Terbuka Di Ujung Sana

image

Duduk di tengah ramainya KL Sentral, saya mulai membuka kembali lembaran-lembaran paspor dengan semua cap imigrasinya. Koleksi saya masih sedikit, sejauh ini baru ada tiga negara; Malaysia, Singapura, dan Sri Lanka. Waktu itu sempat transit di Maldives, tapi ya boro-boro mau dicap, saya ga sempat kemana-mana. Pesawatnya cuma numpang isi ‘bensin’ dan saya cuma numpang melongo lihat pantainya dari jendela.

Perjalanan kali ini, saya kembali ke Malaysia, Kuala Lumpur tepatnya untuk urusan pekerjaan. Pertama kali ke sini dua tahun yang lalu, saat transit dalam perjalanan bersama @kuntawiaji dan @peterdraw ke Sri Lanka. Sebuah negara di Asia Selatan yang ga pernah kepikiran untuk didatangi kalau bukan karena berangkat atas nama @lendabook untuk menerima penghargaan di ajang World Summit Youth Award.

Saya ingat waktu itu dalam pesawat ke KL, @kuntawiaji bertanya ke saya, “gimana pertama kali ke luar negeri?”. Saya kemudian cuma diam tak menjawab sambil tersenyum sok cool. Padahal di dalam hati, sebenarnya norak dan excited luar biasa.

Saya sejak kecil ingin sekali jalan-jalan ke luar negeri, meski tidak tahu caranya. Keluarga saya hidup sederhana, sehingga memang tidak pernah terpikir untuk berharap dari orang tua. Saat masuk kuliah tahun 2010, saya melihat teman-teman maupun senior bisa pergi ke luar negeri gratis dengan berbagai cara, ada yang ikut pertukaran pelajar, konferensi, atau kompetisi. Saya pun mulai mencari cara untuk bisa mendapatkan kesempatan yang sama.

Waktu itu, struggle saya terhitung sulit, karena saya tipe salah jurusan yang tidak terpikir mengandalkan wawasan biologi untuk ikut event-event di bidang sains. Makanya waktu itu, setiap hari saya ke perpustakaan dan mantengin akun informasi seperti @tweetkuliah dan @kampusupdate untuk cari kesempatan yang bisa saya ambil.

Dan akhirnya di tahun ketiga kuliah, kesempatan itu datang. Saya bisa pergi ke luar negeri. Tanpa mengeluarkan biaya sendiri.

Secara personal, saya menyesal banyak melewatkan kesempatan ke luar negeri saat kuliah. Kuliah adalah waktu terbaik untuk mencari jalan ke berbagai negara, karena kesempatannya ada banyak. Sangat banyak.

Ribuan event berupa kompetisi, konferensi, maupun seminar memfasilitasi mahasiswa untuk traveling ke berbagai negara di seluruh dunia setiap tahunnya. Selain itu, jika kita bicara soal biaya, status mahasiswa sangat memudahkan kita mencari dukungan finansial dari pihak ketiga. Apalagi gerakan, organisasi, ataupun personal yang mendukung pengembangan pemuda makin kesini makin banyak pilihannya.

Saya sendiri pernah berniat memperpanjang satu semester setelah skripsi, khusus untuk mencari kesempatan ke luar negeri sebanyak-banyaknya. Waktu itu, saya sudah bertekad menyelesaikan skripsi di semester yang sama, tapi ingin menunda lulus untuk ikut segala macam yang bisa bikin saya ke luar negeri. Mungkin karena sudah kuliah terlalu lama, ide ini ditolak mentah-mentah oleh Bapak saya.

Sambil melihat kembali halaman identitas paspor, saya yakin bahwa membuat paspor adalah langkah pertama untuk bisa ke luar negeri. Buat saya, traveling ke luar negeri itu harus bisa dilakukan sesegera mungkin. Bukan untuk pamer atau gegayaan di instagram, tapi percaya sama saya, pergi ke luar negeri akan membuka mata kita tentang betapa luasnya dunia.

Berinteraksi dengan mereka yang berbeda negara dan budaya akan memperkaya khazanah bahwa kita adalah bagian dari warga dunia. Forum internasional itu berbeda. Global citizenship semakin jadi keniscayaan: batas-batas geografis antar negara semakin pudar, interaksi antar-budaya semakin cair, dan kesempatan untuk mendunia semakin besar.

