Jangan Lupa Mati, Boi

image

Kenapa pemuda sangat suka membahas soal cinta?

Karena cinta itu sebenarnya mudah.

Mudah diceritakan, mudah dirasakan, mudah dimengerti.

Karena mudah, makanya semua orang dengan mudahnya pula membicarakan cinta. Pembicaraan yang tinggi menghasilkan ragam yang tinggi, interferensi di sana sini, dan hasilnya sesuatu yang simpel berubah menjadi complicated. Ditambah lagi dengan perilaku manusia yang selalu butuh second opinion. Most of the time, kita tahu apa yang harus dilakukan: kita hanya perlu diyakinkan. Itulah mengapa pekerjaan menjadi konsultan cinta menjamur macam ojek payung di musim hujan.

Tahu apa yang sulit untuk dibahas? Mati.

Mati tidak banyak dibahas karena memang sulit untuk membahasnya. Kita semua mencintai kehidupan, dan secara tak sadar “dididik” untuk selalu mencintai kehidupan. Di SD, kita diajari untuk siap masuk SMP. Di SMP kita diajari untuk siap masuk SMA. Di SMA, kita diajari untuk siap masuk kuliah. Di kuliah, kita diajari untuk siap masuk kerja. Dan di dunia kerja, siklus ini terus berlanjut hingga bersayap-sayap; yang jomblo siap menikah, yang menikah siap punya anak, yang karyawan siap naik jabatan, yang berpolitik siap naik kepemimpinan, yang berbisnis siap naik omzet, dan seterusnya, hingga tidak ada habisnya.

Kita selalu dituntut untuk siap menghadapi kehidupan; tapi siapkah kita menghadapi kematian?

Dzuhur tadi, saya dan teman di kantor naik motor ke masjid. Di jalan pulang kami bertemu dengan seorang lelaki tua yang juga ikut sholat berjamaah. Bapak ini wajahnya keriput, jalannya bungkuk, dan kulit-kulitnya sudah berkerut. Tapi semangatnya ke masjid tak pernah luntur. Setiap hari dia selalu hadir ke masjid berjalan kaki. Sementara saya, meskipun naik motor, masih sering harus memaksa-maksakan diri.

Mengapa masjid lebih banyak diramaikan oleh orang tua dibanding anak muda? Salah satu jawabannya adalah karena anak muda lebih banyak sibuk bicara soal cinta, sementara orang tua sadar waktunya sudah di ujung kehidupan. Tak ada lagi yang penting untuk dipikirkan, kecuali kematian.

Rasa-rasanya belum terlambat untuk berubah dari pemuda yang hanya bicara soal cinta, menjadi pemuda yang juga selalu ingat tentang mati. Karena kalaupun kita hanya mau bicara soal cinta, mati ternyata adalah bagian terakhir darinya.

Segala hal dalam hidup ini terjadi tiga kali, Boi. Pertama lahir, kedua hidup, ketiga mati. Pertama lapar, kedua kenyang, ketiga mati. Pertama jahat, kedua baik, ketiga mati. Pertama benci, kedua cinta, ketiga mati

Semua berakhir dengan mati, termasuk cinta. Setidaknya, itu kata Andrea Hirata.

Jangan lupa mati, Boi”

Saya Masih Terus Mempertanyakannya

Pernah membayangkan kematian?

Saya sudah mulai membayangkan kematian sejak kecil. Saat berumur 5 tahun, saya sangat dekat dengan ibu dan bapak. Setiap pulang sekolah, saya akan bercerita kepada ibu tentang ini dan itu dengan riang gembira. Tentang jajanan yang enak di sekolah. Tentang saya yang bisa menjawab pertanyaan ibu guru dan mendapat permen gula jawa. Tentang hal-hal penting tidak penting dan cerita lainnya.

Lalu sorenya saya bermain. Dan ketika selesai maghrib dan Bapak pulang dari kantor, saya akan bercerita juga tentang hal lainnya. Berbeda dengan cerita kepada Ibu, kepada bapak saya akan bercerita sesuatu yang lebih pria. Misalnya tentang saya yang berhasil menang dan memborong semua gol saat bermain sepak bola. Tentang saya yang sudah bisa berkelana keliling kampung naik sepeda roda dua. Atau Bapak akan bertanya tentang anak perempuan yang paling cantik di sekolah. Iya saya memang masih TK, tentu saja obrolan itu hanya untuk guyonan dan bercanda.

Karena sering bercerita, ketika bapak ibu tidak ada, rasanya sepi sekali. Ketika mereka pergi, saya takut, takut sekali. Saya berkhayal yang macam-macam. Sambil menonton TV sendirian, pikiran saya liar membayangkan berbagai kejadian. Bagaimana kalo mobil Bapak dan Ibu kecelakaan? Bagaimana kalau mereka sedang belanja lalu ditodong dan dikejar orang lalu meninggal? Apakah saya dan saudara-saudara saya akan hidup sendirian tanpa orang tua? Siapa yang akan membiayai saya sekolah? Siapa yang akan menemani saya belajar jika ada ujian? Siapa yang akan memelihara saya dan saudara-saudara saya?

