Mengatasi Masalah Dengan Standup Comedy

image

Entah sejak kapan, saya jadi sangat tertarik pada Standup Comedy. Yang saya ingat jelas, mungkin karena suatu hari saya terdampar di blognya @pandji dan akhirnya mulai membaca dan menonton berbagai video Standup Comedy di Youtube.

Ketertarikan saya pada awalnya murni sebatas seru-seruan saja. Ternyata semakin saya membaca tentang Standup, semakin kuat daya tarik yang saya rasakan. Karena ternyata, Standup Comedy memiliki dua komponen penting yang sangat saya sukai: 1. Menulis, dan 2. Berbicara di depan publik.

Kata banyak orang, Standup Comedy adalah komedi cerdas. Seperti semua hal, ada yang setuju dan tidak, ada pro dan kontra.

Saya sendiri ada di bagian pro, dimana saya sangat setuju. Mari kita bahas.

Pertama, menurut saya komedi sendiri adalah salah satu jenis hiburan yang membutuhkan kecerdasan tingkat tinggi. Apapun jenis komedinya, menciptakan kelucuan membutuhkan kreativitas. Dalam menciptakan komedi seseorang harus memiliki kecerdasan untuk bisa memahami status quo dari isu yang dibahas, memiliki kreativitas yang baik dalam menciptakan logika alternatif, dan memilki kemampuan yang mumpuni dalam delivery.

Bahkan pada jenis komedi slapstick yang oleh banyak orang dianggap kampungan, kreativitas dan kecerdasan sangat dibutuhkan. Lihat saja bagaimana komedian seperti Olga, Deni Cagur, atau Komeng menciptakan contoh-contoh kocak yang ga pernah kepikiran.

“Alaaah, dasar kancing baju koko!”

“Etdah, berisik banget lu kayak baskom antibocor!”

Memang kebanyakan salah secara moral karena ngata-ngatain orang. Tapi saya sendiri tetap sering ketawa dan kagum, bagaimana coba mereka kepikiran untuk memunculkan istilah “kancing baju koko” dan “baskom antibocor”. Bagi saya, kreativitas dalam menyebutkan permisalan oleh para komedian ini sama seperti kreativitas yang digunakan Dee dalam menuliskan “seperenambelas mati” atau Andrea Hirata dalam menyebutkan “Serbuk Pilea” di novelnya masing-masing. Orang umumnya sering menyebut “setengah mati”, tapi Dee memplesetkannya ke dalam bilangan yang lebih kecil dan ga pernah kepikiran menjadi “seperenambelas”. Sedangkan Andrea Hirata menggambarkan luapan inspirasi dari Lintang dengan permisalan yang tinggi dan tak terbayangkan: seperti luapan “Serbuk Pilea (bunga meriam)”.

Komedian itu orang-orang yang cerdas, pikiran mereka spotan dan ide-idenya meluap cepat dan tidak sabaran. Di Indonesia, komedian kebanyakan melucu dengan self depreciating alias merendahkan diri sendiri. Akhirnya banyak komedian yang dianggap beneran goblok, bahkan dalam kehidupan sehari-harinya, karena mereka memang merendahkan diri sendiri untuk membuat orang tertawa. Padahal justru self-depreciating itu hanya akan lucu kalau dilakukan dengan cerdas. Ga percaya? Coba pelajari bagaimana Haji Bolot yang dianggap lucu oleh hampir semua orang. Saya sendiri geleng-geleng kepala bagaimana cerdasnya Haji Bolot memainkan peran berpura-pura bolot dan menyahut lawan bicara dengan sangat tidak nyambung, tapi ujungnya bisa nyambung lagi.

Yang ingin saya katakan adalah, komedian adalah orang-orang kreatif. Dan mereka sama kreatifnya dengan para novelis yang dari karyanya jelas terlihat pintar. Artinya, jika anda mengagumi Dee dan Andrea Hirata karena kreativitas mereka dalam meramu kata-kata pada novelnya, maka seharusnya Anda juga mengagumi para komedian karena kreativitas mereka dalam meracik kelucuan. Karena pada dasarnya bahan yang mereka olah untuk berkarya adalah sama.

Kembali ke Standup Comedy.

Kedua, orang sering salah sangka bahwa yang dimaksud komedi cerdas berarti penikmatnya  yang harus cerdas, baru bisa tertawa dan menikmati standup comedy. Menurut saya pernyataan ini (sangat) salah, karena keharusan untuk menjadi cerdas bukan pada penonton. Tapi pada komikanya (Komika adalah sebutan untuk seorang Standup Comedian).

Standup comedy berbeda dengan jenis komedi lain karena satu hal mendasar: standup dilakukan oleh satu orang. Tidak seperti sitkom, lenong, atau ketoprak humor, standup dilakukan tanpa lawan bicara dan tanpa bantuan sound effect atau musik. Artinya, standup comedy hanya mengandalkan ucapan/monolog dari sang komika.