Tengok saja bagaimana perusahaan gokil seperti Uber, Airbnb, dan GrabTaxi masuk dan menggoyang sistem ekonomi kita sedemikian rupa. Jika kita tak siap, bukan tak mungkin kita mengambil keputusan yang salah dan merugikan negara kita sendiri.

Jadi buat saya, nasionalisme itu bukan “negeri sendiri aja belum kelar ngapain jalan-jalan ke luar negeri “ atau “ngapain ngabisin duit ke luar negeri kayak Indonesia ga bagus aja“. Mindset ini, tidak sepenuhnya salah, tapi tidak benar juga kalau diartikan sebagai satu-satunya nilai sehingga menihilkan nilai nasionalisme yang lain. Sama seperti slogan cintailah produk Indonesia, bukan berarti kita sama sekali tidak boleh menggunakan produk dari luar. Yang paling penting adalah, bagaimana kita belajar apa yang ada di luar dan mengaplikasikan dengan konteks yang tepat di negara kita.

Sangat banyak, atau terlalu banyak ide inovasi yang lahir di negara kita karena observasi dari negara-negara yang jauh di luar sana. Perbedaan akan membuat kita melihat dengan sudut pandang baru, dan menciptakan ide dan karya yang baru.

Karenanya, menarik pula melihat metode Pak @rhenaldkasali yang memaksa mahasiswanya untuk ke luar negeri, seperti cerita yang ditulis di buku 30 Paspor di Kelas Professor. Dan langkah pertama yang dilakukan Pak Rhenald di kelasnya, adalah mewajibkan mahasiswa membuat paspor.

Paspor jadi tiket pertama untuk ke luar negeri, dan meskipun kita belum punya rencana mau pergi ke mana, saya sangat menyarankan untuk punya paspor dari sekarang. Buat saya yang tidak pernah berharap orang tau bisa mengajak jalan-jalan ke luar negeri, punya paspor jadi semacam pencapaian tersendiri: saya selangkah lebih dekat untuk bisa ke luar negeri.

Melihat kembali halaman paspor, harusnya lebih banyak anak muda mencari kesempatan untuk pergi dan belajar ke luar negeri. Tidak harus sekolah, kunjungan 2-3 hari akan cukup untuk membuka perubahan yang besar bagi diri sendiri.

Tahun ini, saya punya target untuk bisa ke Eropa atau Amerika. Lewat apa dan caranya bagaimana, saya belum tahu.

Yang pasti, saya tetap membuka mata, telinga, dan rasa. Karena saya tahu dengan usaha dan doa, jalannya akan terbuka di ujung sana.

– KL, 4 Februari 2016

Takkan Pernah Usai

image

Tiap kali jatuh dan merasa ingin berhenti, saya selalu berusaha meyakinkan diri: saya sedang berada di jalan yang benar.

Karena saya tahu ada masanya Rasulullah dilempari batu hingga giginya tanggal dan gusinya berdarah.

Karena saya tahu ada masanya Edison dikeluarkan dari sekolah karena dianggap bodoh dan tidak bisa belajar dengan normal.

Karena saya tahu ada masanya ketika Muhammad Ali direndahkan, Gandhi dimusuhi, dan Einstein dianggap gila.

Karena saya akhirnya paham, semua jalan yang benar itu sulit. Tapi layak diperjuangkan.

Tiap kali direndahkan dan merasa terpuruk, saya tahu saya belum cukup kuat.

Saya belum cukup kuat untuk berlari lebih kencang dan lepas landas untuk terbang.

Saya belum cukup kuat untuk berdiri tegak dan berteriak dengan lantang.

Tapi tiap kali saya berpikir untuk berhenti, saya tahu saya masih di sini.

Dan saya tahu bahwa saya tidak sendiri.

Saya tahu selalu ada sosok pahlawan di depan, orang-orang yang sayang saya di belakang, dan teman-teman seperjuangan yang ada di samping kiri dan kanan.

Saya tahu saya masih berjuang.

Dan saya tahu, sampai kapanpun, perjuangan takkan pernah usai.

2 pekan yang lalu saya mengunjungi Singapore: 2 hari untuk pekerjaan, dan 2 hari tambahan untuk jalan-jalan. Meskipun tidak banyak, saya sempat mengunjungi tempat menarik mulai dari kantor Microsoft, jalan turis seperti Bugis dan Haji Lane Street, tinggal di hostel backpacker untuk pertama kalinya, berkunjung ke beberapa museum, dan menikmati arsitektur ikonik seperti Helix Bridge, Esplanade, dan Gardens By The Bay.

