Cukup, Itu Saja Sudah

Salut sama orang yang bisa nulis setiap hari. Atau bahkan setiap minggu. Salut karena itu yang saya mau, tapi belum bisa.

Mungkin bisa. Bukan mungkin sih, beneran bisa. Karena saya tiap hari nulis catatan pribadi alias diari, setiap pagi. Ya ada sih yang bolong-bolong dikit, tapi secara umum ya saya nulis tiap pagi.

Bedanya memang tulisannya tidak layak dipublikasi. Atau karena ada definisi “layak publikasi” ini yang bikin saya ragu mempublikasi? Karena toh sebenarnya ga usah pake definisi masyarakat kalau itu menyusahkan. Mereka juga ga bayar saya punya tulisan.

Saya mulai mikir gini karena melihat tulisannya pak Dahlan Iskan. Waktu ke Depok kemarin, saya mampir ke toko buku yang jadi langganan saya selama kuliah, ceritanya nostalgia. Lalu saya random cari buku yang mau saya beli, dan ketemulah buku DI’s Way.

Pak Dahlan ini dulu rajin menulis kolom di Jawapos, setiap hari katanya. Lalu berhenti karena sudah tidak di sana, atau tidak mengurus apa-apa lagi di sana, saya kurang paham juga detailnya.

Lalu banyak yang rindu tulisannya. Akhirnya dibuatlah disway.id, dan di situ beliau menulis tiap hari.

Karena harus menulis tiap hari, beliau menulis lewat handphone. Makanya tulisannya singkat-singkat. Lugas saja. Tanpa sastra. Seringnya satu kalimat cuma dua tiga kata. Disambung lagi dua kata. Atau tiga kata. Seperti barusan.

Ga bersastra, tapi efektif saja. Akhirnya enak juga dibacanya.

Dari sana saya jadi tertantang. Sepertinya seru juga menulis tiap hari. Ga perlu bagus-bagus, ga perlu standar “layak publikasi”.

Fuck my anxiety.

Yang penting saya puas.

Cukup, itu saja sudah.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *