Untuk Hitam (2)

Hitam,

Masihkah engkau menunggu goresan tinta?

Hitam,

Masihkah kita harus menunggu senja, sementara rasa telah menggulung puluhan malam purnama? Masihkah kita harus membangun rasa, sementara kelopak telah berubah menjadi bunga, dan bunga telah gugur menjadi hara?

Hitam,

Rahasia ini, janji kita untuk dijaga. Janji kita untuk dibawa, dibawa dari Rida dan dijemput di depan Libra. 

Hitam,

Absurditas adalah mengatakan biarkan orang berkata apa. Kejujuran adalah membiarkan orang melihat apa. Dan hati, seperti diafragma untuk lensa, membukakan cahaya untuk rasa tertinggal menjadi bayangan dalam sukma.

Hitam,

jarak nol senti, untuk dua hati. Jangan pernah mencari lagi.

Nyontek itu haram.
Kalo Ujian kalian nyontek, ijazah kalian jadi haram. Kalo kalian masuk sekolah atau kuliah dengan ijazah haram, studi kalian juga haram. Kalo kalian ngelamar kerja dengan ijazah haram, uang yang kalian dapetin juga haram.
Apa kalian mau anak istri kalian nanti makan makanan haram?

Mudirul-Ma,had, dari potongan nostalgia di sebuah hari di pesantren tercinta. 

Alter Ego (1) : Environmentalist

Saya bingung melihat orang-orang pada ribut banget soal isu lingkungan. Sedikit-sedikit mereka bicara soal lingkungan.

‘ih, ga peduli banget sih lo ama lingkungan’

‘hidup saya untuk menyelamatkan bumi’

‘orang-orang bodoh itu menebang berhektar-hektar hutan hanya untuk membuat tissu’

Yaelah. Munafik banget bagi saya. 

Kok lo ngomong gitu sih?

Ya iyalah. Realistis dong sob. Saya ini bukannya tidak peduli, tapi saya realistis. Bumi ini diciptakan untuk manusia. Emangnya di toilet anda tidak memakai tissu? Lalu apa maksudnya anda meminta tissu sama teman anda untuk mengelap bekas makanan di mulut anda sementara anda berteriak hentikan penebangan hutan (untuk membuat tissu)?

Iya sih, ya suka-suka mereka sih mau ngomong apa soal lingkungan. Toh pada akhirnya mereka cuma berteriak dengan mulut bau dan suara-suara sumbang sementara kehancuran bumi terus berjalan, iya kan? Tapi gue rasa kalo lo kaya gitu lo bisa dibilang skeptis deh bal. Lo kayaknya ga percaya banget bumi bisa disembuhkan dan diselamatkan. 

Terserah deh orang mau pada ngomong apa, bal. Tapi saya hanya meyakini yang benar bagi saya. Tak perlu lah kita berpura-pura peduli atas nama idealisme, sedangkan idealisme itu sendiri idealisme yang salah. Liat aja contohnya waktu Perpustakaan Pusat UI yang baru dibangun.

Ah iya bener banget tuh, bal.

Emang anda tahu apa?

Waktu baru dibangun, orang-orang itu yang mengaku-ngaku environmentalist berteriak menolak pembangunan. Katanya ngerusak hutan, mencemari danau, menebang banyak pohon, bikin polusi baru, dan bla-bla-bla lainnya. Pas udah jadi, hah, hilang tuh semua teriakan. Dengan muka sumringah, mereka masuk perpustakaan dengan beribu kata ‘waw’ dan lupa dengan semua ‘ngerusak hutan’, ‘mencemari danau’, dan ‘bikin polusi baru’. Mereka memakai fasilitas dengan penuh gembira dan suka cita. Itu munafik bukan sih namanya?

Hmm, bukan munafik juga sih menurut saya. Rasanya terlalu kasar kalau kita mengatakan seperti itu. 

Jadi apa?

Ya apa deh terserah mereka. Yang penting kita rasional aja. Ke perpus yuk, saya mau nulis di blog. 

Ayo, kita ke tempat yang merusak hutan dan mencemari danau, hahahaha.

Hahahaha. 

Sekjen PBB

Sekjen PBB.