Traveling ke luar negeri memang selalu punya cerita menarik untuk dibagi. Saya akan menceritakan pengalaman-pengalaman selama traveling di Singapore pada tulisan-tulisan berikutnya.

Life Is A Creation: Connecting The Dots 2014

Pagi kemarin (30/12), selama satu jam saya terdiam di depan laptop, berusaha menulis esai yang harus segera saya kirimkan sebagai syarat aplikasi beasiswa. Saat harus menjawab pertanyaan penting seperti What is your life-changing moment, How do you define yourself as a leader, atau How do you see yourself in 10 years, saya seringkali merenung lama dan tenggelam dalam pikiran saya sendiri.

Dalam perenungan itu, saya membuka agenda dan jurnal tempat saya merekam kegiatan saya setiap harinya selama satu tahun terakhir. Berbagai hal telah saya alami dan saya lakukan. Saya menyadari bahwa saya hari ini adalah hasil dari apa yang saya lakukan di hari kemarin. Ia ibarat titik-titik kecil yang kita sambungkan satu per satu menjadi garis besar yang mengantarkan kita menjadi diri kita yang sekarang. Meminjam isitlah Steve Jobs, we are connecting the dots.

Saya mensyukuri segala hal yang telah terjadi satu tahun ini. Di sini, saya ingin merekam dan berbagi sebagian titik-titik terbaik yang saya hubungkan selama 2014.

.

1. Berbisnis dengan Internet Marketing

Semuanya berawal ketika @anjasbiki memperkenalkan saya kepada Bang Wahyu Widi. Awal tahun, kami memulai Baju Baju Diskon. Saya pun mulai mempelajari berbagai strategi internet marketing, seperti algoritma edgerank Facebook, mengelola Facebook Ads, mulai berkenalan dengan SEO, Google Adsense, dan masih banyak lagi. Dari sana, saya pun mulai tertarik untuk belajar lebih dalam dan membaca banyak blog tentang digital marketing seperti StartupBisnis, Fanspage ID, ilovedigitalmarketing, serta tulisan para master seperti Adryan Fitra, Bramantya Farid, Maula dan Shandy Rifano.

Saya pun mulai merasakan tantangan berat menjadi seorang pebisnis, mengelola stok barang, memberikan pelayanan kepada customer, dan mengembangkan strategi pemasaran. Benar-benar pengalaman berharga yang mengajarkan bahwa kesuksesan membutuhkan kerja keras dan proses panjang yang perlu dilalui dengan konsistensi. Masih banyak yang harus dipelajari dan dibenahi.

.

2. Semakin Aktif Belajar dan Berbagi Dengan Ikut Berbagai Komunitas

Saya baru merasakan manfaat berkomunitas yang sebenar-benarnya di 2014. Di tahun ini, saya banyak mengisi kegiatan untuk belajar dan berbagi di berbagai komunitas.

Saya sangat bersyukur bisa bergabung di komunitas JOS yang digawangi berbagai entrepreneur keren seperti Gibran Chuzaifah dan Ihsan Akhirulsyah (Cybreed), Fitra Jaya Saleh (Entrepreneur Coach), Achmad Zaky (Bukalapak.com), Ilman Akbar (anakui.com), dan masih banyak lagi.

Saya juga banyak menghabiskan waktu belajar dan berbagi di @HIPMI_UI dan Campus Marketeers Club. Saya pun aktif mengikuti berbagai kegiatan sharing tentang industri kreatif, diantaranya Workshop #Indiepreneur Pandji Pragiwaksono, kelas-kelas SB1M Depok, dan Google Entrepreneurs Day. Saya juga bergabung dalam kampanye digital Track Your Move bersama RCCC UI dan Mobile Force untuk meningkatkan kepedulian pemuda terhadap isu perubahan iklim.

Alhamdulillah, tahun ini pun saya mulai dipercaya untuk berbagi, diantaranya mengisi beberapa sharing bersama @HIPMI_UI, bercerita tentang berbisnis dan berkarya lewat internet di Sekolah Master Depok, serta menjadi juri di berbagai kompetisi seperti Entrepreneur Is Me FISIP UI, UI Biology Festival, dan Pesta Rakyat Fisika UI.

