Assalamu’alaikum, Bang Iqbal. Gue Dian. Salam kenal. Mau nanya nih, menurut lo, anak muda yang produktif itu yang kaya gimana? Dan dari sisi lo sendiri, pernah gak sih ngerasa lagi gak produktif dan gimana cara kembali mem-produktifkan diri sambil menebar-nebar manfaat buat orang lain? Btw, gue udah download dan denger semua episode podcast lo. Gue punya keresahan yang sama, tapi gabisa se-kritis, se-subjective, dan se-gila lo. Heu heu. Makasih jawabannya nanti, Bang! :D

Waalaikumsalam, halo @dyananggra​, salam kenal 🙂

Menurut saya, anak muda produktif adalah mereka yang mengisi waktunya untuk berkarya. Karya itu sendiri bisa didefinisikan dalam banyak hal; bisa sesuatu yang jadi kewajiban kita (seperti kuliah), sesuatu yang kita sukai (seperti hobi), sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain (berkegiatan sosial), atau paling tidak bermanfaat untuk diri sendiri (baca buku).

Masa tidak produktif, tentu pernah. Bahkan 2 pekan belakangan pun saya merasakan hal serupa. Ada banyak faktor yang membuat produktivitas kita menurun. Yang paling sering saya alami adalah kebosanan dan manajemen waktu yang buruk.

Jika produktivitas mulai terasa menurun karena bosan, ada tiga hal yang biasanya saya lakukan: hangout ke bioskop atau toko buku, pergi ke meetup sebuah komunitas untuk bertemu orang-orang baru, atau nongkrong dengan teman-teman yang asik diajak berdiskusi. Intinya coba refreshing dengan beraktivitas dan temui orang-orang yang berada di luar rutinitas kita.

Adapun jika produktivitas menurun karena manajemen waktu yang buruk, berarti kita perlu memperbaiki cara kita mengatur waktu. Dalam hal ini, saya sendiri masih belajar dan terus memperbaiki diri.

Ada banyak buku maupun blog yang membahas lifehack dan tips manajemen waktu yang baik. Berikut beberapa artikel yang saya rekomendasikan:

Semoga membantu.

Makasih banget ya udah dengerin Podcast Subjective, ditunggu untuk berbagi keresahan yang sama. Semoga bermanfaat.

Salam kreatif!

Apa rencana untuk satu tahun ke depan?

Hi Marsya, thanks for stopping by and leaving message.

Saya memulai tahun ini dengan bergabung bersama kitabisa​.com, platform crowdfunding yang bervisi mengubah ide-ide dari wacana menjadi karya nyata. Saya pernah menulis tentang kitabisa dan crowdfunding di sini.

Di kitabisa, saya menjadi Indonesia representative untuk Techsoup Program. Sebuah program dari Techsoup Asia yang bermitra dengan perusaaan teknologi seperti Microsoft, Adobe, Symantec, (dan sebentar lagi) Google. Kami membantu Organisasi nonprofit dan Yayasan mendapatkan bantuan teknologi.

Saya sangat menikmati menjadi bagian dari tim berisi anak muda yang penuh dengan ide-ide liar, kreativitas tanpa batas, dan semangat optimis yang tak pernah habis.

Rencana saya untuk satu tahun ke depan adalah belajar lebih banyak lagi di sini. Mencurahkan seluruh kreativitas saya untuk bersama meledakkan crowdfunding di kalangan anak muda dan pegiat kreatif. Membantu orang-orang baik mendapatkan teknologi terbaik.

Juga membuat lebih banyak karya kreatif berbasis kolaborasi seperti Words Of Life. Akan ada dua lagi yang direncanakan akan diluncurkan tahun ini.

Dan satu lagi, tahun ini saya akan menerbitkan buku pertama saya.

Minta doanya semoga kita bisa mencapai apa yang menjadi rencana kita

Halo Putri, 

terima kasih untuk pertanyaannya.

Untuk jadi penulis yang baik itu kuncinya cuma satu: terus menulis. Boleh ditanya ke penulis manapun, jawabannya akan sama. Jangan pernah berhenti menulis karena menulis itu skill yang harus terus dilatih. Semakin sering dilatih maka akan semakin baik tulisan yang kita buat.

Kebanyakan dari kita (termasuk saya) sering terjebak dalam stigma bahwa menulis haruslah bagus. Kita takut tulisan kita jelek dan mendapat cemoohan dari orang lain. Padahal esensi menulis bukanlah pamer dan gaya-gayaan, melainkan berekspresi. We write to express, not to impress. Saya pernah menulis tentang itu di sini.

Kemudian apa yang harus ditulis? Tulislah kegelisahan kita, sesuatu yang menjadi kepedulian kita, apapun itu. Bentuknya bisa dalam bentuk puisi, cerita fiksi, karya ilmiah, apapun. Yang jelas jadikan kegelisahan sebagai sumber inspirasi. Hal ini saya pelajari dari Raditya Dika ketika dia bercerita tentang berani berkarya, rangkumannya pernah saya tulis di sini.

Jadi apakah harus dimulai dari menulis fiktif atau karya ilmiah, itu kembali ke kegelisahan kita masing-masing. Jika masih sulit dalam menulis, ingat bahwa menulis adalah proses output, yang sangat bergantung pada proses inputnya. Bagaimana proses input seperti membaca dan mendengar mempengaruhi proses output seperti menulis dan berbicara, pernah saya bahas di sini.

Ohya untuk lomba karya ilmiah, saya pernah ikutan dan (anehnya) menang :D. Lomba bisa jadi ajang latihan yang bagus untuk menulis.

Selamat menulis!

Jawaban untuk pertanyaan dari @putricahyadestiani. Ask me anything here.