Ideas Worth Nothing

Ideas are cheap. So cheap.

Dulu saya sering berpikir yang bikin saya maju itu ide. Saya sering percaya diri karena saya pikir saya “orang yang banyak ide”

Ternyata setelah saya pikir lagi, yang bikin saya maju itu bukan ide, tapi eksekusi

Saya orang yang suka overthinking, tapi karya-karya yang saya banggakan selalu muncul dari eksekusi.

Mereka muncul dari aha moment, lalu jadi ide yang tertunda lama karena overthinking, hingga sampai bikin saya kesel sendiri dan memutuskan. “F*ck this shit. Let’s do it”

Setelah nekat dieksekusi, baru ide-ide ini kelihatan harganya.

Ideas worth nothing unless executed.

So learning how to execute is so important. It’s your priority number one. That’s the only way you can turn your ideas from nothing into diamonds.

So what ideas you wanna execute today?

Metode Praktis Belajar Hal Baru: Unlearn, Relearn, Measure

Belajar Hal Baru adalah poin teratas dalam daftar resolusi saya tahun 2018.

Saya ingin tahun ini jadi tahun dimana saya lebih berani mencoba hal baru untuk belajar lebih banyak hal baru. Karenanya, saya kembali membaca banyak artikel tentang metode belajar yang efektif dan coba merangkumnya melalui artikel ini.

Dalam mempelajari hal baru, setidaknya ada tiga proses penting yang harus dijalani: Unlearn, Relearn, Measure.

Unlearn

Buat saya, ternyata belajar hal baru tidak semudah dulu. Bagian paling sulit dari proses ini adalah unlearn: mencoba melepaskan kembali apa yang saya tahu.

learn unlearn

Proses ini sebenarnya impossible secara fisiologis; kita tidak mungkin menghapus memori spesifik tentang hal yang kita tahu. Tapi kita harus menciptakan mental state yang membuat kita seakan-akan melepaskan hal-hal yang kita tahu saat kita belajar hal yang baru.

Unlearn menjadi super penting karena kita terbiasa mengulang hal yang sama jika kita sudah tahu jawabannya. Jika kita tidak unlearn, pikiran kita akan selalu menolak ketika ada ide baru.

“Ah kalo kayak gini mah gue udah tau”

“Untuk masalah ini, solusinya ini. Gue udah pernah coba, dan berhasil”

“Ga perlu dicobain yang kayak gini mah, gue udah tau jawabannya salah”

Ketika ucapan-ucapan ini muncul, di situlah kita sudah gagal di langkah pertama mencoba hal baru. Kesadaran bahwa kita sudah tahu akan menahan kita untuk belajar hal baru.

Mengutip Mordo di film Dr. Strange, “May I offer you some advice? Forget everything you think you know”

image

Relearn

Setelah melakukan unlearn, kita akan terbuka untuk belajar kembali: relearn. Konsep Belajar Kembali ini juga susah susah gampang untuk dilakukan, karena kita terbiasa melakukan sesuatu dengan referensi pengalaman terdahulu.

image

Ketika melakukan proses pembelajaran kembali, kita harus membuka diri. Berpikiran terbuka dan membuka diri pada semua kemungkinan; metode baru, cara baru, pola pikir baru, dan orang-orang yang baru.

Misalnya, jika dalam belajar mengembangkan diri hanya dari seminar, mungkin sekarang harus terbuka dengan metode baru seperti mengikuti online course, mendengarkan podcast, atau subscribe artikel-artikel di blog premium.

Atau jika sebelumnya kita hanya punya 1-2 orang sebagai referensi panutan, kita harus mencari referensi panutan yang lain. Bahkan akan lebih baik jika kita mencari referensi tidak hanya dari bidang yang linear. Intinya, harus lebih haus dalam belajar dan mencoba sumber-sumber baru untuk belajar kembali.

Measure

Bagian terpenting dalam seluruh proses belajar adalah konsisten mengevaluasi sejauh mana kita sudah bertumbuh.

image

Dalam proses unlearn dan relearn, kita harus menuliskan Goal utama, menurunkannya dalam bentuk activity, mengukur resultnya setiap hari/pekan, dan mengevaluasi apa yang perlu ditingkatkan di hari/pekan berikutnya.

