24 Jam di Tanah Rencong, Aceh!

Setelah bercita-cita sejak lama, akhirnya kesampean juga: mampir ke provinsi paling barat Indonesia, Aceh!

Kesempatan ini datang karena undangan dari teman-teman kampus Universitas Syiah Kuala untuk acara di tanggal 12 November.

Saya sampai di tanggal 11 nya, dan karena jadwalnya di awal minggu kerja, saya tidak punya banyak waktu luang meski ingin banyak main ke sana kemari. Flight pulang saya sudah terjadwal jam 5 sore besoknya, jadi saya punya waktu kurang dari 24 jam di Banda Aceh.

Sampai di bandara jam 5 sore. Langsung jalan bersama teman-teman Unsyiah menuju Hotel Mekkah di tengah kota Banda Aceh. Check in jam 6, saya istirahat sebentar untuk jam 7 langsung menuju kafe Le More, Lampineung.

Saya janjian dengan teman-teman Forum Indonesia Muda Aceh. Saya juga janjian dengan teman yang kenal di Twitter + karena mendengar Podcast saya, Teuku Saifudin namanya. Ternyata doi community manager di DiLo Aceh. Baru tau juga ternyata di Banda Aceh ada Dilo. Kami ngobrol banyak hal, termasuk bagaimana menggiatkan komunitas dan gairah dunia digital untuk anak-anak muda di Aceh.

Kami nongkrong sampe malam, lumayan lah sampe jam 22.30. Yang tadinya saya pikir nongkrong di Aceh mungkin jam 9 aja udah disuruh bubar, ternyata ya biasa aja. Ga segitunya haha.

Jadi banyak stereotipe tentang Aceh yang saya punya sebagai orang non-Aceh, yang kemudian saya buktikan sebagai mitos. Sebagian hasil obrolannya kami rekam di video ini.

Besok paginya, saya langsung ke kampus Unsyiah untuk agenda utama. Mengisi seminar digital tentang bagaimana anak muda harus bikin inovasi sosial berbasis teknologi digital.

Saya berbagi sesi dengan Ustadz Tri, seorang guru ngaji asli Aceh yang sekarang sedang merintis aplikasi Muslim Life. Aplikasi ini terpilih jadi aplikasi terbaik di program NextDev Medan, dan saat ini Ustad Tri dan tim sedang mengikuti program pelatihan bersama Telkomsel.

Selesai acara, saya diajak keliling sama Ustad Tri dan teman-teman panitia. Saya punya waktu kurang lebih tiga jam.

Pertama-tama, tentu kami pergi makan.

Karena mau yang compact aja, saya diajak makan di restoran … yang menyediakan berbagai makanan Aceh. Khas Melayu lah. Jadi pilihan makanannya dijembrengin di berbagai piring di atas meja, seperti makanan Padang tapi ini Aceh (?).

Makanannya mantul.

Lalu saya diajak mampir ke trademarknya Aceh: Museum Tsunami dan Masjid Raya Baiturrahman.

Museum Tsunami wajib buat saya karena saya fans Kang Emil, jadi saya memang request ke sini. Museum ini konon salah satu karyanya yang ikonik karena arsitekturnya tidak hanya fungsional, tapi juga didesain dengan storytelling.

Museumnya memang luar biasa, arsitekturnya megah dan ada narasi storytellingnya.

Sayangnya, saya yang pecinta museum harus kecewa karena museum Tsunami ini sama seperti banyak museum lainnya: tidak terawat dengan baik. Bahkan pintu masuk utama yang jadi bagian pertama museum ini – sebuah lorong panjang yang dialiri air di bagian bawahnya untuk membawa kita pada cerita Tsunami – ditutup entah karena alasan apa. Jadi secara umum, saya menyayangkan karena museum ini hanya jadi tempat selfie yang bagus saja.

Dari museum ini, kami “menyeberang” ke Masjid Baiturrahman. Masjid Raya Aceh yang selalu jadi ikon Aceh ini memang luar biasa. Kompleknya megah, luas, dan menyimpan banyak cerita.

Salah satu cerita populer yang diceritakan kembali oleh Ustad Tri, adalah saat kejadian tsunami. Saat gelombang tsunami datang 15 tahun lalu, seluruh bangunan di sekitar masjid luluh lantak dan rata dengan tanah. Hanya Masjid Baiturrahman yang utuh. Beberapa saksi yang selamat bilang saat kejadian, air seperti minta izin ketika memasuki komplek masjid. Air yang datang setinggi 3 meter lebih tiba-tiba “merunduk” dan hanya setinggi mata kaki di komplek masjid Baiturrahman.

Karena sudah sholat jamak, saya menyempatkan sholat dua rakaat di sini. Lalu berangkat kembali bersama teman-teman Unsyiah – Yusuf, Sudirman, dan Iskandar – menuju bandara. Sejalur dengan bandara, kami sempat mampir ke kuburan massal Silor. Berziarah dan mendoakan ribuan saudara kita yang dikubur di sana.

Jam empat sore, saya sudah cek in dan menunggu flight ke Jakarta. Cepat sekali rasanya, masih banyak yang mau saya explore di Aceh. Semoga bisa segera kembali lagi ke tanah rencong ini.

Sampai jumpa lagi, Aceh!

Berkunjung ke Pesantren Tradisional di Taj Ul Masajid Bhopal, India

Flashback Agustus dua tahun lalu (2017), saya mengunjungi kota Bhopal, India. Satu hari, saya berkunjung ke Masjid Taj Ul Masajid. Sebuah masjid besar yang ternyata juga berfungsi sebagai pesantren.

Waktu keliling masjid dan lihat anak-anak seumuran SD sedang bermain, saya datangi untuk ajak bicara.

Lanjutkan membaca Berkunjung ke Pesantren Tradisional di Taj Ul Masajid Bhopal, India

San Fransisco: Kota Desain Yang Bikin Tercengang

Berjalan kaki di San Fransisco seperti melihat galeri desain yang tidak ada habisnya.

Sebagai seorang (mantan) desainer grafis, saya selalu antusias melihat berbagai desain logo dan tipografi, yang diaplikasikan pada desain arsitektur seperti pada rumah, toko, gedung, dan jalanan.

Dan San Fransisco adalah surganya.

Lanjutkan membaca San Fransisco: Kota Desain Yang Bikin Tercengang

Pengalaman Apply Visa Amerika Hanya Dalam 2 Minggu

Maret kemarin, saya mencoret salah satu ceklis besar dalam hidup saya: travel ke Amerika Serikat!

Saya berkesempatan travel ke Amerika dalam rangka konferensi bisnis, dan tentu saja dilengkapi sedikit jalan-jalan yang akan saya ceritakan di postingan lain. Di tulisan ini, saya ingin berbagi tentang drama yang terjadi sebelumnya: Mengurus Visa.

Lanjutkan membaca Pengalaman Apply Visa Amerika Hanya Dalam 2 Minggu

Mewakili Indonesia di India ASEAN Youth Summit 2017 di Bhopal

Agustus 2017 kemarin adalah pertama kalinya saya mengunjungi India.

Saya bisa pergi ke sana sebagai salah satu delegasi Indonesia untuk India ASEAN Youth Summit 2017.

Summit ini diadakan di sebuah kota besar. Bukan Delhi, Mumbai, atau Bangalore, melainkan Bhopal.

Lanjutkan membaca Mewakili Indonesia di India ASEAN Youth Summit 2017 di Bhopal