Mau Tidur Lagi

Selepas sholat subuh hari ini, saya tidak sedang ingin tidur lagi.

Biasanya, tidur lagi adalah ritual harian yang jarang sekali saya tinggalkan. Meski sudah sering mendengar bahwa tidur setelah subuh itu dilarang, atau setidaknya tidak baik untuk dilakukan, godaan untuk kembali ke kasur dan memeluk guling terlalu besar untuk diabaikan. Meski sering menyesal karena berniat tidur 15 menit tapi jadinya malah tertidur 15×4 menit, tidur lagi setelah subuh adalah kemewahan dunia yang mungkin memang diciptakan setan untuk menjebak manusia.

Tapi subuh ini, tidak. Saya tidak sedang ingin tidur lagi.

Lanjutkan membaca Mau Tidur Lagi

Jadi, Bagaimana Dia Menggantung Dirinya?

Teman saya punya dosen di LIPIA, sepupunya Syaikh Sudais sang imam Masjidil Haram. Katanya marga si dosen adalah marga yang memiliki bank pertama di Saudi Arabia, yang artinya si dosen ini orang kaya dan banyak uangnya. Jika Anda belum pernah berinteraksi langsung dengan para masyaikh dari Arab sana, mungkin Anda akan kaget betapa banyaknya uang yang mereka punya, dan karenanya, betapa murah hatinya mereka “menghambur-hamburkan” uang mereka.

Suatu hari di kelas yang cukup membosankan dan membuat ngantuk para mahasiswa, sang dosen tiba-tiba mengeluarkan uang 1 juta (baca: 1.000.000) dari kantongnya dan menaruh di meja. “Saya akan bercerita dan nanti akan bertanya. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan saya silahkan ambil uangnya”. Semua mahasiswa pun serentak bangun dan terbelalak matanya, siap mendengarkan cerita demi uang satu juta.

Si dosen bilang cerita yang akan dikisahkannya nyata terjadi di Saudi Arabia.

“Alkisah terdapat sepasang suami istri. Rumah tangganya tak begitu baik, jika tidak mau dibilang buruk. Sang suami jarang pulang ke rumah, sekalinya pulang ke rumah kerjaannya hanya marah-marah kepada sang istri. Tak hanya itu, sang istri juga menjadi korban kekerasan; sering dipukuli atau disiksa hingga terluka.

Kejadian seperti itu tidak berjalan selama satu dua minggu, tapi berjalan berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun.

Hingga sampai suatu hari sang suami pulang ke rumah seperti biasa. Masuk ke dalam rumah, sang suami segera mencari istrinya. Dia memanggil kesana kemari di rumahnya yang besar tetapi  tidak ada jawaban. Dia mengecek ruangan di rumah satu per satu tapi tetap tak menemukan istrinya.

Sang suami kebingungan dan hendak marah. Hingga dia tersadar ada satu ruangan yang belum diperiksanya. Gudang. Maka pergilah ia ke gudang tersebut.

Sesampainya disana gudang tersebut terkunci dari dalam. Sang suami marah bukan main. Didobraknya sekuat tenaga pintu gudang tersebut. Tetap tidak terbuka. Sang suami tambah marah dan semakin kuat mendobrak pintu gudang. Setelah suara retakan kayu pintu yang sangat keras akhirnya pintu terbuka.

Sang suami melihat ke dalam gudang dan terbelalak.

Sang istri gantung diri dan sudah tidak bernyawa.

Si suami memeriksa istrinya yang tergantung di tengah ruangan gudang yang sangat besar. Namun ada satu hal yang membingungkannya. Dia melihat sekeliling dan bergidik ngeri.

Tak ada apapun di gudang itu. Gudang itu kosong melompong.

Tak ada kursi.

Tak ada meja.

Tak ada lemari.

Tak ada apapun.

Tak ada satu benda pun yang bisa digunakan si istri untuk berdiri dan menggantungkan dirinya di tengah ruangan tersebut.

Fakta mengerikan itu membuat dirinya frustasi. Istrinya gantung diri, tapi tak ada satu penjelasan logis pun yang bisa membuatnya mengerti, bagaimana sang istri bisa gantung diri?

Akhirnya si suami melapor ke polisi mengenai kejadian tersebut. Polisi datang ke tempat kejadian dan mendapati kebingungan yang sama; tidak ada tanda-tandan kekerasan dari orang lain. Dan jika pintu gudang terkunci dari dalam dan sang istri bunuh diri, dengan apakah dia berdiri dan menggantungkan dirinya?

Tak ada jawaban.

Polisi tidak enemukan jawaban, tapi akhirnya memutuskan bahwa si suami adalah pelaku pembunuhan, apalagi mengingat bahwa si istri terbiasa menjadi korban kekerasan dari suaminya. Dia dihukum 32 tahun penjara”

Sang dosen terdiam sebentar, menatap mahasiswanya, lalu bertanya.

“Jadi, bagaimana si wanita menggantung dirinya?”

Semua terdiam. Kisah yang mengerikan. Korban kekerasan rumah tangga yang gantung diri tanpa menggunakan alat apapun sebagai pijakan? Menakutkan. Semua terdiam dan merenung ngeri dengan premis awal cerita bahwa ini kisah nyata.

Hingga tiba akhir kuliah, sang dosen menggeleng dan uang satu juta tersebut kembali masuk ke dalam sakunya. Tak ada yang bisa menjawab. Harapan untuk mendapat satu juta telah terkubur oleh kengerian cerita.

Sang dosen tersenyum. Hingga akhirnya, semua terdiam menunggu jawaban.

“Jawabannya mudah saja”.

.

.

.

.

.

.

“Balok Es”.