Jika sudah berpikir yang seperti itu, biasanya saya jadi panik sendiri. Saya membayangkan segalanya begitu nyata. Saya menangis ketakutan, badan saya gemetar, saya takut orang tua saya meninggal. Sambil menangis, saya berdiri di depan pintu, menunggu Bapak Ibu datang. Saya takut, sungguh takut pada kematian.

Lalu saat orang tua saya sampai di rumah tanpa kurang suatu apapun, saya berlari tergesa-gesa. Saya langsung memeluk mereka sambil menangis ketakutan.

“Kamu kenapa?”. Bapak Ibu saya bingung.

“Iqbal takut”, kata saya sambil sesenggukan. “Iqbal takut”.

Sebatas itu saja yang bisa saya katakan. Mereka hanya tertawa dan bilang makanya jangan suka nonton film hantu, jadi ketakutan sendiri. Nyatanya saya bukan takut pada hantu atau hal gaib lainnya. Saya hanya diam, tak bisa meneruskan untuk bilang bahwa saya takut ditinggal sendirian karena takut mereka akan mati. Meninggalkan saya sendiri.

Saat belajar di pesantren, saya mengenal kematian lebih dekat.

Saya belajar tentang kematian dan tentang kehidupan setelah kematian. Saya belajar bagaimana kematian begitu nyata, begitu dekat. Saya mendengar cerita dan kisah yang disarikan dari Al-Quran dan hadits. Tentang malaikat pencabut nyawa. Tentang rasa sakit yang tak tertahankan ketika ruh dipaksa berpisah dari jasad kita. Tentang manusia yang harus merasakan akibat dari apa yang diperbuatnya selama di dunia, entah itu pahala ataupun dosa. Tentang kehidupan setelah kematian, tentang hal-hal ghaib yang tak terbayangkan tapi terasa begitu nyata.

Visualisasi tentang kematian — yang ketika saya kecil hanya berkembang melalui imajinasi — kini mendapat validasi. 

Rasa takut saya pada kematian semakin menjadi. Sekarang, saya bukan takut kematian akan terjadi pada orang yang saya cintai, bukan. Sekarang saya takut kematian datang kepada diri saya sendiri. Apa yang akan saya rasakan ketika mati? Apakah rasa sakit yang tak tertahankan ketika malaikat mencabut ruh dari jasad ini? Apakah saya akan bisa tidur tenang, atau justru tersiksa karena dosa-dosa di kubur nanti?

Suatu hari, rasa takut saya akan kematian sudah tidak terkendali. Saya — yang selama bertahun-tahun dikenal hampir tidak pernah absen sekolah — jatuh sakit. Sebenarnya hari itu saya tidak sakit, saya hanya tidak tahan memikirkan segala hal tentang kematian. Semua pemikiran itu membuat kepala saya seperti mau meledak, dan saya memutuskan untuk tinggal di kamar dan pura-pura sakit.

Beberapa hari kemudian, seorang adik kelas saya yang saat itu masih duduk di kelas 1 SD bernama Ghalih, meninggal dunia.

Anak ini masih begitu kecil, begitu mungil. Satu bulan sebelumnya saya masuk di kelasnya, mengajar mata pelajaran IPA. Hampir setiap sore kami bertemu di lapangan bola, bermain kelereng, dan kadang saya mengajaknya ke kantin untuk makan bersama. Kini, tanpa pernah disangka, kematian menjemputnya. Ghalih dipanggil Yang Maha Kuasa.

Pagi itu, bersama ratusan orang lainnya, saya mensholati jenazah Ghalih. Tubuh mungilnya terbujur kaku. Di balik balutan kain kafan, teman kecil saya telah pergi meninggalkan dunia. Di balik doa dan iringan yang saya panjatkan, timbul renungan besar yang tak bertuan. Di balik isak tangis teman dan keluarganya, tersisa sebuah tanda tanya.

Kapankah giliran saya datang?

Hingga kini, saya masih terus bertanya.

Mati adalah sebuah keniscayaan. Kematian adalah konsep sempurna yang diciptakan Tuhan untuk melengkapi kehidupan. Seyakin setiap hari usia kita bertambah dan umur kita berkurang, sepasti itu pula kematian akan datang. Menghampiri, menyapa, lalu tanpa pernah menunggu kita untuk bilang iya, dia menjemput kita dengan paksa. Menghentikan hembusan napas dan mengantarkan kita pada kehidupan selanjutnya.

Pernyatannya: apa yang telah kita siapkan untuk menyambutnya?

Saya masih terus mempertanyakannya.