Ngeblog = Beol

Ngeblog itu seperti beol. Tulisan kita ibarat tai, komputer ibarat WC, dan Internet ibarat pispot.

Ada saat dimana kita sangat kebelet pengen ngeblog. Segala sesuatunya sudah terkumpul di perut kita, memenuhi segala pikiran dan membuat kita keringat dingin karena sudah tidak tahan lagi untuk mengeluarkannya. Tapi seringkali ketika hal itu terjadi kita tidak sedang berada di dekat WC dan kita sangat bingung mau mengeluarkannya dimana. Kita berusaha mencari kesana kemari tapi tak jua menemukan WC yang kita nanti. Oh, kondisi seperti itu sangat mengerikan.

Setelah menahannya beberapa lama, ketika akhirnya kita menemukan WC, dengan senang hati kita akan segera beol dan mengeluarkan tai dengan lancar dan tanpa putus ke dalam pispot. Pada akhirnya, setelah menyelesaikan beol dan melihat kembali tai tai yang telah kita hasilkan di dalam pispot, kita tersenyum senang dan merasa sangat lega. Betapa asiknya beol dan menikmati tai yang telah kita keluarkan. 

Ya, saya akui beol, tai, dan WC bukan perbandingan yang indah. Tapi setidaknya, saya bisa melihat bahwa ternyata ada kemiripan antara ngeblg dan beol. Mungkin substansinya berbeda, tapi urgensinya tetap sama dan senilai. 

Selamat beol, eh, ngeblog !

Kamera (1)

Iri. Sebuah kata yang selalu berkonotasi negatif bagi saya pribadi.

Iri, pada akhirnya bisa berarti dengki. Dengki, pada waktunya bisa berbuah benci. Benci, adalah hal terakhir yang harus Anda simpan untuk diri sendiri, karena tak pernah sekalipun ada benci yang didasari iri dan dengki bisa berbuah semanis buah berminyak atsiri. Entah kenapa saya ingin menulis tentang iri.

Karena saya sebenarnya sedang iri. Banyak yang menyebabkan saya iri. Saya ini bukan orang yang berada sekali. Miskin sih tidak, tapi orang tua saya bukan tipe orang tua yang dengan mudah membelikan atau memberikan apapun yang anaknya inginkan. Bukan karena mereka tak mau, tapi seringkali mereka tak mampu. Seingat saya sudah 3 tahun belakangan saya tak pernah minta dibelikan apapun kepada orang tua saya. Jika saya menginginkan sesuatu, saya tak minta, tapi menunggu mereka yang menawarkan. Lancang rasanya mulut ini meminta sesuatu yang saya inginkan sementara mereka tak mampu membelikan. Satu hal yang tiga atau mungkin empat tahun terakhir saya inginkan melebihi apapun dalam hidup saya, yang juga menjadi awal dari cerita ini, adalah kamera.

KAMERA. Sebuah kotak dengan kaca dan diafragma. Sebuah mesin dengan pesona cahaya dari sebuah lubang bernama lensa. Saya lupa kapan saya mulai menginginkan kamera. Mungkin sejak dahulu ketika di pesantren, Alif membawa kamera dan mengajarkan fotografi, permainan sederhana dalam menyeimbangkan cahaya dan warna menjadi seni karya yang memesona. Saya ingat betapa saya selalu menginginkan menjadi panitia dokumentasi, karena dengannya, saya bisa memegang kamera.

Beranjak ke dunia mahasiswa, saya menemukan arti lebih untuk fotografi yang ingin saya jadikan sebagai bagian dari hidup saya. Bapak saya memberi saya Handphone Nokia, saya lupa jenisnya. Nokia biasa yang bisa sms dan telpon siapa saja. Beruntung bagi saya, seharusnya bapak tidak bisa membelikan hape semacam itu bagi saya, tapi bapak mendapatkannya gratis karena itu merupakan hadiah Doorprize dari kantor tempat bapak bekerja. Hebatnya, hape itu punya kamera. 2 Megapixel, biasa saja. Tapi setidaknya saya bisa berkamera ria.

