Keluhan – Kebahagiaan (1)

Tulisan yang mendekam di folder draft dari semester dua (2011). Silahkan baca bagian pertama.

Ah bagaimana kalau saya mulai menulis?

Enam bulan sudah saya seperti cecunguk lugu yang diperbudak sesuka hati. Rutinitas saya dipenuhi dengan kegiatan yang itu-itu saja. Saya pergi kuliah, mencatat kalo sedang mood, memperhatikan dosen mengoceh sampai ngantuk, dan mengorek-ngorek tas untuk mencari bulpen lalu mengerjakan tugas. Dalam sepekan, otak saya dibebani empat buah praktikum. Siapapun di dunia yang pernah atau sedang kuliah dan punya mata kuliah ‘praktikum’ pasti tahu seberapa mengesalkannya sembilan huruf itu, sedangkan saya memiliki empat praktikum yang berimplikasi saya memiliki sembilan kali empat alias 36 huruf sialan itu dalam sepekan! 

Sejak semester ini dimulai hidup saya amburadul. Saya merasa tidak berguna, semua pekerjaan yang saya lakukan adalah karena terpaksa. Sejujurnya saya akui, saya belum menemukan kebahagiaan berada disini, di jurusan biologi. 

Benar adanya saya menyukai biologi, saya menyukai sensasi mengetahui. Di sini saya banyak belajar bahwa sesuatu tidak sesimpel yang kita lihat sebelumnya. Belajar disini seperti membuka mata. Pernahkah anda tahu bahwa nangka yang kita makan sebenarnya adalah bunganya? Sadarkah anda bahwa di sekitar kita begitu banyak pesona? Susunan daun yang melingkar indah dengan pola, bunga cantik dengan mahkota yang menjulur memanjakan mata, buah yang bertengger diam di atas dahan, memesona, membukakan mata yang selama ini buta. Pesona ilmu membuat dunia lebih terang di mata saya, sekarang setiap jengkal di bumi yang saya ihat adalah buku, dan saya bisa membaca buku dimana saja.

Benar adanya saya menyukai sensasi tepesona dan terperangah ciptaan Dia Yang Maha Kuasa.

Tapi saya belum menemukan kebahagiaan. Saya selalu melirik kesana, ke cahaya oranye di balik merahnya hukum dan birunya psikologi. Entah kenapa saya tak pernah merasa puas. Tapi adakah kemungkinan saya pindah kesana, saya tak pernah mau menjawabnya, karena sebenarnya saya tahu jawabannya tidak. Orang tua saya bukan orang berduit yang bisa membiarkan anaknya seenak hati pindah ke sana sini. 

Di tengah lirikan iri ke sana sini walau masih di rumah sendiri, saya justru teringat dengan yang lebih mengiris hati. Mimpi saya dulu bukan kuliah di UI, tapi di Institut Pertanian Bogor. Di pesantren, saya punya sahabat sebangku selama 5 tahun, namanya Sabilil Hakimi. Kami menjadi partner belajar sejak SMP. Bili semacam Lintang di kelas Laskar Pelangi, dia anak terpintar dalam sains dan matematika. Bili adalah mercusuar penunjuk arah agar tak tersesat di samudera pengetahuan. Dia menjadi dewa tempat kami bertanya apa, bagaimana dan kenapa. Dan di kelas dua SMP dulu, saya ingat sekali bahwa kami berdua berjanji suatu hari nanti akan duduk bersebelahan lagi di bangku kuliah. Mimpi kami berkuliah di IPB, jurusan Agrobisnis. Takdir membukakan jalan bagi kami untuk kuliah, tapi hanya menunjukkan jalan ke Bogor hanya untuk Bili, dan tidak untuk saya. Bili tetap pada jalur yang dulu kami dambakan, Agrobisnis IPB. Sementara saya ada disini, di UI, departemen Biologi.

Semester dua saya berjalan payah, tapi seperti semua keburukan – kecuali siksa neraka – semester itu akhirnya berakhir. Semester tiga menyambut dan saya menemukan kebahagiaan kembali. Semester tiga bercerita tentang keragaman, evolusi, sejarah bumi dan pesona keanekaragaman tanpa batas. Belajar di semester tiga seperti menyelam di kolam susu: hangat, manis dan membuat ingin berendam berlama-lama.

Semester tiga adalah semester terbaik dalam hidup saya.

Dusta

Bagaimana jika dirimu selama ini hidup dalam kebohongan?

