Perbedaan

Saya tergelitik dengan kata “perbedaan”. Sepertinya kata yang satu ini sulit dijabarkan dari sisi mana pun kita melihat. Iseng-iseng menjelajah tumblr, saya tersenyum kecut membaca postingan anak sastra.

ijonkmuhammad:

Anda bisa menjadi pemeluk Kristen oirtodoks jika terlahir di Kota Damaskus pada abad keempat.Tapi.jika Anda terlahir beberapa waktu kemudia di lokasi yang sama,Anda bisa saja menjadi penganut Kristen Monofisit.Tambahkan beberapa ratus tahun lagi,masih dikota ini, Anda bisa saja terlahir sebagai seorang muslim bernama Ahmad.

Kasus yang sama akan berulang jika Anda terlahir pada abad kedua hijriah:Anda bisa jadi seorang muslim Ahlus Sunah.Berselang beberapa ratus tahun kemudian, Anda bisa saja lahir sebagai pengikut Imam Syiah. Ini persis sama jika Anda terlahir di Kota Amsterdam pada tahun 1500: Anda pastilah jadi pemeluk Katolik Roma. Padahal, bila seratus tahun kemudian di ibu kota Belanda itu, Anda seorang Protestan.

Arnold Tonybee-1975

Berbeda,

Tidak sama.

Sama,

Tak berbeda.

Lantas dimana kita bisa mempertemukan beda dan sama?

Perbedaan

Orang Dewasa

Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya ingin segera menjadi dewasa. Saya pikir, menjadi dewasa itu enak; menikmati kehidupan dewasa, pulang pergi tempat kerja yang ber-AC, menghasilkan uang dan mendapatkan apa yang kita ingin punya. Mungkin menyenangkan bekerja di gedung-gedung tinggi itu atau di tempat-tempat yang jauh, sering jalan-jalan jadinya. Ketika kuliah, tepatnya saat saya duduk satu bus bersama mereka, orang-orang dewasa itu, ada satu gambaran yang saya tangkap mengenai keseharian mereka:

Setiap pagi mereka berjalan dan berlomba masuk ke bus yang menuju tempat kerja. Jika tidak dapat tempat duduk, mereka rela berdiri. Jika tidak dapat tempat di dalam, mereka rela bergelantungan di pintu. Jika tidak dapat juga, mereka akan menunggu lagi bus selanjutnya sambil berpanas-panasan, bertahan dari sengatan matahari pagi. Perjalanan dari satu terminal ke terminal lain, lalu tak jarang disambung ke terminal lainnya, mereka lewati untuk sampai ke tempat tujuan. Setiap pagi, setiap hari, sepanjang tahun kecuali hari libur yang jarang sekali didapat. Setelah sampai tempat kerja, mereka langsung disuguhkan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Tak jarang pula ada teman sekantor yang cari gara-gara dengan menumpahkan segelas kopi ke kertas kerja yang akan diserahkan kepada atasan nanti siang. Mau memaki-maki, dia tidak sengaja. mau membiarkan, rugi besar. Dengan terpaksa mereka harus memulai kerjaan yang tadi rusak dari awal dan harus sudah selesai pada deadline nanti siang. sorenya saat pulang, mereka kembali bertemu kemacetan dan membawa oleh-oleh setumpuk pekerjaan tambahan untuk laporan kepada atasan. Kemacetan sangat parah sore ini karena banjir dimana-mana. Ditambah lagi, saat masuk jalur alternatif, ada metromini ugal-ugalan yang menabrak trotoar, berhenti total hingga beberapa jam. Sampai rumah jam setengah dua pagi, mati listrik karena hari ini jadwal pemadaman. Mereka terpaksa tidur beberapa jam dan kembali bangun paginya untuk kembali bertemu kemacetan, kembali bertemu setumpuk pekerjaan, kembali dibikin kesal oleh rekan kerja, kembali pulang larut malam karena dihadang macet.