Saya juga dipercaya sebagai Ambassador World Summit Youth Award di Indonesia. Saya melakukan presentasi di DEPICTA (Depok ICT Award) 2014 untuk mengajak berbagai startup/organisasi pemuda yang melakukan perubahan sosial melalui internet, mendaftar ke WSYA. Saya juga ikut memberikan voting dalam proses penjurian, dan setelah melalui seleksi ketat, tahun ini Indonesia berhasil mengirimkan Indonesia Berkebun sebagai pemenang di kategori Go Green!

Semoga di tahun depan bisa lebih banyak berkomunitas dan berjejaring dengan lebih banyak orang.

.

3. Meet The Rockstars

The Rockstars adalah istilah yang saya pinjam dari Rene Suhardono, yang merujuk kepada para panutan dan mereka yang menginspirasi kita dalam berkarya. Alhamdulillah, di tahun ini saya berkesempatan bertemu sosok-sosok luar biasa yang menginspirasi saya secara personal. Saya bisa chit-chat santai dengan Pandji Pragiwaksono, belajar dari Raditya Dika, bertemu Pak Didi Diarsa (pegiat industri kreatif Depok), nongkrong bareng Benny Fajarai (Founder Kreavi), ngobrol santai dengan mbak Ollie (bahkan dikasih kehormatan sebagai pembaca pertama draft novel terbarunya), dan bisa bertemu langsung dengan RAN.

Bertemu the rockstars selalu bisa memberi energi positif dan keyakinan bahwa kita juga bisa seperti mereka. Bahwa kita bisa menjadi lebih baik dan menciptakan karya yang bermanfaat untuk orang banyak. Semoga di 2015 bisa bertemu the rockstars lebih banyak lagi.

.

4. Selesai Kuliah Sarjana!

Ini adalah salah satu hal yang paling melegakan dari 2014. Setelah melalui belasan revisi dan bimbingan, ratusan lembar kertas, serta perjuangan yang panjang, akhirnya saya bisa menyelesaikan sidang sarjana pada tanggal 23 Desember dengan nilai yang sangat memuaskan! Special thanks untuk @sherzade_o yang telah menjadi bagian besar dalam perjalanan ini.

Saat ini saya berencana untuk melanjutkan S2 di bidang manajemen atau marketing. Pertengahan tahun lalu saya mengikuti seleksi program beasiswa Bizcamp di Prasetiya Mulya Business School dan belum berhasil di tahapan wawancara terakhir. Saat ini masih mencari kesempatan lain, semoga diberikan yang terbaik.

.

5. Menulis Lebih Banyak!

Alhamdulillah, 2014 juga menjadi tahun dimana saya menulis dengan jumlah yang lebih banyak dan pola yang lebih konsisten.

Selain menjadi kontributor Indonesia Kreatif hingga Juni, tahun ini @peterdraw juga mengajak saya untuk mengelola blog Lendabook. Bersama teman-teman kontributor lainnya, kami mengelola blog sejak bulan Oktober dan menutup tahun ini dengan 100 postingan dan lebih dari 22.000 kunjungan. Bersama @alfatihtimur dan @danuardik, saya juga menjadi kontributor untuk menulis tentang social entrepreneurship di SosialBisnis.com.

Saya bertekad untuk semakin konsisten dan lebih baik dalam menulis, agar lebih banyak manfaat yang bisa saya sebarkan dari karya saya. Ohya, dan 2015 ini saya berencana untuk menulis buku pertama saya. Doakan semoga tercapai!

.

Itulah tadi titik-titik yang saya hubungkan selama 2014 ini. Saya bersyukur atas semua yang saya capai dan berterima kasih untuk semua orang yang telah menjadi bagian dari pengalaman hebat satu tahun ini.

Saya membaca kembali dan mulai menyadari, bahwa titik-titik tadi merupakan pilihan yang saya ciptakan sendiri. Kesempatan datang silih berganti, tetapi kita yang menentukan dan melaksanakan.

Dalam perenungan ini, saya menyadari bahwa hidup bukan tentang menemukan.

Life is not a discovery. It is a creation.

Hidup adalah tentang menciptakan masa depan dengan apa yang kita lakukan di masa sekarang. Ubahlah kita di hari ini, maka kita akan mengubah masa depan.

Selamat datang 2015!