Setoples Kaca

Mengutip Andrea Hirata, di balik dunia yang hiruk pikuk dengan kesibukan, di belakang ingar bingar kota yang memusingkan, ada dunia yang terdiam dan tenang. Dunia yang tanpa huru-hara dan tak pernah tergesa-gesa. Di dunia ini, waktu tersimpan dalam setoples kaca.

Sore tadi saat berjalan pulang ke rumah, saya bertemu seseorang yang hidup di dalam setoples kaca.

“Iqbal ya?”

Saya menoleh. Samar, tapi sepertinya ada yang memanggil saya.

“Siapa namanya, Iqbal kan?" 

Seorang pria paruh baya dengan topi hijau kusam bertuliskan Top Gun, kaos bergaris biru hitam, celana bahan, dan sandal jepit merah. Senyum ramahnya terasa sangat familiar, sangat hangat. Saya terperanjat. Saya kenal betul orang ini. Rasanya dia seperti datang menemui saya dari masa lalu.

"Bang Tohir! Iqbal bang, iya, nama saya Iqbal”, seru saya dengan semangat karena masih kaget.

Bang Tohir tersenyum senang. “tuh kan bener, abang masih inget”

Senyum saya pun ikut mengembang. Bang tohir adalah penjual kue ape, kue berbentuk ufo yang dimasak di atas tungku kerucut seperti kue serabi. Anak2 biasanya menyebutnya  kue tetek, ya karena memang bentuknya seperti itu sih. Warnanya hijau karena pandan, pinggirannya renyah, dan bagian tengahnya lembut. Jajanan favorit saya waktu TK.

Ya benar, saya mengenal Bang Tohir saat TK. Tujuh belas tahun yang lalu, saat saya berumur lima tahun. Saat saya masih seorang bocah, yang pergi sekolah dengan topi dan seragam, dengan tas kebesaran berisi buku tulis serta botol minum yang dikalungkan. Saya biasanya diberi uang jajan 500 perak, yang hampir pasti selalu saya belikan kue ape. Tak heran Bang Tohir kenal betul dengan saya, bahkan setelah saya masuk SD saya masih sering mengunjungi “tempat mangkal” dia di dekat TK saya. 

“Wah udah gede ya kamu. Sekarang udah apa bal? Kuliah? Atau kerja?”, Bang Tohir bertanya dengan muka penuh rasa ingin tahu. Tentu saja dia penasaran. Sahabat kecilnya ini memang tak pernah kelihatan. Sejak kelas tiga SD, saya sudah tak pernah bertemu Bang Tohir lagi. Daerah bermain saya semakin luas, teman saya semakin banyak, dan aktivitas serta hal menarik yang saya lakukan semakin beragam. Saya semakin jarang, bahkan sebenarnya tidak pernah, bertemu lagi dengan Bang Tohir.

“Masih kuliah, bang”, jawab saya sambil tersenyum. “Di UI, jurusan biologi”. 

“Wih hebat ya kamu kuliahnya di UI, jurusannya mantep lagi tuh, apa tadi namanya? Bang Tohir aja kaga ngerti dah apaan tadi namanya”, candanya sambil tertawa dan menepuk pundak saya. Saya ikut tertawa.

Hubungan saya dengan Bang Tohir pada dasarnya adalah hubungan mutualisme oportunistik: saya adalah pembeli dan dia adalah penjual. Kami menjalin hubungan karena saling membutuhkan dan menguntungkan. Tapi lama kelamaan secara tidak sadar kami menjadi teman.

Saya berdiri di sampingnya. Sambil mengobrol, saya mengamatinya.

Bang Tohir tidak berubah sama sekali. Topi hijau kusam bertuliskan Top Gun, kaos bergaris biru hitam, celana bahan, dan sandal jepit merah itu adalah pakaiannya sejak dulu saya menjadi langganannya saat TK. Kumisnya yang selalu dijaga rapi, gelas adonannya yang berjajar di atas tungku api, hingga gerobak hijaunya yang setelah tujuh belas tahun, hingga sekarang, masih saja condong ke kiri.

Hidup saya rasanya berubah begitu banyak. Saya tumbuh besar, menjadi dewasa, lulus sekolah lalu kuliah. Dunia begitu banyak berubah, tanah merah berubah menjadi jalanan, taman berubah menjadi bangunan. Bekasi yang dulu sepi semakin ramai oleh orang yang berdatangan. Semua berubah, rasanya semua berubah, kecuali Bang Tohir.

Begitu sederhana hidup Bang Tohir, seorang pedagang kue Ape. Seseorang yang pekerjaannya tidak ada dalam daftar cita-cita anak TK, tidak masuk dalam kategori apapun di kolom pekerjaan KTP. Saya membayangkan tujuh belas tahun – bahkan lebih – dia berdagang kue ape untuk bertahan hidup. Pasti tidak banyak orang yang dia temui, kejadian yang dia lalui pun itu itu saja. Tau tau, tanpa sadar, sekian puluh tahun sudah berlalu dan saya tidak melihat perubahan apapun dalam hidupnya.

Tentu saja begitu banyak yang terjadi dalam hidupnya. Dan tentu saja saya melihat hanya dari luarnya saja. Tapi bayangkan bekerja sebagai penjual kue ape yang berkeliling dari satu TK ke TK lainnya, selama tujuh belas tahun, dan masih memakai baju yang sama. Sungguh hidupnya begitu sederhana.

Tak berasa saya sudah menghabiskan lima kue ape. Sore yang mengesankan saya habiskan bersama Bang Tohir, seseorang yang datang dari masa lalu saya. Hadir di masa kini bersama saya, tak berubah sedikitpun, masih sama seperti dulu kala.

“Jadi kamu bentar lagi udah sarjana dong, bal?”

“Iya bang”, saya berdeham. “Bentar lagi saya jadi sarjana”

Bang Tohir menatap saya, begitu lekat. Sambil tersenyum, dia menyodorkan tangannya. Saya menjabat tangannya, erat. Saya menatap wajahnya, jauh ke dalam bola matanya, saya sekuat tenaga mencoba mencari apapun yang bisa saya temukan disana.