Mengapa begitu banyak orang yang bercita-cita menjadi sekjen PBB? Entahlah, saya pun tidak begitu mengerti. Saya baru saja membaca blog seorang teman. Dia adik kelas saya, dan baru saja diterima di jurusan bergengsi di universitas terbaik di negeri ini. Saya melihat blognya dan menemukan tulisannya tentang jurusan impiannya saat SMA. Tulisan itu tentu saja ditulisnya sebelum diterima menjadi mahasiswa. Ternyata jurusan yang dia dapat – walaupun sangat bergengsi – bukanlah jurusan impiannya saat SMA. Jurusan impiaannya adalah Hubungan Internasional (Hereinafter will called HI).

Saya terus membaca. Kenapa ingin masuk HI? Dia bilang dengan sederhana, karena saya ingin menciptakan perdamaian dunia. Lalu kenapa harus masuk HI untuk menciptakan perdamaian dunia? Karena saya ingin menjadi sekjen PBB.

Sekjen PBB.

Salahsatu sahabat terdekat saya adalah orang yang bervisi sama saat SMA. Sekjen PBB, impian yang ditulisnya setiap hari di buku pelajaran apapun di kelas. Motivasi terbesarnya dalam melaksanakan aktivitas yang menyibukkannya setengah mati. Dia sibuk belajar bahasa Inggris, TOEFL, dan membaca kamus Oxford setebal 1876 hlm di waktu luang seakan sedang membaca Harry Potter. Dia menonton semua pidato tokoh terkemuka. Setiap hari dia mengajak saya datang ke kantor guru untuk membaca The Jakarta Post, koran berbahasa Inggris yang mampir di sekolah terpencil kami setiap hari. Dia belajar menulis setiap hari. Dia membaca semua pelajaran sosial sementara kami adalah anak IPA – di sekolah kami tidak ada kelas IPS. Semuanya, semuanya dilakukan untuk menjadi Sekjen PBB.

Sekjen PBB.

Sebenarnya bukan hal yang mengagetkan mengapa jabatan itu sangat populer dan menjadi impian dan cita-cita. Secara kasat mata, Persatuan Bangsa-Bangsa adalah organisasi terhebat di dunia. Jika diatas desa ada kota, di atas kota ada provinsi, dan di atas provinsi ada negara, maka di atas negara hanya ada Persatuan Bangsa-Bangsa. Implikasinya, jika kesuksesan dan kejayaan diukur dari jabatan pemerintahan yang Anda pegang, maka di atas kepala desa ada walikota, di atas walikota ada gubernur, di atas gubernur ada presiden, maka satu-satunya yang ada di atas presiden adalah sekjen PBB. Yang sejajar dengan sekjen PBB hanyalah presiden Amerika, dan satu-satunya yang ada di atas mereka hanyalah Tuhan. Maka sekjen PBB adalah dewa. Siapa manusia biasa yang tak ingin jadi dewa? Tak heran banyak orang ingin jadi sekjen PBB.

Gantengnya Sekjen PBB

Sekjen PBB. 

Tak salah memang. Lihat saja betapa gantengnya Kofi Annan dalam fotonya yang sedang berpidato dengan background lambang PBB. Sangat ganteng dan berwibawa. Saya punya teori bahwa kegantengan seseorang berbanding lurus dengan jabatannya. Teori ini saya rumuskan karena melihat perbedaan ketampanan seorang kawan sebelum dan sesudah dia menjabat sebagai ketua BEM. Entah mengapa setelah menjadi ketua BEM dia terlihat lebih tampan. Saya tidak homo, karenanya saya buktikan teori saya dengan melakukan survey kepada teman-teman wanita saya. 98 % setuju, ketampanan seseorang meningkat seiring semakin tingginya jabatan mereka.

Baik, kembali ke topik. Soal apa tadi, ah, soal sekjen PBB.

Pertanyaannya, mudahkah menggapai mimpi menjadi sekjen PBB? Jawabannya sama seperti maukah anda makan tahu busuk untuk sarapan nanti pagi. Tentu saja tidak.

Saya pribadi sih belum membaca bagaimana biografi Ban Ki Moon atau Kofi Annan. Tapi sepertinya tipikal cerita mereka yang menggapai kesuksesan dari bawah. Susah, penuh tantangan dan sama sekali tidak mudah. Kerja keras, butuh lebih dari itu untuk bisa menggapainya. Seperti juga impian lainnya. Kita bisa menggapainya jika kita berani untuk terus percaya, bahwa siapapun bisa lebih dari sekedar merengek hujan rezeki di kaki langit. Kita akan menncapainya, naik ke langit tertinggi dan punya awan sendiri, agar kita bisa mengatur seberapa banyak hujan rezeki yang ingin kita miliki. 