Hal ini jelas membutuhkan kecerdasan. Seorang komika harus pandai menciptakan konten, menyusun dan memilah kata, serta membuat skenario yang apik dari setup hingga punchline. Lalu karena mengandalkan monolog, seorang komika juga harus memiliki kecerdasan dalam berkomunikasi; mampu memainkan mimik wajah, pandai mengatur intonasi, dan menjaga artikulasi.

Kecerdasan lainnya yang harus dimiliki seorang komika adalah sensitivitas humor. Saya pribadi membatasinya secara khusus sebagai kepekaan terhadap kondisi sekitar. Seorang komika harus peka dalam menyikapi suatu isu dan mengejawantahkannya ke dalam bit-bit komedi. Dan komika harus sadar betul kecocokan antara materi yang dibawa dengan penontonnya. Komika yang cerdas tahu kapan dia harus membicarakannya dan kapan dia harus menahannya.

Sebagai contoh, ada banyak kasus dimana seorang komika sukses menuai tawa di satu penampilan dan ngebom di penampilan lain. Btw, ngebom adalah istilah untuk kejadian dimana seorang komika tampil ngelucu tapi ga ada yang ketawa, istilah sederhananya krik-krik. Misalnya ada komika yang sukses tampil di kafe berkelas di Kemang (dengan penonton kelas menengah ke atas), tetapi malah “krik-krik” ketika tampil di panggung rakyat, di acara dangdut atau kondangan (dengan penonton kelas menengah ke bawah).

Pada kasus seperti ini, pasti banyak orang yang menyalahkan penontonnya, “Ah ya iyalah lo manggung sama penggemar dangdut, mana ngerti ama materi standup”. Menurut saya, sangat aneh jika ada orang yang menyalahkan penontonnya. Lah mereka kan emang cuma datang mau dangdutan atau kondangan, kenapa mereka yang jadi dicap ga pengertian?

Kalo ga lucu, ya salahkan komikanya. Kalo orang tertawa ketika tampil di Kemang, ya itu karena materi yang dibawakannya cocok dengan penontonnya. Artinya, penonton di acara dangdut sama kondangan ga ketawa karena mereka ga cocok dengan materinya. Dan ini salahnya si komika. Dia tidak sensitif, bisa mengidentifikasi karakter penonton dan mencocokkannya dengan materi yang dibawakan. Kalau komika yang cerdas dan sensitivitas humornya tinggi, tentu dia akan membawakan materi yang “lebih membumi” ketika tampil di panggung dangdut, atau bahkan tidak tampil sama sekali. Pilihan untuk menolak tampil karena pertimbangan sukses tidaknya penampilan juga kecerdasan yang harus dimiliki oleh seorang komika.

Ketiga, Standup adalah komedi cerdas karena hanya bisa dibawakan oleh orang yang berani. Secara kultural, standup lahir di Amerika ketika kritik sosial di hadapan publik dianggap tabu. Diantaranya, ketika itu rasisme masih terjadi di Amerika dan sangat jarang orang yang berani membicarakannya di hadapan orang banyak. Lalu muncul orang-orang berani yang  membicarakan rasisme di panggung-panggung, bahwa orang kulit berwarna tidak seharusnya diperlakukan berbeda dengan orang kulit putih. Tapi dikemas dalam bit-bit komedi, sehingga bukannya marah, orang-orang yang mendengarnya malah tertawa.

Dan di sinilah saya sangat tertarik dengan Standup Comedy.

Standup dapat digunakan sebagai media yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan. Ketika kita ingin menyampaikan kritik terhadap sesuatu yang salah, tentunya kita ingin orang bisa menerima apa yang kita sampaikan. Tapi kebanyakan orang yang sudah menganggap dirinya benar tidak mau mencerna apa yang kita katakan, bahkan seringkali menutup telinga dan tidak mau mendengar sama sekali.

Standup comedy, mengatasi masalah ini.

Seperti yang diceritakan @pandji dalam bukunya Merdeka Dalam Bercanda, standup adalah bagian dari perlawanan terhadap rasisme di Amerika. Di atas panggung, para komika dengan berani menjadikan isu-isu rasisme sebagai materi, membuat orang tertawa dan kemudian menyadari ada kesalahan disana. Melalui komedi, “people reflect themselves, see the mistakes in themselves, laugh about it, and changed their lifes”.

Dengan komedi, kita membuat orang-orang tertawa dan membuka diri dengan apa yang ingin kita sampaikan. Mereka tertawa, dan setelah itu berhenti sejenak dan mulai berpikir tentang apa yang kita sampaikan, dan membuat perubahan dengan menerima bahwa itu adalah kesalahan. Kesalahan yang seringkali saking tololnya jadi lucu dan bisa membuat kita tertawa.

Kita harus mulai menyadari bahwa banyak kesalahan yang terjadi di sekitar kita dan kita biarkan saja, hanya karena tak ada yang berani membicarakannya. Kita semua berpura-pura kesalahan itu tidak ada. Tapi kesalahan itu tetap ada, dan selalu disana sementara kita diam dan berlagak tidak ada apa-apa.

