Bahagia Menjadi Api

Saya bahagia menjadi Api. 

Kata orang, menjadi api cuma kerjaan orang-orang jahat. Saya tidak peduli. Saya bahagia melihat orang lain terbakar, sementara saya hanya duduk diam, menikmati detik-detik kehancuran mereka. Detik dan menit, semua terbakar. Mereka panik, kalang kabut ke sana kemari. 

“Hei tolong kami, ada api disini!”

Dan seperti biasa, semua orang sibuk memadamkan api, berlari, berputar-putar meniup api. Mereka tak pernah sadar bahwa mereka hanya membuat kebakaran semakin tinggi. 

“Dasar bodoh, apinya disini!”

Yang dipanggil bodoh berdiri. Dan orang itu menohok temannya sendiri dengan pisau dan menyayatkan luka di lengan kiri. Darah menetes, sementara api masih terus meninggi.

“Hei kamu tolol! Padamkan apinya, kenapa kamu malah menusuk dia?!”

Orang itu berbalik dan menatap si orang ketiga. Matanya semerah saga, dan api telah membakar habis jiwanya. Tak ada lagi rasa. Tak ada lagi iba. Ini urusan nyawa. Mengapa kita harus diam menunggu sementara amarah tak lagi kuat membuntu?

“Kamu anak bajingan! Tak berotak, hewan tak berakal!" 

Pisau itu dihunjamkannya berkali-kali.

"YA, SAYA MEMANG TAK BERAKAL!”, pisau itu belum berhenti, suara daging yang terkoyak seperti melodi pagi diiringi tawa puas dan seringai setan tak bernurani.

Tapi bukan mereka yang tertawa. Hanya saya yang tertawa sejak tadi, disini.

Duduk santai sambil mengigit sepotong roti. Sendiri. Bahagia menjadi Api. 

Untuk Hitam

Hitam,

bukan membawa kelam, tapi terang yang bersinar di atas hijau.

Hitam,

bukan menggelapkan mata, tapi menyilaukan pandangan di sudut depan yang tak pernah bisa mengalihkan.

Hitam, 

tak mau melebur sembarangan. Dia berkuncup ketika pelangi ada dimana-mana, tapi ketika bersama jaket coklat dan jam tangan hitam, dia merekah serupa kelopak Colorado di ujung senja.

Hitam, 

tak suka merah jambu, tak suka putih. Sederhana. Hanya karena ia tak suka, bukan berarti hitam akan selalu hitam. 

Hitam, mungkin stagnan. Tapi hitam, hanyalah hitam yang kuharapkan.

Diam, tapi bicara di belakang. Ramai, tapi diam di depan.
Manusia ini terbiasa dengan kelugasan, tak tahu arti diam dan ramai tanpa keterangan. Berikan aku petunjuk sekarang, kumohon.

Di sudut karpet hijau, 06.01

GUE ANAK FISIP, BANGGA. GUE ANAK MIPA?

Sampah. Saya akui fakultas saya sampah.

Jangan salah kaprah. Mungkin memang terdengar sedikit kasar atau tidak layak, tapi jujur saya katakan, I DEFINITELY DISAPPOINTED WITH FMIPA. Sebuah kekecewaan yang sebenarnya tak ingin saya nyatakan.

Siang ini saya pergi ke perpustakaan pusat. Saya mencoba mencari buku tentang lingkungan, karena sepertinya saya mulai tertarik dengan masalah ekologi dan environmental issues. Kompi Perpus menuntun saya untuk datang ke rak 333, tempat buku tentang lingkungan dan ekologi bersarang.

Pada awalnya, saya ingin membaca buku yang sering saya dengar dari orang-orang: AMDAL – Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Tapi Tuhan berkehendak lain (halah). Langkah saya berhenti dan tanpa sadar tangan saya mengambil sebuah buku bersampul hijau : KUMPULAN ESAI BLITS 2008 – SEBUAH ASPIRASI UNTUK LINGKUNGAN. Saya melihat lambang UI di bagian depan sampul, yang berarti bahwa buku ini terbitan lokal kampus.

Saat saya membuka halaman halaman awal, saya terhenyak. Kata pengantar disampaikan Dekan FISIP dan Ketua BEM FISIP 2008. Mengapa ada orang FISIP di buku lingkungan ini?

Saya membaca terus dan kembali terhenyak. Buku itu adalah kumpulan esai anak anak FISIP dalam kompetisi menulis aspirasi mereka mengenai peran manusia dalam menjaga lingkungan. Saya membaca judul-judulnya, dan oh, saya malu sekaligus marah. Solusi-solusi yang ditawarkan oleh anak-anak FISIP itu luar biasa, mereka sangat menunjukkan bahwa GUE ANAK FISIP, GUE GA APATIS TERHADAP LINGKUNGAN.

Saya bukannya tidak menghargai apa yang dilakukan FISIP. Tetapi saya marah dengan Fakultas saya, Jurusan saya, FMIPA, Biologi. Dan entah saya marah kepada siapa. Kenapa kita cuma diam? Bukankah kepedulian terhadap lingkungan seharusnya menjadi identitas kita, kenapa FISIP yang harus memulainya? Lalu dimana kita, cuma diam, belajar, menjadi fakultas terpojok dan bengong tanpa punya ciri dan aksi nyata?

FISIP telah memulai kepedulian mereka terhadap lingkungan, yang digerakkan oleh BEM mereka. Salahsatu langkah fundamental yang diambil adalah adanya peraturan bahwa semua karya tulis di FISIP harus diprint bolak-balik untuk menghemat kertas. Bukan hanya berlaku bagi mahasiswa biasa, bahkan langkah cerdas ini telah disetujui oleh Dekanat dan menjadi standar pembuatan skripsi dan Laporan Pertanggungjawaban sampai di tingkat Dekanat. Selain itu juga diterapkan SOP berbasis lingkungan dalam penggunaan ruangan seperti batas penggunaan AC, jam pemakaian lampu, dan sebagainya. Langkah luar biasa yang bahkan samapi sekarang kita tidak melakukan apa-apa.

Saya tidak tahu siapa yang patut dipersalahkan. Kita kah sebagai mahasiswa, BEM kah sebagai badan eksekutif, Dekanatkah sebagai pengelola regulasi, atau FISIP kah yang mengambil “identitas kita”? Saya tidak tahu yang mana, tapi saya yakin bukan yang terakhir.

Anda tahu jargon FISIP?

GUE ANAK FISIP. Bangga.

GUE ANAK MIPA?