Ayolah kawan, Sri Mulyani pun bisa kok jadi petinggi di Bank Dunia, masa kalian ga bisa jadi Manusia nomor satu di Persatuan Bangsa-Bangsa? 

Saya Naik Sepeda (1)

Awalnya memang sudah lama.

Kelas 3 SD. Itu 11 tahun yang lalu.

Sudah 2 tahun saya pergi sekolah diantar tukang ojek. Sekolah saya memang agak jauh dari rumah, dan orang tua saya memilihkan ojek sebagai transportasi pulang-pergi sekolah. Saat itu saya masih bocah memang. Jam setengah 7 sudah harus siap-siap, dan jam 7 sudah harus benar-benar siap, karena jam 7 itulah ojek nya sudah siap mengantar saya sekolah. Tak boleh telat, abang ojek masih punya orderan lain selain mengantar saya. Jam 1 siang seusai sekolah saya sudah harus siap di gerbang sekolah, abang ojek pasti sudah standby dan siap menjemput. Lagi-lagi tak boleh telat, abang ojek masih punya orderan lain selain menjemput saya. Lama-lama saya bosan dan bosan. Kok pergi-pulangnya saya ke sekolah tidak ada asiknya sama sekali. Akhirnya saya bilang ke bapak, saya ogah terus-terusan naik ojek. Kaya anak manja. 

Akhir kelas 2 SD, saya dibelikan sepeda. Waktu itu Bapak mengajak kami pergi ke Pasar Rumput. Disana ada toko dengan ratusan sepeda, mulai dari yang baru sampai yang bekas. Saya dibelikan sepeda bekas. Saya agak lupa sepedanya seperti apa. Yang saya ingat warnanya dominan hitam dengan beberapa goresan hitam. Ingatan tentang membeli sepeda di Pasar Rumput telah kabur di ingatan saya sekarang. Tujuh tahun kemudian, saat saya mulai terbiasa pergi naik TransJakarta dan transit di Dukuh Atas, saya baru tahu dimanakah letak Pasar Rumput sebenarnya.

Nah sejak itu saya ke sekolah naik sepeda. Menyenangkan, asik bukan kepalang. Setiap pagi berangkat sekolah, saya merasa memulai petualangan baru. Mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi di jalan raya, gesit menyelinap diantara mobil dan motor yang mengantri giliran memasuki tikungan (baca: macet), diklakson kendaraan ditambah sumpah serapah karena saya sering membuat mereka ngerem mendadak, waaah, saya jadi selalu bersemangat pergi ke sekolah. 

Lalu karena (akhirnya) bosan tiap hari kena macet, saya mencari jalan alternatif. Setiap pulang sekolah, saya bersama teman-teman yang juga bersepeda mengeksplorasi jalan-jalan alternatif yang menghubungkan kompleks rumah dengan sekolah kami. Jalan yang kami temukan adalah melewati daerah kampung, dan semakin hari semakin banyak jalan yang kami temukan. Kami menyebutnya jalan rahasia, hahaha. Tak jarang kami mengalami hal-hal seru, ban bocor kena paku, sepeda harus diangkat karena jalan tanah berlumpur, dipalak, sampai berantem dengan anak kampung. Tak jarang pula pengalaman kami kombinasi dari hal-hal tadi, misalnya berantem sama anak-anak kampung karena dipalak saat kami harus berhenti oleh ban bocor kena paku. Setiap pulang-pergi sekolah kami temukan jalan baru, petualangan baru, dan tentu saja pengalaman yang baru.  

Kelas 4 SD. Itu 10 tahun yang lalu.

Bapak saya mengajak kami sekeluarga jalan-jalan ke Pekan Raya Jakarta. Sepekan sebelumnya, saya sudah dijanjikan akan dibelikan sebuah sepeda baru. Waah, rasanya waktu itu gembira luar biasa. Dua hari sebelumnya, bapak saya sudah punya brosur katalog sepeda merek Polygon. Isinya gambar puluhan jenis sepeda Polygon beserta spesifikasi dan tentu saja harganya, mulai dari jenis sepeda bocah, sepeda gunung, sampai sepeda tandem yang bisa dibawa berdua bahkan bertiga. Setiap hari kerjaan saya dan kakak saya hanya melihat-lihat brosurnya, menunjuk sepeda-sepeda yang mungkin bagus untuk kita beli nantinya. Saat itu kami sepakat pada satu jenis sepeda, Polygon Rapid. Di katalog, ada dua opsi warna; silver dan merah. Dari fotonya saya lebih suka yang merah, sedangkan kakak saya memilih yang silver. Ah, lucunya mengingat waktu itu kami berdebat soal warna sepeda, sedangkan Bapak dan Ibu masih berdebat soal harganya. 

