30+ Buku Rekomendasi 2017 Dari Twitter & Instagram Stories

Dua hari yang lalu saya menulis daftar 10 buku terbaik yang saya baca di tahun 2017. Saya membagikan daftar ini di twitter dan instagram stories, dan menanyakan buku seru yang dibaca teman-teman selama 2017.

image

Ternyata banyak banget yang reply dan kasih rekomendasi buku terbaik 2017 versi masing-masing.

image
image
image

Karena banyak banget rekomendasi buku seru yang masuk, saya memutuskan untuk merangkum semuanya dan membagikan daftar rekomendasi ini supaya lebih banyak orang bisa baca buku keren di tahun 2018.

image

Berikut daftar rekomendasi buku beserta penulisnya yang bisa jadi target bacaan di tahun 2018:

  1. Hilbilly Elegy – J.D. Vance
  2. Present Shock: When Everything Happens Now – Douglas Rushkof
  3. The Alchemist – Paulo Coelho
  4. Option B: Facing Adversity, Building Resilience and Finding Joy – Sheryl Sandberg
  5. Grit – Angela Duckworth
  6. Design Your Life – Bill Burnet
  7. Mindset – Carol S Dweck
  8. Hooked – Nir Eyal
  9. The Subtle Art of Not Giving A Fuck – Mark Manson
  10. Unboss – Lars Kolind
  11. The Art of War – Sun Tzu
  12. The Panama Papers – Bastian Obermayor
  13. The Four: The Hidden DNA of Amazon, Apple, Facebook, and Google – Scott Galloway
  14. An Astronaut’s Guide to Life on Earth – Chris Hadfield
  15. The Fall of Ottomans – Eugene L. Rogan
  16. The Book of Joy – Desmond Tutu & Tenzin Gyatso
  17. Prophetic Parneting – Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid
  18. The One Thing – Gary Keller
  19. What If?: Serious Scientific Answers to Absurd Hypothetical Questions – Randall Munroe
  20. Faces and Places: A Traveler’s Note – Desy Anwar
  21. Misbehaving: The Making of Behavioral Economics – Richard Thaler
  22. The Minto Pyramid Principle
  23. Origin – Dan Brown
  24. Find Your Why – Simon Sinek
  25. Manuscript Found in Accra – Paulo Coelho
  26. The Curios Incident of A Dog In Midnite – Simon Stephens
  27. Kolam – Sapardi Djoko Damono
  28. Pingkan Melipat Jarak – Sapardi Djoko Damono
  29. Sisi Gelap Cinta – Mira W.
  30. 7 Habits of Highly Effective Teens – Sean Covey
  31. The Namesake – Jhumpa Lahiri
  32. Gen M: Young Muslim Changing the World – Shelina Janmohammed
  33. 21 Kualitas Kepemimpinan Sejati – John C Maxwell.
  34. Sapiens – Yuval Noah Harari

Berbagi daftar buku favorit jadi cara yang menyenangkan dan seru untuk menutup akhir tahun. Saya akan menjadikan ini habit yang akan saya jalankan setiap tahun.

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah ikut rekomendasi. Semoga daftar ini bisa bermanfaat dan jadi acuan untuk memenuhi 2018 dengan lebih banyak buku.

Salam kreatif!


Follow saya di twitter dan instagram: @iqbalhape

Hay Kak Iqbal. Makasih buat podcast-podcastnya yang menggugah banget buat jadi temen begadang ngerjain proposal. Kak, adakah rekomendasi bacaan buat anak SMA seperti saya yang masih memerlukan banyak penerangan tentang hidup sesudah masa abu-abu ini? Makasih. Ditunggu episode-episode podcastnya yang lain.

Halo @jurnalgee,

Terima kasih sudah mendengarkan Podcast Subjective, semoga jadi teman begadang yang bermanfaat 🙂

Sejujurnya saya bingung jika diminta merekomendasikan buku yang perlu dibaca saat SMA. Alasannya, karena dari pengalaman saya, semua buku yang saya baca memberikan pencerahan yang berbeda-beda. Dan tentu saja, setiap orang akan mendapatkan pencerahan yang juga berbeda-beda meskipun membaca buku yang sama.

Karenanya, saya menyarankan untuk baca buku sebanyak-banyaknya.

Tapi ada 3 buku yang saya baca saat SMA dan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam mengubah sudut pandang saya dalam melihat dunia. Tiga buku ini, saya rekomendasikan untuk dibaca:


1. Radikal Itu Menjual – Joseph Heath & Andrew Potter

image

Buku berjudul asli The Rebel Sell  ini salah satu buku paling berpengaruh yang pernah saya baca. Saya baca buku ini waktu kelas 1 SMA, hasil pinjam dari sahabat saya, @alifindra-dotcom​.

