Jembatan Luchtsingel: Kolaborasi Kreatif Untuk Pembangunan Kota

Rotterdam berbangga punya satu infrastruktur publik yang menjadi simbol kolaborasi raksasa.

ZUS, studio arsitektur yang merancang jembatan ini dengan bangga memperkenalkan Luchstingel sebagai world’s first crowdfunded public infrastructure project. Proyek infrastruktur publik pertama yang dihasilkan dari crowdfunding. 

Dinamakan Luchstingel yang berarti kanal udara, jembatan ini berada di atas bangunan, jalan, dan rel kereta api: menghubungkan tiga area yang sebelumnya terpisah. Jembatan ini membuat jalan layang untuk pejalan kaki yang menghubungkan stasiun Rotterdam Centraal dengan distrik bersejarah Laurenskwartier. Dan juga menghubungkan beberapa proyek seru lain, seperti taman publik dan kebun sayur di rooftop.

Jembatan kuning sepanjang 400 meter itu adalah hasil patungan dari ribuan orang. Gagasan pembangunan jembatan ini dilempar ke masyarakat dengan ide: untuk setiap donasi €25 (sekitar Rp 400.000), nama donatur akan dicetak di salah satu papan kayu yang menyusun jembatan.

Lebih dari 8.000 orang mendukung dan berdonasi untuk jembatan ini. Gerakan luar biasa ini kemudian juga mendapatkan dukungan finansial dari pemerintah kota. Sebuah cara baru dalam membangun infrastruktur publik dengan melibatkan semua elemen kota.


Kapan di Indonesia akan ada kolaborasi seru seperti ini?

Saat ini, sepertinya kota paling memungkinkan untuk terjadinya kolaborasi semacam ini adalah Bandung.

@ridwankamil telah memulai berbagai inovasi kreatif dalam pembangunan infrastruktur, mulai dari perencanaan, pembiayaan, sampai arsitekturnya. Budaya kolaborasi warga Bandung pun semakin bertumbuh dengan menjalankan prinsip hidup adalah udunan.

Semoga Bandung semakin juara dan menjadi teladan kota kreatif bagi ribuan kota lainnya di Indonesia.

Salam kreatif!

Native American, punya sebuah semboyan yang bernama “Save The Cow”, yang intinya kalau kita sedang bertemu dengan seekor sapi yang tenggelam di pasir hisap, hal pertama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan sapi itu dari lumpur, baru berpikir kenapa sapi itu bisa terperosok masuk, baru kemudian berpikir bagaimana caranya kita bisa menjamin sapi itu tidak terperosok lagi ke pasir hisap tadi.

Kalau kita sibuk saling menyalahkan atau sibuk panik dan berpikir apa yang terjadi, sapinya keburu mati tenggelam. Hari ini kita membuktikan bahwa daripada sibuk saling menyalahkan, kita memilih untuk langsung mengambil tindakan. Banyak yang menuntut dahulukan pelaku ditangkap dan ditindak, namun ditengah ketidakpastian hukum dan informasi yang simpang siur, beruntung kita memutuskan untuk turun tangan. Setidaknya saudara saudara kita di Tolikara tau, ada bantuan yang disegerakan.

Kurang dari 3 hari, donasi Masjid Tolikara telah tercapai, bahkan melebihi target. Untuk itu kami memutuskan untuk menghentikan penggalangan dana saat ini juga. Sehingga per hari ini (selasa 21 juli) tidak ada lagi donasi baru yang masuk, namun kami masih memberikan waktu untuk yang sebelumnya sudah klik donasi namun belum melakukan transfer untuk merealisasikan donasinya hingga jam 23.59 hari ini.

Maksimal lusa kami targetkan donasi sudah sampai di tangan yang membutuhkan. Donasi kita sendiri akan diserahkan sepenuhnya kepada Bulan Sabit Merah Indonesia – Jayapura sebagai dana pembangunan Masjid. Kita percaya mereka akan manfaatkan sebaik-baiknya. Lewat surat resmi mereka meminta uluran tangan, dengan sigap saudara sebangsa, lintas agama, lintas suku, menyalurkan bantuan sebagai jawaban.