Saya ingat harganya Rp 1.050.000. Itu adalah barang termahal yang pernah Bapak belikan buat saya. Tak pernah sebelumnya Bapak membelikan saya barang yang mahal. Saya menghela napas, ini hadiah dan pengorbanan Bapak untuk saya. Setelah pulang dari PRJ, dengan Polygon Rapid di bagian belakang mobil kami, saya berjanji dalam hati. Sepeda ini akan saya jaga dan saya jadikan teman sejati. Dan sampai saya lulus Sekolah Dasar, Polygon Rapid setia menemani kemana saya pergi. 

Kelas 3 SMP. Itu 5 tahun yang lalu. 

Sudah 3 tahun saya tidak bertemu dengan Rapid. 3 tahun sudah saya di Pesantren, dan Rapid saya tinggal di rumah. 

Hari itu, saudara kandung Bapak saya yang tinggal di Tasikmalaya meninggal dunia. Sontak, Bapak saya membawa semua keluarga pergi melayat. Saya yang di pesantren, karena ribet dan mengeluarkan biaya yang lebih banyak jika harus ikut juga, akhirnya tidak diajak. Keluarga saya di Tasik selama satu pekan. Ketika mereka akhirnya pulang, mereka kaget karena kehilangan dua hal. Kehilangan itu dirahasiakan dari saya sampai dua bulan kemudian saya pulang ke rumah untuk liburan.

Sampai di rumah saya baru diberi tahu soal dua kehilangan itu. 

Kami kehilangan Rapid dan Ikan Arwana.

*soal ikan arwana bolehlah diceritakan lain kali, sekarang kita fokus soal sepeda*

Kami kehilangan Rapid. Rapid diangkut orang, entah kemana, entah diapakan. Saya menganga tidak percaya. Sulit dipercaya, Rapid hilang diangkut orang. Menyedihkan T_T.

Sejak itu, saya yang memang terus di pesantren tak lagi beli atau dibelikan sepeda. Pertama, karena saya pun tidak secara langsung membutuhkan sepeda. Yang kedua, karena orang tua saya tidak lagi punya banyak uang. Harus saya terima. 

Perjalanan saya bersama sepeda berakhir sudah. Entah kapan lagi saya bisa berpetualang lagi bersama sepeda. Saya hanya berdoa semoga Tuhan mendengar setiap doa dan harapan saya untuk bisa berpetualang lagi bersama sepeda. Amin.

==Bersambung==

Menulis Lagi!

Saya sudah tidak menulis sejak lama.

Kesibukan di dunia kuliah membuat saya berhenti menulis. Bagi saya ini menyedihkan. Saya kehilangan kemampuan saya menulis. Ketika saya duduk di depan komputer atau laptop, lalu meletakkan jari-jari saya di atas keyboard, saya menunggu terjadi keajaiban. Ya, keajaiban yang saya rindukan ketika jari-jemari saya tiba-tiba menari indah, menekan tuts-tuts huruf merangkai kata seperti seorang pianis merangkai nada. Sepuluh sampai lima belas menit pikiran saya liar menembus batas-batas yang tak pernah saya duga, lalu saat sadar saya menatap layar dan ‘wow’ melihat rangkaian cerita, artikel, atau sekedar curhatan tentang apapun yang saya alami tadi pagi. Keajaiban yang menakjubkan ketika tulisan-tulisan itu selesai, lalu saya bagikan kepada teman-teman. Mereka tersenyum membaca tulisan saya yang lucu, memberikan pujian dan mengatakan mereka ingin melihat tulisan saya yang lain. Sebagian lain berterima kasih karena saya memberikan pencerahan mengenai suatu isu, seperti ketika saya membeberkan fakta tentang sejarah April Mob yang memperbolehkan orang untuk berbohong pada tanggal 1 April. Ketika membaca tulisan saya bahwa orang kafir menjadikan 1 April sebagai hari untuk merayakan keberhasilan tentara salib membohongi muslim Granada untuk keluar dari persembunyian dan membantai ratusan muslim hingga penjuru kota digenangi darah setinggi betis orang dewasa, mereka datang kepada saya, mengangguk takzim dan mengatakan terima kasih telah berbagi dan menulis. Pak Uus, guru bahasa Indonesia yang terkenal galak dan sulit memuji datang kepada saya dan mengatakan ‘kamu berbakat bal, teruslah menulis’. 