Di dunia kerja, saya menggunakan sistem OKR (Objective Key Result): sistem yang diciptakan Intel untuk mendokumentasikan progress dan goal dalam company, tapi juga bisa digunakan untuk goal personal. OKR bisa menjadi bahasan tersendiri di tulisan lain, singkatnya bisa dilihat di gambar berikut atau baca di sini.

image

Dengan menjalankan tiga proses tadi – Unlearn, Relearn, dan Measure – kita akan bisa fokus mempelajari hal baru dan berprogress cepat menjadi orang yang lebih baik.

Tulisan ini saya buat sebagai pengingat diri, tapi semoga juga bisa bermanfaat buat siapapun mempelajari hal baru di tahun ini.

Jadi apa hal baru yang ingin kamu pelajari di tahun ini?


Further Read:

Saatnya Berkarya Lagi

Sepertinya cukup lama saya mengambil jeda.

Memiliki kepala yang selalu berisik dan suka melompat-lompat dari satu ide ke ide yang lain, saya geregetan parah menunggu kapan jeda ini berakhir.

Setiap waktu, ingin rasanya segera melompat lagi ke kursi panas. Ga sabar membuka layar dan mengisi kanvas. Rindu menyalakan alat perekam, lalu bicara apa saja sampai puas. Kangen meletakkan jari di atas tuts, lalu membiarkannya bergerak lincah, menari lepas.

Kini jeda itu saya sudahi.

Saatnya berkarya lagi.

Biologeek, Now on Webtoons!

Setelah sekian lama meramaikan dunia instagram, untuk lebih kekinian dan bisa reach out ke lebih banyak netizen dan millennials, kini Biologeek juga hadir di Webtoons!

Biologeek juga mulai bikin komik-komik simpel yang bermuatan pengetahuan biologi. Sesuai misi saya dan Akmal di awal: sebagai sarjana sains, kami ingin mempopulerkan biologi lewat karya kreatif. Dan inilah karya kami.

Itulah juga kenapa kami masukkan komik Biologeek di kategori Slice of Life; karena semacam snack, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari potongan kehidupan makhluk hidup lain. Dan ini yang ingin kami persembahkan untuk pendidikan Indonesia! 

Cek Webtoons kita di link ini, jangan lupa klik Favorit, like, dan comment di komik kita.

Salam kreatif!


Further read:

10 Hal Yang Saya Pelajari dari Buku The Airbnb Story

Saya baru selesai membaca buku The Airbnb Story yang ditulis editor Fortune, Leigh Gallagher.

Judul lengkapnya The Airbnb Story: How three ordinary guys disrupted an industry, made billions, and created plenty of controversy.

image

Buku ini menceritakan perjalanan Airbnb, sebuah platform digital yang menghubungkan jutaan tempat tinggal dengan para traveler. Airbnb memfasilitasi orang-orang yang memiliki apartemen, rumah, bahkan kamar untuk disewakan kepada orang lain; dan memfasilitasi traveler untuk bisa tinggal di berbagai tempat di berbagai kota di seluruh dunia.

Airbnb memudahkan traveler untuk mencari tempat menginap dengan harga termurah atau sesuai preferensi, dan pengalaman yang lebih menarik karena tinggal seperti orang lokal. Saya sendiri pernah menggunakan Airbnb di Bandung, Bali, dan Kuala Lumpur.

Buku ini bercerita tentang perjalanan Airbnb dari sejak trio co-founders memulai di San Fransisco hingga tumbuh menjadi perusahaan global dengan valuasi lebih dari 31 Milyar USD.

Ada banyak cerita menarik dan lessons learned dari cerita Airbnb, dan saya ingin membagikan beberapa diantaranya.

Ini dia 10 poin yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

1. Just Start and Grow

Brian Chesky, Joe Gebbia, dan Nathan Blecharzyk. Trio co-founders ini memulai ide Airbnb bukan dari passion; tapi karena kepepet.

image

Berawal dari kepepet karena tidak bisa membayar kos-kosan (sebenarnya apartemen, tapi ya kurang lebih sama lah), mereka melihat kesempatan saat mengetahui banyak peserta konferensi desain di San Fransisco yang kehabisan hotel. Akhirnya mereka menyediakan air bed dan menyewakan kamar kosan mereka.

Dari sana, baru mereka melihat peluang penyewaan properti seperti rumah dan apartemen sebagai bisnis. Mereka terus belajar dan mengembangkan platformnya dari sekadar blog biasa (bahkan di awal namanya airbedandbreakfast.com) hingga dikembangkan sebagai platform dengan teknologi kompleks.

