Janjiku Pada Abang

Aku pernah berjanji kepada abang. Ketika dia menggoda dengan mimpiku untuk masuk universitas indonesia, aku bilang padanya. Aku akan masuk UI, bang, sungguh. Dan pegang janjiku ini, jika aku masuk ui, maka aku akan menulis buku, bang. Aku menggenggam erat tangannya, mencoba meyakinkan diriku sendiri dengan tantangan bodoh yang keluar sendiri dari mulutku. Aku musykil, tapi aku takkan surut. Abang menatap mataku, melihat kesungguhan dalam diriku, lalu tersenyum dan memeluk pundakku. Aku percaya, bal.

Hampir tiga tahun sudah aku menjalani kuliah. Tak pernah kulupa janjiku pada abang, tapi tak pernah kutahu bagaimana cara menebus janjiku yang satu itu. Tapi aku tak pernah berhenti menulis, karena aku tahu itu satu-satunya cara untuk merengkuh ikrarku.

Hari ini, kutemukan jawaban itu. Aku mendapat pesan elektronik dari sebuah penerbit, yang bilang bahwa naskah tulisanku pada sebuah kompetisi diterima dan akan diterbitkan dalam sebuah buku. Hatiku girang bukan kepalang.

Akhirnya kutemukan jawabanku. Jawaban hatiku pada sebuah janji. Janjiku pada abang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *