Cerita Tentang Cerita

Brand is about storytelling

Saya selalu tertarik akan sebuah cerita. Sebenarnya bukan hanya saya, anda, dia; kita semua, menyukai cerita. Sesering apapun kita mendengar cerita yang sama, kita selalu tertarik akan konflik yang dibawakan sebuah cerita.

Berapa kali anda mendengar cerita tentang jatuh cinta? Ribuan, bahkan jutaan kali kita mendengar. Dari ribuan tahun lalu hingga sekarang, cerita cinta hanya begitu begitu saja, bukan? Tapi tak pernah sedikit pun kita bosan. Tak pernah sedikit pun kita protes mendengar deretan cerita tentang pria yang jatuh hati pada seorang wanita, tentang wanita yang mengalami romantisme dalam belaian cinta. Padahal cerita cinta memang hanya itu itu saja dari dahulu, tak ada bedanya. Yang beda hanya pelakunya saja, tapi kita tetap suka dengan cerita cinta.

Berapa kali anda mendengar cerita tentang kesedihan dan sakit hati? Ribuan, bahkan jutaan kali kita mendengar. Dari ribuan tahun lalu hingga sekarang, cerita sedih dan sakit hati hanya begitu begitu saja, bukan? Tapi tak pernah sedikit pun kita bosan. Tak pernah sedikitpun kita protes mendengar deretan cerita tentang pria yang dicampakkan wanita, tentang ibu yang ditinggalkan anaknya, tentang pemuda yang dikhianati temannya, tentang rakyat yang ditindas pemimpinnya. Padahal cerita sedih dan sakit hati hanya itu itu saja dari dahulu, tak ada bedanya. Yang beda hanya pelakunya saja, tapi kita tetap suka dengan cerita sedih dan sakit hati.

Cerita cinta seperti Romeo dan Juliet, Shrek dan Putri Viona, Si Doel dan Sarah, hingga Rangga dan Cinta selalu mengisahkan hal yang sama. Tentang perjuangan sebuah cinta, tentang kegigihan melawan perbedaan, tentang ketulusan menuju kebersamaan.

Cerita sedih dan sakit hati seperti Malin Kundang dan ibunya, hingga Banten dan Ratu Atutnya selalu mengisahkan hal yang sama. Tentang mereka yang hidup dengan keserakahan, tentang mereka yang berteriak memekikkan perjuangan, tentang pengorbanan menuju kebenaran.

Semua cerita yang kita pernah dengar sudah pernah diceritakan sebelumnya.
Every story come from another story.
Setiap cerita berasal dari cerita sebelumnya.

Maka menciptakan sebuah citra adalah pekerjaan sulit, karena kita diharuskan membuat sebuah cerita. Cerita yang dapat dibanggakan sebagai sebuah “cerita orisinal”, tetapi harus merupakan cerita yang berasal dari cerita sebelumnya agar orang tetap memahami kisah yang ingin kita ceritakan.

Karenanya, saya selalu tertarik untuk menciptakan citra. Menyusun citra dengan cerita.

Cerita akan selalu berulang.
What has been will be again, what has been done will be done again
There is nothing new under the sun.

Sepulang memotong rambut di tempat pangkas rambut langganan, saya iseng membuka laptop dan mulai mencoret-coret desain branding. Saya merasa para maestro pemangkas rambut asal Garut favorit saya layak mendapatkan sentuhan branding ala anak muda zaman sekarang.

Jadilah 3ROOT.

3ROOT (dibaca ti-ga-rut) berasal dari bahasa sunda “Ti Garut” yang berarti “Dari Garut”. Tulisan Ti Garut sering kita temukan di cermin berbagai barbershop alias tempat pangkas rambut di kawasan Jabodetabek.

Branding ti-ga-rut telah menjadi identitas legendaris yang menunjukkan pelayanan prima dan keahlian memotong rambut nomor satu di Indonesia. Para maestro rambut asal Garut selalu menjadikan pekerjaannya sebagai seni yang telah melegenda. Itulah mengapa saya menyebutnya The Legendary 3ROOT.

Dengan proyek branding ini, saya ingin memberikan kembali sentuhan seni tersebut pada salah satu barbershop yang dikelola mamang-mamang asal Garut.

Salam kreatif!

Project ini juga ditampilkan di Branding Project Kreavi