Menulis Lagi!

Saya sudah tidak menulis sejak lama.

Kesibukan di dunia kuliah membuat saya berhenti menulis. Bagi saya ini menyedihkan. Saya kehilangan kemampuan saya menulis. Ketika saya duduk di depan komputer atau laptop, lalu meletakkan jari-jari saya di atas keyboard, saya menunggu terjadi keajaiban. Ya, keajaiban yang saya rindukan ketika jari-jemari saya tiba-tiba menari indah, menekan tuts-tuts huruf merangkai kata seperti seorang pianis merangkai nada. Sepuluh sampai lima belas menit pikiran saya liar menembus batas-batas yang tak pernah saya duga, lalu saat sadar saya menatap layar dan ‘wow’ melihat rangkaian cerita, artikel, atau sekedar curhatan tentang apapun yang saya alami tadi pagi. Keajaiban yang menakjubkan ketika tulisan-tulisan itu selesai, lalu saya bagikan kepada teman-teman. Mereka tersenyum membaca tulisan saya yang lucu, memberikan pujian dan mengatakan mereka ingin melihat tulisan saya yang lain. Sebagian lain berterima kasih karena saya memberikan pencerahan mengenai suatu isu, seperti ketika saya membeberkan fakta tentang sejarah April Mob yang memperbolehkan orang untuk berbohong pada tanggal 1 April. Ketika membaca tulisan saya bahwa orang kafir menjadikan 1 April sebagai hari untuk merayakan keberhasilan tentara salib membohongi muslim Granada untuk keluar dari persembunyian dan membantai ratusan muslim hingga penjuru kota digenangi darah setinggi betis orang dewasa, mereka datang kepada saya, mengangguk takzim dan mengatakan terima kasih telah berbagi dan menulis. Pak Uus, guru bahasa Indonesia yang terkenal galak dan sulit memuji datang kepada saya dan mengatakan ‘kamu berbakat bal, teruslah menulis’. 

Keajaiban itu sudah lama, teman. Saat ini saya kehilangan kemampuan saya menulis, dan keajaiban itu tak pernah lagi datang. Ya, saya tidak bisa menulis lagi. Saya sudah berusaha sebisa saya. Saya mengambil kursi, duduk dengan nyaman, menyalakan komputer, menatap layar dan meletakkan jari-jari saya di atas keyboard, menunggu terjadi keajaiban. Tapi keajaiban itu tidak pernah datang. Kata-kata bermunculan dalam otak saya, dan ketika saya menuliskannya, dua-tiga kata, otak saya yang lain menolaknya dan secara refleks saya menghapus semuanya. Layar kembali kosong dan saya memulai dari awal, dan entah kenapa saya kembali menghapusnya. Begitu berulang-ulang hingga saya putus asa dan melakukan kegiatan lain, entah surfing di internet, baca komik atau menonton film yang beberapa jam kemudian saya sesali karena menyadari betapa bodoh dan tidak produktifnya menit-menit yang telah saya lewati. 

Hal ini berlangsung lama dan saya mulai frustasi. Saya sering menjambak rambut sendiri dan berkata lirih ‘Ya Tuhan, datangkanlah keajaiban itu’. Satu menit, satu jam, bahkan berhari-hari berikutnya keajaiban itu tak pernah lagi datang.

Saya harus akui apa yang saya namakan keajaiban bukanlah anugerah yang datang tiba-tiba. Masa-masa itu, ketika saya menulis dengan produktif adalah masa dimana saya membaca belasan buku dalam sebulan. Saya melahap buku apa saja. Saya membaca cerita orang shaleh dan kisah para nabi, menikmati kumpulan puisi, mencermati opini-opini di surat kabar, menganalisis buku-buku teori konspirasi, mempelajari ilmu psikologi dan banyak lagi. Saya menelan milyaran huruf dan menempatkannya di sela-sela neuron di otak saya. Huruf-huruf itu kemudian berdentuman, memantul kesana kemari, menyesakkan kepala saya dengan ide-ide liar yang tak terduga dan memaksa saya memuntahkan mereka lewat kata-kata dan tulisan. Terjadilah ide. Terjadilah kreativitas. Terjadilah tulisan. Keajaiban.

Dan ketika saya menyadari bahwa saya tidak bisa menulis lagi, saya juga menyadari bahwa itu terjadi karena tak pernah ada lagi keajaiban. Dan keajaiban tak lagi datang karena saya tak pernah lagi membaca. 