Saya tidak menemukan apa-apa.

Saya tidak menemukan apa-apa selain kejujuran dan kesederhanaan.

“Mudah-mudahan kamu jadi orang sukses, bal”

Saya tersenyum haru. Saya tak ingin menangis, tapi apa yang saya temukan di dalam bola matanya telah meluluhkan hati saya. Dalam hidupnya yang tak pernah berubah, kesederhanaan telah menjadi bagian dirinya, yang rasanya sangat jauh meninggalkan hidup saya. Dalam hidupnya yang begitu begitu saja, kejujuran adalah pakaian yang dia pakai setiap harinya, yang bagi saya mungkin masih seperti jam tangan bagi orang kaya yang bisa dipakai maupun dibuang kapan saja.

Sore ini, saya belajar dari Bang Tohir. Seseorang yang hidupnya begitu-begitu saja, tapi punya hal yang mungkin sering kita lupa.

Seseorang yang hidup dalam setoples kaca.

Mak!

Mak,

Lapar!

Kenapa kita tidak bisa makan enak seperti orang di rumah berdinding  kaca?

Lapar menyiksa. Haus mendera. Tiap hari kita harus puasa. Padahal kita kan kelaperan. Kapan kita bisa makan enak, Mak? Nasi yang putih, lauk yang lengkap, sayur yang lezat, buah yang segar, air yang sehat. Tak pernah Ipul rasa. Nasi bekas, tanpa lauk, daun mentah, air keran yang kotor. Itu keseharian kita. Kalau dulu Ipul pasti sakit perut habis makan. Tapi sekarang aku sudah kuat, Mak. Aku sudah biasa. Lagi dapat uang banyak, Ipul bisa beli roti di warung Bang Samin. Lebih enak dari nasi mulung. Walau tak seenak makanan orang di rumah itu. Sisanya saja masih enak. Ipul sering mungut sisa mereka yang dibuang, sekalian mulung. Males ngamen mulu.

Mak,

Dingin!

Kenapa kita tidak bisa tidur di atas permadani busa?

Kadang tidur di trotoar, kadang tidur di teras toko engkoh,  tukang betulin Tipi itu tuh. Ipul tak tahan, Mak. Baju putihku yang lusuh dan kotor ini amat tipis. Hanya ini bajuku. Angin malam yang dingin menerpa tubuh. Serasa menembus dada. Serasa meremas jantung. Serasa menusuk tulang. Serasa darah membeku. Mungkin orang lebih suka malam. Bisa tidur nyenyak dininabobokan kipas dan AC. Dalam ruangan yang hangat. Tapi bagi Ipul siang harilah hidup. Biar matahari terik menyiksa  Ipul lebih suka siang. Untung kemaren Ipul nemu kain panjang ini. Lumayan buat selimut. Emak juga sering mengigil kedinginan waktu malam. Ya kan, Mak?

Mak,

Panas!

Kenapa kita tidak bisa berteduh di bawah atap istana.?

Apa yang kita jadikan tempat berteduh? Hanya pohon ceri itu. Yang buahnya tak pernah matang. Yang daunnya rimbun hanya pada satu sisi. Karena daun-daunnya sering Ipul ambil. Enak sebagai pengisi mulut. Juga biar tetep bisa nyanyi. Ipul kan harus ngamen. Apa yang kita punya, Mak? Orang bilang kita ini gelandangan. Rumah tak punya. Punya sih….. Beratap langit, beralas bumi. Tanpa apapun. Kaki menapak tanah yang kasar, tangan menggapai langit. Andai kita bisa. Malah langit yang menggapai kita. Dengan sinar mataharinya yang menyengat. Dengan air hujannya yang tercurah deras, membasahi tubuh. Membuat hati kita basah. Membuat resah.

Mak,

Capek!

Kenapa kita tidak bisa naik mobil kemana suka?

Lelah sudah Ipul menjalani hidup. Menapaki ruas-ruasnya. Menjejali setiap jengkalnya. Hidup yang penuh derita. Hidup yang penuh luka. Hidup yang penuh duka. Hati Ipul pilu mengingatnya. Saat ada anak seumuran Ipul membawa mobil-mobilan yang bagus, baru dibelikan ibunya di mol. Dan anak itu memainkan mobilnya di depan Ipul. Ipul hanya menatapnya iri sambil tersenyum simpul. Ipul minta Emak belikan juga. Tapi Emak hanya diam sambil menatap Ipul dengan tatapan kosong. Ipul merengek, tapi Emak tetap diam. Hatiku sakit, Mak. Tapi sekarang aku tahu hati Emak jauh lebih sakit. Dan sekarang Ipul mencoba hidup sendiri. Mencoba tegak berdiri. Tanpa sanggahan. Tanpa topangan. Tetap tegar walau angin kencang menerpa. Tetap bertahan walau ombak menghempaskan energinya. Sepreti pohon yang akarnya menghunjam bumi. Seperti karang yang terus memecah ombak. Mencoba bertahan di tengah kemelut hidup yang kejam. Mencari sesuap nasi dan seteguk air untuk bertahan hidup. Sejak itu, Ipul mengamen di lampu merah. Di jalan-jalan. Di angkutan-angkutan umum. Mengeluarkan suaraku yang serak ini.  Ipul tidak mengharap orang-orang menghiba karena suara Ipul. Tapi Ipul harap orang mengerti makna dibalik lagu Ipul. Yang bermakna hidup ini harus diperjuangkan. Inilah hidup kita. Ya kan, mak?

Mak,

Ipul telah letih mencari. Dan kembali di sini. Menanti asa yang terus berlari. Menerjang kesunyian hati. Menepis kesepian diri. Membelenggu rindu yang suci.

