Tidak Boleh Berhenti

It’s like ages. Since the last time I came here.

Terakhir posting di Tumblr baru 3 pekan yang lalu, tapi rasanya sudah sangat lama ga buka dashboard dan berusaha menulis sesuatu di sini.

Waktu masih di kampus, saya selalu rajin menunggu postingan dari blog favorit saya seperti pandji.com dan Tumblr @kuntawiaji. Seringkali, saya suka kesal menunggu karena mereka sangat jarang update.

Jangankan seminggu sekali, sebulan sekali saja sudah bisa disyukuri.

Setelah lulus dan punya kesibukan sendiri, rasanya bisa paham kenapa akhirnya frekuensi menulis akan berkurang.

Saya sangat menikmati pekerjaan saya sebagai copywriter dan digital marketer, membantu komunitas sosial dan NGO memperluas dampak mereka dengan teknologi digital.

Tapi seringkali semua energi saya sudah terkuras habis, sehingga masih harus mengakali bagaimana caranya bisa menyempatkan diri bersuara di blog lagi.

Pada dasarnya, saya orangnya suka bicara. Bahasa pasarnya, banyak bacot. Semua orang yang kenal saya secara langsung mungkin bisa langsung paham. 

Itulah kenapa saya suka nongkrong, senang diskusi, rajin menulis, dan juga punya banyak diari/buku catatan yang saya isi sejak SMP. Rasanya kalau diam saya ga bisa nyaman karena semua suara di kepala saya berebutan ingin keluar.

Dan lagi, rasanya selalu ada banyak sekali beban yang ingin saya bagikan.

Saya bilang beban karena saya ingin mensyukuri banyak hal yang telah saya pelajari, dan saya tahu tidak semua orang punya kesempatan yang sama dengan saya; bertemu orang-orang hebat, belajar dari tokoh-tokoh keren, datang ke tempat-tempat luar biasa. Egois sekali rasanya jika atas semua yang sudah saya dapatkan, lalu saya simpan untuk diri saya sendiri.

Itulah kenapa saya selalu terbebani untuk menulis, untuk berbagi.

Sementara itu, saya juga terus berusaha untuk tidak pernah kehilangan semangat belajar, yang bagi saya terbilang sulit. Ada banyak pikiran sombong yang bilang “saya sudah tahu”, “saya sudah bisa”, “saya sudah paham”. Padahal belajar itu proses seumur hidup, dan merasa bodoh itu proses tanpa akhir.

Meminjam istilah Steve Jobs, Stay Hungry, Stay Foolish.

Proses belajar dan berbagi, sejak lama jadi pegangan saya dalam menulis blog ini. Saya ingin mengajak kamu untuk tidak pernah berhenti berbagi apa yang kita pelajari; di ruang kelas tadi pagi, di obrolan warung kopi, di program televisi, di timeline sosial media, di tongkrongan malam nanti.

Belajar dan Berbagi adalah proses abadi yang tidak boleh berhenti. 

Kita bisa jadi membenci mereka yang meminta minta, tapi sudahkah kita jadi orang yang pandai memberi?

Tiga tahun terakhir, saya selalu menyempatkan diri menjadi panitia zakat di masjid dekat rumah. Dan sejak tiga tahun pula, kami mengubah sistem distribusi. Kami panitia yang mendatangi rumah mustahiq, bukan mustahiq yang datang ke masjid. Karena memang begitulah semestinya.

Tidak pernah ada ajaran untuk menyuruh orang miskin atau anak yatim datang ke masjid untuk meminta jatah. Kita yang turun membantu, bukan mereka yang naik untuk meminta. Kita yang mendatangi, bukan mereka yang minta dikasihi. Sayangnya, kebiasaan meminta bisa jadi sudah mengakar sedemikian dalamnya, membudaya sedemikian dahsyatnya.

Dan bisa jadi, kebiasaan buruk ini justru dipupuk oleh panitia masjid yang ogah repot. Yang tidak mau capek dan saenake dewek.

Percaya sama saya, jika tidak lewat distribusi langsung, momen ketika kita harus membagikan zakat fitrah ketika Iedul Fitri atau daging kurban ketika Iedul Adha adalah momen yang menyakitkan hati. Miris dan bikin emosi.

Puluhan bahkan ratusan orang berpakaian lusuh dengan muka memelas datang ke masjid.

Mereka berdesak-desakkan saling berebutan, kampungan, dan tidak mau diatur.

Untuk berbaris tidak cukup diberitahu, harus dikomando dengan teriakan, dan tak jarang pula dengan bentakan.