Keajaiban itu sudah lama, teman. Saat ini saya kehilangan kemampuan saya menulis, dan keajaiban itu tak pernah lagi datang. Ya, saya tidak bisa menulis lagi. Saya sudah berusaha sebisa saya. Saya mengambil kursi, duduk dengan nyaman, menyalakan komputer, menatap layar dan meletakkan jari-jari saya di atas keyboard, menunggu terjadi keajaiban. Tapi keajaiban itu tidak pernah datang. Kata-kata bermunculan dalam otak saya, dan ketika saya menuliskannya, dua-tiga kata, otak saya yang lain menolaknya dan secara refleks saya menghapus semuanya. Layar kembali kosong dan saya memulai dari awal, dan entah kenapa saya kembali menghapusnya. Begitu berulang-ulang hingga saya putus asa dan melakukan kegiatan lain, entah surfing di internet, baca komik atau menonton film yang beberapa jam kemudian saya sesali karena menyadari betapa bodoh dan tidak produktifnya menit-menit yang telah saya lewati. 

Hal ini berlangsung lama dan saya mulai frustasi. Saya sering menjambak rambut sendiri dan berkata lirih ‘Ya Tuhan, datangkanlah keajaiban itu’. Satu menit, satu jam, bahkan berhari-hari berikutnya keajaiban itu tak pernah lagi datang.

Saya harus akui apa yang saya namakan keajaiban bukanlah anugerah yang datang tiba-tiba. Masa-masa itu, ketika saya menulis dengan produktif adalah masa dimana saya membaca belasan buku dalam sebulan. Saya melahap buku apa saja. Saya membaca cerita orang shaleh dan kisah para nabi, menikmati kumpulan puisi, mencermati opini-opini di surat kabar, menganalisis buku-buku teori konspirasi, mempelajari ilmu psikologi dan banyak lagi. Saya menelan milyaran huruf dan menempatkannya di sela-sela neuron di otak saya. Huruf-huruf itu kemudian berdentuman, memantul kesana kemari, menyesakkan kepala saya dengan ide-ide liar yang tak terduga dan memaksa saya memuntahkan mereka lewat kata-kata dan tulisan. Terjadilah ide. Terjadilah kreativitas. Terjadilah tulisan. Keajaiban.

Dan ketika saya menyadari bahwa saya tidak bisa menulis lagi, saya juga menyadari bahwa itu terjadi karena tak pernah ada lagi keajaiban. Dan keajaiban tak lagi datang karena saya tak pernah lagi membaca. 

Dua belas bulan sudah saya seperti cecunguk lugu yang diperbudak sesuka hati. Rutinitas saya dipenuhi dengan kegiatan yang itu-itu saja. Saya pergi kuliah, mencatat kalo sedang mood, memperhatikan dosen mengoceh sampai ngantuk, dan mengorek-ngorek tas untuk mencari bulpen lalu mengerjakan tugas. Dalam sepekan, otak saya dibebani empat buah praktikum. Siapapun di dunia yang pernah atau sedang kuliah dan punya mata kuliah ‘praktikum’ pasti tahu seberapa mengesalkannya sembilan huruf itu, sedangkan saya memiliki empat praktikum yang berimplikasi saya memiliki sembilan kali empat alias 36 huruf sialan itu dalam sepekan. Implikasi lanjutannya adalah saya tak punya waktu untuk membaca, apalagi menulis. Waktu saya tersita untuk membuat laporan yang, ya, sebenarnya bisa anda masukkan kategori menulis.  Satu laporan praktikum harus diketik dengan komputer dan tiga sisanya harus ditulis dengan tangan. Tapi semua proses tulis-menulis bagi saya adalah sebuah pengekangan, toh saya harus menulis sesuai kriteria; kalimat yang baku, format yang sesuai, penulisan sumber pustaka, dan tralalala lainnya. Tidak salah juga, toh memang begitu penulisan ilmiah. Tapi bagi saya itu pembunuhan kreativitas menulis. Dengan melakukannya ratusan kali dalam dua semester, pola pikir saya telah berubah dan pikiran saya menjadi sempit. Semua pola pikir saya tentang sesuatu menjadi terpola dan saya sulit mencoba hal baru. Seharusnya memiliki pola pikir yang terpola menjadi sesuatu yang baik bagi saya. Masalahnya adalah kesulitan mencoba hal baru, karena setelah meninggalkannya selama dua semester, menulis menjadi hal baru bagi saya.