Siklus seperti itu membuat saya ingin tetap menjadi mahasiswa. Pagi bisa membaca buku pelajaran, jalan ke kampus tanpa macet, bergaul dengan teman di kelas, menjadi eksis dengan ikut kegiatan tertentu, dan pergi kemanapun saya suka bersama pacar. Kadang kebebasan yang demikian tanpa kita sadari akan hilang seiring kita menjadi dewasa. Maka saya berusaha semaksimal mungkin untuk menikmati masa muda yang sekarang saya punya. Karena beberapa tahun lagi, ketika lulus kuliah, saya tahu bahwa saya akan sama seperti mereka, dengan rutinitas yang sama sepanjang tahun.

Bangun pagi. Terminal. Bus. Macet. Tempat kerja. Bus. Macet. Tidur nyenyak.

Selamat malam

Untuk Kau Renungkan – Saya Tahu Tentang Adzan dan Tanggal 29

Tulisan ini saya buat di malam Final Piala AFF 2010 Antara Indonesia dan Malaysia.

Bila Anda membaca tulisan ini, saya tekankan bahwa ini bukan soal sepak bola. Ini soal prinsip, mana yang harus Anda lakukan dan mana yang seharusnya tidak anda lakukan.

29 Desember kemarin, ya saya tahu kita semua satu Indonesia ini bergegap gempita menonton timnas kita berlaga. Saya tahu Anda mungkin sedang beramai-ramai di rumah salah satu teman Anda, atau Anda sedang di lapangan RT menonton bola bersama tetangga, atau Anda sedang asik mengupas kacang sambil tiduran di ruang keluarga Anda. Agenda Anda dan kita semua sama, membuka channel rajawali dan menonton timnas sepak bola sedang memperjuangkan harga diri bangsa.

Saya juga tahu ribuan orang memadati area stadion Gelora Bung Karno, dengan baju merah dan teriakan mereka untuk Garuda. Saya tahu mereka semua membawa semangat yang membara, memekik penuh gelora dan percaya, percaya dengan sepenuh jiwa bahwa kita bisa jadi juara. Saya juga tahu teriakan dan kepercayaan yang sama membahana di seluruh nusantara, memenuhi langit malam itu dengan panas dan menahan hujan untuk tidak turun di tanah air kita.

Saya tahu, euforia ini telah membawa kita ke satu titik dimana persatuan adalah segalanya. Saya tahu dukungan untuk pasukan merah putih telah mengumpulkan kita, pria-wanita, tua-muda, miskin-kaya untuk berdiri di tempat yang sama, memekikkan teriakan yang sama, serta membuncahkan semangat dan harapan yang sama. Saya tahu untuk sejenak, presiden dan tukang ojeg memiliki impian yang sama. Saya tahu untuk sejenak, pejabat pajak eselon III dan penjaga warung di ujung Madura menatap secercah cahaya yang sama, yang mereka, Anda, dan juga kita semua percaya bisa membuat negeri ini tersenyum, setidaknya untuk waktu yang cukup lama.

Saya tahu ini semua yang kita dambakan bukan? Ini kan yang selama ini kita rindukan, ketika semua orang bersatu dan menyatu?

Saya tahu itu semua kawan.

Tapi ada hal lain yang perlu Anda renungkan. Kawan, persatuan yang saya saksikan tadi malam telah membuat air mata ini berlinangan. Bukan, bukan air mata terharu dan bahagia kawan, tetapi air mata kesedihan yang meluluh lantakkan semua kebanggaan.

Kawan, tidakkah Anda sadari sepak bola tadi malam telah melalaikan kita semua? Tidakkah Anda perhatikan, berapa banyak dari Anda yang sholat Isya berjamaah di masjid kawan? Tidakkah Anda perhatikan, berapa banyak orang yang meninggalkan sholat hanya untuk persatuan yang sedari kemarin kita banggakan?

Kemarin malam, di menit ke 35 saya tinggalkan TV dan keripik singkong di rumah saya untuk pergi ke masjid, memenuhi panggilan Tuhan untuk sholat harian terakhir dari lima kewajiban. Betapa sedihnya saya melihat sangat sedikit sekali orang yang sholat di masjid. Dan hati saya bertambah ngilu, ngilu tak terperikan ketika melihat kawan-kawan saya berteriak menonton sepak bola beramai-ramai, di depan masjid! Mata mereka menatap ke arah yang sama, dan mereka terus berteriak kata-kata yang sama, seakan mereka tidak sadar mereka sedang berada di dekat masjid. Saya dekati mereka dan berkata lirih,

“Kawan, adzan…”

Tapi mereka hanya menoleh sedikit dan diam.