Semuanya sayang saudara saudara di Papua.

Mereka menyatakan menolak konflik ini jadi lebih runcing. Mereka tidak ingin ada yang datang dan membawa perang atas nama balas dendam. Perang selalu membawa keterbelakangan, mereka ingin maju. Maka kalau kita benar benar peduli mereka, ini adalah jalan terbaik yang kita punya.

Terima kasih Bangsa Indonesia.

Masih di dalam semangat Idul Fitri kita telah buktikan, cinta menang atas dengki dan dendam.

Yang kita perjuangkan, kini kita telah menangkan.

Salam,

Pandji Pragiwaksono

Kitabisa.com/masjidtolikara

Tolikara: Saatnya Kita Bertindak!

image

17 Juli kemarin, saudara kita di kabupaten Tolikara diserang oleh beberapa oknum. Saat kita sedang khusyuk sholat Ied, mereka berlari ketakutan menyelamatkan diri. Saat kita santai menikmati waktu bersama keluarga, badan mereka awas penuh waspada. Saat kita sedang bertakbir penuh bahagia, ada orang-orang yang mau merebut hari kemenangan kita.

Belasan rumah, kios, dan rumah ibadah terbakar.

Kabar di sosial media bergulir cepat; berbagai versi cerita menggempur linimasa kita. Ribuan orang bereaksi: meneriakkan makian, provokasi, dan suara balas dendam.

Terasa aneh karena kita masih di hari Idul Fitri, hari dimana kita seharusnya bisa lebih menahan diri.

Kita bisa terbakar emosi dan saling memaki, tapi itu semua hanya akan jadi perbuatan sia-sia. Kita bisa berdebat dengan dalil dan kitab-kitab, tapi semua itu tidak akan mengubah apa-apa. Kita bisa reaktif menuntut balas dendam, tapi kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan lain, memutar lingkaran setan yang tidak akan ada habisnya.

Tapi satu hal yang pasti, orang-orang di Tolikara kehilangan masjidnya. Selagi kita beradu pendapat, mereka tidak lagi punya tempat untuk sholat. Selagi kita wara wiri silaturahmi, mereka tidak lagi punya tempat untuk bermunajat diri.

Ini waktu yang tepat untuk berbuat nyata.

Saatnya kita turun tangan.

Saatnya kita bertindak.

image

Bersama Kitabisa.com, @Pandji menginisiasi penggalangan dana
untuk membangun kembali Masjid Tolikara. Kita bantu masyarakat di sana
mendapatkan kembali tempat ibadah mereka. Klik kitabisa.com/masjidtolikara.

image

Kolaborasi orang baik kembali menunjukkan kekuatannya. Baru dilaunch selama satu hari, kita sudah mengumpulkan 57 juta rupiah.

Silahkan cek daftar pendukungnya, dan Anda akan takjub dengan nama-nama di sana. Hampir 200 orang sudah ikut berpatungan; besar dan kecil, semua ikut menyumbang. Beberapa diantaranya bahkan teman-teman non muslim, karena ini bukan hanya tentang sekelompok golongan, tapi tentang saudara kita yang direbut haknya.

image

Ada banyak orang baik di luar sana. Saat ini mereka sedang bergandengan
tangan, berbuat nyata. Kita bisa memilih duduk diam, sekedar berkoar-koar
di layar kaca, atau ikut bergabung berbuat nyata.

Ikut bergabung dan beri donasi di kitabisa.com/masjidtolikari, atau bantu
kami sebarkan kebaikan ini ke masyarakat yang lebih luas lagi.

Mengutip Pandji,

Mungkin ada orang yang ingin memecah belah kita, tapi takkan kta biarkan mereka menang.

Ini Idul Fitri kita.

Ini hari kemenangan kita.

Mari menangkan.



100% donasi yang terkumpul melalui kitabisa.com akan ditujukan ke Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) cabang Jayawijaya Papua.