So if you have an idea, it’s not gonna be something big when you just start. Just start and grow.

2. The Cofounders: Perfect Triangle

image

Dalam perjalanan panjang Airbnb sebagai perusahaan, salah satu yang paling mengagumkan dan jarang sekali dimiliki perusahaan lain adalah komposisi unik cofoundernya.

Chesky, Gebbia, dan Blecharzyk adalah tiga orang dengan karakter dan personaliti yang berbeda, dan saling melengkapi satu sama lain. Diantara mereka bertiga; Chesky adalah pemimpin natural, Gebbia adalah otak kreatif + desain, dan Blecharzyk adalah engineer dengan mindset analitik.

Perbedaan karakter ini membuat Airbnb berkembang pesat karena semua pilar diisi expert di bidangnya masing-masing, dan membuat mereka komprehensif dalam menyelesaikan masalah karena punya berbagai sudut pandang.

Salah satu kesalahan umum orang yang memulai startup: tim dibuat dari lingkaran pertemanan. Akibatnya, seringkali tim tidak efektif karena diisi oleh orang-orang dengan karakter dan keahlian yang sama.

Cofounder Airbnb justru menunjukkan sebaliknya; perbedaan karakter akan membuat tim sangat solid dan cepat berkembang.

3. Shameless in Learning

Ketiga cofounder Airbnb adalah pemula saat memulai. Apalagi sang CEO, Brian Chesky, yang saat memulai Airbnb bisa dibilang belum punya pengalaman kerja yang mumpuni.

image

Tapi kekurangan itu justru diakuinya sebagai keuntungan terbesarnya.

“Karena saya banyak tidak tahu, saya jadi tidak tahu malu saat belajar”, kata Chesky. Dia tidak malu untuk datang ke berbagai sumber; membaca buku, mendatangi mentor dan pengusaha senior, dan menghabiskan waktu berjam-jam untuk ngobrol dan bertanya apapun yang harus dia pelajari.

4. Learning Fast By Going to One Source

Airbnb tumbuh sebagai perusahaan dengan sangat cepat, yang berarti Chesky sebagai pemimpin juga harus belajar dan bertumbuh dengan sangat cepat.

image

Dalam dunia startup dan bisnis pada umumnya, salah satu metode belajar adalah mendatangi pebisnis senior yang sudah berpengalaman.

Dalam hal ini, Chesky mengembangkan metode belajarnya sendiri yang disebut Going to The Source: alih-alih datang ke 10 sumber dan menyimpulkan nasihat mereka semua, lebih baik habiskan setengah waktu untuk mencari satu orang yang paling relevan, dan hanya datang ke orang itu.

Chesky belajar dari banyak pebisnis; bisnis global dari Warren Buffet, desain dari Johy Ive (Apple), manajemen dari Bob Iger (Disney), ekspansi internasional dari Sheryl Sandberg, dan masih banyak lagi.

Find your most revelant mentor, and go ask for his/her advice.

5. Go With Mission

image

Airbnb adalah salah satu bisnis yang bergerak dengan misi. Misi Airbnb tercetak jelas dalam logo dan slogan mereka: Belong Anywhere.

Mereka ingin menciptakan dunia dimana semua orang bisa merasakan menjadi bagian dari masyarakat, tempat, dan cinta, dimanapun mereka berada.

Meski bisnisnya bergerak di bidang properti, tapi misi belong anywhere menggerakkan semua orang yang terlibat dalam Airbnb untuk bergerak lebih dari sekadar motif uang. This makes them go extramile, and create an extraordinary impacts.

6. To Scale, Do The Unscalable

Menumbuhkan skala bisnis (to scale) adalah tantangan besar sebuah bisnis.

image

Airbnb sempat mentok pertumbuhannya. Saat Chesky dkk. melakukan analisis, ternyata pengguna mereka pada saat itu tidak bertumbuh karena foto-foto properti yang ada di listing mereka tidak menarik.

Chesky turun sendiri mendatangi rumah-rumah yang disewakan dan memberikan jasa fotografi gratis. Beberapa orang bahkan tidak tahu bahwa Chesky yang saat itu turun sendiri adalah CEO nya. Setelah list itu memiliki foto-foto yang bagus, barulah pengguna Airbnb bertumbuh pesat.

Untuk bertumbuh, terkadang kita harus melakukan hal-hal yang unscalable alias merepotkan dan butuh effort besar, tapi tetap harus dilakukan.