Standup comedy mengaburkan ketabuan ini. Standup comedy membuka kesempatan bagi kita untuk membicarakan kesalahan, berintrospeksi, melakukan perubahan, dan memperbaiki diri.

Dan saya percaya, dengan cara yang cerdas, kita bisa berfleksi dan memperbaiki diri.

Salah satunya dengan standup comedy.

Inspirasi dari Growbox, Kotak Jamur Indonesia Yang Mendunia

Mari menumbuhkan makanan kita sendiri!

Semangat inilah yang mendorong enam pemuda asal Bandung menciptakan produk kreatif bernama Growbox, sebuah kotak sederhana berisi jamur tiram yang bisa dibudidayakan oleh siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Dengan kemasan berbentuk box yang simpel dan menarik, Growbox menawarkan pengalaman baru dalam kegiatan urban farming.

Kreativitas yang melahirkan produk ini lahir dari kolaborasi enam mahasiswa dari disiplin ilmu yang berbeda, yaitu Annisa Wibi (Fakultas Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan UNPAD), Arekha Bentangan (Mikrobiologi ITB), Derri Abrahan (Desain Produk ITB), serta Adi Reza, Robbi Zidna, dan Ronaldiaz (Arsitektur ITB).

Ide produk ini berawal dari keresahan mereka terhadap isu pangan di negara kita. Indonesia adalah negara agrikultur, tetapi impor pangan terus meningkat dari tahun ke tahun.

“Ini karena masyarakat pada umumnya engga peduli makanannya dari mana”, ujar Annisa. Menurutnya, masih banyak masyarakat perkotaan yang menganggap mengonsumis makanan impor itu prestisius, padahal makanan tidak didesain untuk melakukan perjalanan yang panjang. Karenanya mereka mulai berpikir bagaimana caranya mengedukasi dan mengubah gaya hidup masyarakat untuk mulai menumbuhkan makanan sendiri. Karena dengan menumbuhkan makanan sendiri, kita bisa memastikan kualitas kesehatan dan kesegaran makanan yang kita konsumsi. Salah satu caranya adalah dengan mempopulerkan urban farming.

Di awal September 2012, mereka mendapatkan inspirasi ketika berjalan-jalan di Yogyakarta dan makan siang di sebuah restoran yang menyajikan aneka makanan dari jamur. Dekorasi berbagai media tanam jamur yang menghiasi restoran tersebut juga memantik kreativitas dan pertanyaan dalam benak mereka: bisakah kita menumbuhkan jamur di kota? Saat pulang ke Bandung, mereka membawa segudang keingintahuan dan berkunjung ke sentra jamur tiram di Cisarua Lembang. Dari sana, mereka segera melakukan riset dan prototyping Growbox.

Produk Yang Ramah Lingkungan

Riset awal dilakukan terhadap jenis bibit jamur, komposisi nutrisi, dan penggunaan media tanamnya. Media tanam yang digunakan sangat ramah lingkungan, karena berasal dari limbah industri kayu berupa serbuk. Serbuk kayu kemudian dicampur dengan dedak dan kapur, lalu dimasukkan ke dalam kemasan plastik yang disebut baglog. Baglog disterilisasi dengan uap air bertekanan untuk mengurangi kontaminasi dengan jamur atau mikroba lainnya sebelum ditempatkan di dalam box. Jamur tiram yang dibudidayakan hingga saat ini adalah dari jenis Pleurotus ostreatus, Pleurotus citrinopileatus, dan Pleurotus djamoer.

Sebagai produk yang mengedepankan pengalaman pengguna, desain kemasan juga menjadi faktor penting dalam pengembangan Growbox. Bentuk box benar-benar didesain untukmemberikan pengalaman menarik bagi konsumen. Misalnya pada tutorial penggunaan Growbox, tahap pertama adalah menuliskan nama jamur yang akan kita tumbuhkan pada salah satu sisi box. Hal tersebut akan memberikan kesan menyenangkan dalam melakukan kegiatan urban farming.

Selain itu, Growbox juga didesain untuk memudahkan kegiatan budidaya jamur. Pengguna hanya perlu membuka segel dan menyayat baglog saat memulai. Untuk pemeliharaan, kita hanya perlu menyemprotkan air biasa 1-3 kali sehari dan menjaganya dari sinar matahari langsung. Dalam 2-4 minggu, jamur sudah dapat dipanen dan dikonsumsi. Dan tak hanya sampai disitu, jamur juga dapat dipanen hingga 3-4 kali.

Sejak pertama kali diluncurkan pada Oktober 2012, produk ini telah diterima dengan sangat baik oleh pasar. Tidak hanya di Indonesia, Growbox juga telah sampai ke berbagai negara mulai dari Malaysia, Cina, Inggris, Jerman, Hungaria, dan Islandia.