Ide utama buku ini bercerita tentang budaya konsumerisme; menjelaskan bagaimana fenomena anti-mainstream mendorong budaya konsumsi di seluruh dunia. Tapi berbagai studi kasus yang dibahas justru meliputi banyak sekali bahasan dan membentuk pemahaman saya pada banyak isu; ekonomi, sosial politik, psikologi, hingga branding dan industri hiburan.

Membaca buku ini di kelas 1 SMA membentuk mindset yang baik untuk saya memahami bagaimana dunia ini bekerja. Saya jadi paham mengapa Che Guevara selalu jadi ikon perubahan, mengapa Iwan Fals laku sebagai simbol perlawanan, dan mengapa indie artist selalu berhasil menemukan pasarnya.

Semua karena radikal itu menjual.

2. Sang Pemimpi – Andrea Hirata

image

Andrea Hirata adalah salah satu penulis sastra favorit saya sepanjang masa. Keempat buku Tetralogi Laskar Pelangi jadi novel terbaik yang saya punya di lemari, dan masing-masing buku punya karakter kuat yang membuatnya unik sebagai karya sastra.

Jika harus memilih novel mana yang paling berpengaruh, maka saya akan memilih Sang Pemimpi. Sang Pemimpi saya baca semasa SMA, literally sepanjang SMA. Cerita Ikal dan Arai menjadi semacam cerminan yang saya temukan setiap hari semasa sekolah; tentang nakalnya anak SMA, membanggakan orang tua, guru yang menginspirasi, hingga perjuangan mengejar prestasi.

Sang Pemimpi adalah salah satu koleksi buku dengan kondisi terburuk yang saya punya; karena saya benar-benar membacanya ratusan kali. Covernya sudah lepas dan penuh solatip di sana sini, tapi ini salah satu buku terbaik yang saya miliki.

Dulu ada masanya saya sampai bisa menuliskan ulang naskah novelnya. Dan semua spirit positif tentang perjuangan anak muda menemani saya selama masa SMA.

3. Kopi Merah Putih – Indonesia Anonymous

image

Jika ditanya buku seperti apa yang ingin saya tulis, maka buku ini adalah jawabannya.

Kopi Merah Putih awalnya adalah buku yang tidak sengaja saya temukan di toko buku. Saya lupa buku bekas atau buku baru, yang jelas sejak awal melihat covernya, saya tahu buku ini akan jadi bacaan yang sangat menarik.

Kopi Merah Putih membahas berbagai isu nasional seperti pemilu, korupsi, kesehatan, dan pendidikan dengan cara penyampaian yang sangat ringan. Rasanya benar-benar seperti ngopi bareng dengan penulisnya sambil beropini sok pintar ala obrolan warung kopi.

Sejak lama, saya sangat ingin mendiskusikan berbagai hal berat dengan cara yang ringan, dan buku ini menunjukkan caranya.

Dan satu hal yang juga baru saya sadari sekarang, buku ini juga jadi salah satu acuan saya dalam menciptakan Podcast Subjective.


Itu dia 3 buku yang saya baca semasa SMA. Semoga bisa jadi rekomendasi buku yang memberikan pencerahan dan pemahaman yang baik.

Salam kreatif!

Berputar Di Sana. Selamanya.

Dua bulan ke belakang saya sedang kehilangan ritme membaca.

Hubungan saya dengan buku-buku semakin berjarak. Saya jadi sulit membuat waktu khusus untuk membaca. Meskipun sengaja saya luangkan waktu untuk beli beberapa buku menarik di Gramedia, buku-buku itu akhirnya hanya bertumpukan di atas meja kerja. Membawa buku-buku itu di tas juga seringkali ga ada gunanya, karena toh saya commute ke sana kemari dengan kendaraan pribadi dan semakin jarang naik transportasi massal.

Beberapa hari lalu juga saya sempatkan waktu untuk beli buku online, hal yang jarang saya lakukan mengingat membeli buku adalah hal yang lumayan sakral buat saya. Sering banget di toko buku, setelah memastikan tidak ada orang yang melihat, saya menghirup kertas buku – semacam orang ngobat – sebelum saya pergi ke kasir. Pernah satu kali kepergok embak-embak Gramedia, tapi dia ga bereaksi apa-apa. Mungkin sudah biasa ketemu orang serupa.

Bagi saya, membaca sepenting itu karena saya percaya betul apa kata Jac Vanek: “You are what you read”.

Kita memantulkan kembali apa yang kita serap. Dan bukan hanya bacaan, tapi juga film yang kita tonton, musik yang kita dengarkan, obrolan yang kita perbincangkan, dan pengalaman yang kita rasakan.