Dua belas bulan sudah saya seperti cecunguk lugu yang diperbudak sesuka hati. Rutinitas saya dipenuhi dengan kegiatan yang itu-itu saja. Saya pergi kuliah, mencatat kalo sedang mood, memperhatikan dosen mengoceh sampai ngantuk, dan mengorek-ngorek tas untuk mencari bulpen lalu mengerjakan tugas. Dalam sepekan, otak saya dibebani empat buah praktikum. Siapapun di dunia yang pernah atau sedang kuliah dan punya mata kuliah ‘praktikum’ pasti tahu seberapa mengesalkannya sembilan huruf itu, sedangkan saya memiliki empat praktikum yang berimplikasi saya memiliki sembilan kali empat alias 36 huruf sialan itu dalam sepekan. Implikasi lanjutannya adalah saya tak punya waktu untuk membaca, apalagi menulis. Waktu saya tersita untuk membuat laporan yang, ya, sebenarnya bisa anda masukkan kategori menulis.  Satu laporan praktikum harus diketik dengan komputer dan tiga sisanya harus ditulis dengan tangan. Tapi semua proses tulis-menulis bagi saya adalah sebuah pengekangan, toh saya harus menulis sesuai kriteria; kalimat yang baku, format yang sesuai, penulisan sumber pustaka, dan tralalala lainnya. Tidak salah juga, toh memang begitu penulisan ilmiah. Tapi bagi saya itu pembunuhan kreativitas menulis. Dengan melakukannya ratusan kali dalam dua semester, pola pikir saya telah berubah dan pikiran saya menjadi sempit. Semua pola pikir saya tentang sesuatu menjadi terpola dan saya sulit mencoba hal baru. Seharusnya memiliki pola pikir yang terpola menjadi sesuatu yang baik bagi saya. Masalahnya adalah kesulitan mencoba hal baru, karena setelah meninggalkannya selama dua semester, menulis menjadi hal baru bagi saya.

Saat ini saya terduduk diam di depan komputer. Saya jadi teringat celotehan teman saya saat SMA. Kata dia, salah seorang penulis favoritnya bilang jangan pernah menulis sebelum membaca 3000 judul buku.

Saya mengingat lagi masa-masa ketika saya rajin menulis. Saat itu saat yang menyenangkan. Ini bukan soal popularitas atau apapun. Ini tentang esensi dari menulis itu sendiri bung. Menulis adalah manifestasi ide yang dihasilkan dari membaca. Membaca adalah menelan ilmu, dan menelan ilmu adalah suatu kebaikan bukan? Bahkan ayat pertama dalam Al-Qur’an adalah perintah membaca. Perintah agar anda menelan ilmu. Tentang bagaimana kemudian anda menulis, itu adalah fitrah kebaikan. Ketika anda melakukan kebaikan dengan membaca dan menelan ilmu, secara alami anda akan memiliki keinginan untuk berbagi, dan menulis adalah salah satu cara berbagi. Saya senang ketika orang mengetahui ilmu yang sebelumnya tidak mereka ketahui karena membaca tulisan saya, bukankah itu suatu kebaikan? Lalu ketika setelah mereka mengetahuinya mereka berbagi ilmu itu lagi kepada orang lain, bukankah kebaikannya akan berlipat ganda? 

Ilmu kawan, bisa bermanfaat karena ada yang menuliskannya. Bagaimana anda tahu tentang gravitasi jika Newton tak pernah menuliskan principia? Bagaimana manusia bisa mengembangkan algoritma dan matematika aljabar jika Al-Khawarizmi tak pernah menuliskannya? Dan lebih penting dari semua ilmu itu, bagaimana anda bisa membaca mushaf Al-Qur’an jika Zaid bin Harits tak pernah mengukirnya? Bagaimana anda meresapi pesona hadits Rasulullah jika sahabat tak lagi merangkaikan kata-katanya? Dari mana kita belajar aqidah, tafsir, fiqh, tata cara shalat, berlaku baik kepada orang tua, dan semua kebaikan jika para ulama tidak berbagi ilmunya lewat tulisan?