Awalnya Annisa pun mengaku bingung ketika mendapatkan email dari orang-orang yang tinggal di negara tersebut. Mereka mengatakan bahwa jamur Growbox tumbuh subur disana dan ingin membeli lebih banyak lagi. “Ketika ditanya, rata-rata mereka bilang dapat Growbox dari temannya yang orang Indonesia. Oleh-oleh dari Indonesia katanya”, tambah Annisa. Itu berarti sudah banyak masyarakat perkotaan yang percaya bahwa jamur dalam Growbox juga bisa menjadi komoditas khas Indonesia.

Growbox juga telah mendapatkan berbagai prestasi dan penghargaan, diantaranya menjadi Finalis Shell Live Wire 2013, Mitra Kampus BNI, dan baru-baru ini menjadi 3rd Winner Global Innovation Through Scence and Technology (GIST) Demo Day 2014. Berbagai penghargaan tersebut tentunya tidak lepas dari kolaborasi tim dengan latar belakang disiplin ilmu yang berbeda.

Kami percaya bahwa dengan kolaborasi multidisiplin, kita bisa menyelesaikan sebuah problem dengan solusi yang terpadu,” jelas Annisa. Menurutnya, keragaman latar belakang itulah yang menciptakan kreativitas Growbox, sehingga setiap aspek produk dapat dikembangkan oleh setiap anggota tim bidang keahliannya

Growbox merupakan salah satu inspirasi untuk para pemuda Indonesia dalam berinovasi. Mereka mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang mereka pelajari di bangku kuliah, lalu berkolaborasi sehingga tercipta produk yang tidak hanya kreatif, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan perubahan yang lebih baik. Ditanya tentang tipsnya untuk para pemuda, Annisa berkata singkat, “We should stop making bigger things, and start making better things!

————————————————————————-

Tulisan ini dimuat di Portal Indonesia Kreatif dan telah dibagikan lebih dari 1200 kali di sosial media

Menghubungkan Kebaikan Lewat Kitabisa.co.id

image

Indonesia tidak pernah kekurangan ide. Berbagai permasalahan sosial yang ada di sekitar kita selalu menjadi pemicu bagi orang-orang yang peduli untuk bergerak melakukan perubahan. Dan perubahan besar dapat terbentuk jika banyak orang bisa berkolaborasi dan berkontribusi dengan apapun yang mereka punya. Ide inilah yang mendasari terbentuknya Kitabisa.co.id, sebuah platform crowdfunding sosial pertama di Indonesia.

Crowdfunding sendiri merupakan konsep yang sangat populer di Eropa dan Amerika, namun tergolong masih sangat baru di Indonesia. Crowdfunding secara harfiah berarti pendanaan oleh masyarakat banyak (crowd). Konsep ini dilatarbelakangi oleh banyaknya ide dan inisiatif sosial untuk menyelesaikan permasalahan di sekitar kita, yang seringkali tak dapat terealisasi karena terbatasnya sumberdaya, terutama uang dan dukungan. Di sisi lain, banyak sekali orang-orang yang memiliki kemampuan dan sumberdaya untuk membuat perubahan, namun sibuk dengan keseharian masing-masing.

Disinilah Crowdfunding ambil bagian. Crowdfunding berperan sebagai sebuah platform yang menjembatani antara pemilik ide sosial dan masyarakat.

Konsep inilah yang diadaptasi oleh Kitabisa.co.id. Berada di bawah bimbingan Rumah Perubahan milik Rhenald Kasali, Kitabisa merupakan Crowdfunding sosial pertama di Indonesia. Kitabisa mengedepankan konsep kolaborasi sosial, yaitu keyakinan bahwa untuk membuat sebuah perubahan besar, setiap orang harus bergabung dan berkontribusi dengan bantuan apapun yang bisa mereka berikan.

“Bantuan bisa berupa donasi, menjadi volunteer, berbagi ilmu pengetahuan, atau bantu proyek lebih dikenal oleh publik”, ujar Alfatih Timur, koordinator Kitabisa.co.id dalam video kampanye di Youtube.

image

alfatihtimur, yang lebih akrab disapa Bang Timi

Setiap orang dapat memulai kontribusi mereka dengan membuat akun di Kitabisa.co.id. Orang-orang yang memiliki ide dan proyek kreatif di bidang sosial dapat mendaftarkan ide mereka di website Kitabisa. Pada saat mendaftarkan ide, mereka harus menceritakan latar belakang, tujuan, tempat dan waktu pelaksanaan, serta jumlah dana yang dibutuhkan untuk membuat ide mereka menjadi nyata.

Proyek yang telah lolos kurasi akan diposting di website Kitabisa.co.id. Masyarakat dapat memberi dukungan terhadap ide-ide sosial tersebut dengan memberi donasi berupa uang dengan jumlah yang tidak ditentukan. Dalam crowdfunding, hal yang paling penting bukanlah jumlah donasi per orang, melainkan jumlah orang yang berpartisipasi, karena itulah kekuatan konsep ini ada pada crowd. Sebagai ilustrasi, jika setiap orang berdonasi Rp 100.000 saja, namun jumlah yang berdonasi ada 1000 orang, maka dana yang terkumpul menjadi Rp 100.000.000. Semangat kebersamaan mengubah hal kecil menjadi sebuah kekuatan yang besar. Fakta tersebut yang mendasari optimisme Kitabisa.co.id bahwa Indonesia bisa bangkit dengan kolaborasi dan kerjasama banyak orang.