“Kawan, sholat…”

Tapi mereka hanya melirik sedikit dan diam.

“Kawan, Tuhan memanggilmu…”

Dan mereka hanya diam, diam, dan diam.

Dan saya tersadar. Saya tahu ribuan orang memadati area stadion Gelora Bung Karno, dengan baju merah dan teriakan mereka untuk Garuda. Saya tahu mereka semua membawa semangat yang membara, memekik penuh gelora dan percaya, percaya dengan sepenuh hati bahwa kita bisa jadi juara. Saya juga tahu teriakan dan kepercayaan yang sama membahana di seluruh nusantara, memenuhi langit malam itu dengan panas dan menahan hujan untuk tidak turun di tanah air kita.

Dan saya juga tahu kepadatan disana seperti apa. Dan saya juga tahu bahwa di GBK tidak ada musholla. Dan saya juga tahu ribuan wanita yang menonton disana, tidak – atau mungkin lupa – membawa mukena.

Tadi malam, pertandingan itu telah berakhir.

Tadi malam, seluruh bumi pertiwi menjadi saksi, persatuan itu telah kita hadirkan disini.

Dan kemudian, angin tadi pagi bertanya lagi, inikah persatuan yang selama ini menjadi mimpi?

–Saya bermimpi ribuan orang bercahaya putih memekikkan jutaan tasbih. Saya bermimpi ribuan orang menangis sedih dan sedih menangisi, jutaan rakaat yang telah mereka tinggalkan di negeri ini, di bumi Yang Maha Pengasih ini.–

Untukmu, Indonesiaku.

Bahagia Menjadi Api

Saya bahagia menjadi Api. 

Kata orang, menjadi api cuma kerjaan orang-orang jahat. Saya tidak peduli. Saya bahagia melihat orang lain terbakar, sementara saya hanya duduk diam, menikmati detik-detik kehancuran mereka. Detik dan menit, semua terbakar. Mereka panik, kalang kabut ke sana kemari. 

“Hei tolong kami, ada api disini!”

Dan seperti biasa, semua orang sibuk memadamkan api, berlari, berputar-putar meniup api. Mereka tak pernah sadar bahwa mereka hanya membuat kebakaran semakin tinggi. 

“Dasar bodoh, apinya disini!”

Yang dipanggil bodoh berdiri. Dan orang itu menohok temannya sendiri dengan pisau dan menyayatkan luka di lengan kiri. Darah menetes, sementara api masih terus meninggi.

“Hei kamu tolol! Padamkan apinya, kenapa kamu malah menusuk dia?!”

Orang itu berbalik dan menatap si orang ketiga. Matanya semerah saga, dan api telah membakar habis jiwanya. Tak ada lagi rasa. Tak ada lagi iba. Ini urusan nyawa. Mengapa kita harus diam menunggu sementara amarah tak lagi kuat membuntu?

“Kamu anak bajingan! Tak berotak, hewan tak berakal!" 

Pisau itu dihunjamkannya berkali-kali.

"YA, SAYA MEMANG TAK BERAKAL!”, pisau itu belum berhenti, suara daging yang terkoyak seperti melodi pagi diiringi tawa puas dan seringai setan tak bernurani.

Tapi bukan mereka yang tertawa. Hanya saya yang tertawa sejak tadi, disini.

Duduk santai sambil mengigit sepotong roti. Sendiri. Bahagia menjadi Api. 

Untuk Hitam

Hitam,

bukan membawa kelam, tapi terang yang bersinar di atas hijau.

Hitam,

bukan menggelapkan mata, tapi menyilaukan pandangan di sudut depan yang tak pernah bisa mengalihkan.

Hitam, 

tak mau melebur sembarangan. Dia berkuncup ketika pelangi ada dimana-mana, tapi ketika bersama jaket coklat dan jam tangan hitam, dia merekah serupa kelopak Colorado di ujung senja.

Hitam, 

tak suka merah jambu, tak suka putih. Sederhana. Hanya karena ia tak suka, bukan berarti hitam akan selalu hitam. 

Hitam, mungkin stagnan. Tapi hitam, hanyalah hitam yang kuharapkan.