Saat ini saya terduduk diam di depan komputer. Saya jadi teringat celotehan teman saya saat SMA. Kata dia, salah seorang penulis favoritnya bilang jangan pernah menulis sebelum membaca 3000 judul buku.

Saya mengingat lagi masa-masa ketika saya rajin menulis. Saat itu saat yang menyenangkan. Ini bukan soal popularitas atau apapun. Ini tentang esensi dari menulis itu sendiri bung. Menulis adalah manifestasi ide yang dihasilkan dari membaca. Membaca adalah menelan ilmu, dan menelan ilmu adalah suatu kebaikan bukan? Bahkan ayat pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah membaca. Perintah agar anda menelan ilmu. Tentang bagaimana kemudian anda menulis, itu adalah fitrah kebaikan. Ketika anda melakukan kebaikan dengan membaca dan menelan ilmu, secara alami anda akan memiliki keinginan untuk berbagi, dan menulis adalah salah satu cara berbagi. Saya senang ketika orang mengetahui ilmu yang sebelumnya tidak mereka ketahui karena membaca tulisan saya, bukankah itu suatu kebaikan? Lalu ketika setelah mereka mengetahuinya mereka berbagi ilmu itu lagi kepada orang lain, bukankah kebaikannya akan berlipat ganda? 

Ilmu kawan, bisa bermanfaat karena ada yang menuliskannya. Bagaimana anda tahu tentang gravitasi jika Newton tak pernah menuliskan principia? Bagaimana manusia bisa mengembangkan algoritma dan matematika aljabar jika Al-Khawarizmi tak pernah menuliskannya? Dan lebih penting dari semua ilmu itu, bagaimana anda bisa membaca mushaf Al-Qur’an jika Zaid bin Harits tak pernah mengukirnya? Bagaimana anda meresapi pesona hadits Rasulullah jika sahabat tak lagi merangkaikan kata-katanya? Dari mana kita belajar aqidah, tafsir, fiqh, tata cara shalat, berlaku baik kepada orang tua, dan semua kebaikan jika para ulama tidak berbagi ilmunya lewat tulisan?

Saat ini saya tidak bisa menulis, tapi saya harus bertekad bagaimana pun caranya saya harus bisa menulis lagi. Saya ingin berbagi. Saya ingin ilmu dan pengetahuan yang saya punya bisa berguna. Saya ingin menjadi orang yang berguna, karena Rasul bilang “Yang terbaik diantara kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Dan saya percaya dengan menulis saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Berbagi ilmu. Berbagi kebaikan. Berbagi inspirasi.

Saya kembali teringat Pak Uus, guru bahasa Indonesia saya. Saat itu saya menulis esai tentang buruknya pemerintahan Indonesia dalam menghadapi perdagangan bebas. Beliau memuji saya dan berkata “Kamu berbakat bal, teruslah menulis’. Lalu saya bertanya, bagaimana jika suatu saat saya stuck dan tidak tahu harus menulis apa, apa yang harus saya lakukan. Beliau cuma berkata “menulislah, teruslah menulis”. Saat itu saya tidak tahu maksudnya apa, karena keajaiban saya belum pernah berhenti bekerja dan saya tidak tahu rasanya tidak tahu harus menulis apa. Tapi saya pernah membaca bahwa setiap penulis akan bertemu dengan masa itu, dan disinilah saya sekarang.

Duduk diam di depan komputer, meletakkan jari-jari di atas keyboard, menunggu terjadi keajaiban.

Tapi tak terjadi apa-apa. Saya menghela napas. Suara Pak Uus bergema di telinga saya, menulislah, teruslah menulis. Baiklah, kenapa saya tidak mencoba menulis? Dan saya tersadar menatap layar. Mengapa ada banyak huruf disana? Mengapa huruf-huruf itu terangkai menjadi kata-kata, dan mengapa kata-kata itu terjejer rapi menjadi kalimat yang berjejer panjang seperti paragraf? Mengapa jari-jari saya terasa lincah dan begitu liat bergerak? Bagaimana mungkin saya tidak menyadari bahwa sedari tadi mereka menari indah, menekan tuts-tuts huruf merangkai kata seperti seorang pianis merangkai nada? Saya nyaris tidak percaya bahwa sedari tadi pikiran saya liar menembus batas-batas yang tak pernah saya duga, dan sekarang saya kembali ke dunia nyata, menatap layar, menggerakkan kursor, dan melihat lima halaman tulisan yang telah saya buat. Keajaiban!