Semangat kolaborasi tersebut pada dasarnya merupakan semangat yang sudah menjadi budaya nusantara, yaitu semangat gotong royong. Semangat dimana setiap orang mau turun tangan membantu dengan apapun yang mereka punya. Selain donasi berupa uang, kontribusi lain yang dapat diberikan pada sebuah proyek sosial di Kitabisa.co.id adalah dengan terjun langsung menjadi relawan, atau menyebarkan dukungan terhadap proyek tersebut melalui jejaring sosial. Semakin luas proyek tersebut tersebar melalui jejaring sosial, maka semakin banyak dukungan yang didapat, dan semakin banyak pula orang yang dapat berkolaborasi.

“ Untuk menghasilkan perubahan besar-besaran, Indonesia membutuhkan kolaborasi besar-besaran,” ujar Rhenald Kasali, sebagai Pembina platform crowdfunding ini.

Sebagai salah satu inovasi baru dalam pergerakan sosial di Indonesia, gerakan Kitabisa didukung oleh berbagai figur publik seperti Dian Sastro, Andy F. Noya, Pandji, dan Oki Setiana Dewi dari kalangan artis, serta Faisal Basri, Babe Idin, dan Masril Koto dari kalangan tokoh masyarakat yang bergerak di bidang sosial. Mereka mengkampanyekan ide kolaborasi sosial melalui video di Youtube.

Sejak pertama kali diperkenalkan pada pertengahan tahun 2013, Kitabisa.co.id telah meluncurkan 8 proyek sosial yang mendorong pengembangan sosial di berbagai bidang seperti pendidikan anak jalanan, industri kreatif, hingga usaha rakyat. Dua diantaranya – Parcel Nalacity dan Wakaf Al-Qur’an – bahkan telah mendapatkan pendanaan melebihi target dan berhasil dijalankan berkat dukungan masyarakat.

Hal tersebut menjadi bukti, bahwa inovasi Kitabisa.co.id dalam menghubungkan inisiatif sosial dan masyarakat melalui teknologi informasi dapat membawa semangat gotong royong Indonesia pada level yang lebih tinggi. Semangat yang dibawa Kitabisa.co.id diharapkan mampu terus mendorong Indonesia ke arah yang lebih baik, dengan menciptakan perubahan dan menghubungkan kebaikan.

————————————————————————————

Tulisan ini juga dimuat di Portal Indonesia Kreatif.

Menyelami Kreativitas Bangsa di Pekan Produk Kreatif Indonesia 2013

image

Pekan Produk Kreatif Indonesia adalah event tahunan terbesar yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata dan Industri Kreatif. Di pameran yang bertajuk Indonesia Creative Power ini, kita diajak berpetualang mengenal karya-karya kreatif anak bangsa dan mendukung Indonesia untuk menjadi negara yang memberdayakan kreativitas sebagai penggerak industri di era yang semakin maju ini.

PPKI 2013 tahun ini diselenggarakan 27 November – 1 Desember di Epiwalk, Kuningan, yang terdiri dari konvensi, talkshow, pameran, dan berbagai pertunjukkan yang akan membuat Anda semakin bangga menjadi bagian dari bangsa yang kreatif ini.

Pertama, perlu diketahui bahwa diantara tujuan utama PPKI adalah untuk mengenalkan industri kreatif lebih dekat kepada masyarakat, bahwa sekarang Indonesia sedang menuju perkembangan sebagai negara industri kreatif. Di bagian depan Epiwalk, kita dapat menemukan beberapa infografis penting terkait industri kreatif.

image

Contoh pentingnya kreativitas

image

Apakah kamu 1 dari 4 orang kreatif di dunia?

image

Harusnya kita ditekan untuk bekerja menjadi kreatif!

Industri Kreatif di Indonesia berada di bawah Kementrian Pariwisata dan Industri Kreatif. FYI, negara yang menjadikan industri kreatif sebagai kementrian hanya ada dua: Inggris dan Indonesia. Kurang keren apa negara kita!

Di Indonesia, industri kreatif dibagi menjadi 15 subsektor, diantaranya Mode, Kerajinan, Kuliner, Musik, Radio & Televisi, Kerajinan, Teknologi Informasi, Seni Pertunjukan, Seni Rupa, Riset & Pengembangan, Arsitektur, Desain, Penerbitan & Percetakan, Periklanan, dan Permainan Interaktif. Bayangkan, ada lima belas! Bayangkan jika kita sudah benar-benar mengeksplorasi potensi kita pada kelima belas subsektor tersebut, Indonesia sudah menjadi negara adidaya yang sangat disegani karyanya.

image

Selama lima hari, kita dapat menikmati bincang-bincang kreatif sesuai subsektor dengan nama-nama besar seperti Andrew Darwis (Kaskus), Budiono Darsono (Detik), Arief (Agate), Ollie (Nulisbuku.com), Dian Pelangi (Fashion Blogger), Krisna Murti (Seniman), Dennis Adhiswara (Sutradara), serta tokoh industri kreatif lainnya. Selain itu pangggung utama PPKI juga selalu diisi oleh entertainer keren seperti Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, dan White Shoes and The Couples Company.