Saat ini saya tidak bisa menulis, tapi saya harus bertekad bagaimana pun caranya saya harus bisa menulis lagi. Saya ingin berbagi. Saya ingin ilmu dan pengetahuan yang saya punya bisa berguna. Saya ingin menjadi orang yang berguna, karena Rasul bilang “Yang terbaik diantara kalian adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”. Dan saya percaya dengan menulis saya bisa bermanfaat untuk orang lain. Berbagi ilmu. Berbagi kebaikan. Berbagi inspirasi.

Saya kembali teringat Pak Uus, guru bahasa Indonesia saya. Saat itu saya menulis esai tentang buruknya pemerintahan Indonesia dalam menghadapi perdagangan bebas. Beliau memuji saya dan berkata “Kamu berbakat bal, teruslah menulis’. Lalu saya bertanya, bagaimana jika suatu saat saya stuck dan tidak tahu harus menulis apa, apa yang harus saya lakukan. Beliau cuma berkata “menulislah, teruslah menulis”. Saat itu saya tidak tahu maksudnya apa, karena keajaiban saya belum pernah berhenti bekerja dan saya tidak tahu rasanya tidak tahu harus menulis apa. Tapi saya pernah membaca bahwa setiap penulis akan bertemu dengan masa itu, dan disinilah saya sekarang.

Duduk diam di depan komputer, meletakkan jari-jari di atas keyboard, menunggu terjadi keajaiban.

Tapi tak terjadi apa-apa. Saya menghela napas. Suara Pak Uus bergema di telinga saya, menulislah, teruslah menulis. Baiklah, kenapa saya tidak mencoba menulis? Dan saya tersadar menatap layar. Mengapa ada banyak huruf disana? Mengapa huruf-huruf itu terangkai menjadi kata-kata, dan mengapa kata-kata itu terjejer rapi menjadi kalimat yang berjejer panjang seperti paragraf? Mengapa jari-jari saya terasa lincah dan begitu liat bergerak? Bagaimana mungkin saya tidak menyadari bahwa sedari tadi mereka menari indah, menekan tuts-tuts huruf merangkai kata seperti seorang pianis merangkai nada? Saya nyaris tidak percaya bahwa sedari tadi pikiran saya liar menembus batas-batas yang tak pernah saya duga, dan sekarang saya kembali ke dunia nyata, menatap layar, menggerakkan kursor, dan melihat lima halaman tulisan yang telah saya buat. Keajaiban!

Hei, saya sudah bisa menulis lagi!

Bahasa Bekasi: Mixed to be Interesting

Bila bicara soal Bekasi, bagi saya yang paling menarik adalah bahasanya.

Bahasa? Yap, betul sekali, bahasa, Anda tidak salah baca, ini tentang bahasa. Menurut pengamatan saya sendiri, Bekasi belum mempunyai brand yang benar-benar menunjukkan jati diri Bekasi yang dikenal luas. Dalam hal ini contoh kasarnya makanan seperti dodol-Garut, asinan-Bogor, atau sambel-Padang misalnya. Atau kalo tempat terkenal semisal Monas-Jakarta, kebun raya-Bogor atau Keraton-Cirebon. Tidak ada kan yang namanya baso-Bekasi, ayam-Tambun, atau mie-Bekasi? Masalah tempat terkenal, saya rasa kita, setidaknya sampai saat ini, belum punya landmark yang dikenal semua orang.

