Ada dosa yang anda lakukan dengan kuliah di universitas ternama. Anda telah merampas kesempatan ratusan, bahkan ribuan orang yang anda singkirkan dalam kompetisi masuk universitas. Orang-orang yang mungkin lebih membutuhkan pendidikan dari pada Anda.

Tapi Anda bisa menebus dosa itu dengan kuliah sungguh-sungguh dan mengabdikan ilmu Anda untuk bangsa, untuk negara, dan untuk mereka.

Lamunan dalam hati yang sepi di malam minggu yang sendiri

Udah dari tahun 1985 saya masuk UI, belom juga diwisuda sampe sekarang. Ya nasib saya cuma bisa jadi satpam, padahal mah saya juga mau kuliah mas. Bentar lagi sih saya di wisuda, tapi ga bakalan ada pesta, bunga apalagi salaman sama pak rektor. Dikasih pesangon aja udah sukur lah buat pensiun.

Suara hati Satpam Perpustakaan Universitas Indonesia yang saya temui beberapa hari yang lalu.

Saya Ini Orang Mana?

Sebenarnya membingungkan, saya ini orang mana?

Baik, mari kita luruskan permasalahannya. Saat ini saya baru kepikiran serius saya ini orang mana. Maksudnya ras, iya, masalah ras dan suku. Saya tidak begitu yakin soal saya-ini-orang-apa karena saya memang tidak jelas. Bukan karena orang tua saya tidak jelas, tapi ya, nanti deh di paragraf berikutnya saya jelaskan. Sebelumnya saya tidak pernah memikirkannya secara serius, toh suku apapun bukan masalah bagi saya. Saya sudah terbiasa dengan perbedaan dan Rasul pun mengajarkan tak perlu lah kita membeda-bedakan satu dengan yang lain karena kulitnya – yang dalam kata lain karena ras atau sukunya. 

Jadi begini. Bapak saya memiliki ayah asal Kebumen. Kakek saya ini seorang militer, saya hanya tahu dari fotonya, karena Bapak pun hanya lima tahun hidup bersama Kakek. Sejak bapak saya kecil, mereka sudah tinggal di Jakarta. Kakek meninggal saat bapak lima tahun, dua tahun kemudian nenek menyusul. Bapak yang masih bocah tinggal di Jakarta diasuh bergantian oleh adik-adiknya Kakek. Sejak kecil bapak tumbuh di Jakarta, sekolah, bermain, bergaul dan hidup di Jakarta. Dia bekerja sebagai montir, tukang cuci motor, bermain di daerah Pasar Baru, dan daerah urban di pusat kota. Kehidupan kecilnya membesarkan ia dengan kehidupan jalanan Jakarta. Walhasil, saat besar pun bapak sangat seperti orang Jakarta.

Ibu saya, seorang tipikal wanita daerah. Lahir, besar, dan hidup di Samarinda, kota besar nun jauh di Kalimantan Timur sana. Takdir cinta mempertemukan ayah saya yang orang Jakarta dengan ibu saya yang orang Samarinda. 

Saya anak kedua. Saya dilahirkan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dan ya, saya tidak bisa berbahasa Kalimantan. Saya hanya tinggal disana 3 tahun, sebelum saya sepenuhnya sadar menjadi bagian dari dunia, saya sudah berada di tanah ibukota.

Jadi, saya orang mana?

Sebenarnya tak pernah penting dalam hidup saya, saya ini orang mana. Apa esensinya mengetahui Anda orang mana, jika memang itu sukar ditentukan? Stimulus penting yang membuat saya sedikit berpikir mengenai ketidakpentingan ini – dalam hemat saya tentu saja – adalah ceplosan bahwa saya dilarang mendekatinya jika di darah saya mengalir darah orang Jawa. Ohshit, separah itukah orang jawa? Apa salah mereka, apa karena mereka lambat, atau karena semua presiden Indonesia orang Jawa? Lalu bagaimana jika ternyata saya salah satu diantara mereka? 