7. Recruit The Best Talent

Di dunia startup, tim adalah koentji.

image

Chesky punya concern besar terhadap tim, apalagi anggota tim di awal perusahaan. “Tim di awal seperti menanamkan DNA perusahaan”, kata Chesky.

Karenanya, dia juga memastikan 300 karyawan pertama diwawancara secara langsung oleh Chesky, untuk meyakinkan bahwa semua anggota tim memiliki visi dan value yang sama.

Hasilnya, tim dengan visi yang sama membawa Airbnb melesat dengan cepat.

8. Disruption Always Get Rejection

Inovasi besar selalu mendapatkan perlawanan. Setidaknya di awal.

image

Hal ini mudah dipahami mengingat inovasi selalu merupakan perlawanan pada status quo, sehingga orang-orang yang sudah berada di zona itu pasti terganggu.

Dalam kasus Airbnb, model bisnisnya “mengganggu” jaringan hotel besar, pengelola apartemen, dan tentu saja pemerintah sebagai regulator.

Airbnb mendapat penolakan di banyak kota, bahkan di kota besar seperti New York dan tempat asalnya sendiri, San Fransisco.

Jika kamu punya ide yang tertolak, mungkin perlu berbaik sangka karena semua inovasi besar selalu dapat penolakan. Tinggal bagaimana kita terus maju dan meyakinkan bahwa inovasi kita membawa manfaat dan dampak.

9. Bigger Size = Bigger Problems

Ukuran yang membesar tidak membuat Airbnb selesai dengan masalah.

Justru semakin besar ukurannya, semakin besar pula tantangan dan masalah yang mereka hadapi.

Di awal, Airbnb berjuang dengan masalah bagaimana caranya menumbuhkan pengguna. Setelah membesar, mereka berkutat dengan ekspansi dan adaptasi ide Airbnb ke berbagai kota. Lalu mereka mendapatkan masalah besar dari pemerintah dan jaringan pengusaha properti di New York. Belum selesai dari itu, mereka juga mendapatkan isu negatif tentang rasisme di platform Airbnb.

Chesky pernah bilang, semakin besar perusahaan mereka, semakin banyak pula yang terlibat dan semakin besar pula tantangan mereka.

Bersiap hadapi tantangan yang lebih besar seiring pertumbuhan perusahaan/ide kita yang semakin membesar.

10. Be A Cockroach

Salah satu cerita paling legendaris dari Airbnb adalah saat mereka menjual sereal Obama O’s dan Cap’n McCains.

image

Tahun 2008 saat pemilu Amerika berlangsung, Chesky dkk. yang saat itu masih kesulitan menumbuhkan Airbnb dan hampir kehabisan uang justru memiliki ide gila. Mereka belum bisa mendapatkan banyak uang dari penyewaan properti, jadi mereka bertaruh di hal lain; mereka menjual sereal dengan gimmick politik.

Mereka membeli seral kiloan, lalu dibungkus dengan packaging berjudul Obama O’s dan Cap’n McCains yang dijual seharga 40$. Ide ini viral dan habis terjual, hingga mereka berhasil mengumpulkan 30.000$ yang memberi mereka nyawa lebih untuk mengembangkan Airbnb. Meskipun yang mereka lakukan justru tidak ada hubungan langsung dengan model bisnis mereka.

Saat Paul Graham (Y Combinator, inkubator yang memberi pendanaan awal untuk Airbnb) mendengar cerita ini, dia langsung yakin pada Chesky dkk.

“You guys are cockroaches”, kata Graham. “You just won’t die”.

So lessons learned: pertahankan ide dan bertahan hidup dengan cara apapun. 

Jadilah kecoa.


Itu dia 10 hal yang saya pelajari dari The Airbnb Story.

Masih banyak cerita menarik lain di bukunya. Dan juga banyak video cerita Airbnb di berbagai talks di Youtube. Berikut beberapa diantaranya:

  1. The Airbnb Story – Startup Founder Biography
  2. Brian Chesky – Launching Airbnb and the Challenges of Scale

  3. Joe Gebbia – How Airbnb Design for Trust
  4. Nathan Blecharczyk – The real story about how Airbnb was founded

Semoga menginspirasi.

Salam kreatif!

Belajar di World Press Freedom Day 2017, Jakarta

Senin kemarin (1/3), saya menghabiskan hari libur dengan mengikuti event World Press Freedom Day 2017 di JCC Senayan, Jakarta.