Awal menjejaki kaki ke Universitas terbaik di Indonesia, saya masih sering kemana mana bersama Alip. Bahagianya Alip, bapaknya menjanjikan hadiah jika dia berhasil masuk universitas Indonesia. Saat itu, sebagai sahabat terbaik, Alip memberitakan kebahagiannya kepada saya. Dia dibelikan kamera. Nikon D70. Alip mengajak saya kemana-mana bersama kamera, orang baru punya kamera, tentu saja hunting photo. Sebagai sahabat, tentu saya ikut senang. Sahabat mana yang tak senang teman terbaiknya berbahagia? Tapi diri saya yang entah bagian mana tersinggung dan kecewa. Saya juga berhasil masuk UI. Orangtua saya tak memberi saya apa-apa, tapi kenapa dia bisa mendapatkan kamera? Saya hanya bertanya-tanya, entah pada siapa.

Agustus 2010, saya bertemu keluarga baru di jurusan Biologi bernama BIOGENESIS. Mereka teman seangkatan di jurusan. Hari itu, 28 Agustus, saya meminjam kamera Alip dan berlagak seorang fotografer. Saya membawa kekeran dan menjepret sana sini. Saya petantang petenteng sambil pencet tombol, buka rana kamera sesuka hati. Asik, sebagai pemula yang bahkan masih payah mengatur cahaya dan suhu warna, saya bahagia. Saya bahagia mengabadikan potret teman yang senyum dan tertawa. Saya bahagia menjadi orang dermawan yang berkorban untuk menangkap momen kebersamaan yang langka. Saya merasa bahagia bersama kamera. Sejenak bahagia, tentu saja.

Untuk kemudian saya tersadar, itu bukan milik saya. Saya belum punya kamera.

Walaupun begitu, sejak itu, saya dianggap sebagai juru kamera. Hebatnya kepercayaan menjadi juru kamera, menjadi mudah bagi saya meminjam kamera teman. Dengan memberikan kameranya kepada saya, mereka percaya dokumentasi akan baik dan semuanya akan baik-baik saja. Saya meminjam kamera Ayu. Saya meminjam kamera Aul. Saya meminjam kamera Smartphone Abi. Saya meminjam kameranya. Saya meminjam kamera, lagi, lagi dan lagi. Dan begitulah selama setahun terakhir saya mengembangkan minat saya pada kamera.

Minat saya pada pesona gambar dan kumpulan pixel yang merona. Pada keindahan cahaya dan goresan warna.

Ada dosa yang anda lakukan dengan kuliah di universitas ternama. Anda telah merampas kesempatan ratusan, bahkan ribuan orang yang anda singkirkan dalam kompetisi masuk universitas. Orang-orang yang mungkin lebih membutuhkan pendidikan dari pada Anda.

Tapi Anda bisa menebus dosa itu dengan kuliah sungguh-sungguh dan mengabdikan ilmu Anda untuk bangsa, untuk negara, dan untuk mereka.

Lamunan dalam hati yang sepi di malam minggu yang sendiri

Udah dari tahun 1985 saya masuk UI, belom juga diwisuda sampe sekarang. Ya nasib saya cuma bisa jadi satpam, padahal mah saya juga mau kuliah mas. Bentar lagi sih saya di wisuda, tapi ga bakalan ada pesta, bunga apalagi salaman sama pak rektor. Dikasih pesangon aja udah sukur lah buat pensiun.

Suara hati Satpam Perpustakaan Universitas Indonesia yang saya temui beberapa hari yang lalu.

Saya Ini Orang Mana?

Sebenarnya membingungkan, saya ini orang mana?

Baik, mari kita luruskan permasalahannya. Saat ini saya baru kepikiran serius saya ini orang mana. Maksudnya ras, iya, masalah ras dan suku. Saya tidak begitu yakin soal saya-ini-orang-apa karena saya memang tidak jelas. Bukan karena orang tua saya tidak jelas, tapi ya, nanti deh di paragraf berikutnya saya jelaskan. Sebelumnya saya tidak pernah memikirkannya secara serius, toh suku apapun bukan masalah bagi saya. Saya sudah terbiasa dengan perbedaan dan Rasul pun mengajarkan tak perlu lah kita membeda-bedakan satu dengan yang lain karena kulitnya – yang dalam kata lain karena ras atau sukunya. 