Saya jadi ingat waktu kelas 1 SMP di pesantren, sahabat saya @lengkocity pernah membawa buku tebal tentang Ibrahim yang dikaji dari tiga sudut pandang agama: Islam, Kristen, dan Yahudi. Saya yang super antusias langsung mengantri untuk baca, dan besoknya langsung kecewa karena bukunya langsung disita. Kami yang sedang gandrung bacaan berbobot dikecewakan dan langsung meradang. “Ini namanya pembatasan pengetahuan! Pengekangan wawasan!”. Tentu semua itu kami teriakkan dalam hati. Kami kesal karena pasti buku itu dianggap sesat dan dibakar.

Bertahun-tahun kemudian saat kami SMA, @lengkocity dipanggil kembali dan kaget karena ternyata buku itu masih ada, tetap dalam kondisi rapi, dan dikembalikan saat itu juga. “Dulu buku ini disita karena kamu belum punya pengetahuan apa-apa, dan buku ini bisa jadi berbahaya”, kata guru saya waktu mengembalikan. “Sekarang, kamu sudah siap untuk baca”.

Kami kemudian baru tersadar kepolosan kami yang mencak-mencak bicara soal kemerdekaan pengetahuan, padahal waktu itu kami masih ingusan. Kami belajar bahwa buku bukan hanya sekadar bacaan. Dia adalah hasil ekstraksi dari ide yang hidup dan pemikiran yang bertumbuh.

Dan seperti kata DiCaprio di film Inception, “There is no such thing as simple idea”. Semua ide adalah benih, dan benih bisa tumbuh liar tanpa pernah kita sadar.


Umpama klasik mengatakan buku sebagai jendela dunia; tapi bagi saya buku lebih dari itu. Buku adalah kumpulan ide, dan ide bekerja seperti virus. Sekali hinggap di tubuh makhluk hidup, virus bisa mereplikasi dirinya sendiri tanpa bisa kita awasi.

Memahami karakter ide dan bagaimana otak kita meresponnya harusnya menjadi kesadaran awal kita untuk menentukan buku apa yang ingin kita baca dan ide apa yang ingin kita pelihara.

Karena sekali ide berputar di kepala, dia akan terus berputar di sana.

Selamanya.

Ruang dan Waktu

Saya beruntung jadi orang yang bisa mencintai buku.

Tidak semua orang mau. Dan tidak semua orang bisa.

Sejauh yang bisa saya ingat, buku pertama yang saya baca dengan penuh kesadaran adalah seri mini ensiklopedia tentang dinosaurus, dimana akhirnya saya mengenal T-Rex, Brontosaurus, Stegosaurus, Ankylosaurus, dan masih banyak lagi. Bisa jadi pula, buku ini adalah inception pertama yang membuat saya menjadi penasaran dengan dunia sains, biologi, dan teori evolusi.

Dalam rentang waktu yang tidak lama, saya juga ingat membaca komik manga tentang Golf. Saya lupa judulnya, pokoknya yang saya ingat, sang tokoh utama bisa hole-in-one (memasukkan bola golf ke lubang dengan satu kali pukulan) dengan teknik bungkus bendera. Awesome. Dulu saya percaya teknik bungkus bendera itu nyata, dan saya belajar bahwa di dunia ini tidak ada yang mustahil. Dan sebagai anak kecil, saya sempat terinspirasi dan bercita-cita menjadi pemain golf. Mimpi itu langsung saya urungkan saat melihat di TV, pemain golf dikelilingi wanita cantik dengan rok pendek. Waktu itu ceritanya saya sudah masuk TPA dan saya tahu itu haram hukumnya, lalu saya beralih ingin menjadi dokter. Lucu juga kalo diingat-ingat sekarang, karena akhirnya tidak ada satu pun dari pemain golf atau dokter yang kejadian.

Tiap membereskan buku di rumah, saya selalu mencari dimana buku-buku dinosaurus dan komik golf itu. Dalam dunia membaca, mereka adalah cinta pertama saya. Saya benar-benar ingat rasanya ketika imajinasi saya lebur dalam halaman-halaman. Saya benar-benar bisa merasakan sensasi petualangan yang seringkali tidak masuk akal, keajaiban yang muncul satu per satu hanya dengan membaca deretan kata di atas kertas.

Cinta pertama itu masih hilang sampai sekarang.

Setelah cinta pertama, saya kemudian terobsesi untuk menjalin cinta dengan buku-buku berikutnya. Dalam baca membaca, (setidaknya dulu) saya omnivora. Saya tidak pilih-pilih, dan kebiasaan ini semakin bertumbuh saat saya di pesantren yang tidak punya hiburan selain bacaan. Saya pembaca segala. Ensiklopedia, kamus, novel, kumpulan puisi, fiksi, nonfiksi, selfhelp, kitab fiqh, siroh nabawi, koran, majalah pria, majalah agama, majalah anak-anak, tabloid bola, pokoknya semua saya baca.