World Press Freedom Day yang diperingati pada tanggal 3 Mei setiap tahunnya adalah event tahunan untuk meningkatkan awareness terhadap kebebasan pers sebagai salah satu kekuatan perubahan. Seperti kata Kang Ridwan Kamil, media adalah salah satu tonggak besar perubahan selain bisnis, pergerakan masyarakat, dan pemerintah.

Salah satu rangkaian World Press Freedom Day 2017 di Jakarta adalah Workshop on Media Literacy and Citizen Journalism. Di hari senin saat semua libur, saya dan 20 jurnalis muda lain ikutan acara ini.

Workshop ini diselenggarakan UNESCO Bangkok dan Rappler Indonesia. Selama satu hari, saya belajar banyak tentang peran media, kebebasan berekspresi, sampai hal-hal teknis dalam menulis di sosial media.

Di awal acara, kami melakukan game role playing, dimana sebagian peserta ditunjuk untuk berperan sebagai jurnalis, dan sebagian lainnya ditunjuk sebagai pemerintah. Kami diberikan skenario dimana jurnalis harus menuliskan artikel laporan tentang sebuah kecelakaan yang menelan banyak korban akibat korupsi yang dilakukan pemerintah. Sementara itu, semua berita harus melalui filter pemerintah sebelum bisa dipublikasikan di media.

Saya kebagian peran sebagai jurnalis. Setelah tulisan selesai, peserta yang menjadi pemerintah akan melakukan screening dan menetukan apakah tulisan tersebut lolos dipublikasikan atau ditolak.

Ternyata tulisan saya ditolak, hehe. Wajar sih, saya banyak nulis kalimat provokatif di artikelnya.

Role-playing game ini mengingatkan saya dengan serial Netflix berjudul House of Cards, yang juga bercerita tentang politisi dan seorang jurnalis. Aktivitas ini membuka wawasan saya bahwa menjadi jurnalis bukanlah pekerjaan mudah. Jurnalis harus menulis berdasarkan fakta, tidak bias, dan harus bisa berkompromi pada titik tertentu agar informasi bisa sampai pada tujuan besarnya.

Selanjutnya, kami berdiskusi tentang Freedom of Expression, salah satu bahasan simpel yang sulit sekali saya jawab. Di salah satu sesi, David Young, pembicara dari UNESCO Bangkok, menanyakan hal simpel yang sulit sekali saya jawab.

“Do you think you have freedom of expression?”

Saya berpikir cukup lama untuk pertanyaan ini, karena di satu sisi saya merasa saya punya segala kebebasan untuk berekspresi. Tapi di sisi yang lain, saya punya banyak ketakutan dijudge karena opini-opini saya, sehingga banyak opini yang tidak saya ekspresikan di ranah publik.

Screencap artikel liputan Rappler tentang event workshop (yang ada sayanya). Baca di sini.

Di sesi berikutnya, Abdul Qowi dan Natashya Gutierezze dari Rappler Indonesia berbagi tentang penggunaan Social Media for Social Good dan Multimedia Reporting.

Di akhir acara, kami pun ditantang untuk membuat artikel dengan teknik multimedia reporting tentang acara di hari itu.  Saya menuliskan kebingungan saya tentang kebebasan berekspresi. Dan saya lengkapi dengan melakukan wawancara singkat dengan peserta lain yang ada di sana.

Hasilnya, artikel ini yang saya publikasikan di platform Rappler X.

Dan saya presentasikan di depan teman-teman peserta yang lain.

It was a very fruitful day for me. Rasanya workshop ini adalah aktivitas belajar dalam kelas yang saya jalankan lagi setelah sekian lama. Jadi kangen masuk kelas lagi.

Thanks for UNESCO Bangkok and Rappler Indonesia untuk kesempatan belajarnya. Will use the knowledge for writing good news and spreading positivity in our social media!


Further Read

Kita Lawan Dengan Karya

Ramadhan tahun lalu, saya sempat sharing bareng @tatakhan dan @ariosandjoyo di acara Forum Indonesia Muda.

Saya ngobrolin tentang personal branding, bagaimana menjadi millennials yang berkarya di era digital.

Ngomongin tentang dunia digital, saya pribadi orang yang ga terlalu percaya dengan konsep anti dan blokir. Bukan berarti tidak perlu, tapi saya percaya konten negatif itu ga bisa dihentikan, karena meskipun kita blokir sana sini, toh mereka akan selalu muncul dengan cara dan metode yang baru.