Mak,

Malam ini hening. Kelam. Gelap tak bersuara. Sunyi senyap tak bernapas. Sepi menari. Menertawakan kosongnya hati ini. Semua terlelap mengejar mimpi. Meneruskan hidup yang masih berarti. Sepi…Sepi…Malam ini begitu sepi. Ya kan, mak?

Mak,

Jawablah!

Kenapa sudah tiga hari emak tidak bangun-bangun juga?  

Cerpen ini saya temukan di arsip sekolah. Dari tanggalnya, cerpen ini saya tulis di kelas 1 SMP. Saya sendiri tidak begitu ingat pernah menulis cerita ini. Tapi saat membacanya kembali saya baru ingat bahwa cerpen ini menjadi Juara I dalam kompetisi Perang Pena, kompetisi menulis pertama yang saya ikuti 🙂

Saya Benci Pengemis Setengah Mati

Saya benci pengemis. Saya benci pengemis setengah mati.

Saya membenci pengemis. Saya bukan orang sombong yang membenci orang-orang kecil. Saya juga bukan orang kaya, saya biasa-biasa saja. Biar saya jelaskan mengapa saya benci pengemis setengah mati.

Pertama, saya akan membela diri bahwa saya bukanlah orang sombong. Dalam Islam, sombong itu ada dua jenis: bathorul haq atau menolak kebenaran dan ghomtun nas yang artinya merendahkan orang lain. Dari definisi pertama, saya adalah orang yang memegang prinsip kebenaran. Banyak dari pengemis yang dari wajah dan badannya saja dapat Anda lihat, masih muda dan sehat. Lalu mereka mengemis, tak bekerja, hanya menadahkan tangan, dan bisa dapat uang? Cuih.

Saya ini pemegang kebenaran, pejuang kejujuran. Andaipun pekerjaan saya hanyalah berjualan gorengan yang untungnya 100 ribu rupiah per hari, itu lebih baik bagi saya daripada berbohong untuk mendapatkan uang. Pengemis yang tua? Saya pernah mengikuti mereka-mereka ini yang terlihat tua, meminta dengan membungkuk, dan mengemis dengan bilang “kasihan pak, belum makan”. Ternyata mereka-mereka ini juga masih sehat, jalan masih tegap, rumahnya pun ternyata bagus dan pakaiannya sengaja dibuat lusuh. Takkan pernah saya berikan uang untuk mereka yang berbohong untuk bekerja. Maaf, saya ralat, bahkan mereka tidak bekerja.

Lalu kedua, saya bukan orang kaya. Saya punya istri dan satu anak, dan saya menghidupi mereka dari pekerjaan saya sebagai montir di pabrik motor. Alhamdulillah, saya masih bisa menafkahi keluarga dengan makanan bergizi setiap hari. Bekerja selama tiga tahun, saya pun sudah bisa membeli rumah sederhana yang membuat kami bahagia. Uang yang saya kumpulkan dari keringat bekerja diatur betul oleh istri saya; untuk makan, untuk pengeluaran bulanan, untuk anak sekolah, dan baru kalau ada sisanya bisa untuk keperluan lain seperti hiburan.

Uang sekecil apapun kami perhitungkan betul sebelum dikeluarkan. Lalu dengan uang hasil saya bekerja setiap hari,  tiba-tiba ada pengemis yang tak bekerja, tak melakukan apa-apa, meminta saya mengeluarkan uang saya, lalu pergi begitu saja. Membayangkannya saja saya malas minta ampun.

Kebencian saya terhadap pengemis ini juga bukan saya buat-buat. Saya orang yang menerapkan prinsip “memahami sebelum membenci” kepada diri saya sendiri. Walaupun saya tidak suka sesuatu, saya tidak akan membencinya kecuali saya sudah memahaminya betul-betul. Dalam kasus pengemis, saya sudah terlalu banyak pengalaman yang bikin saya sakit hati dengan pengemis.

Topik mengenai pengemis ini sering sekali saya diskusikan bersama sahabat saya waktu SMA, Adi namanya. Kami berdua adalah sahabat yang lekat, dan karena kami hidup di asrama, sebelum tidur, kami sangat sering berdiskusi tentang apapun. Mulai dari tugas yang berat, makanan yang tidak enak, guru-guru yang menyebalkan, hingga isu-isu lokal maupun nasional seperti pengemis yang ada di jalan-jalan.

Suatu hari sebelum tidur, Adi yang baru pulang berteriak kepada saya berapi-api. Saya yang sudah di kasur dan mau tidur tiba-tiba menjadi tidak ngantuk. Sahabat saya ini sedang marah, rasanya saya pun jadi ikut marah.

“Pengemis itu tolol ya. Mereka itu bukan miskin harta, tapi miskin mental!”

Adi sedang kesal betul rupanya. Dia bercerita tadi dia baru pulang dari tempat makan pecel ayam di depan. Lagi asik makan, tiba-tiba datang pengemis. Seorang ibu-ibu yang jalannya bungkuk. Bajunya lusuh, mukanya kumal, dan dia berjalan sambil menggendong kantong dari kain yang sepertinya berat luar biasa. Dia menadahkan tangan sambil bersuara parau, “kasihan mas, belum makan dari siang …”.

“Gue kan jadi kasihan, tapi duit gue pas-pasan. Yaudah gue cari-cari duit di tas, nemu dua ratus perak. Ya gue kasih”.

Si ibu menerima uang di tangannya, lalu tiba-tiba raut mukanya berubah menjadi kaget. Dilihatnya dua ratus perak itu dan wajah si Adi bergantian.

“Eh dia jadi marah! Tuh duit dua ratus dibanting di meja gue sambil bilang, ‘ga salah mas dua ratus perak?! Trus dia ngeloyor pergi, bangsat ga tuh!”