Festival Pembaca Indonesia 2014: Reading is Happiness

Sabtu kemarin (6/12), saya menyempatkan hadir di Festival Pembaca Indonesia 2014 yang diselenggarakan Goodreads Indonesia di Museum Nasional, Jakarta. Setelah sharing bareng teman-teman @HIPMI_UI, saya bersegera mengejar commuterline dan lanjut naik Busway. Sesampainya di halte Monas, saya sempat bertemu Mbak Ollie @salsabeela yang sayangnya sudah mau pulang dan sedang terburu-buru mengejar agenda lain. Padahal mau banyak cerita soal Lendabook :D.

Acara yang juga disebut Indonesia Readers Festival ini benar-benar surga buat kita pecinta buku! Berbagai komunitas pecinta buku hadir meramaikan booth di acara ini, mulai dari yang (setidaknya menurut saya) agak biasa seperti BlogBukuIndonesia.com, PNFI (Penggemar Novel Fantasi Indonesia), Pecinta Sherlock Holmes @sherlockianid, Buku Berkaki, hingga yang agak luar biasa seperti Cakrawala Gelinjang, komunitas pembaca buku bercover seksi (-_-).

Dan seperti tema yang diangkat, acara ini dipenuhi oleh orang-orang yang setuju bahwa membaca selalu membuat kita bahagia! Diisi dengan berbagai diskusi dan sharing, para pecinta buku yang datang sangat antusias berjejaring dan bercerita tentang buku, termasuk saya.

Acara yang paling menarik bagi saya adalah bookswap. Bookswap simpelnya adalah kegiatan bertukar buku, kita menaruh buku yang ingin kita tukarkan ke atas meja yang disediakan. Ketika sudah ditaruh, buku itu bukan milik kita lagi, tapi sebagai gantinya kita bebas mengambil buku yang lain. Jumlah buku yang boleh diambil sesuai jumlah buku yang kita taruh. Saya menukarkan kumpulan esai berjudul Slilit Sang Kiai nya Emha Ainun Najib dengan sebuah buku antik, Inside The Company CIA Diary cetakan tahun 1975!

Sejak menemukan lendabook, saya semakin mudah mendapatkan teman, dan tentu saja, buku baru. Saling pinjam-meminjam melalui platform Lendabook.co memang menyenangkan. Dan sekarang bersama kotributor lain, kami semakin banyak menuangkan kecintaan terhadap buku melalui blog kami.

Satu hal yang membuat saya kecewa dari festival ini adalah jam buka yang hanya hingga 16.00. Kemungkinan besar karena venue yang dipakai adalah Museum Nasional, sehingga mengikuti jam tutup museum yang sudah harus tutup jam 17.00. Jika rangkaian acara bisa diadakan hingga malam, lalu juga dilengkapi dengan performance yang lebih menarik, pasti akan lebih seru. Semoga teman-teman Goodreads Indonesia bisa mencarikan venue yang lebih baik di tahun depan.

Semoga tahun depan bisa kembali merayakan festival membaca yang membuat kita bahagia!

Google For Entrepreneurs Day 2014

Selasa kemarin (14/10), saya dan @peterdraw menghadiri acara networking seru bareng puluhan startup digital yang diselenggarakan Kibar dan Google. Sebelum ke sana, kami sempat mampir ke kantor Liputan6.com untuk liputan tentang Lendabook. Baca beritanya disini.

Acara yang bertempat di Glitch Imaginarium ini dipenuhi semangat para penggiat digital yang super kreatif! Dimulai dengan talk singkat dari Yansen Kamto (Kibar) bertajuk Disrupting Your Mindset. Di zaman yang serba konseptual ini, sudah bukan zamannya lagi berpikir sederhana. Kita harus berani berpikir besar dan bercita-cita membuat perubahan besar. Startup harus berani berbicara hal besar. Karena seperti kata Larry Page, “not enough people are focused on big change”. 

Keseruan dilanjutkan dengan bincang santai tentang Creative & Collaborative Mindset bersama founder yang telah sukses menginspirasi bersama karyanya. Sebut saja Benny Fajarai (Kreavi), Dennis Adhiswara (Layaria), Mayumi Haryoto (Fabula), Sunny Gho (Stellar Labs), dan Putri Izzati (Ziliun.com). Sesi berikutnya tentang Fail Fast, Fail Forward diisi oleh Dien Wong (Altermyth) dan senior keren satu almamater, Andreas Senjaya (Badr Interactive).

Pembicara keren juga datang dari luar negeri, seperti Tiger Fang yang berbagi tentang kesuksesan Uber yang saat ini mencoba peruntungannya di Indonesia, dan Adam yang bercerita tentang bagaimana Google mendesain tampilan aplikasi mereka melalui apa yang disebut sebagai Material Design.