Bagaimana jika kau selalu tahu apa itu kejujuran, tapi kau tak pernah tahu bagaimana lepas dari kebohongan. Bagaimana jika hidupmu hanya kumpulan ampas mimpi orang-orang lain yang tahu kau bisa membuatnya menjadi nyata, bukan untuk dirimu, tapi untuk mereka. Bagaimana jika kau tak pernah menghiraukan mulut besar di hatimu, yang merengek kelaparan, sementara kau menghabiskan umurmu selama ini hanya untuk menyuapi lubang kecil milik binatang jalang. Dan kau tahu lubang kecil itu tak pernah ada, tak pernah ada sebelumnya, karena kau yang membuatnya secara paksa, hanya karena kau tak pernah berani menengok mulut besar milikmu yang seperti tak nyata.

Andai

Tak pernah menuntut apa pun pada siapa pun. 

Tak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun. 

Saya pernah membaca di suatu tempat, entah buku, artikel di koran, atau sekedar tulisan curhat di blog orang. Bukankah hidup akan lebih tenang jika kita menjadi diri kita apa adanya?

Andai kita tak pernah menuntut apa pun pada siapa pun

Hidup kita seringkali dipenuhi tuntutan kepada orang lain. Kita menginginkan pemberian. Kita menuntut nafsu dan kebahagiaan. Kita selalu haus cinta dan kasih sayang.

Andai kita tak perlu membuktikan apa pun pada siapa pun.


Segala bentuk pencapaian, usaha, dan kerja keras kita, benarkah semuanya untuk diri kita sendiri? Seringkali, semuanya adalah reinkarnasi dari bentuk keinginan membuktikan diri pada orang lain. Lihatlah mereka yang minder dan merasa selalu dipecundangi, maka mereka akan merasa perlu membuktikan bahwa mereka bukan pecundang. Lihatlah mereka yang ingin dikenal dan dianggap pahlawan, maka mereka merasa perlu membuktikan bahwa mereka bisa berbuat sesuatu. Lihatlah mereka yang ingin dipeluk dengan segenggam cinta, maka mereka merasa perlu membuktikan bahwa mereka layak diberi lebih dari sekedar kata-kata.

Saya Merindukannya Sampai Habis Waktu Saya

Saya menghela napas. Saya menatap keluar jendela, menatap pohon Baobab yang ada di seberang kampus saya. Saya berada di universitas terbaik di negeri ini, universitas kebanggaan yang menyematkan nama bangsa di belakang namanya, menjadi salah satu dari ribuan orang yang mendapat kesempatan mencium aroma keilmuan dan menghisap pesona pengetahuan dari rampai terbaiknya. Saya termenung. Sudah berapa lamakah saya menjadi mahasiswa? Ini tahun ketiga saya, dan saya kembali bertanya-tanya. Apa yang sudah saya hasilkan disini? Pergi kuliah, mengerjakan tugas, berkumpul bersama teman, dan pergi kuliah, dan mengerjakan tugas, dan berkumpul bersama teman. Siklus konyol. Selama ini, saya rasa saya hanya menjadi cecunguk yang pergi-pulang setiap hari hanya untuk mengejar nilai dan lulus dalam tes di akhir tahun.

Saya kembali tersadar dari lamunan. Saya sedang kehilangan kemampuan menulis. Dimana sih Iqbal si Penulis? Si Perangkai kata yang tak pernah kehabisan suara dalam otaknya? Si pengkhayal yang tak pernah berhenti berimajinasi, dan mengubah proyek visual dalam mata menjadi verbal dalam tata kata?

Mengapa Iqbal tak lagi rajin membaca? Dia sudah bosan dengan membaca, begitu banyak macam rasa yang lebih menyenangkan dari artikel, komik lucu, dan video seru di dunia maya.

Mengapa Iqbal tak lagi rajin menulis? Dia menggeleng. Katanya dia masih rajin menulis. Tapi bosan katanya. Dia setiap hari mengetik 140 huruf dan angka. Dia menggores catatan di kelas sains dan matematika. Katanya dia menulis karena terpaksa.

Saya mau dia menulis sastra. Membuat puisi dan curhatan kata penuh makna. Saya memanggilnya. Memanggilnya dengan penuh harap dibalasnya dengan senyum sapa.

Lalu begitu saja dia hilang, tak lagi muncul di mata dan pikiran saya.