Nah, saya yang juga menghabiskan sembilan per sepuluh hidup saya di Bekasi tentu merasa miris. Masa sih tidak ada yang benar-benar khas dari Bekasi kota tercinta ini. Ehmm, sebagai seorang pemuda yang masih menggebu-gebu dan penuh semangat, saya mencoba mengadakan sebuah penelitian-penelitian [<–kata pengulangan yang dimaksud disini bermakna sama dengan boong2an] dan mendapatkan hasil menarik untuk didiskusikan, yaitu bahasa!
Lho? Saya tahu reaksi Anda. Kok bahasa sih? Emangnya bahasa orang Bekasi bahasa Latin, ato bahasa inkripsi Mesir kuno? Well, mari kita mulai kajian spekulatif mengenai Bekasi dari sisi geografis.
Bekasi adalah wilayah pinggiran Jakarta sang primadona Indonesia, yang dalam bahasa kerennya adalah daerah urban. Super-banyak tuh orang Bekasi yang kerjanya di Jakarta dan ga super-sedikit juga yang sebaliknya. Jakarta, sebagai ibukota dengan berbagai gaya hidup dan gelembung budaya yang selalu berkembang, tentu saja menyentuh sisi-sisi Bekasi sebagai daerah urban. Makanya, Bekasi merupakan salahsatu kota yang paling cepat mengalami perubahan dalam hal sosial, seperti lifestyle dan ilmu pengetahuan.
Dari segi sosial, hal ini tentu saja wajar dan amat sangat biasa, mengingat globalisasi yang gila-gilaan. Ups, tetapi saya lupa mengingatkan bahwa Bekasi aslinya adalah Jawa Barat, dimana penduduk aslinya pun kebanyakan adalah orang Sunda yang berbahasa Sunda. Tapi sedikit demi sedikit, fenomena yang terjadi menunjukkan bahwa kecenderungan sosial- dalam hal ini bahasa -turut dipengaruhi Jakarta. Wah, wah, wah, bagaimana tidak, di kota saja, orang yang menggunakan bahasa Sunda secara konstan sangat sedikit, paling-paling antara sesama orang sunda. Sedangkan semakin lama semakin terasa bahasa Betawi turut memberi pengaruh.
ANALISIS BAHASA
Nah, pernahkah Anda menyadari bahwa bahasa Bekasi adalah benar-benar khas dan tidak ada yang menyamainya? Pernahkah Anda memperhatikan bahwa bahasa yang lazim digunakan orang kebanyakan di Bekasi sangatlah unik dan tidak biasa? Baiklah, mungkin Anda belum menangkap maksud saya, kalau begitu kita ambil saja beberapa contoh bahasa Bekasi.
Agar lebih terasa familiar, saya hadirkan beberapa contoh bahasa Bekasi dalam dialog berikut.

BEK : Kas, lo belon bayarin makan gua di warteg Bang Soun ya?
KASI: Ilok? Pan udah gue bayariiin, dua rebu ma ratus kan?
BEK : Boong lo, pokoknya kalo ditagihin ama Bang Soun gua mah kaga tanggung jawab.
KASI: Lah bageen…orang gua udah bayar.
BEK : Lah kicep, mangnya gua mau bayarin elo?

Nah dari dialog itu, ada beberapa kata yang dicetak tebal yang saya anggap sebagai beberapa contoh paling fundamental dalam bahasa Bekasi. “Ilok” dapat berarti “masa”, sebuah ungkapan keraguan untuk memastikan. Namun dalam banyak kasus, kata “ilok” juga digunakan untuk menyatakan kesungguhan seperti “Ilok, gua kaga nyolong”. Kemudian untuk kata “bagen”, berarti “masa bodo” atau ungkapan tidak mau bertanggung jawab. Ini adalah salahsatu kata paling sering digunakan orang Bekasi asli. Selanjutnya kata “kicep” dapat diartikan tidak mau tahu dan juga dapat disandingkan dengan kata “bagen” sebagai sinonim.
Beberapa contoh kata tadi mungkin pernah tau bahkan sering Anda dengar. Namun saya juga yakin banyak dari Anda yang sangat asing mendengarnya. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kata-kata tersebut saya sebut sangat khas Bekasi? Alasannya karena kata-kata tersebut tidak saya temukan pada bahasa lainnya. Kata-kata tersebut bukanlah bahasa Bekasi, bukan juga bahasa Betawi dan bahasa lainnya. Dan sejauh ini, kata-kata itu memang saya temukan hanya di Bekasi. Bagaimana bisa?
Bila kita perhatikan, orang asli atau yang sudah lama tinggal di Bekasi akan berbicara dengan bahasa Sunda, atau terkadang hanya logatnya. Dengan membawa keaslian Sunda tersebut, Bekasi yang notabene adalah kota urban, terkena imbas budaya betawi yang begitu mudah masuk dan mempengaruhi nilai-nilai sosial, termasuk bahasa. Cobalah Anda perhatikan, seringkali orang Bekasi dapt dikenali ke-sunda-annya dari logat dan nada yng digunakan. Namun diksi dan kata-kata yang dipilih lebih mengarah ke bahasa Betawi. Sehingga dapat disimpulkan bahasa Bekasi adalah mixing antara Betawi dan Sunda yang membuat bahasanya lebih menarik dan asik untuk didengarkan.

Tentu saja saya bukan dosen sastra atau etimolog handal, saya juga bukan mahasiswa sastra yang sedang meneliti bagaimana sebuah bahasa bisa bermetamorfosis menjadi lebih kompleks. Saya hanyalah orang Bekasi asli yang mencintai kota ini, dimana saya tumbuh besar, menghabiskan masa kecil saya. Dan bahasa yang saya sebut sebagai bahasa Bekasi telah saya gunakan sejak kecil, dan telah merasuki jiwa saya begitu dalam. Dan menurut saya inilah hal yang paling unik dan khas dari Bekasi, meskipun mungkin belum dikenal luas dan bisa diterima sebagai sebuah aset. Tapi saya menganggapnya sebagai sebuah nilai sosial yang bernilai tinggi, karena Bekasi telah memadukan bahasa Sunda yang klasik dan bahasa Betawi yang ekspresif menjadi bahasa Bekasi yang asik dan menyenangkan.

Mudah-mudahan Anda terhibur dengan analisis saya. Kalaupun Anda kurang setuju ya bagen, tapi kalo Anda cinta Bekasi tapi tidak cinta bahasanya, ilok?

Perbedaan

Saya tergelitik dengan kata “perbedaan”. Sepertinya kata yang satu ini sulit dijabarkan dari sisi mana pun kita melihat. Iseng-iseng menjelajah tumblr, saya tersenyum kecut membaca postingan anak sastra.

ijonkmuhammad:

Anda bisa menjadi pemeluk Kristen oirtodoks jika terlahir di Kota Damaskus pada abad keempat.Tapi.jika Anda terlahir beberapa waktu kemudia di lokasi yang sama,Anda bisa saja menjadi penganut Kristen Monofisit.Tambahkan beberapa ratus tahun lagi,masih dikota ini, Anda bisa saja terlahir sebagai seorang muslim bernama Ahmad.

Kasus yang sama akan berulang jika Anda terlahir pada abad kedua hijriah:Anda bisa jadi seorang muslim Ahlus Sunah.Berselang beberapa ratus tahun kemudian, Anda bisa saja lahir sebagai pengikut Imam Syiah. Ini persis sama jika Anda terlahir di Kota Amsterdam pada tahun 1500: Anda pastilah jadi pemeluk Katolik Roma. Padahal, bila seratus tahun kemudian di ibu kota Belanda itu, Anda seorang Protestan.

Arnold Tonybee-1975

Berbeda,

Tidak sama.

Sama,

Tak berbeda.

Lantas dimana kita bisa mempertemukan beda dan sama?

Perbedaan

Orang Dewasa

Dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar, saya ingin segera menjadi dewasa. Saya pikir, menjadi dewasa itu enak; menikmati kehidupan dewasa, pulang pergi tempat kerja yang ber-AC, menghasilkan uang dan mendapatkan apa yang kita ingin punya. Mungkin menyenangkan bekerja di gedung-gedung tinggi itu atau di tempat-tempat yang jauh, sering jalan-jalan jadinya. Ketika kuliah, tepatnya saat saya duduk satu bus bersama mereka, orang-orang dewasa itu, ada satu gambaran yang saya tangkap mengenai keseharian mereka:

Setiap pagi mereka berjalan dan berlomba masuk ke bus yang menuju tempat kerja. Jika tidak dapat tempat duduk, mereka rela berdiri. Jika tidak dapat tempat di dalam, mereka rela bergelantungan di pintu. Jika tidak dapat juga, mereka akan menunggu lagi bus selanjutnya sambil berpanas-panasan, bertahan dari sengatan matahari pagi. Perjalanan dari satu terminal ke terminal lain, lalu tak jarang disambung ke terminal lainnya, mereka lewati untuk sampai ke tempat tujuan. Setiap pagi, setiap hari, sepanjang tahun kecuali hari libur yang jarang sekali didapat. Setelah sampai tempat kerja, mereka langsung disuguhkan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Tak jarang pula ada teman sekantor yang cari gara-gara dengan menumpahkan segelas kopi ke kertas kerja yang akan diserahkan kepada atasan nanti siang. Mau memaki-maki, dia tidak sengaja. mau membiarkan, rugi besar. Dengan terpaksa mereka harus memulai kerjaan yang tadi rusak dari awal dan harus sudah selesai pada deadline nanti siang. sorenya saat pulang, mereka kembali bertemu kemacetan dan membawa oleh-oleh setumpuk pekerjaan tambahan untuk laporan kepada atasan. Kemacetan sangat parah sore ini karena banjir dimana-mana. Ditambah lagi, saat masuk jalur alternatif, ada metromini ugal-ugalan yang menabrak trotoar, berhenti total hingga beberapa jam. Sampai rumah jam setengah dua pagi, mati listrik karena hari ini jadwal pemadaman. Mereka terpaksa tidur beberapa jam dan kembali bangun paginya untuk kembali bertemu kemacetan, kembali bertemu setumpuk pekerjaan, kembali dibikin kesal oleh rekan kerja, kembali pulang larut malam karena dihadang macet.