Ketidakpentingan itu akhirnya naik ke tingkatan kelumayanpentingan untuk dipikirkan. Penelusuran membawa saya kepada fakta bahwa dalam tubuh saya mengalir darah jawa dari kakek saya. Sepah dan lalu dibuangkah saya? Entahlah, mungkin keberagaman suku dan ras yang kemudian bercampur menjadi satu dalam tubuh seseorang bisa menjadi alasan untuk menyalahkan rasa dan logika.

Jadi, saya ini orang mana?

Untuk Hitam (2)

Hitam,

Masihkah engkau menunggu goresan tinta?

Hitam,

Masihkah kita harus menunggu senja, sementara rasa telah menggulung puluhan malam purnama? Masihkah kita harus membangun rasa, sementara kelopak telah berubah menjadi bunga, dan bunga telah gugur menjadi hara?

Hitam,

Rahasia ini, janji kita untuk dijaga. Janji kita untuk dibawa, dibawa dari Rida dan dijemput di depan Libra. 

Hitam,

Absurditas adalah mengatakan biarkan orang berkata apa. Kejujuran adalah membiarkan orang melihat apa. Dan hati, seperti diafragma untuk lensa, membukakan cahaya untuk rasa tertinggal menjadi bayangan dalam sukma.

Hitam,

jarak nol senti, untuk dua hati. Jangan pernah mencari lagi.

Nyontek itu haram.
Kalo Ujian kalian nyontek, ijazah kalian jadi haram. Kalo kalian masuk sekolah atau kuliah dengan ijazah haram, studi kalian juga haram. Kalo kalian ngelamar kerja dengan ijazah haram, uang yang kalian dapetin juga haram.
Apa kalian mau anak istri kalian nanti makan makanan haram?

Mudirul-Ma,had, dari potongan nostalgia di sebuah hari di pesantren tercinta. 

Alter Ego (1) : Environmentalist

Saya bingung melihat orang-orang pada ribut banget soal isu lingkungan. Sedikit-sedikit mereka bicara soal lingkungan.

‘ih, ga peduli banget sih lo ama lingkungan’

‘hidup saya untuk menyelamatkan bumi’

‘orang-orang bodoh itu menebang berhektar-hektar hutan hanya untuk membuat tissu’

Yaelah. Munafik banget bagi saya. 

Kok lo ngomong gitu sih?

Ya iyalah. Realistis dong sob. Saya ini bukannya tidak peduli, tapi saya realistis. Bumi ini diciptakan untuk manusia. Emangnya di toilet anda tidak memakai tissu? Lalu apa maksudnya anda meminta tissu sama teman anda untuk mengelap bekas makanan di mulut anda sementara anda berteriak hentikan penebangan hutan (untuk membuat tissu)?

Iya sih, ya suka-suka mereka sih mau ngomong apa soal lingkungan. Toh pada akhirnya mereka cuma berteriak dengan mulut bau dan suara-suara sumbang sementara kehancuran bumi terus berjalan, iya kan? Tapi gue rasa kalo lo kaya gitu lo bisa dibilang skeptis deh bal. Lo kayaknya ga percaya banget bumi bisa disembuhkan dan diselamatkan. 

Terserah deh orang mau pada ngomong apa, bal. Tapi saya hanya meyakini yang benar bagi saya. Tak perlu lah kita berpura-pura peduli atas nama idealisme, sedangkan idealisme itu sendiri idealisme yang salah. Liat aja contohnya waktu Perpustakaan Pusat UI yang baru dibangun.

Ah iya bener banget tuh, bal.

Emang anda tahu apa?

Waktu baru dibangun, orang-orang itu yang mengaku-ngaku environmentalist berteriak menolak pembangunan. Katanya ngerusak hutan, mencemari danau, menebang banyak pohon, bikin polusi baru, dan bla-bla-bla lainnya. Pas udah jadi, hah, hilang tuh semua teriakan. Dengan muka sumringah, mereka masuk perpustakaan dengan beribu kata ‘waw’ dan lupa dengan semua ‘ngerusak hutan’, ‘mencemari danau’, dan ‘bikin polusi baru’. Mereka memakai fasilitas dengan penuh gembira dan suka cita. Itu munafik bukan sih namanya?

