Untuk Hitam

Hitam,

bukan membawa kelam, tapi terang yang bersinar di atas hijau.

Hitam,

bukan menggelapkan mata, tapi menyilaukan pandangan di sudut depan yang tak pernah bisa mengalihkan.

Hitam, 

tak mau melebur sembarangan. Dia berkuncup ketika pelangi ada dimana-mana, tapi ketika bersama jaket coklat dan jam tangan hitam, dia merekah serupa kelopak Colorado di ujung senja.

Hitam, 

tak suka merah jambu, tak suka putih. Sederhana. Hanya karena ia tak suka, bukan berarti hitam akan selalu hitam. 

Hitam, mungkin stagnan. Tapi hitam, hanyalah hitam yang kuharapkan.

Diam, tapi bicara di belakang. Ramai, tapi diam di depan.
Manusia ini terbiasa dengan kelugasan, tak tahu arti diam dan ramai tanpa keterangan. Berikan aku petunjuk sekarang, kumohon.

Di sudut karpet hijau, 06.01

GUE ANAK FISIP, BANGGA. GUE ANAK MIPA?

Sampah. Saya akui fakultas saya sampah.

Jangan salah kaprah. Mungkin memang terdengar sedikit kasar atau tidak layak, tapi jujur saya katakan, I DEFINITELY DISAPPOINTED WITH FMIPA. Sebuah kekecewaan yang sebenarnya tak ingin saya nyatakan.

Siang ini saya pergi ke perpustakaan pusat. Saya mencoba mencari buku tentang lingkungan, karena sepertinya saya mulai tertarik dengan masalah ekologi dan environmental issues. Kompi Perpus menuntun saya untuk datang ke rak 333, tempat buku tentang lingkungan dan ekologi bersarang.

Pada awalnya, saya ingin membaca buku yang sering saya dengar dari orang-orang: AMDAL – Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Tapi Tuhan berkehendak lain (halah). Langkah saya berhenti dan tanpa sadar tangan saya mengambil sebuah buku bersampul hijau : KUMPULAN ESAI BLITS 2008 – SEBUAH ASPIRASI UNTUK LINGKUNGAN. Saya melihat lambang UI di bagian depan sampul, yang berarti bahwa buku ini terbitan lokal kampus.

Saat saya membuka halaman halaman awal, saya terhenyak. Kata pengantar disampaikan Dekan FISIP dan Ketua BEM FISIP 2008. Mengapa ada orang FISIP di buku lingkungan ini?

Saya membaca terus dan kembali terhenyak. Buku itu adalah kumpulan esai anak anak FISIP dalam kompetisi menulis aspirasi mereka mengenai peran manusia dalam menjaga lingkungan. Saya membaca judul-judulnya, dan oh, saya malu sekaligus marah. Solusi-solusi yang ditawarkan oleh anak-anak FISIP itu luar biasa, mereka sangat menunjukkan bahwa GUE ANAK FISIP, GUE GA APATIS TERHADAP LINGKUNGAN.

Saya bukannya tidak menghargai apa yang dilakukan FISIP. Tetapi saya marah dengan Fakultas saya, Jurusan saya, FMIPA, Biologi. Dan entah saya marah kepada siapa. Kenapa kita cuma diam? Bukankah kepedulian terhadap lingkungan seharusnya menjadi identitas kita, kenapa FISIP yang harus memulainya? Lalu dimana kita, cuma diam, belajar, menjadi fakultas terpojok dan bengong tanpa punya ciri dan aksi nyata?

FISIP telah memulai kepedulian mereka terhadap lingkungan, yang digerakkan oleh BEM mereka. Salahsatu langkah fundamental yang diambil adalah adanya peraturan bahwa semua karya tulis di FISIP harus diprint bolak-balik untuk menghemat kertas. Bukan hanya berlaku bagi mahasiswa biasa, bahkan langkah cerdas ini telah disetujui oleh Dekanat dan menjadi standar pembuatan skripsi dan Laporan Pertanggungjawaban sampai di tingkat Dekanat. Selain itu juga diterapkan SOP berbasis lingkungan dalam penggunaan ruangan seperti batas penggunaan AC, jam pemakaian lampu, dan sebagainya. Langkah luar biasa yang bahkan samapi sekarang kita tidak melakukan apa-apa.

Saya tidak tahu siapa yang patut dipersalahkan. Kita kah sebagai mahasiswa, BEM kah sebagai badan eksekutif, Dekanatkah sebagai pengelola regulasi, atau FISIP kah yang mengambil “identitas kita”? Saya tidak tahu yang mana, tapi saya yakin bukan yang terakhir.

Anda tahu jargon FISIP?

GUE ANAK FISIP. Bangga.

GUE ANAK MIPA? 

Saya Ragu di Masa Depan Ada Kesempatan Seperti Ini Lagi

Sepertinya saya berada dalam kebimbangan.

Ternyata dunia kampus lebih parah dari yang saya duga. Kini saya terjebak dalam dilema bahwa saya ingin masuk dunia pergerakan kampus. BEM, seperti terus menghantui hidup saya. Saya ingin masuk BEM. Sangat ingin. Apalagi melihat mereka para senior yang sudah lebih dulu berjuang dalam mencapai kursi di BEM (walaupun di sekretariatnya malah ga ada kursi). Mereka menggalang massa, berkampanye, dan menyusun visi dan misi. Luar biasa, di mata saya perjuangan seperti punya makna yang amazing dan sangat mahasiswa. Semua itu bisa kita lakukan hanya sekarang, saat kita masih berstatus sebagai MAHASISWA. Kalau tidak sekarang, kapan lagi kita bisa menikmati serunya berorganisasi? Saya ragu di masa depan ada lagi kesempatan seperti ini.