Siklus seperti itu membuat saya ingin tetap menjadi mahasiswa. Pagi bisa membaca buku pelajaran, jalan ke kampus tanpa macet, bergaul dengan teman di kelas, menjadi eksis dengan ikut kegiatan tertentu, dan pergi kemanapun saya suka bersama pacar. Kadang kebebasan yang demikian tanpa kita sadari akan hilang seiring kita menjadi dewasa. Maka saya berusaha semaksimal mungkin untuk menikmati masa muda yang sekarang saya punya. Karena beberapa tahun lagi, ketika lulus kuliah, saya tahu bahwa saya akan sama seperti mereka, dengan rutinitas yang sama sepanjang tahun.

Bangun pagi. Terminal. Bus. Macet. Tempat kerja. Bus. Macet. Tidur nyenyak.

Selamat malam

Untuk Kau Renungkan – Saya Tahu Tentang Adzan dan Tanggal 29

Tulisan ini saya buat di malam Final Piala AFF 2010 Antara Indonesia dan Malaysia.

Bila Anda membaca tulisan ini, saya tekankan bahwa ini bukan soal sepak bola. Ini soal prinsip, mana yang harus Anda lakukan dan mana yang seharusnya tidak anda lakukan.

29 Desember kemarin, ya saya tahu kita semua satu Indonesia ini bergegap gempita menonton timnas kita berlaga. Saya tahu Anda mungkin sedang beramai-ramai di rumah salah satu teman Anda, atau Anda sedang di lapangan RT menonton bola bersama tetangga, atau Anda sedang asik mengupas kacang sambil tiduran di ruang keluarga Anda. Agenda Anda dan kita semua sama, membuka channel rajawali dan menonton timnas sepak bola sedang memperjuangkan harga diri bangsa.

Saya juga tahu ribuan orang memadati area stadion Gelora Bung Karno, dengan baju merah dan teriakan mereka untuk Garuda. Saya tahu mereka semua membawa semangat yang membara, memekik penuh gelora dan percaya, percaya dengan sepenuh jiwa bahwa kita bisa jadi juara. Saya juga tahu teriakan dan kepercayaan yang sama membahana di seluruh nusantara, memenuhi langit malam itu dengan panas dan menahan hujan untuk tidak turun di tanah air kita.

Saya tahu, euforia ini telah membawa kita ke satu titik dimana persatuan adalah segalanya. Saya tahu dukungan untuk pasukan merah putih telah mengumpulkan kita, pria-wanita, tua-muda, miskin-kaya untuk berdiri di tempat yang sama, memekikkan teriakan yang sama, serta membuncahkan semangat dan harapan yang sama. Saya tahu untuk sejenak, presiden dan tukang ojeg memiliki impian yang sama. Saya tahu untuk sejenak, pejabat pajak eselon III dan penjaga warung di ujung Madura menatap secercah cahaya yang sama, yang mereka, Anda, dan juga kita semua percaya bisa membuat negeri ini tersenyum, setidaknya untuk waktu yang cukup lama.

Saya tahu ini semua yang kita dambakan bukan? Ini kan yang selama ini kita rindukan, ketika semua orang bersatu dan menyatu?

Saya tahu itu semua kawan.

Tapi ada hal lain yang perlu Anda renungkan. Kawan, persatuan yang saya saksikan tadi malam telah membuat air mata ini berlinangan. Bukan, bukan air mata terharu dan bahagia kawan, tetapi air mata kesedihan yang meluluh lantakkan semua kebanggaan.

Kawan, tidakkah Anda sadari sepak bola tadi malam telah melalaikan kita semua? Tidakkah Anda perhatikan, berapa banyak dari Anda yang sholat Isya berjamaah di masjid kawan? Tidakkah Anda perhatikan, berapa banyak orang yang meninggalkan sholat hanya untuk persatuan yang sedari kemarin kita banggakan?