Hmm, bukan munafik juga sih menurut saya. Rasanya terlalu kasar kalau kita mengatakan seperti itu. 

Jadi apa?

Ya apa deh terserah mereka. Yang penting kita rasional aja. Ke perpus yuk, saya mau nulis di blog. 

Ayo, kita ke tempat yang merusak hutan dan mencemari danau, hahahaha.

Hahahaha. 

Sekjen PBB

Sekjen PBB.

Mengapa begitu banyak orang yang bercita-cita menjadi sekjen PBB? Entahlah, saya pun tidak begitu mengerti. Saya baru saja membaca blog seorang teman. Dia adik kelas saya, dan baru saja diterima di jurusan bergengsi di universitas terbaik di negeri ini. Saya melihat blognya dan menemukan tulisannya tentang jurusan impiannya saat SMA. Tulisan itu tentu saja ditulisnya sebelum diterima menjadi mahasiswa. Ternyata jurusan yang dia dapat – walaupun sangat bergengsi – bukanlah jurusan impiannya saat SMA. Jurusan impiaannya adalah Hubungan Internasional (Hereinafter will called HI).

Saya terus membaca. Kenapa ingin masuk HI? Dia bilang dengan sederhana, karena saya ingin menciptakan perdamaian dunia. Lalu kenapa harus masuk HI untuk menciptakan perdamaian dunia? Karena saya ingin menjadi sekjen PBB.

Sekjen PBB.

Salahsatu sahabat terdekat saya adalah orang yang bervisi sama saat SMA. Sekjen PBB, impian yang ditulisnya setiap hari di buku pelajaran apapun di kelas. Motivasi terbesarnya dalam melaksanakan aktivitas yang menyibukkannya setengah mati. Dia sibuk belajar bahasa Inggris, TOEFL, dan membaca kamus Oxford setebal 1876 hlm di waktu luang seakan sedang membaca Harry Potter. Dia menonton semua pidato tokoh terkemuka. Setiap hari dia mengajak saya datang ke kantor guru untuk membaca The Jakarta Post, koran berbahasa Inggris yang mampir di sekolah terpencil kami setiap hari. Dia belajar menulis setiap hari. Dia membaca semua pelajaran sosial sementara kami adalah anak IPA – di sekolah kami tidak ada kelas IPS. Semuanya, semuanya dilakukan untuk menjadi Sekjen PBB.

Sekjen PBB.

Sebenarnya bukan hal yang mengagetkan mengapa jabatan itu sangat populer dan menjadi impian dan cita-cita. Secara kasat mata, Persatuan Bangsa-Bangsa adalah organisasi terhebat di dunia. Jika diatas desa ada kota, di atas kota ada provinsi, dan di atas provinsi ada negara, maka di atas negara hanya ada Persatuan Bangsa-Bangsa. Implikasinya, jika kesuksesan dan kejayaan diukur dari jabatan pemerintahan yang Anda pegang, maka di atas kepala desa ada walikota, di atas walikota ada gubernur, di atas gubernur ada presiden, maka satu-satunya yang ada di atas presiden adalah sekjen PBB. Yang sejajar dengan sekjen PBB hanyalah presiden Amerika, dan satu-satunya yang ada di atas mereka hanyalah Tuhan. Maka sekjen PBB adalah dewa. Siapa manusia biasa yang tak ingin jadi dewa? Tak heran banyak orang ingin jadi sekjen PBB.

Gantengnya Sekjen PBB

Sekjen PBB. 

Tak salah memang. Lihat saja betapa gantengnya Kofi Annan dalam fotonya yang sedang berpidato dengan background lambang PBB. Sangat ganteng dan berwibawa. Saya punya teori bahwa kegantengan seseorang berbanding lurus dengan jabatannya. Teori ini saya rumuskan karena melihat perbedaan ketampanan seorang kawan sebelum dan sesudah dia menjabat sebagai ketua BEM. Entah mengapa setelah menjadi ketua BEM dia terlihat lebih tampan. Saya tidak homo, karenanya saya buktikan teori saya dengan melakukan survey kepada teman-teman wanita saya. 98 % setuju, ketampanan seseorang meningkat seiring semakin tingginya jabatan mereka.