Pornografi misalnya, Vimeo diblokir, mereka lari ke Bigo. Bigo diblokir, lari ke Youtube. Youtube diblokir, mungkin mereka lari ke Twitter, Facebook, dan lain-lain (loh kok saya tau banget).

Intinya: konten negatif itu ga bisa dihentikan, tapi bisa dilawan.

Caranya?

Dengan mengisi sosmed kita dengan konten positif; sharing, karya, cerita, informasi. Lawan dengan pendidikan literasi digital, agar masyarakat tahu fungsi terbaik dari internet adalah untuk membuat konten yang berguna. Kita lawan dengan karya.

Yang melawan?

Ya kita, semua millennials yang punya akun sosmed, yang punya power untuk membuat konten positif, sekecil dan sesederhana apapun itu. Kita yang secara ga langsung jadi punya tanggung jawab untuk memastikan buat bikin timeline sosmed kita positif untuk semua orang.

Tapi saya bisa apa kak?

Mulai dengan berbagi keresahan dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Mulai dengan berbagi tentang isu-isu yang kita suka. Mulai dengan bercerita tentang kegiatan positif yang kita lakukan.

Sesimpel apapun itu, sesederhana apapun itu. Kita tidak pernah tahu seberapa besar dampaknya. Bisa saja satu tweet kecil yang kita buat bisa menyelamatkan hidup seseorang di luar sana.

Dengan semua konten negatif yang semakin bertebaran di sosial media, ini saatnya kita semua ikut ambil peran untuk melawan.

Kita lawan dengan karya.


Tonton pembicaraan saya di video ini.

 

Words Of Life Season 5 

Setelah cukup lama tidak posting tentang #WordsOfLife, saya diingatkan kembali oleh salah satu pertanyaan yang masuk di inbox.

#WordsOfLife adalah project kolaborasi online antara saya dan Akmal (ilustrator): membuat pun dari berbagai jenis hewan dan tumbuhan.

#WordsOfLife is me and @biologeek listening to life creatures telling us many things.

Semua proses kolaborasi dilakukan secara online, terutama melalui whatsapp. Kami melakukan postingan secara berkala di Instagram, dan sangat gembira dengan apresiasi yang didapatkan dari berbagai kalangan.

September kemarin, Biologeek juga diliput Sunday Magazine, dan salah satu desain kami dijadikan cover! Versi digitalnya bisa dibaca di sini.

Di #WordsOfLife Season 5 ini, kami mengumpulkan 5 pun yang bisa digunakan untuk obrolan sehari-hari.

Follow instagram @biologeek dan cek koleksi #WordsOfLife season sebelumnya:

Thank you very moth!

Saya percaya pada hukum probabilitas. Bahwa semakin banyak kita mencoba, semakin besar pula peluang kita untuk berhasil.

Kita seringkali lupa bahwa gagal adalah bagian dari perjalanan. Kita tidak akan berhasil dengan menghindarinya; justru kita harus melaluinya untuk mencapai keberhasilan di ujung sana.

Saya ingin lebih berani menerima kegagalan.

2016 sudah setengah perjalanan. Masih ada waktu untuk lebih banyak jatuh dan belajar.

Fail fast. Succeed faster.

Words Of Life Season 4: Relationship

Setelah cukup lama tidak posting tentang #WordsOfLife, saya diingatkan kembali oleh salah satu pertanyaan yang masuk di inbox.

#WordsOfLife adalah project kolaborasi online antara saya dan Akmal (ilustrator biologeek): membuat pun yang lucu dari berbagai jenis hewan dan tumbuhan.

#WordsOfLife is me and @biologeek listening to life creatures telling us many things.

Semua proses kolaborasi dilakukan secara online, terutama melalui whatsapp. Kami melakukan postingan secara berkala di Instagram, dan sangat gembira dengan apresiasi yang didapatkan dari berbagai kalangan. Berawal dari iseng mengisi waktu luang berkarya, #WordsOfLife kini bahkan bisa menjadi alternatif emoji atau meme dalam percakapan di sosial media.

Di Season 4 ini, kami mengangkat 5 tumbuhan yang berbicara soal relationship.

Follow instagram @biologeek dan cek koleksi #WordsOfLife season sebelumnya:

Salam kreatif!