. Penelusuran membawa saya kepada fakta bahwa dalam tubuh saya mengalir darah jawa dari kakek saya. Sepah dan lalu dibuangkah saya? Entahlah, mungkin keberagaman suku dan ras yang kemudian bercampur menjadi satu dalam tubuh seseorang bisa menjadi alasan untuk menyalahkan rasa dan logika.

Jadi, saya ini orang mana?

Untuk Hitam (2)

Hitam,

Masihkah engkau menunggu goresan tinta?

Hitam,

Masihkah kita harus menunggu senja, sementara rasa telah menggulung puluhan malam purnama? Masihkah kita harus membangun rasa, sementara kelopak telah berubah menjadi bunga, dan bunga telah gugur menjadi hara?

Hitam,

Rahasia ini, janji kita untuk dijaga. Janji kita untuk dibawa, dibawa dari Rida dan dijemput di depan Libra. 

Hitam,

Absurditas adalah mengatakan biarkan orang berkata apa. Kejujuran adalah membiarkan orang melihat apa. Dan hati, seperti diafragma untuk lensa, membukakan cahaya untuk rasa tertinggal menjadi bayangan dalam sukma.

Hitam,

jarak nol senti, untuk dua hati. Jangan pernah mencari lagi.

Nyontek itu haram.
Kalo Ujian kalian nyontek, ijazah kalian jadi haram. Kalo kalian masuk sekolah atau kuliah dengan ijazah haram, studi kalian juga haram. Kalo kalian ngelamar kerja dengan ijazah haram, uang yang kalian dapetin juga haram.
Apa kalian mau anak istri kalian nanti makan makanan haram?

Mudirul-Ma,had, dari potongan nostalgia di sebuah hari di pesantren tercinta.