Bukan rahasia pula kalo banyak yang tidak masuk kategori miskin, tapi tanpa malu pura-pura miskin. Datang dengan motor bagus, diparkir jauh-jauh dari masjid, lalu jalan kaki dengan wajah kusam dan badan yang lemas. 

Sekembalinya dengan sekantung beras dan sepucuk amplop, mereka tanpa malu bisa berlari sambil tertawa.

Yang ibu tidak cukup datang sendiri, semua anak yang dia punya dibawa, dari yang besar sampai yang kecil. Anak tetangga, sepupu, atau siapapun yang bisa diajak pasti dibawa serta. Belum lagi bayi yang ikut digendong, jika dikasih satu maka dia akan protes dan menunjuk bayinya, “yang ini dikasih juga dong mas”.

Dan banyak pula yang tanpa malu-malu menjadikan pembagian zakat sebagai ajang perburuan. Selepas dari satu masjid, mereka akan berkerumun lalu berbagi info intel, “eh di masjid sebelah baru dimulai tuh, di masjid sana baru nanti sore”. Lalu mereka bergerombol dan mengulang ritual yang sama. 

Saking terbiasanya meminta, tak jarang pula yang datang langsung ke meja panitia dan melempar sepucuk amplop. “Nih pak KTP saya, sama surat dari RT”. Seakan sudah siap untuk semua persyaratan yang biasa diminta untuk menunjukkan bukti miskin. Andai daftar pengalaman mereka ditaruh sebagai portofolio, orang orang ini mungkin sudah masuk kategori professional. Experienced Beggar.

Saya tak bermaksud menjelek-jelekkan peminta-minta, tapi di lapangan, inilah faktanya. Banyak orang tak mampu yang senang memanfaatkan status miskinnya, dan banyak orang mampu yang dengan senang hati menghinakan dirinya.

Satu lagi; banyak pemuda yang tidak tahu apa apa.

Ini adalah fenomena masyarakat di akar rumput. Tapi sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada, pemuda yang masih mau mengurus distribusi zakat. Padahal menurut saya, inilah pengabdian masyarakat yang paling hakiki, terlibat langsung dalam membantu warga terdekat di sekitar kita.

Mungkin mengurus zakat tidak sementereng bergabung di Indonesia Mengajar. Mungkin membagikan beras tidak seindah kuliah kerja nyata di daerah perbatasan. Mungkin mengetuk pintu fakir miskin tidak semenarik membuat gerakan dengan hashtag di sosial media.

Tak banyak pemuda yang mau mengotori tangan (dan gengsinya).

Mungkin itulah mengapa, di banyak tempat, distribusi zakat masih menggunakan sistem lama dimana mustahiq datang ke masjid. Sistem ini menimbulkan fenomena-fenomena seperti yang sudah saya ceritakan tadi, yang pada akhirnya berkontribusi dalam memupuk budaya mengemis di negeri ini.

Pemuda harusnya ikut turun tangan. Ambil bagian untuk mendistribusikan zakat dengan cara yang benar. Mengubah budaya meminta-minta yang telah mengakar, dan menghilangkan mental pengemis secara perlahan-lahan.

Kita ada di era shared economy; masa dimana mereka yang berbagi akan bertumbuh lebih besar dari mereka yang mau menang sendiri. Masa dimana mereka yang berbagi akan lebih bahagia dari mereka yang memonopoli.

Saya percaya bahwa suburnya mental pengemis harus diimbangi dengan mental berbagi yang benar. Bukan berbagi karena ada yang meminta, tapi berbagi karena kita sadar ada hak orang lain di sebagian harta kita. Bahwa berbagi bukan membuat kita melarat, ia justru membuat kita bertumbuh pesat. 

Saya percaya bahwa konsep zakat sebenarnya adalah konsep sempurna untuk menciptakan keseimbangan dunia. Zakat fitrah ada untuk memastikan tidak ada orang yang terpaksa melanjutkan berpuasa di hari raya. Dan zakat mal ada untuk memastikan bahwa yang mampu menyisihkan sedikit saja, hanya 2,5% setiap tahunnya, untuk mereka yang tidak. Do a simple math, dan Anda akan temukan bahwa setiap orang di dunia akan mampu hidup berkecukupan karenanya.

Ada masa ketika khilafah Islam membuat satu benua hidup sejahtera. Hingga khalifah Umar bin Abdul Aziz kesulitan menemukan tujuan zakat karena semua orang berkecukupan.

Kita sedang menuju ke sana, meski jalannya masih panjang. Butuh kesadaran, butuh kepedulian, dan butuh keyakinan.

Untuk menciptakan dunia tanpa manusia yang hanya mau memikirkan diri sendiri. Untuk menciptakan masa dimana semua orang mau berbagi.