Jadi kemanakah Iqbal? Saya tidak tahu dia pergi kemana. 

Saya merindukannya. Sangat merindukannya sampai habis waktu saya.

Ke-tidak-inisiatif-an Orang Indonesia

25 Agustus 2012, Stasiun Bekasi

Salah satu karakter orang Indonesia adalah curiga, sulit percaya, dan skeptis. Impilkasi dari karakter ini adalah sifat orang Indonesia lainnya yang sangat tidak inisiatif

Ke-tidak-inisiatif-an ini biasanya terjadi karena mereka sulit percaya dan takut jika mereka yang duluan berinisiatif ternyata gagal dan mempermalukan diri mereka sendiri. Seringkali akhirnya mereka menunggu bukti, dan jika sudah benar mereka yakin dengan melihat bukti tersebut akan berhasil, baru mereka berani ber-inisiatif (tentu sudah bukan inisiatif lagi kalo mengikuti).

Alkisah, hari ini saya mau pergi silaturahmi ke rumah ustadz Azhar di Rawamangun, bareng Alip dan Syahid. Di loket stasiun Bekasi, orang sudah mengantri panjang. Ada dua loket yang dibuka, loket pertama sudah diisi antrian panjang di depannya. Anehnya, loket yang kedua kosong, bahkan tidak ada yang mengantri disana. Saya yang berada di barisan paling belakang memperhatikan. Beberapa dari mereka melirik ke loket yang kosong, lalu tetap diam dan melanjutkan antrian. Tak ada satupun yang mengambil kesempatan mengantri-di-loket-kosong itu. 

Akhirnya saya yang geregetan pindah dan langsung maju ke depan loket, bahkan ternyata si “mbak"nya udah kesel sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja dengan tatapan "Lo orang pada goblok banget sih, ga liat apa dari tadi loket gue kosong?”. Saya menyerahkan uang 100.000an, dan selagi menunggu si “mbak"nya menghitung uang kembalian, saya melihat ke belakang. Orang-orang memperhatikan saya. Setelah mendapatkan uang kembali dan tiket, saya baru sadar mengapa mereka memperhatikan saya. 

Ternyata mereka memperhatikan apakah benar loket kedua ini benar-benar buka, karena setelah saya bisa membeli tiket, setengah dari antrian langsung pindah ke "loket saya”. Mereka menunggu bukti, baru berani ambil keputusan yang jelas tidak akan merugikan mereka. See, itulah sebagian dari budaya kita.

Budaya ini sebenarnya hanya permasalahan sudut pandang. Ya, sudut pandang, kebanyakan orang kita belum berani mengambil resiko, masih takut-takut mengambil keputusan sebelum tahu apa sebenarnya yang akan dia terima setelah melakukannya. Sok2an analisis saya, sudut pandang ini bisa jadi disebabkan oleh sejarah penjajahan kita yang panjang. Karena lama hidup di dalam penjajahan, kita terbiasa menjadi korban tipu muslihat para kumpeni yang kurang ajar itu. Akibatnya kita menjadi bangsa yang skeptis, sulit sekali percaya kepada orang lain. Sudut pandang skeptis ini semakin membudaya dengan tidak amannya hidup di kota besar (baca: Berburuk Sangka di Jakarta). Sering banget kan kita dapat sms/telpon/email/surat yang menjanjikan hadiah, ga taunya cuma tipu-tipu. Hasilnya? Ya kita menjadi orang-orang dengan budaya yang selalu curiga dan memandang hal dengan negatif.

Kalo Anda pernah merasakan bangku sekolah atau kuliah, budaya ini pun ada. Ketika ujian misalnya, dan Anda sudah selesai mengerjakan tapi waktu masih banyak, seringkali kita tidak mau mengumpulkan dan hanya diam menunggu ada yang berdiri dan memulai duluan. Anda takut akan ada yang mencela Anda terlalu sombong, atau kemungkinan lainnya seperti Anda terlihat pintar dengan mengumpulkan ujian duluan tetapi ternyata saat keluar hasilnya nilai Anda paling jelek. Ketakutan-ketakutan tersebut akhirnya menuntun kita menjadi orang yang tidak inisiatif, takut mengambil keputusan. Padahal biasanya jika ada yang berdiri mengumpulkan duluan, tiba-tiba setengah dari kelas pun akan langsung berdiri dan mengumpulkan kertas ujian mereka. 