Hei, saya sudah bisa menulis lagi!

Bahasa Bekasi: Mixed to be Interesting

Bila bicara soal Bekasi, bagi saya yang paling menarik adalah bahasanya.

Bahasa? Yap, betul sekali, bahasa, Anda tidak salah baca, ini tentang bahasa. Menurut pengamatan saya sendiri, Bekasi belum mempunyai brand yang benar-benar menunjukkan jati diri Bekasi yang dikenal luas. Dalam hal ini contoh kasarnya makanan seperti dodol-Garut, asinan-Bogor, atau sambel-Padang misalnya. Atau kalo tempat terkenal semisal Monas-Jakarta, kebun raya-Bogor atau Keraton-Cirebon. Tidak ada kan yang namanya baso-Bekasi, ayam-Tambun, atau mie-Bekasi? Masalah tempat terkenal, saya rasa kita, setidaknya sampai saat ini, belum punya landmark yang dikenal semua orang.

Nah, saya yang juga menghabiskan sembilan per sepuluh hidup saya di Bekasi tentu merasa miris. Masa sih tidak ada yang benar-benar khas dari Bekasi kota tercinta ini. Ehmm, sebagai seorang pemuda yang masih menggebu-gebu dan penuh semangat, saya mencoba mengadakan sebuah penelitian-penelitian [<–kata pengulangan yang dimaksud disini bermakna sama dengan boong2an] dan mendapatkan hasil menarik untuk didiskusikan, yaitu bahasa!
Lho? Saya tahu reaksi Anda. Kok bahasa sih? Emangnya bahasa orang Bekasi bahasa Latin, ato bahasa inkripsi Mesir kuno? Well, mari kita mulai kajian spekulatif mengenai Bekasi dari sisi geografis.
Bekasi adalah wilayah pinggiran Jakarta sang primadona Indonesia, yang dalam bahasa kerennya adalah daerah urban. Super-banyak tuh orang Bekasi yang kerjanya di Jakarta dan ga super-sedikit juga yang sebaliknya. Jakarta, sebagai ibukota dengan berbagai gaya hidup dan gelembung budaya yang selalu berkembang, tentu saja menyentuh sisi-sisi Bekasi sebagai daerah urban. Makanya, Bekasi merupakan salahsatu kota yang paling cepat mengalami perubahan dalam hal sosial, seperti lifestyle dan ilmu pengetahuan.
Dari segi sosial, hal ini tentu saja wajar dan amat sangat biasa, mengingat globalisasi yang gila-gilaan. Ups, tetapi saya lupa mengingatkan bahwa Bekasi aslinya adalah Jawa Barat, dimana penduduk aslinya pun kebanyakan adalah orang Sunda yang berbahasa Sunda. Tapi sedikit demi sedikit, fenomena yang terjadi menunjukkan bahwa kecenderungan sosial- dalam hal ini bahasa -turut dipengaruhi Jakarta. Wah, wah, wah, bagaimana tidak, di kota saja, orang yang menggunakan bahasa Sunda secara konstan sangat sedikit, paling-paling antara sesama orang sunda. Sedangkan semakin lama semakin terasa bahasa Betawi turut memberi pengaruh.
ANALISIS BAHASA
Nah, pernahkah Anda menyadari bahwa bahasa Bekasi adalah benar-benar khas dan tidak ada yang menyamainya? Pernahkah Anda memperhatikan bahwa bahasa yang lazim digunakan orang kebanyakan di Bekasi sangatlah unik dan tidak biasa? Baiklah, mungkin Anda belum menangkap maksud saya, kalau begitu kita ambil saja beberapa contoh bahasa Bekasi.
Agar lebih terasa familiar, saya hadirkan beberapa contoh bahasa Bekasi dalam dialog berikut.

BEK : Kas, lo belon bayarin makan gua di warteg Bang Soun ya?
KASI: Ilok? Pan udah gue bayariiin, dua rebu ma ratus kan?
BEK : Boong lo, pokoknya kalo ditagihin ama Bang Soun gua mah kaga tanggung jawab.
KASI: Lah bageen…orang gua udah bayar.
BEK : Lah kicep, mangnya gua mau bayarin elo?