Event ini terlalu besar untuk saya bahas semuanya. Dan anda akan terperangah jika datang ke sini dan mendapati kehebatan karya anak bangsa. Karya-karya dalam industri kreatif bisa kita temukan dalam pameran yang luar biasa. Saya akan mengajak Anda untuk mengikuti petualangan saya mengeksplorasi inspirasi dan ide-ide kreatif dari seluruh Indonesia yang bisa kita temukan di pameran PPKI 2013. Kita akan fokus pada pameran dan kita akan membahasnya per subsektor. Jadi apa saja yang kita temukan? Here we go!

Arsitektur

image

Saat kita masuk ke booth pameran, kita langsung disambut oleh Booth subsektor arsitektur. Di bagian arsitektur kita dapat menemukan beberapa replika arsitek maupun gambar rancang bangun yang dipamerkan. Diantara yang menarik adlaah rancang bangun Ciliwung Recovery Program yang menjadi pemenang dalam kompetisi Evolo Skyscraper Competition 2010.

Ide hebat yang digagas tim Indonesia Dream ini membuat rancang bangun sebuah menara yang bisa mendaur ulang sungai Ciliwung di masa depan. Kreatif!

Kuliner

image

Berlanjut ke subsektor berikutnya, kita dapat menemukan subsektor kuliner yang menampilkan 30 ikon kuliner Indonesia. Melihat pameran ini jadi sadar, betapa kita punya segala jenis kuliner mulai dari menu pembuka, welcoming drink, menu utama, dessert, dan berbagai jenis makanan yang ga ada habisnya! Favorit saya: Nasi tumpeng. Yummy!

image

Ohya Selain itu di hari pertama juga katanya ada Chef Marinka *ngiler. Sayangnya saya tidak datang di hari pertama jadi ga dapet fotonya.

Radio & Televisi

image

Radio & Televisi juga salah satu subsektor industri kreatif. Di boothnya yang keren, kita bisa mencoba rasanya menjadi penyiar radio Mustang dengan memakai perangkat seperti penyiar aslinya. 

Seni Pertunjukan

image

Selanjutnya ada Seni Pertunjukkan. Seni pertunjukan itu mencakup  booth seni pertunjukkan ada kelas menari gratis yang diikuti anak-anak muda yang mengikuti pameran.  Kebanyakan yang ikut kelas menari gratisnya cewe-cewe gitu bro, jadi saya betah juga nungguin di booth ini, 

Kerajinan

image

Bersama fashion, Booth kerajinan adalah dua booth yang paling besar ukurannya karena menjadi tempat pameran berbagai produk kreatif yang kalo diliat seperti tidak ada habisnya! Mulai dari pemanfaatan kayu menjadi furnitur, berbagai kreasi batik, hingga aksesoris cantik.

image

Fesyen

Booth fesyen didominasi oleh komoditas wanita, seperti baju, hijab, hingga sepatu :D. Tapi buat saya yang paling menarik adalah sepatu keren buatan lokal  yang bermerek RAW. Kesannya lokal tapi mewah!

image

Riset & Pengembangan

image

Di subsektor Riset dan Pengembangan, yang paling menarik buat saya adalah Juragan Kapal. Mereka juga teman satu almamater tercinta, UI! Cek twitternya di @juragankapal

image

Selain karena karya mereka menjadi Juara Technopreneurship dari Kemenristek, kapal pelat datar yang mereka buat memang sangat unik, karena memiliki dasar yang terbuat dari kaca bening sehingga digunakan untuk pariwisata naik kapal sambil melihat kehidupan di bawah laut tanpa harus snorkeling atau diving. Bener-bener hebat banget idenya.

Periklanan

image

Di booth periklanan, kita bisa melihat berbagai jenis iklan keren yang pernah dibuat di Indonesia. Industri periklanan terus berkembang dan diharapkan mampu menjadi media penyampaian pesan yang efektif kepada masyarakat.

Penerbitan  & Percetakan

image

Di Booth penerbitan dan percetakan, kita bisa ketemu dengan beberapa penerbit kreatif seperti PlotPoint dan MnC. Disana MnC juga mengenalkan cara baru membaca komik lewat internet.

Fotografi dan Film

image

Di subsektor ini, kita seperti dimanjakan berada di dalam museum. Kita bisa menikmati karya fotografi di sebuah lorong.

image

Lalu untuk film, ada juga casting film beneran untuk kamu yang punya bakat. Benar-benar menjaring kreativitas peserta 😀

Teknologi Informasi

image

Di booth IT, kita bisa menemukan berbagai pengembang aplikasi memamerkan karya mereka. Saya juga sempat memainkan beberapa game yang seru disana.

