Sejak Jadi Ayah

Sejak jadi Ayah, hati saya rasanya jauh lebih sensitif.

Punya anak semacam membuka mata batin; saya jadi mengerti hal-hal sederhana yang dulu tidak saya mengerti.

Kesampingkan dulu rasa bahagia tiada tara ketika pertama mendengar tangisnya, rasa gemas melihat kopian saya dan istri dalam kemasan kecil, dan rasa bangga ketika melihatnya melakukan banyak hal untuk pertama kalinya. Itu dan ratusan perasaan lainnya, aman, sudah pasti punya tempat tersendiri di hati.

Tapi yang saya maksud, saya jadi mengerti beratnya perjuangan orang tua.

Pelan-pelan, saya jadi memahami Bapak. Saya jadi paham kenapa dia keras. Saya jadi tahu betapa sulitnya membesarkan empat anak, tiga diantaranya laki-laki, termasuk saya. Saya jadi mengerti kenapa Bapak berani berhutang demi sekolah kami. Bahkan saya jadi paham kenapa di hari Sabtu dan Minggu Bapak hanya mau tidur-tiduran di rumah dan menonton tinju.

Saya jadi merasa bersalah mengingat betapa keras kepala dan menyebalkannya saya kepada orang tua. Saya jadi pilu mengingat banyak momen perdebatan saya dengan Bapak yang setelah saya paham sekarang, tidak perlu.

Di luar rumah, saya jadi lebih mudah melihat orang lain dari sudut pandang mereka sebagai orang tua. Jika ada ayah seumuran saya jalan bersama anaknya, atau bapak-bapak tua sedang menjalankan pekerjaannya, saya selalu menghela napas. Ah, di sini mungkin mereka merasa bukan siapa-siapa. Tapi mereka harusnya tahu mereka seorang ayah, pahlawan untuk istri dan anak-anaknya.

Saya jadi ingat. Waktu lebaran kemarin di rumah orang tua di Bekasi, saya datang ke salah satu toko Belah Durian untuk makan bersama di rumah. Keluarga saya semuanya pecinta durian.

Toko Belah Durian ini agak premium sebenarnya, apalagi durian memang bukan buah-buahan murah. Saat mengantri, di depan saya ada bapak-bapak usia 50an dengan jaket ojol. Saya pikir dia mengantri untuk pesanan kastamer-nya. Ternyata saat giliran dia di depan kasir, dia menunjuk salah satu menu andalan dengan harga paling mahal.

“Mba, yang ini ya satu. Buat anak saya, ulang tahun”, katanya sambil mengeluarkan dan menghitung puluhan lembaran recehan yang kelihatannya dia kumpulkan dari banyak orderan. Sambil sumringah menerima pesanan, dia memberikan uangnya. “Ini ya mba”.

Sambil dia berjalan keluar toko, saya sempat melihatnya jalan dengan senyuman lebar. Saya membayangkan dia berdebar-debar pulang ke rumahnya, membuka pintu sambil mengucapkan salam, dan mengangkat sebungkus kue durian.

Saya membayangkan anaknya berteriak senang dan lompat kegirangan, berlari tak sabar, memeluk ayahnya. Saya bisa merasakan hilang sudah semua lelah dari punggung si bapak empat minggu terakhir, dibayar lunas dengan pelukan, cinta yang tumpah ruah, dan satu kalimat sederhana dari anaknya, kebanggaan hatinya.

“Terima kasih ya yah”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.