Nah dari dialog itu, ada beberapa kata yang dicetak tebal yang saya anggap sebagai beberapa contoh paling fundamental dalam bahasa Bekasi. “Ilok” dapat berarti “masa”, sebuah ungkapan keraguan untuk memastikan. Namun dalam banyak kasus, kata “ilok” juga digunakan untuk menyatakan kesungguhan seperti “Ilok, gua kaga nyolong”. Kemudian untuk kata “bagen”, berarti “masa bodo” atau ungkapan tidak mau bertanggung jawab. Ini adalah salahsatu kata paling sering digunakan orang Bekasi asli. Selanjutnya kata “kicep” dapat diartikan tidak mau tahu dan juga dapat disandingkan dengan kata “bagen” sebagai sinonim.
Beberapa contoh kata tadi mungkin pernah tau bahkan sering Anda dengar. Namun saya juga yakin banyak dari Anda yang sangat asing mendengarnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kata-kata tersebut saya sebut sangat khas Bekasi? Alasannya karena kata-kata tersebut tidak saya temukan pada bahasa lainnya. Kata-kata tersebut bukanlah bahasa Bekasi, bukan juga bahasa Betawi dan bahasa lainnya. Dan sejauh ini, kata-kata itu memang saya temukan hanya di Bekasi. Bagaimana bisa?
Bila kita perhatikan, orang asli atau yang sudah lama tinggal di Bekasi akan berbicara dengan bahasa Sunda, atau terkadang hanya logatnya. Dengan membawa keaslian Sunda tersebut, Bekasi yang notabene adalah kota urban, terkena imbas budaya betawi yang begitu mudah masuk dan mempengaruhi nilai-nilai sosial, termasuk bahasa. Cobalah Anda perhatikan, seringkali orang Bekasi dapt dikenali ke-sunda-annya dari logat dan nada yng digunakan. Namun diksi dan kata-kata yang dipilih lebih mengarah ke bahasa Betawi. Sehingga dapat disimpulkan bahasa Bekasi adalah mixing antara Betawi dan Sunda yang membuat bahasanya lebih menarik dan asik untuk didengarkan.

Tentu saja saya bukan dosen sastra atau etimolog handal, saya juga bukan mahasiswa sastra yang sedang meneliti bagaimana sebuah bahasa bisa bermetamorfosis menjadi lebih kompleks. Saya hanyalah orang Bekasi asli yang mencintai kota ini, dimana saya tumbuh besar, menghabiskan masa kecil saya. Dan bahasa yang saya sebut sebagai bahasa Bekasi telah saya gunakan sejak kecil, dan telah merasuki jiwa saya begitu dalam. Dan menurut saya inilah hal yang paling unik dan khas dari Bekasi, meskipun mungkin belum dikenal luas dan bisa diterima sebagai sebuah aset. Tapi saya menganggapnya sebagai sebuah nilai sosial yang bernilai tinggi, karena Bekasi telah memadukan bahasa Sunda yang klasik dan bahasa Betawi yang ekspresif menjadi bahasa Bekasi yang asik dan menyenangkan.

Mudah-mudahan Anda terhibur dengan analisis saya. Kalaupun Anda kurang setuju ya bagen, tapi kalo Anda cinta Bekasi tapi tidak cinta bahasanya, ilok?

Perbedaan

Saya tergelitik dengan kata “perbedaan”. Sepertinya kata yang satu ini sulit dijabarkan dari sisi mana pun kita melihat. Iseng-iseng menjelajah tumblr, saya tersenyum kecut membaca postingan anak sastra.

ijonkmuhammad:

Anda bisa menjadi pemeluk Kristen oirtodoks jika terlahir di Kota Damaskus pada abad keempat.Tapi.jika Anda terlahir beberapa waktu kemudia di lokasi yang sama,Anda bisa saja menjadi penganut Kristen Monofisit.Tambahkan beberapa ratus tahun lagi,masih dikota ini, Anda bisa saja terlahir sebagai seorang muslim bernama Ahmad.

Kasus yang sama akan berulang jika Anda terlahir pada abad kedua hijriah:Anda bisa jadi seorang muslim Ahlus Sunah.Berselang beberapa ratus tahun kemudian, Anda bisa saja lahir sebagai pengikut Imam Syiah. Ini persis sama jika Anda terlahir di Kota Amsterdam pada tahun 1500: Anda pastilah jadi pemeluk Katolik Roma. Padahal, bila seratus tahun kemudian di ibu kota Belanda itu, Anda seorang Protestan.

Arnold Tonybee-1975

Berbeda,

Tidak sama.

Sama,

Tak berbeda.

Lantas dimana kita bisa mempertemukan beda dan sama?

Perbedaan