Melukis

image

Di booth melukis, kita bertemu dengan berbagai lukisan dan yang paling mencolok, adalah lukisan dengan metode WPAP, yang asli buatan Indonesia. WPAP adalah singkatan dari Wedha’s Pop Art Portrait, metode ilustrasi buatan bapak Ilustrator Indonesia, Pak Wedha! Kita juga menemukan teman-teman yang menawarkan jasa sketsa wajah.

image

Musik

image

Di booth musik, kita bertemu dengan sejarah musik populer di Indonesia, dan semakin terpacu untuk terus meningkatkan kualitas musik di nusantara. Maju terus!

Desain

image

Saya cukup betah berada di booth desain. Pasalnya, disini kita disuguhi komik-komik lucu seperti komiknya Benny-Mice dan ada Budi Badu.

Menjelajahi kelimabelas pameran subsektor industri kreatif membuat saya menyadari betapa kayanya negara kita. Bukan hanya sumber daya alam dan sumber daya manusianya, tetapi juga sumber daya kreativitas dan karyanya.

Begitulah jalan-jalan seru saya menyelami kreativitas di PPKI 2013. Semoga event seperti ini dapat membuat Indonesia memiliki lebih banyak lagi pekerja kreatif dan meningkatkan daya saing bangsa di mata dunia. Semangat Indonesia!

————————————————————————————————————-

NB: Postingan ini saya ikutkan dalam Lomba Liputan Kreatif Orang Kreatif 2013 yang diadakan Detik Forum. Alhamdulillah dapet juara 2! Cek beritanya disini.

image

Sekarang saya punya smartphone hasil keringat senidiri untuk whatsappan 😀

Menularkan Kreatifitas Melalui Indonesia Kreatif

Tulisan ini merupakan liputan penulis saat mengikuti event Workshop Jurnalistik Indonesia Kreatif.

image

“Creativity is contagious. Pass it on” – Albert Einstein

Berawal dari semangat bahwa kreatifitas menular dan perlu ditularkan, Indonesia Kreatif mengadakan workshop jurnalistik yang diikuti 23 calon kontributor. Bekerja sama dengan Comma ID, workshop yang diadakan pada 20-21 September 2013 tersebut dihadiri oleh peserta yang datang dari berbagai kota di seluruh Indonesia, diantaranya Jakarta, Bandung, Bogor, Bali, Malang, dan Aceh. Kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas konten portal Indonesia Kreatif sebagai wadah kreatif digital yang menginformasikan perkembangan ekonomi kreatif di Indonesia.

Diversity is Our Treasure

Pada Jumat (20/09), rangkaian workshop dibuka dengan pengenalan ekonomi kreatif oleh Poppy Savitri, Direktur Pengembangan Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain, dan IPTEK. Poppy menjelaskan tentang industri kreatif yang merupakan gelombang baru dalam transformasi ekonomi, dimana industri ini memanfaatkan kekayaan intelektual dengan berbasis pada kearifan lokal untuk menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi.

Menurut Poppy, industri kreatif akan menjadi kekuatan baru dalam membangun Indonesia. “Ekonomi kreatif yang ideal adalah ketika terbentuk triple helix antara intelektual, pemerintah, dan kalangan bisnis dalam mendukung pengembangan individu kreatif”, ujarnya. Poppy menambahkan, dengan adanya portal Indonesia Kreatif, diharapkan kreatifitas anak bangsa dalam berkarya dapat diangkat dan menjadi inspirasi.

Calon kontributor melanjutkan rangkaian workshop dengan mengunjungi dapur redaksi Indonesia Kreatif di bilangan Wolter Monginsidi. Dipandu oleh Riyanto, Leader Indonesia Kreatif, para peserta berdiskusi tentang visi Indonesia Kreatif sebagai sebuah mission statement untuk berkreasi dengan mengatasnamakan identitas Indonesia pada setiap karya yang diciptakan.

image

Diversity is our treasure”. Begitulah tulisan pada salah satu slide presentasi Indonesia Kreatif, menegaskan bahwa keragaman sumber daya alam dan manusia merupakan harta karun paling berharga dalam membangun Indonesia. “Dan Indonesia Kreatif merupakan portal untuk menceritakan kreatifitas dan keragaman itu ke seluruh Indonesia”, tambah Riyanto.

Kreatifitas, Keingintahuan dan Bertanya

Agenda utama Workshop Jurnalistik Indonesia Kreatif dilaksanakan pada Sabtu (22/09). Bertempat di Comma ID, para peserta merasakan atmosfer kreatif dan kolaborasi yang begitu kental.