Namun dilema yang saya alami adalah ketidaksetujuan orangtua saya jika saya ikut dalam organisasi. Sebenarnya kurang tepat jika dikatakan “ketidaksetujuan”, karena orangtua saya, terutama Bapak, bukannya tidak setuju tapi menolak mentah-mentah. Dia bilang ikut organisasi cuma jadi budak dan boneka mainan. Kita hanya dimanfaatkan oleh oknum tertentu, organisasi kemahasiswaan sesungguhnya hanya memberdayakan semangat kaum muda untuk menyokong tujuan-tujuan kelompok, golongan, atau partai tertentu. Orangtua saya hanya ingin agar saya serius di akademis dan terus mempertahankan IPK diatas 3,5. Sepertinya bayangan kakak saya yang lulusan FIB dengan predikat Cum Laude menjadi patokan bagi saya. Bapak saya tidak mau tahu, pokoknya saya harus seperti kakak saya : Kuliah bagus, IPK tinggi, lulus Cum Laude, dapet beasiswa dan cabut ke luar negeri.

Yah, baiklah mungkin ada benarnya. Saya bukannya tidak mau seperti kaka saya, tetapi saya ingin mengambil jalan lain. Jalan yang saya anggap sesuai dengan prinsip dan idealisme yang saya pegang. Saya tahu sangat sulit untuk bisa sukses di akademis dan organisasi sekaligus, karenanya Bapak saya melarang karena dia hanya ingin saya sukse s di akademis. Padahal, jujur saya tidak ingin terlalu sukses di akademis jika memang itu adalah harga yang harus saya bayar jika mengambil jalur organisasi. 

Baiklah, tulisan ini saya tulis di MUI jam 19.55. Semua lampu sudah mati kecuali lampu mimbar dan tidak ada seorang pun disini, hanya saya, sendiri. Besok UTS matematika dan saya belum terlalu siap. But it will be fine.

Well, cukuplah curcol untuk hari ini. Mungkin tulisan ini akan menjadi pemicu saya untuk menulis sebuah buku suatu saat nanti.

Ngeblog = Beol

Ngeblog itu seperti beol. Tulisan kita ibarat tai, komputer ibarat WC, dan Internet ibarat pispot.

Ada saat dimana kita sangat kebelet pengen ngeblog. Segala sesuatunya sudah terkumpul di perut kita, memenuhi segala pikiran dan membuat kita keringat dingin karena sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkannya. Tapi seringkali ketika hal itu terjadi kita tidak sedang berada di dekat WC dan kita sangat bingung mau mengeluarkannya dimana. Kita berusaha mencari kesana kemari tapi tak jua menemukan WC yang kita nanti. Oh, kondisi seperti itu sangat mengerikan.

Setelah menahannya beberapa lama, ketika akhirnya kita menemukan WC, dengan senang hati kita akan segera beol dan mengeluarkan tai dengan lancar dan tanpa putus ke dalam pispot. Pada akhirnya, setelah menyelesaikan beol dan melihat kembali tai tai yang telah kita hasilkan di dalam pispot, kita tersenyum senang dan merasa sangat lega. Betapa asiknya beol dan menikmati tai yang telah kita keluarkan. 

Ya, saya akui beol, tai, dan WC bukan perbandingan yang indah. Tapi setidaknya, saya bisa melihat bahwa ternyata ada kemiripan antara ngeblg dan beol. Mungkin substansinya berbeda, tapi urgensinya tetap sama dan senilai. 

Selamat beol, eh, ngeblog !

Anak UI vs Anak UI mau dinas ke STAN

Iqbal:
manjat aja ga boleh ama satpol pp
Alif:
tapi ngaudit boleh
Iqbal:
lulusan stan raja korupsi. lulusan ui pembasmi korupsi
Alif:
chandra?lulusan stan?
Iqbal:
GAYUS
GAYUS anjing !
lulusan STAN perpajakan !
Alif:
stan gitu?
Iqbal:
CHANDRA BIBIT !
Alif:
anak DO KALI
Iqbal:
LULUSAN UI !
Alif:
HAMZAH
Iqbal:
cihuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyyy
Alif:
alah boong dua itu
Iqbal:
yang penting STAN
Alif:
berkilah
Iqbal:
eh
ALLAHU AKBAR
Alif:
akhiii
woi, kapan ke ABIBBBIIBBBBSISISBS
Iqbal:
STAN bisa dirobohin sama lulusan HI UI
Alif:
pamer lah biasa
alah, ade rai gue tendang
pake pantofel
gue kepret pake seragam gue
Iqbal:
lulusan STAN ga ada yang ganteng
Alif:
ada
Iqbal:
Nicholas
Alif:
gue
Iqbal:
sapa
Alif:
gue
are you ready for
Iqbal:
lo ganteng tapi homo
Alif:
dum dum dum
alif indra ramadhan
entar satu stan tereaj
Iqbal:
STAN homoooooooooooooooooooooooooo
Alif:
tereak
ui homo
ada lunya
LUnya maya
anak ui ga bisa tawuran
Iqbal:
anak UI ga perlu tawuran
kami orang2 bermartabat yang akan meninggikan harkat martabat bangsa
Alif:
cemen
anak ui kan bisanya ngomong doang
hahhahaha
Iqbal:
akuiliah
jangan membohongi diri dan hati lo sendiri
Alif:
hahahahhhahahah
ui tetep di hati
selalu
blognya gimane?
serius nih gue

….dan percakapannya pindah topik jadi masalah blog