Di sekolah kita juga sering takut menjawab pertanyaan yang diajukan guru, padahal Anda tahu persis jawabannya. Seringkali ketakutan kita akan ditertawakan akibat salah menjawab membuat kita tidak jadi menjawab, padahal jika menjawab kita akan mendapatkan nilai tambahan dari Guru. Dan ketika orang lain dengan takut-takut memberanikan diri menjawab, jawabannya benar dan serta merta sang Guru berkata “Bagus, nak, kamu saya kasih nilai A di rapot”, serta merta kita menggerutu dan berkata “Kan bener jawaban gue! Harusnya tadi gue jawab tuh!”

Ya, memang seharusnya kita menjawab. Memang seharusnya kita inisiatif.

Berburuk Sangka di Jakarta

Kota besar telah membutakan mata kita tentang arti kepercayaan.

Kehidupan dengan persaingan yang ketat telah menyebabkan kriminalitas menjadi salah satu bagian dari keseharian. Kalau tidak kita lihat, kita dengar, atau kita rasakan, dan mungkin saja kita melakukannya.  Rasa curiga, buruk sangka, dan skeptisisme telah merasuk begitu dalam pada diri siapa saja. Sulit rasanya mempercayai dengan mudah siapapun di sekitar kita.

Jika bertemu orang asing, kita diajarkan untuk curiga. Jangan mudah percaya. Jika dia menawarkan minum, bisa jadi sudah dicampur obat bius. Jika dia mengajak ngobrol, bisa jadi dia sedang berusaha menghipnotis kita. Jika dia melihat dan mengamati kita, boleh jadi dia perampok yang sedang mengincar kita. Segala prasangka buruk menghantui, menghilangkan rasa percaya dan sentosa yang harusnya ada dan menjadi pengiring hidup kita.

Tadi, saya baru turun di stasiun Juanda. Duduk di pinggir peron, lalu melihat kanan kiri dan saya ternyata sendiri. Tiba-tiba datanglah dua orang, geometri wajahnya dapat saya kenali sebagai orang Sunda. Keduanya tidak membawa tas apapun, memakai jaket dan memasukkan kedua tangannya di saku. Mereka duduk di samping saya, lalu bertanya, “Gambir udah lewat ya mas?”

Timbullah curiga di benak saya. Jangan-jangan mereka copet. Jangan-jangan mereka mau menodong saya. Jangan-jangan mereka sedang memegang pisau di saku mereka. Berbagai prasangka “jangan-jangan” berdentang di kepala saya, membunyikan lonceng waspada. Saya menarik tas dan memeluknya, memasang posisi duduk siap melawan. Baru kemudian saya menjawab, “Iya, satu stasiun sebelum ini mas”, kata saya sambil menunjuk arah Gambir. Dia mendekatkan duduknya ke arah saya. Curiga kembali timbul, saya semakin waspada.

“Saya ketiduran, mas”, katanya sambil mengucek-ngucek mata.

Lagi-lagi datanglah prasangka itu, jangan-jangan dia bohong. Matanya memang merah, jangan-jangan karena dia pemabuk. Saya semakin siap.

Tapi di sisi lain, ada suara yang juga berbisik kepada saya. 

Bagaimana jika dia benar, bahwa dia cuma orang biasa? Bagaimana jika dia memang orang yang ingin bertanya, butuh pertolongan saya? Kali ini sangka itu tidak datang dari kepala, tapi suaranya dari dalam hati saya.

Dan kemudian, dengan kondisi tetap siaga, saya bilang kepada mereka, “Naik aja kereta lagi kesana mas, tuh dari peron seberang, cuma satu stasiun kok”. Lalu kejadiannya begitu cepat.

Mereka tersenyum, berterima kasih, dan pergi ke peron seberang.

Tak terjadi apa-apa.

Sangka buruk saya tinggallah menjadi prasangka.

Astaghfirullah. Saya beristighfar. Sungguh berdosa saya telah berburuk sangka pada mereka, padahal mereka hanya ingin bertanya. Sungguh saya merenung setelahnya.

Hidup di ibukota memang harus penuh waspada, apalagi kejahatan memang terbukti terjadi dengan berbagai cara, pada siapa saja. Tapi haruskah kemudian kita mencederai nilai-nilai kepercayaan pada sesama, dan menggantikannya dengan buruk sangka? Haruskah kita berhenti memberi senyum, dan mengganti semuanya dengan tatapan curiga?

Kita butuh Jakarta yang aman dan sentosa.