Si Adi ini memang bicaranya rada kasar. Dia anak Betawi asli, tumbuh dan besar di daerah Slipi, persis di tengah-tengah komunitas betawi. Jadi dengan bicaranya yang ceplas-ceplos dan pilhan katanya yang kasar, saya sih maklum saja. Saya yang mendengarkan cerita itu pun jadi ikutan kesal setengah mati. Sialan betul pengemis itu, dikasih uang malah dibuang.

“Emangnya dia pikir cari duit gampang apa. Dua ratus kan juga duit. Jadi pengemis ga mau duit kecil, ya kerja lah bego!”

Si Adi berteriak seakan-akan ibu pengemis tadi ada disitu. Padahal yang ada disitu ya cuma saya. Adi berkata begitu karena sejak masuk SMA, dia sudah bekerja untuk bisa membayar sekolahnya sendiri. Dia bekerja serabutan sebagai tukang fotokopi dan cleaning service di salah satu kantor ketika akhir pekan. Dia bekerja luar biasa. Dari semangat dan kerja kerasnya saya belajar untuk mandiri.

Saya setuju sepenuhnya dengan pendapat Adi. Pengemis adalah orang yang tidak tahu malu. Mereka tidak bekerja, mereka hanya minta-minta. Ketika mereka mengambil keputusan untuk bekerja sebagai pengemis, ya seharusnya mereka telah mengetahui konsekuensi logisnya. Hampir semua orang akan sepakat bahwa mengemis adalah pekerjaan hina, karenanya wajar jika orang meremehkan pengemis. Jika ada yang memberi uang kecil, ya seharusnya mereka bersyukur masih ada yang mau memberi. Bukannya malah berlagak sombong merasa bahwa uang seratus, dua ratus, dan lima ratus tidak berharga. Cerita ini mengawali kebencian saya kepada pengemis.

Lalu berlanjutlah berbagai cerita tentang pengemis yang memupuk rasa benci saya kepada mereka. Cerita tentang pengemis yang memaksa, cacat tubuh yang dibuat-buat, bayi yang disewakan kepada mereka untuk membuat orang lain iba, hingga penghasilan mereka yang ternyata fantastis luar biasa. Belakangan berita tentang pengemis menjadi ramai di media. Seorang pengemis dalam satu hari bisa mendapatkan penghasilan hingga jutaan rupiah. Hanya dengan menaruh tangan di bawah? Meminta-minta dan tidak bekerja? Dapat penghasilan yang jauh lebih banyak dari saya yang bekerja? Rasa benci saya semakin menjadi-jadi.

Anda tidak percaya? Ingat berita tentang pengemis di Bandung yang diberi pekerjaan sebagai penyapu jalanan oleh pemerintah agar mereka tidak mengemis lagi? Mereka menolak mentah-mentah. Karena apa? Ya karena penghasilan mereka sebagai pengemis lebih banyak dari pada bekerja susah-susah jadi penyapu. Berkeringat dan capek luar biasa, pendapatannya hanya segitu, ya lebih baik mengemis.

Saya dan Adi, di tengah ketololan kami sebagai anak muda umumnya, sering berbicara tentang masa depan. Bahwa kami akan menjadi orang sukses. Bahwa untuk menjadi orang hebat, memang tidak mudah, dan satu-satunya jalan yang harus ditempuh adalah kerja keras. Tidak ada jalan lain.

Suatu waktu, saya dan Adi pergi ke luar kota dengan bus. Saat lampu merah dan bus kami berhenti, masuklah seorang pengemis. Saat itu benih kebencian terhadap pengemis sudah ada dalam hati saya. Kali ini pengemisnya adalah bapak-bapak dengan baju koko dan kopiah. Dia membagi-bagikan amplop yang bertuliskan Sumbangan untuk Masjid Ad-Dzikra, dan tertera di sana alamat masjid yang dimaksud. Si bapak mulai berbicara tentang masjid yang butuh sumbangan, lalu memanjatkan doa yang dirapal seperti dukun membaca mantra. Tidak jelas. Namun melihat wajahnya yang begitu khusyuk melapalkan doa, saya tergugah mengambil uang dua ribu, hendak memasukkan uang tersebut ke amplop, sebelum Adi menahan tangan saya, lalu berdiri, dan berbicara lantang hingga semua orang di dalam bus menengok ke arah kami.

“Masjid di jalan Palem Raya hanya ada satu, namanya masjid Al-Muhajirin. Saya tahu karena saya tinggal disitu. Masjid Ad-Dzikra ini palsu!”

Saya kaget luar biasa. Apa yang sohib saya lakukan? Jantung saya jadi berdetak cepat, keringat dingin bercucuran. Si Adi mencari masalah. Tapi di luar dugaan, ternyata si bapak-bapak berkopiah berhenti berdoa, wajahnya menjadi pucat, kakinya gemetar. Dan dalam sekejap, dia turun lompat dari bus, padahal amplop-amplopnya masih ada di penumpang. Saya menoleh kepada Adi, dia tersenyum, lalu tertawa lepas.

“Padahal gue ga tinggal disitu, coy! Tapi tuh orang langsung gemeter, berarti bener kalo dia boong!,” katanya sambil tertawa. Saya pun jadi ikutan tertawa.

Pengalaman itu semakin mengukuhkan premis bahwa di kota, begitu banyak pembohong, dan begitu banyak dari mereka yang berbohong dengan mengemis. Saya dan Adi berjanji apapun yang terjadi, kami tidak akan pernah memberi kepada pengemis. Tidak akan. Di hari kelulusan SMA, kami berjanji bahwa kami akan sukses. Dan satu-satunya jalan menuju kesuksesan adalah bekerja keras.

Semakin lama, semakin banyak pengalaman saya dengan pengemis, dan semakin besar kebencian saya kepada pengemis. Saya benci setengah mati.

