Satu Dengan Seribu

Sejak kuliah, saya selalu suka mengejar matahari.

Mengejar matahari terbit. Mengejar matahari tenggelam.

Menikmati cahaya merah-jingga-kuning yang terurai membuat saya percaya satu hal: Tuhan tidak pernah hitung-hitungan. Nikmat matahari yang menerangi bumi kita setiap hari seharusnya tidak cukup dibayar dengan sholat lima kali sehari. Belum lagi nikmat air, udara, dan bumi.

Karenanya kita pun tak seharusnya hitung-hitungan. Seperti untuk kurban; siapkan hal terbaik yang kita punya. Bukan kurban namanya jika kita memberi alakadarnya. Justru berkurban adalah memberi hal terbaik yang kita punya, meskipun berat pengorbanannya. Seperti Qabil yang mengorbankan harta terbaiknya. Seperti Ibrahim yang mengorbankan anak kesayangannya.

Tapi mengingat Qabil dan Ibrahim, saya jadi berpikir dua kali.

Mungkin salah jika berkata bahwa Tuhan tidak pernah hitung-hitungan. Tuhan berhitung; tapi hitung-hitungannya di luar nalar. Bagaimana tidak, adilnya Dia tidak seperti adilnya manusia. Keburukan tak pernah dihitung sampai diperbuat, tapi kebaikan selalu dihitung meski dalam bentuk niat.

Dan Tuhan tidak membayar satu dengan satu.

Dia membalas satu dengan seribu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *