#SubjectiveLive Bandung: Terima Kasih!

26 Agustus 2016. Ruang Putih, Bandung.

image

Beneran ga nyangka ide nekat ini berhasil terlaksana dan beneran ada yang ikutan. Ide awalnya datang saat melewati satu tahun podcast kemarin. Saya berpikir, kalau mau tumbuh, rasanya saya harus berani melakukan sesuatu yang baru dan berbeda.

Salah satu hal baru yang selalu ingin saya coba adalah membawakan podcast secara Live, bikin talks dan meetup langsung dengan orang-orang di dunia nyata. Di luar negeri, beberapa podcast favorit saya seperti Star Talk-nya Neil DeGrasse Tyson juga sering membuat acara Live.

image
image

Lalu terpikir, mungkin saya harus mencoba hal yang sama.

Karena kebetulan ada acara juga, akhirnya saya nekat bikin di Bandung. Saya kontak @satriamaulana, coba cari tempat yang bisa menampung, dan akhirnya terpilih Ruang Putih sebagai venue dan 27 Agustus sebagai waktunya.

Selanjutnya langsung minta @satriamaulana dan @choqi-isyraqi untuk jadi partner diskusi. Dan pilih Galau Pasca Kampus sebagai tema obrolan. Publikasi dibuat dan mulai disebar dengan bantuan @dsrnasfhia.

image

Awalnya kita cuma expect 20-30 orang yang datang, karena segitulah kapasitas venue-nya menggunakan kursi. Tak disangka, yang daftar sampai >70 orang. Sampai di hari H pun kita masih terima beberapa pendaftaran, dan saya mulai panik. Akhirnya kami putuskan untuk menyingkirkan semua kursi dan dibuat lesehan.

Mendekati jam 7 malam, orang-orang mulai bermunculan hingga saya bingung, ini ternyata beneran ada yang datang.

image
image
image

Di akhir, tercatat 50an orang hadir dan meramaikan diskusi malam itu.

image
image
image

Tak hanya Satria dan Choqi, beberapa orang malam itu juga ikut bercerita dan berbagi kegelisahannya. Dan buat saya, benar-benar pengalaman yang sangat menyenangkan membawakan diskusi hingga hampir 2 jam.

Untuk yang belum bisa datang, sebenarnya saya sudah menyiapkan kamera untuk rekaman selama 2 jam. Tapi akhirnya gagal secara teknis dan hanya terekam selama 20 menit. Untungnya, rekaman audionya aman dan akan segera saya edit untuk dipublish di Soundcloud.

Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua yang sudah datang. Terima kasih sudah memberikan support terbaik yang bisa saya punya: senyum dan jabat tangan. Terima kasih sudah berbagi cerita dan kegelisahan.

image

Terima kasih, Bandung!

Subjective Live @Bandung – Ngobrolin Galau Pasca Kampus: Karir, Pilih Pasangan, dan Masa Depan

Sejak bercerita tentang kerja, bisnis, dan S2 di Podcast Subjective Ep. 2, saya menyadari bahwa galau pasca kampus adalah topik kegalauan universal. Topik ini relate dengan hampir semua orang yang pernah berkuliah, baik yang masih di kampus maupun yang sudah lama lulus.

Setelah lulus, kita dihadapkan pada persimpangan masa depan. Kita dituntut untuk memilih ingin berkarir dimana; bekerja di bidang apa; hingga menentukan pasangan dan kapan masuk ke jenjang pernikahan.

Semua adalah kegalauan khas anak muda yang memiliki banyak cerita.


Kali ini, saya ingin menggali cerita ini dari teman-teman saya secara langsung, di kota Bandung.

Saya mengundang teman-teman di Bandung untuk meetup dan cerita bareng bersama mereka. Kita akan ngobrol santai bersama:

  • Satria Maulana (@satriamaulana.tumblr.com), alumni akuntansi UNPAD yang sekarang jadi kuli industri kreatif.
  • Choqi Isyraqi (@choqi-isyraqi.tumblr.com), alumni Biologi ITB yang sekarang jadi tukang bikin video.

Kita akan berkenalan, berdiskusi santai, dan menggali pengalaman mereka melalui masa galau pasca kampus, serta membuat pilihan-pilihan yang membawa mereka ke titik sekarang.

  • Waktu: Jumat, 26 Agustus 2016 | 19.00-21.00 WIB
  • Tempat: Warung Ruang Putih, Jalan Bungur no 37 (Link Gmaps)

Untuk daftar, ketik Subjective – Nama – Email, kirim via SMS / WA ke  081281000180 (Cile).

Acara ini FREE. Bawa pertanyaan dan kita akan ngobrol seru-seruan.

Ga pake syarat. Ga perlu bawa apa-apa.

Sampai jumpa di Bandung!

Jembatan Luchtsingel: Kolaborasi Kreatif Untuk Pembangunan Kota

Rotterdam berbangga punya satu infrastruktur publik yang menjadi simbol kolaborasi raksasa.

ZUS, studio arsitektur yang merancang jembatan ini dengan bangga memperkenalkan Luchstingel sebagai world’s first crowdfunded public infrastructure project. Proyek infrastruktur publik pertama yang dihasilkan dari crowdfunding. 

Dinamakan Luchstingel yang berarti kanal udara, jembatan ini berada di atas bangunan, jalan, dan rel kereta api: menghubungkan tiga area yang sebelumnya terpisah. Jembatan ini membuat jalan layang untuk pejalan kaki yang menghubungkan stasiun Rotterdam Centraal dengan distrik bersejarah Laurenskwartier. Dan juga menghubungkan beberapa proyek seru lain, seperti taman publik dan kebun sayur di rooftop.

Jembatan kuning sepanjang 400 meter itu adalah hasil patungan dari ribuan orang. Gagasan pembangunan jembatan ini dilempar ke masyarakat dengan ide: untuk setiap donasi €25 (sekitar Rp 400.000), nama donatur akan dicetak di salah satu papan kayu yang menyusun jembatan.

Lebih dari 8.000 orang mendukung dan berdonasi untuk jembatan ini. Gerakan luar biasa ini kemudian juga mendapatkan dukungan finansial dari pemerintah kota. Sebuah cara baru dalam membangun infrastruktur publik dengan melibatkan semua elemen kota.


Kapan di Indonesia akan ada kolaborasi seru seperti ini?

Saat ini, sepertinya kota paling memungkinkan untuk terjadinya kolaborasi semacam ini adalah Bandung.

@ridwankamil telah memulai berbagai inovasi kreatif dalam pembangunan infrastruktur, mulai dari perencanaan, pembiayaan, sampai arsitekturnya. Budaya kolaborasi warga Bandung pun semakin bertumbuh dengan menjalankan prinsip hidup adalah udunan.

Semoga Bandung semakin juara dan menjadi teladan kota kreatif bagi ribuan kota lainnya di Indonesia.

Salam kreatif!