Baik, kembali ke topik. Soal apa tadi, ah, soal sekjen PBB.

Pertanyaannya, mudahkah menggapai mimpi menjadi sekjen PBB? Jawabannya sama seperti maukah anda makan tahu busuk untuk sarapan nanti pagi. Tentu saja tidak.

Saya pribadi sih belum membaca bagaimana biografi Ban Ki Moon atau Kofi Annan. Tapi sepertinya tipikal cerita mereka yang menggapai kesuksesan dari bawah. Susah, penuh tantangan dan sama sekali tidak mudah. Kerja keras, butuh lebih dari itu untuk bisa menggapainya. Seperti juga impian lainnya. Kita bisa menggapainya jika kita berani untuk terus percaya, bahwa siapapun bisa lebih dari sekedar merengek hujan rezeki di kaki langit. Kita akan menncapainya, naik ke langit tertinggi dan punya awan sendiri, agar kita bisa mengatur seberapa banyak hujan rezeki yang ingin kita miliki. 

Ayolah kawan, Sri Mulyani pun bisa kok jadi petinggi di Bank Dunia, masa kalian ga bisa jadi Manusia nomor satu di Persatuan Bangsa-Bangsa? 

Saya Naik Sepeda (1)

Awalnya memang sudah lama.

Kelas 3 SD. Itu 11 tahun yang lalu.

Sudah 2 tahun saya pergi sekolah diantar tukang ojek. Sekolah saya memang agak jauh dari rumah, dan orang tua saya memilihkan ojek sebagai transportasi pulang-pergi sekolah. Saat itu saya masih bocah memang. Jam setengah 7 sudah harus siap-siap, dan jam 7 sudah harus benar-benar siap, karena jam 7 itulah ojek nya sudah siap mengantar saya sekolah. Tak boleh telat, abang ojek masih punya orderan lain selain mengantar saya. Jam 1 siang seusai sekolah saya sudah harus siap di gerbang sekolah, abang ojek pasti sudah standby dan siap menjemput. Lagi-lagi tak boleh telat, abang ojek masih punya orderan lain selain menjemput saya. Lama-lama saya bosan dan bosan. Kok pergi-pulangnya saya ke sekolah tidak ada asiknya sama sekali. Akhirnya saya bilang ke bapak, saya ogah terus-terusan naik ojek. Kaya anak manja. 

Akhir kelas 2 SD, saya dibelikan sepeda. Waktu itu Bapak mengajak kami pergi ke Pasar Rumput. Disana ada toko dengan ratusan sepeda, mulai dari yang baru sampai yang bekas. Saya dibelikan sepeda bekas. Saya agak lupa sepedanya seperti apa. Yang saya ingat warnanya dominan hitam dengan beberapa goresan hitam. Ingatan tentang membeli sepeda di Pasar Rumput telah kabur di ingatan saya sekarang. Tujuh tahun kemudian, saat saya mulai terbiasa pergi naik TransJakarta dan transit di Dukuh Atas, saya baru tahu dimanakah letak Pasar Rumput sebenarnya.

Nah sejak itu saya ke sekolah naik sepeda. Menyenangkan, asik bukan kepalang. Setiap pagi berangkat sekolah, saya merasa memulai petualangan baru. Mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi di jalan raya, gesit menyelinap diantara mobil dan motor yang mengantri giliran memasuki tikungan (baca: macet), diklakson kendaraan ditambah sumpah serapah karena saya sering membuat mereka ngerem mendadak, waaah, saya jadi selalu bersemangat pergi ke sekolah. 

Lalu karena (akhirnya) bosan tiap hari kena macet, saya mencari jalan alternatif. Setiap pulang sekolah, saya bersama teman-teman yang juga bersepeda mengeksplorasi jalan-jalan alternatif yang menghubungkan kompleks rumah dengan sekolah kami. Jalan yang kami temukan adalah melewati daerah kampung, dan semakin hari semakin banyak jalan yang kami temukan. Kami menyebutnya jalan rahasia, hahaha. Tak jarang kami mengalami hal-hal seru, ban bocor kena paku, sepeda harus diangkat karena jalan tanah berlumpur, dipalak, sampai berantem dengan anak kampung. Tak jarang pula pengalaman kami kombinasi dari hal-hal tadi, misalnya berantem sama anak-anak kampung karena dipalak saat kami harus berhenti oleh ban bocor kena paku. Setiap pulang-pergi sekolah kami temukan jalan baru, petualangan baru, dan tentu saja pengalaman yang baru.  