Hingga suatu ketika, di bengkel, saya sedang bekerja merakit motor pesanan pabrik. Lalu saya melihat seorang pengemis datang di depan bengkel kami, meminta-minta dengan suara parau.

“Kasihan pak, belum makan dari pagi”.

Hari itu matahari sedang terik-teriknya, panas luar biasa. Keringat saya bercucuran, kerjaan ini membutuhkan konsentrasi penuh, dan tiba-tiba ada pengemis? Saya semakin panas luar biasa.

Saya melambaikan tangan tapi pengemis ini tak mau pergi. Saya melambaikan tangan lagi, tapi pengemis ini tetap meminta-minta. Saat saya berdiri dengan kesal dan hendak menyuruhnya pergi, bos saya yang sedang berjaga di bengkel memberi saya uang lima ratus perak.

“Lu kasih sana, kasihan lah. Nih,“ ujarnya sambil memberi saya uang lima ratus tadi. Saya yang masih memegang kunci inggris mengambilnya dengan enggan, ya perintah bos masa saya tolak. Dengan malas luar biasa saya melangkah menuju si pengemis. Si pengemis terlihat merasa menang, lalu saya berikan uang lima ratus tadi.

Saya segera berbalik karena malas. Tapi tiba-tiba, si pengemis tadi bergumam. “Ga salah nih mas, lima ratus perak?”. Kurang ajar, teriak saya dalam hati. Saya langsung berbalik badan. Si pengemis tadi dengan sengaja menjatuhkan uang lima ratus tadi dengan sombongnya dan berbalik badan. Uang lima ratus tadi menggelinding jatuh ke dalam selokan.

Saya marah luar biasa. Rasa benci yang telah saya pupuk sejak SMA, kini membuncah menjadi amarah. Ini sekian juta kalinya saya berhadapan dengan pengemis, dan dia berulah di depan mata saya. Saya cengkeram kerah bajunya dengan tangan kiri, saya acungkan kunci Inggris di tangan kanan, lalu saya berteriak di depan wajahnya,

“Lo cari tuh duit lima ratus perak, atau kepala lo gue pecahin pake ni kunci Inggris!”

Saya marah luar biasa. Semua darah rasanya ada di ubun-ubun saya. Si pengemis ini langsung ketakutan, wajahnya pucat, tapi dia hanya menggeleng.

“Lo mau kepala lo gue ancurin? Cari tuh duit dan balikin ke gue!”

Saya semakin nafsu. Tapi si pengemis ini terus menggeleng, semakin lama semakin keras. Saya dapat melihat wajahnya yang pucat, dan matanya yang mulai berlinangan air mata. Bukannya saya sudah ceritakan ke Anda, saya tidak kasihan pada pengemis. Saya benci, dan melihatnya ingin menangis saya bertambah benci dan emosi.

“Lo cari ga?!,” saya semakin mengancam. Bos saya mendekat untuk melerai, dan saya sudah mau melayangkan kunci Inggris saya hingga si pengemis yang sudah menangis itu tiba-tiba berkata, “Ini gue bal. ” Saya terdiam, mencoba mencerna apa yang barusan si pengemis ini katakan. Dia memanggil nama saya? Saya perhatikan wajah lusuhnya yang mulai basah karena air mata. Perlahan saya mengenalinya. Dan seketika itu pula saya ikut menangis.

“Ini gue Adi”

Sambil menangis, tangan saya melayangkan kunci Inggris itu ke wajahnya. Saya benci pengemis. Saya benci mereka setengah mati.

Membuat Hidup Kita Lebih Dari Sekedarnya

Di depan rumah saya, tumbuh pohon sawo kecik.

13 tahun yang lalu, pohonnya tidak tinggi. Hanya sekitar dua setengah meter saja. Saat itu, sewaktu SD, saya dikenal sebagai anak yang pendek dengan badan yang kecil. Setiap pergi ke luar rumah, untuk main ke lapangan, menuntun sepeda menuju sekolah, atau berjalan ke masjid, saya selalu melewati pohon itu.

Sebagai anak kecil yang iseng dan suka bergerak, setiap melewatinya saya selalu melompat berusaha meraih daun yang menggantung di batangnya. Walau tinggi daun yang menggantung kurang dari dua meter, saya tak pernah bisa menyentuhnya. Saya selalu melompat dan berusaha melompat lebih tinggi, setiap hari saat melewati pohon itu saya melakukannya. Tapi mungkin karena saya pendek, saya tak pernah bisa meraihnya.

Suatu saat saya gusar dan mengadu kepada ibu saya. “Bu, kok aku ga pernah bisa menyentuh daunnya walau sudah lompat setinggi-tingginya?”

Ibu saya hanya tersenyum dan bilang, “kamu masih kecil, nanti kalo kamu sudah besar, tinggi badan kamu pasti bertambah, lompatanmu akan lebih tinggi dan kau mungkin akan bisa menyentuh daunnya”.

Suaranya yang hangat dan penuh cinta menenangkan hati saya, walau terhempas sedikit tanda tanya. Mengapa ibu bilang mungkin, bukan pasti. Tapi apapun itu, saya tak lagi gusar. Dan menjadi yakin suatu saat nanti, jika saya sudah tumbuh besar dan tinggi badan saya bertambah, saya pasti bisa meraihnya.

Sejak hari itu, setiap saya melewati pohon sawo kecik itu, saya selalu melakukan ritual yang sama. Setiap saya akan bermain ke lapangan, menuntun sepeda ke sekolah, atau berjalan ke masjid, saya selalu melompat. Berusaha meraih daunnya yang bergantung, dan yakin suatu saat saya pasti bisa.

Bertahun-tahun saya melakukannya, ritual “melompat” itu seperti menjadi rutinitas yang tak lagi saya beri perhatian, selalu saya lakukan tanpa sadar. Hingga tahun berjalan dan saya tumbuh besar, saya telah lupa bahwa saya pernah berusaha untuk meraih daun di batangnya yang tergantung.