Jadi begini. Bapak saya memiliki ayah asal Kebumen. Kakek saya ini seorang militer, saya hanya tahu dari fotonya, karena Bapak pun hanya lima tahun hidup bersama Kakek. Sejak bapak saya kecil, mereka sudah tinggal di Jakarta. Kakek meninggal saat bapak lima tahun, dua tahun kemudian nenek menyusul. Bapak yang masih bocah tinggal di Jakarta diasuh bergantian oleh adik-adiknya Kakek. Sejak kecil bapak tumbuh di Jakarta, sekolah, bermain, bergaul dan hidup di Jakarta. Dia bekerja sebagai montir, tukang cuci motor, bermain di daerah Pasar Baru, dan daerah urban di pusat kota. Kehidupan kecilnya membesarkan ia dengan kehidupan jalanan Jakarta. Walhasil, saat besar pun bapak sangat seperti orang Jakarta.

Ibu saya, seorang tipikal wanita daerah. Lahir, besar, dan hidup di Samarinda, kota besar nun jauh di Kalimantan Timur sana. Takdir cinta mempertemukan ayah saya yang orang Jakarta dengan ibu saya yang orang Samarinda. 

Saya anak kedua. Saya dilahirkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dan ya, saya tidak bisa berbahasa Kalimantan. Saya hanya tinggal disana 3 tahun, sebelum saya sepenuhnya sadar menjadi bagian dari dunia, saya sudah berada di tanah ibukota.

Jadi, saya orang mana?

Sebenarnya tak pernah penting dalam hidup saya, saya ini orang mana. Apa esensinya mengetahui Anda orang mana, jika memang itu sukar ditentukan? Stimulus penting yang membuat saya sedikit berpikir mengenai ketidakpentingan ini – dalam hemat saya tentu saja – adalah ceplosan bahwa saya dilarang mendekatinya jika di darah saya mengalir darah orang Jawa. Ohshit, separah itukah orang jawa? Apa salah mereka, apa karena mereka lambat, atau karena semua presiden Indonesia orang Jawa? Lalu bagaimana jika ternyata saya salah satu diantara mereka? 

Ketidakpentingan itu akhirnya naik ke tingkatan kelumayanpentingan untuk dipikirkan. Penelusuran membawa saya kepada fakta bahwa dalam tubuh saya mengalir darah jawa dari kakek saya. Sepah dan lalu dibuangkah saya? Entahlah, mungkin keberagaman suku dan ras yang kemudian bercampur menjadi satu dalam tubuh seseorang bisa menjadi alasan untuk menyalahkan rasa dan logika.

Jadi, saya ini orang mana?

Untuk Hitam (2)

Hitam,

Masihkah engkau menunggu goresan tinta?

Hitam,

Masihkah kita harus menunggu senja, sementara rasa telah menggulung puluhan malam purnama? Masihkah kita harus membangun rasa, sementara kelopak telah berubah menjadi bunga, dan bunga telah gugur menjadi hara?

Hitam,

Rahasia ini, janji kita untuk dijaga. Janji kita untuk dibawa, dibawa dari Rida dan dijemput di depan Libra. 

Hitam,

Absurditas adalah mengatakan biarkan orang berkata apa. Kejujuran adalah membiarkan orang melihat apa. Dan hati, seperti diafragma untuk lensa, membukakan cahaya untuk rasa tertinggal menjadi bayangan dalam sukma.

Hitam,

jarak nol senti, untuk dua hati. Jangan pernah mencari lagi.

Nyontek itu haram.
Kalo Ujian kalian nyontek, ijazah kalian jadi haram. Kalo kalian masuk sekolah atau kuliah dengan ijazah haram, studi kalian juga haram. Kalo kalian ngelamar kerja dengan ijazah haram, uang yang kalian dapetin juga haram.
Apa kalian mau anak istri kalian nanti makan makanan haram?