Kelas 4 SD. Itu 10 tahun yang lalu.

Bapak saya mengajak kami sekeluarga jalan-jalan ke Pekan Raya Jakarta. Sepekan sebelumnya, saya sudah dijanjikan akan dibelikan sebuah sepeda baru. Waah, rasanya waktu itu gembira luar biasa. Dua hari sebelumnya, bapak saya sudah punya brosur katalog sepeda merek Polygon. Isinya gambar puluhan jenis sepeda Polygon beserta spesifikasi dan tentu saja harganya, mulai dari jenis sepeda bocah, sepeda gunung, sampai sepeda tandem yang bisa dibawa berdua bahkan bertiga. Setiap hari kerjaan saya dan kakak saya hanya melihat-lihat brosurnya, menunjuk sepeda-sepeda yang mungkin bagus untuk kita beli nantinya. Saat itu kami sepakat pada satu jenis sepeda, Polygon Rapid. Di katalog, ada dua opsi warna; silver dan merah. Dari fotonya saya lebih suka yang merah, sedangkan kakak saya memilih yang silver. Ah, lucunya mengingat waktu itu kami berdebat soal warna sepeda, sedangkan Bapak dan Ibu masih berdebat soal harganya. 

Saya ingat harganya Rp 1.050.000. Itu adalah barang termahal yang pernah Bapak belikan buat saya. Tak pernah sebelumnya Bapak membelikan saya barang yang mahal. Saya menghela napas, ini hadiah dan pengorbanan Bapak untuk saya. Setelah pulang dari PRJ, dengan Polygon Rapid di bagian belakang mobil kami, saya berjanji dalam hati. Sepeda ini akan saya jaga dan saya jadikan teman sejati. Dan sampai saya lulus Sekolah Dasar, Polygon Rapid setia menemani kemana saya pergi. 

Kelas 3 SMP. Itu 5 tahun yang lalu. 

Sudah 3 tahun saya tidak bertemu dengan Rapid. 3 tahun sudah saya di Pesantren, dan Rapid saya tinggal di rumah. 

Hari itu, saudara kandung Bapak saya yang tinggal di Tasikmalaya meninggal dunia. Sontak, Bapak saya membawa semua keluarga pergi melayat. Saya yang di pesantren, karena ribet dan mengeluarkan biaya yang lebih banyak jika harus ikut juga, akhirnya tidak diajak. Keluarga saya di Tasik selama satu pekan. Ketika mereka akhirnya pulang, mereka kaget karena kehilangan dua hal. Kehilangan itu dirahasiakan dari saya sampai dua bulan kemudian saya pulang ke rumah untuk liburan.

Sampai di rumah saya baru diberi tahu soal dua kehilangan itu. 

Kami kehilangan Rapid dan Ikan Arwana.

*soal ikan arwana bolehlah diceritakan lain kali, sekarang kita fokus soal sepeda*

Kami kehilangan Rapid. Rapid diangkut orang, entah kemana, entah diapakan. Saya menganga tidak percaya. Sulit dipercaya, Rapid hilang diangkut orang. Menyedihkan T_T.

Sejak itu, saya yang memang terus di pesantren tak lagi beli atau dibelikan sepeda. Pertama, karena saya pun tidak secara langsung membutuhkan sepeda. Yang kedua, karena orang tua saya tidak lagi punya banyak uang. Harus saya terima. 

Perjalanan saya bersama sepeda berakhir sudah. Entah kapan lagi saya bisa berpetualang lagi bersama sepeda. Saya hanya berdoa semoga Tuhan mendengar setiap doa dan harapan saya untuk bisa berpetualang lagi bersama sepeda. Amin.

==Bersambung==