Malam ini, saya baru pulang dari masjid. Ketika berjalan dengan santai, menikmati udara malam dan kerlipan beberapa bintang di balik polusi cahaya dari terangnya gedung-gedung di tengah kota, saya berhenti di depan pohon sawo kecik. Saya menatapnya dari bawah ke atas. Saya baru kembali teringat 13 tahun lalu dan rutinitas melompat yang saya lakukan. Tentang saya yang selalu gagal menyentuh daunnya yang menggantung. Tentang saya yang gusar dan mengadu pada ibu. Tentang suaranya yang penuh cinta dan bilang bahwa saya bisa meraihnya jika saya sudah tumbuh besar.

Saya menyentuh batangnya yang besar, kokoh menjulang menopang tubuhnya yang kekar. Pohon ini telah tumbuh besar, tajuk teratasnya tak kurang dari tujuh meter sekarang. Namun masih menyisakan sesuatu beberapa jarak di atas kepala saya, yang dulu selalu saya inginkan untuk saya raih. Saya menatap daunnya yang menggantung, dan tanpa sadar saya melompat meraihnya. Saya melompat sekuat tenaga. Saya melompat lagi, dan lagi, dan kemudian sedih sebentar lalu seperti tertampar akan kebodohan diri sendiri. Saya tak bisa menjangkau daunnya meski badan saya sudah lebih tinggi. Saya tak bisa meraihnya walaupun saya telah tumbuh besar.

Saya pulang ke rumah dan segera menemui ibu yang sedang merapihkan cucian, menumpuk baju dan jaket almamater yang kemarin saya pakai untuk aksi di jalan. Saya ceritakan tentang pohon sawo kecik, tentang saya yang telah tumbuh besar dan tetap tak bisa meraihnya. 

Tetap dengan suaranya yang hangat, ibu berkata pelan kepada saya.

“Kau memang telah tumbuh besar, nak. Tapi kau lupa satu hal, pohon itu tidak diam, selama kau berkembang, dia juga tumbuh besar”

Ibu kemudian diam dan melanjutkan pekerjaannya, membiarkan saya berpikir sendiri.

Dulu, saya menjadikan pohon sawo kecik kecil dan daunnya yang menggantung sebagai target, sebagai sebuah pencapaian yang ingin saya tuju. Dengan badan kecil saya melompat, berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa. Lalu dengan naifnya saya percaya suatu saat saya tumbuh besar saya pasti bisa mencapainya. Tapi saya ternyata melupakan satu hal. Satu hal tentang sains sederhana. Bahwa makhluk hidup tak pernah diam. Bahwa mereka tumbuh dan berkembang. 

Ketika saya berkembang, pohon itu juga tumbuh besar.

“Ketika kamu tumbuh besar, berbadan lebih tinggi, menjadi manusia yang lebih kuat, dan memiliki kemampuan yang lebih hebat, tantangan yang datang pun akan semakin besar. Sekarang kamu harus lebih sadar bahwa tantangan hidup tak pernah diam. Dia seperti pohon itu, yang terus tumbuh besar seiring denganmu yang juga berkembang”

Ibu tetiba mengembalikan saya dari lamunan. Kata-kata mutiara yang keluar dari bibirnya yang mulia, dan senyumnya yang mengembang seperti pelangi di ujung senja. Indah, tentram menenangkan jiwa.

Memberi tahu saya tentang sebuah cerita. Bahwa dalam kehidupan, dalam lapisan dimensi menit dan detiknya, kita selalu punya tujuan. Kita punya impian, asa, dan cita-cita yang kita kejar sekuat tenaga. Tapi seperti juga kita, mereka dan semua tantangannya tak pernah diam. Mereka juga terus membesar bersama kita. Tantangan hidup mahasiswa takkan pernah sama dengan anak TK. Rintangan kehidupan orang hebat takkan pernah sama dengan orang biasa. 

Tujuan, mimpi, dan cita-cita yang selalu terlihat tidak mungkin untuk kita capai adalah hal yang membuat mengeluarkan kemampuan terbaik kita, seperti pohon sawo kecik dan saya yang melompat setingi-tingginya. Ketidakmungkinan adalah hal yang membuat kita penasaran dan mengeluarkan segenap kemampuan kita. Dia membuat hidup kita lebih dari sekedarnya.

Fakta sederhana itu membawa saya kepada filosofi hidup sederhana lainnya yang mungkin sering kita semua lupa. Tentang sains sederhana. Hukum Newton ketiga. Bahwa untuk semua aksi dan usaha yang kita lakukan, kita akan mendapatkan reaksi dan hasil yang sama.

Wa an laisa lil insani illa ma sa’a. “Dan tidaklah bagi manusia kecuali apa yang dia usahakan”

Sejuta Cinta

Aku sedang duduk santai ketika cerita itu datang menghampiri, cerita sederhana nan mempesona tentang tokoh besar dan wanita yang dicintainya.

Pria ini telah menikah dengan istrinya bertahun-tahun, dianugerahi keluarga dan kehidupan yang bahagia. Ada satu restoran favorit mereka. Restoran sederhana, namun memiliki hidangan terlezat di kota dan menjadi tempat favorit mereka untuk makan bersama.

Suatu malam mereka makan bersama disana. Pemiliki restoran itu adalah mantan kekasih sang wanita, dan sang suami mengetahuinya. Mereka berdua sama-sama mengetahui hal tersebut, dan sang pria berkata:

“Jika engkau menikah denganya, pasti saat ini kau telah menjadi istri seorang pemilik restoran paling hebat di kota ini”.

Sang wanita, mengambil segelas minuman, tersenyum, dan menjawab dengan tenang,

“Kamu salah, sayang. Jika aku menikah dengannya, maka bukan kamu, tapi dia lah yang akan menjadi Presiden Amerika Serikat”

Obama tersenyum dan menatap Michelle penuh cinta. “Aku mencintaimu”.

