Bersyukur dan Berbahagia

Hidup itu kalo bersyukur enak banget rasanya. 

Sumpah. Cobain deh. Kok bahagianya kerasa banget; bawaannya mau senyum terus, kepala rasanya ringan dan jernih, dan bibir tuh ga henti-henti ngucap hamdalah.

Ternyata ya bahagia itu kuncinya cukup bersyukur aja.

Bersyukur karena sudah dikasih kehidupan, dikasih keluarga dan teman, dikasih akal pikiran, dikasih kesempatan. Bersyukur karena sudah dipercaya Tuhan untuk punya apa yang kita punya sekarang. Bersyukur, bersyukur, bersyukur, ternyata bahagianya bisa dalam sampai kerasa di tulang sumsum. 

Call me naive, tapi kalo sulit bahagia, kemungkinan besar karena belum mempraktikan bersyukur. Belum melihat bahwa hidup ini sudah hebat sekali Tuhan kasih dengan segala fitur-fiturnya. Masih terjebak dengan perbandingan-perbandingan sama kehidupan orang lain.

Kata orang tua, jangan pernah kejar dunia, karena dunia itu ga akan ada habisnya. Punya pasangan cantik, masih banyak yang lebih cantik. Punya mobil mewah, masih banyak yang lebih bagus dan mahal. Punya jabatan ini itu, masih banyak yang lebih tinggi lagi di atasnya. Akhirnya mengejar sesuatu yang tidak ada habisnya. 

Tapi kalo kita bersyukur, wah bahagia itu datang sendiri. 

Sadari deh apa yang sudah kita punya sekarang; lalu pahami bahwa semua yang kita punya itu bukan datang tiba-tiba. Itu semua pemberian. Semua dari Tuhan, tapi jalurnya saja yang berbeda-beda. Ada yang melalui orang tua, keluarga, teman, bahkan orang asing yang belum pernah kita temui sebelumnya. 

Jika sudah sadar bahwa semua hanya pemberian, kita akan sampai di titik kesadaran bahwa kita sebenarnya tidak pernah punya apa-apa. 

Jadi apalagi alasan untuk tidak bersyukur dan berbahagia?

Putuskan Saja Kabelnya

Kabel, mungkin adalah salah satu penemuan paling berguna dalam dunia elektronika. Edison mungkin menemukan lampu pijar. Marconi bisa jadi menciptakan radio. Steve Jobs bersama Apple mungkin inovator terhebat yang menyatukan seluruh manifestasinya tentang seni dan teknologi dalam iPad. Tapi tanpa kabel, semua penemuan itu tidak berarti apa-apa.

Kabel sering tidak dianggap sebagai penemuan besar. Mungkin karena fungsinya yang terhitung “biasa saja”. Hanya mentransmisikan sinyal dari satu tempat ke tempat lain. Ah, hal yang sangat biasa dalam elektronika. Tidak seperti lampu pijar yang menerangi dunia ketika malam, tidak seperti radio yang mengawali kreasi media komunikasi jarak jauh dalam sejarah manusia, dan tidak seperti iPad yang menjadi tumpuan jutaan orang bekerja dan berkarya.

Kabel sering tidak dihitung karena dia bukan pemeran utama. Kabel berperan menyambungkan satu komponen dengan komponen lainnya. Jika anda membeli seperangkat komputer, komponen yang anda lihat dan perhatikan adalah PC, monitor, keyboard, mouse, dan catu daya. Tak ada yang benar-benar memperhatikan apakah saya akan mendapatkan kabel atau tidak. Hanya ketika kabel tidak ada, baru anda menyadari dan memperhatikannya. Tapi hanya seketika saja, sebab setelah anda menggunakannya untuk menyambungkan satu komponen dan komponen lainnya, anda tak pernah lagi membahasnya.

Tugas kabel adalah tugas paling penting di seluruh dunia. Koneksi. Menyambungkan yang satu dengan yang lainnya. Tanpa ada kabel yang mengalirkan listrik dari satu tempat ke tempat lain, takkan pernah ada yang bekerja dalam dunia elektronika. Artinya, tak ada listrik untuk dunia.

Jika kita melihat ke sekitar kita, sangat banyak manusia yang bernasib sama seperti kabel. Tengok saja tukang sapu jalanan, buruh di perusahaan komputer, hingga pengangkut barang di pelabuhan. Mereka sering tak dihargai tanpa pernah memperhatikan substansi fungsinya. Sering tak dianggap hanya karena bukan pemain utama. Orang-orang yang dalam struktur adalah cadangan; para pemain kedua, ketiga, dan seterusnya.

Dalam sebuah lembaga dan sistem yang besar, mereka adalah kaum rendahan. Jika struktur organisasi digambarkan sebagai piramida, mereka berada di lapisan paling bawah; jumlahnya paling banyak, tapi memiliki pekerjaan terkasar karena berfungsi menahan beban pekerjaan orang-orang yang ada di atasnya, dan lebih ironisnya lagi, merupakan kaum paling lemah. Kekuatan terbesar berada di puncak, dan jika ada yang mendapat penghargaan, maka hadiah dan apresiasi itu milik mereka. Mereka yang ada di puncak adalah lampu, ibarat radio, dan seperti iPad yang terkenal dan diapresiasi orang. Semua popularitas dan penghargaan itu tak pernah jatuh ke bawah, tempat mereka si kaum kabel memberikan seluruh daya dan kekuatan untuk menjaga keseimbangan yang ada.

Kaum “kabel” sering tak dianggap. Tapi penguasa dan orang-orang yang berada di puncak seharusnya sadar satu hal tentang kabel; sekali saja mereka benar-benar merasa tidak dihargai, mudah saja. Putuskan saja kabelnya. Maka takkan ada sistem yang berjalan. Takkan ada lampu yang menyala. Takkan ada radio yang bersuara. Takkan ada iPad yang bisa bekerja.