Keseruan di acara seperti ini adalah networkingnya. Saya sempat ngobrol santai dengan mbak Putri dari Ziliun dan Vikra dari Kitabisa.com. Menyerap semangat dan inspirasi dari penggerak perubahan digital memang selalu menyenangkan dan membuat ketagihan.

Pulang dari sana, saya dan mas @peterdraw pun diskusi banyak hal sambil menunggu kereta. Bisakah kita mengubah Indonesia? Mengubah dunia?

This world needs a lot more thinker that believe they have the power to change, because that’s the only way to create a better world. – Larry Page

Connecting The Dots

Bagi saya menulis seperti semacam terapi.

Seperti yang pernah saya tulis sebelumnya, terlalu banyak pikiran di benak saya.

Otak manusia adalah salah satu maha karya terhebat yang ada di dunia. Beberapa neurologis mengatakan setiap harinya ada lebih dari 5.000 pikiran yang bermunculan di otak kita, itu artinya satu pikiran setiap 15 detik. Otak kita beraktivitas dengan sangat cepat, dimana pikiran kita melompat kesana kemari tanpa pernah berhenti. Bahkan seperti yang diceritakan karakter Cobb dalam Inception, otak kita bisa beraktivitas lebih banyak ketika kita tidur dan tidak beraktivitas fisik sama sekali.

Menulis bisa menjadi terapi bagi ribuan pikiran yang setiap hari berlalu-lalang tanpa henti di otak kita. Saat memikirkan satu hal, otak kita akan secara cepat membuat koneksi dan menghubungkannya dengan hal lain, sehingga kita akan dengan segera berpindah ke pikiran yang lain. Dengan traffic pikiran yang sedemikian cepat, sangat wajar jika kita sering lupa. Itulah kenapa, manusia dalam bahasa arab dinamakan insan, berasal dari kata nisyan yang berarti lupa.

Menulis akan menimalisir kerugian yang timbul dari sifat pelupa manusia. Jutaan pikiran kita yang melompat kesana kemari setiap hari tak akan diingat sama sekali kecuali kita mendokumentasikannya. Dan menulis adalah salah satu caranya.

Saat ini, segala macam gadget telah memudahkan kita dalam mendokumentasikan setiap aktivitas dan pikiran kita. Sosial media menjadi jawaban bagi banyak orang untuk melakukannya. Facebook selalu bertanya, “What’s on your mind?”. Twitter lebih spesifik lagi, “What’s happening?”. Path pun mengajak kita untuk mendokumentasikan setiap momen hidup kita; tempat apa yang kita kunjungi, buku apa yang kita baca, lagu apa yang kita dengarkan, dan segala macam aktivitas lainnya.

Tapi bagi saya, tidak ada dokumentasi yang lebih baik selain membuat tulisan.

Saat mencurahkan tulisan, saya seperti menuangkan seluruh jiwa saya, karena tidak hanya pikiran, tapi saya juga seringkali mencurahkan isi hati. Menulis menjadi satu momen dimana saya tidak hanya berbagi, tapi juga menjelajah ke dalam hati, menemukan diri saya sendiri.

Dalam dunia yang berjalan begitu cepat, cara terbaik menemukan diri sendiri adalah dengan menoleh ke belakang. Kita akan diingatkan mengapa dulu kita memulai. Kita akan mengetahui setinggi apa kita telah bertumbuh. Dan kita akan menyadari seberapa jauh kita telah melangkah.

“You can’t connect the dots looking forward, you can only connect them looking backwards”. 

Connecting the dots, adalah salah satu konsep kehidupan favorit saya yang diajarkan oleh Steve Jobs. Kita tidak bisa menyambungkan titik-titik kehidupan ke depan, karena tidak ada satu pun yang bisa kita pastikan dari masa depan. Tapi kita selalu bisa menyambungkan titik-titik kehidupan ke belakang. Menyatukan arti semua yang telah kita lewati di hari kemarin, yang menjadikan kita di hari ini.

Blog ini telah menjadi bagian dari cara saya mendokumentasikan pemikiran saya, dan saya ingin mengisinya pula dengan titik-titik kehidupan saya. Agar di suatu saat nanti, saya bisa punya waktu untuk menoleh ke belakang, menyadari seberapa jauh saya telah melangkah, dan menemukan diri saya sendiri.

Saya menyebutnya Connecting The Dots.