Mudirul-Ma,had, dari potongan nostalgia di sebuah hari di pesantren tercinta. 

Alter Ego (1) : Environmentalist

Saya bingung melihat orang-orang pada ribut banget soal isu lingkungan. Sedikit-sedikit mereka bicara soal lingkungan.

‘ih, ga peduli banget sih lo ama lingkungan’

‘hidup saya untuk menyelamatkan bumi’

‘orang-orang bodoh itu menebang berhektar-hektar hutan hanya untuk membuat tissu’

Yaelah. Munafik banget bagi saya. 

Kok lo ngomong gitu sih?

Ya iyalah. Realistis dong sob. Saya ini bukannya tidak peduli, tapi saya realistis. Bumi ini diciptakan untuk manusia. Emangnya di toilet anda tidak memakai tissu? Lalu apa maksudnya anda meminta tissu sama teman anda untuk mengelap bekas makanan di mulut anda sementara anda berteriak hentikan penebangan hutan (untuk membuat tissu)?

Iya sih, ya suka-suka mereka sih mau ngomong apa soal lingkungan. Toh pada akhirnya mereka cuma berteriak dengan mulut bau dan suara-suara sumbang sementara kehancuran bumi terus berjalan, iya kan? Tapi gue rasa kalo lo kaya gitu lo bisa dibilang skeptis deh bal. Lo kayaknya ga percaya banget bumi bisa disembuhkan dan diselamatkan. 

Terserah deh orang mau pada ngomong apa, bal. Tapi saya hanya meyakini yang benar bagi saya. Tak perlu lah kita berpura-pura peduli atas nama idealisme, sedangkan idealisme itu sendiri idealisme yang salah. Liat aja contohnya waktu Perpustakaan Pusat UI yang baru dibangun.

Ah iya bener banget tuh, bal.

Emang anda tahu apa?

Waktu baru dibangun, orang-orang itu yang mengaku-ngaku environmentalist berteriak menolak pembangunan. Katanya ngerusak hutan, mencemari danau, menebang banyak pohon, bikin polusi baru, dan bla-bla-bla lainnya. Pas udah jadi, hah, hilang tuh semua teriakan. Dengan muka sumringah, mereka masuk perpustakaan dengan beribu kata ‘waw’ dan lupa dengan semua ‘ngerusak hutan’, ‘mencemari danau’, dan ‘bikin polusi baru’. Mereka memakai fasilitas dengan penuh gembira dan suka cita. Itu munafik bukan sih namanya?

Hmm, bukan munafik juga sih menurut saya. Rasanya terlalu kasar kalau kita mengatakan seperti itu. 

Jadi apa?

Ya apa deh terserah mereka. Yang penting kita rasional aja. Ke perpus yuk, saya mau nulis di blog. 

Ayo, kita ke tempat yang merusak hutan dan mencemari danau, hahahaha.

Hahahaha. 

Sekjen PBB

Sekjen PBB.

Mengapa begitu banyak orang yang bercita-cita menjadi sekjen PBB? Entahlah, saya pun tidak begitu mengerti. Saya baru saja membaca blog seorang teman. Dia adik kelas saya, dan baru saja diterima di jurusan bergengsi di universitas terbaik di negeri ini. Saya melihat blognya dan menemukan tulisannya tentang jurusan impiannya saat SMA. Tulisan itu tentu saja ditulisnya sebelum diterima menjadi mahasiswa. Ternyata jurusan yang dia dapat – walaupun sangat bergengsi – bukanlah jurusan impiannya saat SMA. Jurusan impiaannya adalah Hubungan Internasional (Hereinafter will called HI).

Saya terus membaca. Kenapa ingin masuk HI? Dia bilang dengan sederhana, karena saya ingin menciptakan perdamaian dunia. Lalu kenapa harus masuk HI untuk menciptakan perdamaian dunia? Karena saya ingin menjadi sekjen PBB.