Kemarin malam, di menit ke 35 saya tinggalkan TV dan keripik singkong di rumah saya untuk pergi ke masjid, memenuhi panggilan Tuhan untuk sholat harian terakhir dari lima kewajiban. Betapa sedihnya saya melihat sangat sedikit sekali orang yang sholat di masjid. Dan hati saya bertambah ngilu, ngilu tak terperikan ketika melihat kawan-kawan saya berteriak menonton sepak bola beramai-ramai, di depan masjid! Mata mereka menatap ke arah yang sama, dan mereka terus berteriak kata-kata yang sama, seakan mereka tidak sadar mereka sedang berada di dekat masjid. Saya dekati mereka dan berkata lirih,

“Kawan, adzan…”

Tapi mereka hanya menoleh sedikit dan diam.

“Kawan, sholat…”

Tapi mereka hanya melirik sedikit dan diam.

“Kawan, Tuhan memanggilmu…”

Dan mereka hanya diam, diam, dan diam.

Dan saya tersadar. Saya tahu ribuan orang memadati area stadion Gelora Bung Karno, dengan baju merah dan teriakan mereka untuk Garuda. Saya tahu mereka semua membawa semangat yang membara, memekik penuh gelora dan percaya, percaya dengan sepenuh hati bahwa kita bisa jadi juara. Saya juga tahu teriakan dan kepercayaan yang sama membahana di seluruh nusantara, memenuhi langit malam itu dengan panas dan menahan hujan untuk tidak turun di tanah air kita.

Dan saya juga tahu kepadatan disana seperti apa. Dan saya juga tahu bahwa di GBK tidak ada musholla. Dan saya juga tahu ribuan wanita yang menonton disana, tidak – atau mungkin lupa – membawa mukena.

Tadi malam, pertandingan itu telah berakhir.

Tadi malam, seluruh bumi pertiwi menjadi saksi, persatuan itu telah kita hadirkan disini.

Dan kemudian, angin tadi pagi bertanya lagi, inikah persatuan yang selama ini menjadi mimpi?

–Saya bermimpi ribuan orang bercahaya putih memekikkan jutaan tasbih. Saya bermimpi ribuan orang menangis sedih dan sedih menangisi, jutaan rakaat yang telah mereka tinggalkan di negeri ini, di bumi Yang Maha Pengasih ini.–

Untukmu, Indonesiaku.

Bahagia Menjadi Api

Saya bahagia menjadi Api. 

Kata orang, menjadi api cuma kerjaan orang-orang jahat. Saya tidak peduli. Saya bahagia melihat orang lain terbakar, sementara saya hanya duduk diam, menikmati detik-detik kehancuran mereka. Detik dan menit, semua terbakar. Mereka panik, kalang kabut ke sana kemari. 

“Hei tolong kami, ada api disini!”

Dan seperti biasa, semua orang sibuk memadamkan api, berlari, berputar-putar meniup api. Mereka tak pernah sadar bahwa mereka hanya membuat kebakaran semakin tinggi. 

“Dasar bodoh, apinya disini!”

Yang dipanggil bodoh berdiri. Dan orang itu menohok temannya sendiri dengan pisau dan menyayatkan luka di lengan kiri. Darah menetes, sementara api masih terus meninggi.

“Hei kamu tolol! Padamkan apinya, kenapa kamu malah menusuk dia?!”

Orang itu berbalik dan menatap si orang ketiga. Matanya semerah saga, dan api telah membakar habis jiwanya. Tak ada lagi rasa. Tak ada lagi iba. Ini urusan nyawa. Mengapa kita harus diam menunggu sementara amarah tak lagi kuat membuntu?

“Kamu anak bajingan! Tak berotak, hewan tak berakal!" 

Pisau itu dihunjamkannya berkali-kali.

"YA, SAYA MEMANG TAK BERAKAL!”, pisau itu belum berhenti, suara daging yang terkoyak seperti melodi pagi diiringi tawa puas dan seringai setan tak bernurani.

Tapi bukan mereka yang tertawa. Hanya saya yang tertawa sejak tadi, disini.

Duduk santai sambil mengigit sepotong roti. Sendiri. Bahagia menjadi Api.