Saya juga selalu bersyukur punya orang tua yang mendukung saya membeli buku. Waktu kecil, saya jarang sekali meminta. Tapi jika saya meminta, rasanya tidak pernah ditolak. Waktu SMP, saya sedang menggilai teori konspirasi dan minta dibelikan buku tebal seharga 120.000. Saya ingat sekali judulnya: Knights of Christ, Knights of Templar karya Rizki Ridyasmara. Waktu diminta, saya ingat sekali tatapan ibu saya yang heran kok bisa anaknya baca buku begituan. Tapi akhirnya toh saya tetap dibelikan.

Saya juga ingat buku pertama yang saya beli dengan uang sendiri: Naked Traveler nya Trinity dan La Tahzan nya Dr. Aidh Al Qarni. Saya ingat kejadiannya sepulang Olimpiade Sains Nasional tingkat provinsi, saya mampir di Gramedia Merdeka, Bandung. Saya masih ingat rasa bangga saat membayar dan saya ingat bilang sama kasirnya, “Teh, ini buku pertama saya”. Saya juga ingat muka si teteh kasir yang kalo hidup di zaman sekarang mimik wajahnya seakan berkata, “Trus teteh harus bilang wow gitu?”. Dan saya akan menjawab balik dengan mimik wajah yang berkata, “Iya, teh. Tolong dong bilang wow untuk buku pertama saya”.

Saat selesai kuliah dan akan pindah dari kosan, saya bangga sekali saat membereskan kamar dan mengepak barang. Saya punya tiga kardus besar, dan tiga-tiganya terisi buku. Ada puluhan buku yang saya beli dan koleksi selama kuliah. Dan malam itu, saya membaca dan mengingat buku-buku itu satu per satu. Tiap membalik halaman-halamannya, saya tersenyum senang macam orang pulang dari kawinan.

Saya selalu menikmati romantisme saya dengan buku.
Saya membaca buku di waktu luang, saat menunggu kereta, ketika di pesawat, dan menjelang tidur.

Saya sangat bahagia menjadi orang yang bisa mencintai buku. Meskipun tidak akan ada yang menyangkal kebaikan buku, tidak semua orang ditakdirkan mencintai buku. Dan saya selalu bersyukur Tuhan memilih saya menjadi sebagian dari orang-orang itu.

Saat memikirkan apa arti buku, yang terlintas di benak saya adalah Endurance, kapal luar angkasa yang melakukan perjalanan antar galaksi di film Interstellar.

A spacecraft to travel through space and time.

That’s how I define a book. Sebuah kendaraan untuk terbang melintasi ruang dan waktu.

ka’ sering dapat rekomendasi buku bagus dari mana ya? setelah lihat instagram kk, buku yang dibaca pada bagus-bagus :)

Wah banyak sumber rekomendasinya :D.

Dulu waktu kuliah saya punya teman-teman penggemar buku, diantaranya @clarinetissimmo dan @mitaindrarini. Tiap istirahat, sore setelah kuliah, atau waktu jam kosong kita bakal nongkrong bareng sambil membahas buku-buku yang sedang kita baca. Saya dapat banyak rekomendasi dari mereka dan juga teman-teman yang lain.

Selain itu saya juga suka mencatat judul buku yang disebutkan di konten, bibliografi, atau footnotes dari buku yang saya baca. Misalnya saja, saya membaca buku Purple Cow nya Seth Godin karena dibahas Pandji di buku Menghargai Gratisan.

Di sosial media, saya follow dan subscribe blog brainpickings.org yang mereview berbagai judul buku dari beragam genre.

Karena bekerja di startup (dan teman-teman yang lain memang suka dan butuh baca), di kantor juga banyak buku asik yang bisa dilahap.

image

Dan tentu saja, saya sering pelesiran ke toko buku. Books & Beyond adalah toko buku favorit saya, sayangnya dompet saya sering sakit hati kalo ke sana. Jadi memang lebih sering ke Gramedia, minimal sebulan dua kali sekedar untuk lihat-lihat buku (niatnya sih begitu).

Terima kasih bikin saya jadi jawab panjang, bahas buku emang bikin saya semangat :D. Btw, kalo egakk ada rekomendasi buku, boleh colek saya di Instagram. Dan kalo mau baca rekomendasi dan bahasan ringan tentang buku bisa baca tulisan saya dan teman-teman di Blog Lendabook.

Salam pecinta buku 🙂