Sesi pertama diisi oleh Dinda Jouhana yang membahas tentang kode etik dan dasar jurnalisme. Jurnalis lepas ini menceritakan perjalanan karirnya yang luar biasa, dimulai dari lembaga pers kampus, media cetak entertainment¸ majalah Tempo, hingga berani menjawab tantangan yang lebih besar sebagai kontributor Los Angeles Times untuk chapter Asia Pasifik. Menurutnya, jurnalisme sangat penting karena informasi selalu dibutuhkan oleh manusia. “Informasi membuat kita merasa aman karena mengetahui dan merasa memiliki kontrol terhadap sekitar kita, karenanya jurnalisme akan selalu dibutuhkan”, jelasnya.

image

Jurnalisme merupakan proses panjang dalam menyiapkan ide, melakukan riset, wawancara narasumber, menulis, hingga melakukan validasi. Menurutnya, rasa keingintahuan merupakan modal utama yang harus dimiliki jurnalis. Ketika menjelaskan tentang netralisme jurnalis dalam membuat berita, Dinda menyebut jurnalis seharusnya memihak. “Jurnalisme itu memihak. Memihak pada kebenaran”, ujarnya.

Setelah sesi diskusi dan tanya jawab, peserta memasuki sesi Coffee break. Sambil menyeruput kopi dan teh hangat, suasana santai mengiringi diskusi sesi kedua bersama Anto Motulz tentang berpikir kreatif. Motulz mengawali presentasinya dengan bercerita bahwa orang Indonesia dilatih untuk pandai menjawab, tapi tidak untuk pandai bertanya.

image

Di bangku sekolah, kita mendapat kesan buruk dari seseorang yang gemar bertanya. “Kita sering enggan bertanya karena takut dianggap ingin terlihat pandai, atau bahkan terlihat bodoh dan tidak memperhatikan”, ujarnya.

Padahal menurutnya, pertanyaan adalah senjata utama bagi orang yang bekerja di bidang apapun, termasuk jurnalis. Inovasi dan solusi selalu datang dari pertanyaan. Motulz memperlihatkan beberapa foto dan mengajak para peserta untuk membuat berbagai pertanyaan. Dengan latihan tersebut, menurutnya kita akan belajar bahwa kreatifitas adalah bermain dalam mencari jawaban dan membuat pertanyaan. “Kreatifitas adalah menyeimbangkan antara kemampuan bertanya dan menjawab”, ujarnya.

Workshop dilanjutkan dengan materi tentang jurnalisme online dari Ndoro Kakung. Menyambung materi dari Motulz, jurnalis senior tersebut memulai materi dengan menantang peserta untuk bertanya seputar jurnalisme online.  “Kalo ndak ada yang nanya ya kita udahan saja”, selorohnya diiringi tawa dari peserta.

image

Diskusi berjalan seru diselingi canda dan cerita menarik dari Ndoro Kakung. Ndoro menegaskan bahwa jurnalisme online tetaplah sama dengan jurnalisme pada umumnya. Namun ada tuntutan lebih, yaitu soal waktu dimana berita dituntut selalu update. Untuk menyiasatinya, “nasihat” terpenting Ndoro dalam menulis berita untuk jurnalisme online adalah sederhana dan cerdas. “Be simple, Be smart”, ujarnya.

image

Hal senada diungkapkan Marischka Prudence pada sesi berikutnya tentang teknik peliputan dan wawancara. Sebagai jurnalis, kita harus berpikir simpel dan cerdas, sehingga dapat menggali informasi sebaik-baiknya dari narasumber melalui wawancara. Travel blogger cantik ini menambahkan bahwa jurnalis memiliki kemampuan dalam menentukan arah berita, karenanya dalam melakukan wawancara kita harus bertindak berani, namun tidak arogan; dan bersikap sopan namun tetap elegan. “Don’t be lion, Don’t be rat either”, tambahnya.

Di sesi terakhir, Arbain Rambey berbagi cerita tentang foto jurnalistik. Wartawan senior Kompas tersebut menjelaskan bahwa foto merupakan pendukung penting yang membuat berita menjadi semakin kuat dan nyata. Menurutnya, yang terpenting dalam foto jurnalistik adalah sudut pandang. Foto jurnalistik harus dibuat dengan sudut pandang yang unik, merekam peristiwa yang terjadi, dan bisa bercerita.

image

Lalu bagaimana cara mendapatkan foto jurnalistik yang baik? Caranya dengan sering melihat foto jurnalistik yang baik dan sering berlatih. “Fotografi itu ilmu lapangan, yang terpenting kalian rasakan, latihan, rasakan, latihan”, ujarnya.

Sesi fotografi dari Arbain Rambey mengakhiri rangkaian workshop jurnalistik. Di akhir acara, para peserta berfoto bersama sebelum meninggalkan Comma ID. Setelah Workshop tersebut, para peserta yang kembali ke daerah asalnya masing-masing diharapkan memiliki kemampuan jurnalistik yang lebih baik. Dan pada akhirnya mampu membuat berita yang inspiratif dan menuruti nasihat Albert Einstein: bahwa kreatifitas menular, dan dengan Indonesia Kreatif, mereka dapat menularkannya melalui tulisan.