Sekjen PBB.

Salahsatu sahabat terdekat saya adalah orang yang bervisi sama saat SMA. Sekjen PBB, impian yang ditulisnya setiap hari di buku pelajaran apapun di kelas. Motivasi terbesarnya dalam melaksanakan aktivitas yang menyibukkannya setengah mati. Dia sibuk belajar bahasa Inggris, TOEFL, dan membaca kamus Oxford setebal 1876 hlm di waktu luang seakan sedang membaca Harry Potter. Dia menonton semua pidato tokoh terkemuka. Setiap hari dia mengajak saya datang ke kantor guru untuk membaca The Jakarta Post, koran berbahasa Inggris yang mampir di sekolah terpencil kami setiap hari. Dia belajar menulis setiap hari. Dia membaca semua pelajaran sosial sementara kami adalah anak IPA – di sekolah kami tidak ada kelas IPS. Semuanya, semuanya dilakukan untuk menjadi Sekjen PBB.

Sekjen PBB.

Sebenarnya bukan hal yang mengagetkan mengapa jabatan itu sangat populer dan menjadi impian dan cita-cita. Secara kasat mata, Persatuan Bangsa-Bangsa adalah organisasi terhebat di dunia. Jika diatas desa ada kota, di atas kota ada provinsi, dan di atas provinsi ada negara, maka di atas negara hanya ada Persatuan Bangsa-Bangsa. Implikasinya, jika kesuksesan dan kejayaan diukur dari jabatan pemerintahan yang Anda pegang, maka di atas kepala desa ada walikota, di atas walikota ada gubernur, di atas gubernur ada presiden, maka satu-satunya yang ada di atas presiden adalah sekjen PBB. Yang sejajar dengan sekjen PBB hanyalah presiden Amerika, dan satu-satunya yang ada di atas mereka hanyalah Tuhan. Maka sekjen PBB adalah dewa. Siapa manusia biasa yang tak ingin jadi dewa? Tak heran banyak orang ingin jadi sekjen PBB.

Gantengnya Sekjen PBB

Sekjen PBB. 

Tak salah memang. Lihat saja betapa gantengnya Kofi Annan dalam fotonya yang sedang berpidato dengan background lambang PBB. Sangat ganteng dan berwibawa. Saya punya teori bahwa kegantengan seseorang berbanding lurus dengan jabatannya. Teori ini saya rumuskan karena melihat perbedaan ketampanan seorang kawan sebelum dan sesudah dia menjabat sebagai ketua BEM. Entah mengapa setelah menjadi ketua BEM dia terlihat lebih tampan. Saya tidak homo, karenanya saya buktikan teori saya dengan melakukan survey kepada teman-teman wanita saya. 98 % setuju, ketampanan seseorang meningkat seiring semakin tingginya jabatan mereka.

Baik, kembali ke topik. Soal apa tadi, ah, soal sekjen PBB.

Pertanyaannya, mudahkah menggapai mimpi menjadi sekjen PBB? Jawabannya sama seperti maukah anda makan tahu busuk untuk sarapan nanti pagi. Tentu saja tidak.

Saya pribadi sih belum membaca bagaimana biografi Ban Ki Moon atau Kofi Annan. Tapi sepertinya tipikal cerita mereka yang menggapai kesuksesan dari bawah. Susah, penuh tantangan dan sama sekali tidak mudah. Kerja keras, butuh lebih dari itu untuk bisa menggapainya. Seperti juga impian lainnya. Kita bisa menggapainya jika kita berani untuk terus percaya, bahwa siapapun bisa lebih dari sekedar merengek hujan rezeki di kaki langit. Kita akan menncapainya, naik ke langit tertinggi dan punya awan sendiri, agar kita bisa mengatur seberapa banyak hujan rezeki yang ingin kita miliki. 

Ayolah kawan, Sri Mulyani pun bisa kok jadi petinggi di Bank Dunia, masa kalian ga bisa jadi Manusia nomor satu di Persatuan Bangsa-Bangsa?