Hatiku berdebar mendengarnya. Betapa ku ingin agar semua wanita mendengar cerita yang sama. Betapa ku berharap kau pun mengetahuinya, memaknainya dengan penuh kasih dan cinta. 

Aku takkan pernah jumawa, karena jika dengan yang lain maka hidupku takkan pernah sama. Karena hidupku sekarang, dan di masa yang akan datang adalah karena perjalanan ini kau temani dengan sejuta cinta.

Janjiku Pada Abang

Aku pernah berjanji kepada abang. Ketika dia menggoda dengan mimpiku untuk masuk universitas indonesia, aku bilang padanya. Aku akan masuk UI, bang, sungguh. Dan pegang janjiku ini, jika aku masuk ui, maka aku akan menulis buku, bang. Aku menggenggam erat tangannya, mencoba meyakinkan diriku sendiri dengan tantangan bodoh yang keluar sendiri dari mulutku. Aku musykil, tapi aku takkan surut. Abang menatap mataku, melihat kesungguhan dalam diriku, lalu tersenyum dan memeluk pundakku. Aku percaya, bal.

Hampir tiga tahun sudah aku menjalani kuliah. Tak pernah kulupa janjiku pada abang, tapi tak pernah kutahu bagaimana cara menebus janjiku yang satu itu. Tapi aku tak pernah berhenti menulis, karena aku tahu itu satu-satunya cara untuk merengkuh ikrarku.

Hari ini, kutemukan jawaban itu. Aku mendapat pesan elektronik dari sebuah penerbit, yang bilang bahwa naskah tulisanku pada sebuah kompetisi diterima dan akan diterbitkan dalam sebuah buku. Hatiku girang bukan kepalang.

Akhirnya kutemukan jawabanku. Jawaban hatiku pada sebuah janji. Janjiku pada abang.

Tempatku Tumbuh, Berkembang, dan Merajut Masa Depan

Membaca novel Andrea Hirata seperti menembus lorong waktu. Aku dibawa menyusuri jalan yang berliku, menembus dimensi ruang dan waktu, menuju satu titik dalam memori kecilku. Memori tentang kehidupan pesantrenku yang tentram, dimana tak ada dunia digital, semuanya serba manual. Kami tak punya ponsel genggam, karena kami tidak diperbolehkan menggunakannya. Semua ustadz kami mufakat handphone adalah barang yang jika digunakan sembarang oleh anak muda seperti kami, maka hanya madharat yang didapat. Tak ada tivi di pesantren kami. Tak ada radio. Tak ada apapun yang bisa dianggap sebagai hiburan pengisi waktu dan pembunuh bosan.

Maka satu-satunya hiburan yang kami punya adalah buku. Buku pun tak sembarang, jika kami ketahuan membaca novel, komik, atau buku-buku ideologi yang tidak jelas juntrungannya, maka sita adalah hukumannya. Maka kami membaca, tapi diam-diam.

Aku pengagum setia Andrea Hirata. Aku telah membaca semua tetraloginya. Sang pemimpi dan Edensor, telah kubaca ratusan kali.

Pagi hari, jauh sebelum segaris cahaya matahari menyinari Pebayuran dari arah timur, kami sudah bangun. Dengan seperempat sadar dan langkah yang gontai, kami akan menuju kamar mandi, membasuh wajah dengan air wudhu yang bersih dan suci. Kami berjalan menyusuri dingin dari asrama ke masjid Riyadhus Shalihin, sebuah istana megah tempat orang-orang shalih menghaturkan diri dan menundukkan hati. Di masjid, gemuruh alunan ayat Al-Qur’an yang suci bersahut kesana kemari. Kami bertasbih. Kami memuji. Kami memohon ampunan diri.

Imam masjid kami, Ustadz Rahmat namanya. Suaranya merdu, mengalun indah merasuk jiwa. Suasana yang sunyi senyap namun –penuh ketentraman yang tak pernah tertandingi. Ayat-ayat itu menelisik telinga kami, berpantulan dalam jiwa kami yang rapuh dan tak berdaya di hadapan-Nya, menggetarkan hati. Pernahkah kawan tahu ayat yang berbunyi, bahwa orang-orang yang beriman, jika didengarkan kepadanya ayat Al-Qur’an, hatinya bergetar karena takut kepada Allah? Saat menulis ini, air mataku mengalir deras, membasahi pipi dan menenggelamkan seluruh pencapaian duniawi yang telah kubuat dengan pengakuan dosa  dan diri yang tak lagi bersih. Al-Binaa membuatku merasa memiliki saudara. Al-Binaa menjadi tempatku tumbuh, berkembang, dan merajut masa depan dengan milyaran senyum dan linangan air mata. Al-Binaa menjadi tempatku mengenal Tuhanku, menjadi tanah tempatku menemukan siapa diriku.

Al-Binaa adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku.

Dusta

Bagaimana jika dirimu selama ini hidup dalam kebohongan?

Bagaimana jika kau selalu tahu apa itu kejujuran, tapi kau tak pernah tahu bagaimana lepas dari kebohongan. Bagaimana jika hidupmu hanya kumpulan ampas mimpi orang-orang lain yang tahu kau bisa membuatnya menjadi nyata, bukan untuk dirimu, tapi untuk mereka. Bagaimana jika kau tak pernah menghiraukan mulut besar di hatimu, yang merengek kelaparan, sementara kau menghabiskan umurmu selama ini hanya untuk menyuapi lubang kecil milik binatang jalang. Dan kau tahu lubang kecil itu tak pernah ada, tak pernah ada sebelumnya, karena kau yang membuatnya secara paksa, hanya karena kau tak pernah berani menengok mulut besar milikmu yang seperti tak nyata.